Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi

Reads
1.7K
Votes
15
Parts
24
Vote
Report
Tajwid cinta di tanah tinggi
Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi
Penulis Matchaa

Bab 6 Reuni Sandal

Tiga tahun di Jakarta ternyata tidak membuat Fafa kembali menjadi "Gadis Mal" sepenuhnya. Meskipun ia kini telah menyandang gelar sarjana desain dengan predikat cum laude, kebiasaan barunya tetap terjaga: ia lebih suka menghabiskan waktu luangnya di pojok masjid kampus daripada di kafe-kafe kekinian. Mushaf saku ungu pemberian Rayyan kini sudah penuh dengan catatan-catatan kecil di pinggirannya, saksi bisu perjuangannya menjaga hafalan di tengah gempuran tugas kuliah yang tak ada habisnya.

Pagi itu, Jakarta sedang tidak bersahabat. Hujan turun dengan derasnya, membuat jalanan macet total. Fafa berdiri di lobi gedung wisudanya dengan perasaan was-was. Seharusnya hari ini menjadi hari yang paling membahagiakan, namun satu pesan singkat dari Rayyan tadi subuh membuatnya gagal fokus sejak tadi pagi.

​"Saya sudah mendarat. Sedang menuju lokasimu. Semoga macet Jakarta tidak membuat saya lupa cara mengucapkan khitbah."

​"Fafa! Fokus, dong! Itu togamu miring," tegur Sarah yang kini tampil lebih anggun dengan hijab syar’i-nya. Ya, Fafa berhasil membawa sahabatnya itu ikut "terseret" ke jalan yang lebih baik.

​"Sar, aku deg-degan. Gimana kalau Mas Rayyan pangling sama aku? Gimana kalau dia di Mesir sana ketemu bidadari padang pasir yang lebih pinter tajwidnya?" tanya Fafa sambil merapikan jilbabnya berkali-kali di depan cermin kecil.

Sarah tertawa geli. "Fa, Rayyan itu sudah lolos ujian 'semur jengkol' dan 'sandal tertukar'. Cowok kayak gitu nggak bakal cari bidadari lain. Dia carinya bidadari yang bisa bikin dia pusing tapi kangen."


Acara wisuda berakhir tepat tengah hari. Saat para wisudawan keluar dari gedung, hujan sudah mulai mereda, menyisakan genangan air di sana-sini. Fafa berdiri di tangga gedung, mencari-cari sosok yang dijanjikan.

​Tiba-tiba, seorang pria dengan kemeja batik biru motif elegan dan celana kain hitam berjalan mendekat. Dia memegang sebuah payung besar. Wajahnya terlihat lebih dewasa, dengan jenggot tipis yang tertata rapi yang menambah kesan berwibawa. Namun, saat dia tersenyum, lesung pipi dan kilat jahil di matanya tidak bisa berbohong.

​"Assalamualaikum, Sarjana Desain. Hafalannya masih aman atau sudah terhapus memori desain grafis?"

Fafa terpaku. Suara itu. Suara yang selama tiga tahun ini hanya bisa ia dengar lewat sambungan telepon yang terkadang putus-nyambung.
"Waalaikumsalam, Mas Rayyan..."

​Rayyan berdiri tepat di depan Fafa. Dia tidak memberikan bunga. Dia justru menyodorkan sebuah kotak kecil yang dibungkus kertas kado warna ungu.

​"Apa ini? Oleh-oleh gantungan kunci lagi?" tanya Fafa, berusaha menahan debaran jantungnya yang sudah seperti mesin jahit.

​"Buka saja. Tapi hati-hati, isinya barang pecah belah. Kayak hati saya kalau ditolak hari ini," celetuk Rayyan dengan nada yang persis seperti tiga tahun lalu di depan masjid pesantren.


Fafa membukanya dengan tangan sedikit gemetar. Di dalamnya terdapat sebuah miniatur sandal jepit yang terbuat dari kristal transparan, dan di tengahnya melingkar sebuah cincin perak dengan ukiran huruf Arab yang sangat halus: Al-Ikhlas.

​"Sandal lagi, Mas?" Fafa tertawa di sela matanya yang mulai berkaca-kaca.

​"Sandal itu filosofinya luar biasa, Fa. Dia selalu berpasangan, tidak pernah tertukar antara kanan dan kiri, dan dia yang paling setia melindungi kaki saat berjalan menuju tempat yang baik. Saya mau jadi sandal itu buat kamu. Melindungi kamu, berjalan bareng kamu, sampai kita sampai di pintu Surga," ujar Rayyan dengan nada yang mendadak sangat tulus.

Suasana yang awalnya sangat romantis dan mengharukan itu mendadak buyar saat Sarah tiba-tiba berteriak dari belakang.

​"Woy, Mas Rayyan! Jangan kelamaan drama di tangga! Itu di belakang Mas ada genangan air, awas kalau mundur nanti..."

Splash!

