Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi

Reads
1.7K
Votes
15
Parts
24
Vote
Report
Tajwid cinta di tanah tinggi
Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi
Penulis Matchaa

Bab 16 Kabar Yang Melangit


Liburan di Yogyakarta telah usai, namun aroma kenangannya masih tertinggal di sela-sela lipatan gamis Fafa. Jakarta menyambut mereka kembali dengan rutinitas yang seolah tidak memberi jeda untuk bernapas. Namun, ada yang aneh dengan Fafa sejak mereka menginjakkan kaki di apartemen. Jika biasanya ia adalah wanita yang sangat energik, kini ia tampak seperti baterai ponsel yang sudah berumur: baru dipakai sebentar, sudah lowbat.

Pagi itu, aroma kopi yang biasanya menjadi penyemangat Rayyan justru menjadi musuh nomor satu bagi Fafa.

"Mas... tolong kopinya dijauhkan!" seru Fafa sambil menutup hidungnya dengan bantal sofa.
Rayyan yang sedang mengaduk kopi hitamnya tertegun. "Lho, biasanya kamu suka cium aromanya, Fa. Katanya bau kopi itu bau 'produktivitas'."

"Nggak tahu, Mas. Pagi ini baunya kayak... kayak aspal basah dicampur minyak tanah. Bikin perut aku kayak dikocok-kocok mesin cuci," ujar Fafa seraya berlari menuju kamar mandi.

Rayyan meletakkan cangkirnya dengan panik. Mendengar suara Fafa yang sedang berjuang melawan mual di balik pintu kamar mandi membuat jantungnya berdegup tidak keruan. Ia teringat kejadian serupa di novel-novel atau drama yang sering ditonton Sarah, namun ia tidak mau terlalu cepat mengambil kesimpulan.

Diagnosis "Masuk Angin" yang Mencurigakan
"Kamu masuk angin ya, Fa? Gara-gara kemarin kita kelamaan di Bukit Bintang kena angin malam Jogja?" tanya Rayyan saat Fafa keluar dengan wajah pucat dan lemas.

"Mungkin, Mas. Badanku rasanya aneh. Pengennya tidur terus, tapi kalau tidur malah pusing," keluh Fafa.

Rayyan segera mengambil minyak kayu putih dan mulai memijat tengkuk Fafa dengan telaten. Sebagai suami siaga, ia mencoba segala pengobatan ala pesantren. "Ini namanya angin duduk mungkin, atau angin berdiri. Kita coba minum air jahe lagi ya?"

Namun, saat Rayyan menyebut kata "jahe", Fafa kembali mual. "Jangan! Aku nggak mau jahe. Aku mau... aku mau mangga muda yang ada di depan rumah Abah di Puncak."

Rayyan menghentikan pijatannya. Ia menatap Fafa dengan tatapan menyelidik. "Mangga muda? Sekarang? Di Jakarta Selatan jam tujuh pagi?"

"Iya, yang kulitnya masih hijau banget, yang kalau digigit bikin gigi linu. Mas... tiba-tiba aku ngebayangin itu rasanya enak banget pakai garam dikit."

Rayyan menelan ludah. Sinyal-sinyal itu makin kuat. "Fa, kamu... kamu sudah telat?"
Fafa terdiam. Ia menghitung dalam hati, mengingat-ingat kalender di ponselnya yang biasanya ia tandai dengan rapi. Matanya membelalak. "Mas... sudah dua minggu."


Rayyan tidak membuang waktu. Meskipun hari itu ia harus mengajar, ia menyempatkan diri mampir ke apotek. Ia tidak membeli satu, tapi tiga merek testpack berbeda karena ia ingin memastikan hasilnya seakurat hukum Idgham Bilaghunnah—jelas dan tanpa keraguan.

Malam harinya, suasana apartemen terasa sangat tegang, lebih tegang daripada saat Fafa menunggu pengumuman pemenang lomba desain dulu.

"Mas, aku takut lihat hasilnya," bisik Fafa di depan pintu kamar mandi, memegang benda kecil itu dengan tangan gemetar.

"Bismillah, Fa. Apapun hasilnya, itu pemberian terbaik dari Allah. Kalau garis satu, berarti kita disuruh liburan lagi. Kalau garis dua, berarti... berarti kita naik level," jawab Rayyan, meski tangannya sendiri juga berkeringat dingin di balik saku sarungnya.

Lima menit kemudian.
Fafa keluar dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak sanggup berkata-kata, hanya menyodorkan benda kecil itu ke hadapan Rayyan. Di sana, tampak dua garis merah yang sangat jelas.
Rayyan terdiam sejenak. Ia melihat benda itu, lalu melihat istrinya, lalu melihat benda itu lagi. Detik berikutnya, ia langsung sujud syukur di atas lantai ruang tengah.

"Alhamdulillah... Ya Allah... Makasih, Fa. Makasih sudah jaga 'santri' kecil kita," ujar Rayyan sambil memeluk Fafa erat.

Fafa menangis bahagia di bahu Rayyan. "Mas, aku bakal jadi Ibu? Aku yang biasanya teledor naruh kunci motor ini bakal dititipin nyawa sama Allah?"

"Allah nggak akan pilih kamu kalau kamu nggak sanggup, Fa. Kita bakal belajar bareng. Mas bakal bantu, Mas janji nggak akan naruh handuk basah sembarangan lagi... ya, minimal Mas kurangi," canda Rayyan di sela haru.

Kabar kehamilan itu