​Belum sempat Sarah menyelesaikan kalimatnya, Rayyan yang bermaksud ingin memberikan ruang bagi Fafa untuk jalan, justru melangkah mundur dan terperosok ke dalam genangan air yang cukup dalam. Air lumpur menciprat ke celana batiknya yang rapi.


Rayyan terdiam. Fafa melongo. Lalu, tawa pecah dari bibir Fafa.

​"Ternyata... Mas Rayyan nggak berubah ya. Masih saja akrab sama lumpur," ujar Fafa sambil memberikan selembar tisu.

​Rayyan meringis sambil mengusap noda di celananya. "Sepertinya ini tradisi, Fa. Setiap kali saya ketemu kamu, harus ada unsur lumpurnya. Mungkin ini pengingat kalau kita ini asalnya dari tanah, jadi nggak boleh sombong."
​"Atau mungkin ini tanda kalau Mas harus segera saya cuci-bersihkan hidupnya," balas Fafa sambil tersenyum malu-malu.

Sore harinya, Rayyan benar-benar membuktikan ucapannya. Dia datang ke rumah Fafa bersama Abah Kyai dan Ummi yang sengaja terbang dari Jawa Barat. Ruang tamu Fafa penuh sesak. Ayah Fafa duduk di hadapan Abah Kyai dengan wajah serius namun ramah.

​"Jadi, Rayyan," buka Ayah Fafa. "Kamu sudah jauh-jauh dari Mesir, mampir ke Puncak, lalu ke Jakarta. Apa tujuan utama kamu datang ke sini?"

​Rayyan menarik napas panjang. Dia melirik ke arah Fafa yang duduk di sudut ruangan bersama Ummi. "Tujuan saya satu, Om. Saya ingin menyempurnakan separuh agama saya. Saya ingin meminta izin Om untuk memindahkan 'tanggung jawab' menjaga Fatimah dari tangan Om ke tangan saya."

Rayyan mengeluarkan sebuah buku kecil dari sakunya. Bukan buku tabungan, melainkan buku catatan hafalan miliknya.

​"Sebagai mahar, saya memang sudah menyiapkan seperangkat alat salat dan perhiasan. Tapi di luar itu, saya ingin mempersembahkan hafalan Surah Ar-Rahman dan Surah Al-Waqi’ah yang baru saya mutqin-kan di atas pesawat tadi malam. Saya ingin kami memulai hidup dengan keberkahan ayat-ayat-Nya."

​Ayah Fafa mengangguk pelan, matanya terlihat berkaca-kaca. Beliau menoleh ke arah putri tunggalnya. "Fafa, bagaimana? Apakah kamu siap menjadi makmum untuk laki-laki yang hobi tertukar sandalnya ini?"

​Fafa menunduk dalam, jari-jarinya memainkan ujung khimarnya. "Bismillah, Yah. Selama tajwidnya benar dan niatnya karena Allah, Fafa siap."

Malam itu, setelah acara khitbah selesai, Rayyan dan Fafa berdiri sejenak di teras rumah. Angin malam Jakarta terasa lebih sejuk dari biasanya.

​"Fa," panggil Rayyan.

​"Iya, Mas?"

​"Nanti kalau kita sudah menikah, saya nggak mau ada jengkol di rumah kita ya," bisik Rayyan.

​Fafa tertawa kecil. "Lho, bukannya Mas bilang jengkol itu filosofinya dalam? Katanya harus ikhlas sama baunya biar tahu manisnya?"

Rayyan nyengir kuda. "Itu kan trik saya dulu biar kamu mau bicara sama saya. Aslinya saya juga nggak kuat-kuat banget, Fa. Apalagi kalau baunya saingan sama parfum kamu."

​Fafa tertawa renyah, suara yang kini akan menjadi musik abadi dalam hidup Rayyan. Di bawah langit Jakarta yang kini terlihat bersih setelah hujan, dua hati yang pernah tertukar sandal itu akhirnya menemukan tempat berlabuh yang tepat.

​Liburan sekolah tahun itu memang sudah lama berlalu, namun tajwid cinta yang mereka pelajari di tanah tinggi Puncak, kini telah mencapai hukum Mad Lazim—cinta yang panjang, pasti, dan harus dipertahankan sampai akhir hayat.






Other Stories
Tiada Cinta Tertinggal

Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...

Cerella Flost

Aku pernah menjadi gadis yang terburuk.Tentu bukan karena parasku yang menjaminku menjadi ...

Menolak Jatuh Cinta

Maretha Agnia, novelis terkenal dengan nama pena sahabatnya, menjelajah dunia selama tiga ...

Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )

pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...

Baim Dan Kelapa Yang Masih Puber

Baim menghabiskan liburan akhir tahun di pantai dengan harapan menemukan ketenangan. Namun ...

Di Luar Rencana

Hening yang tidak akur dengan Endaru, putrinya, harus pulang ke kampung halaman karena Ibu ...

Download Titik & Koma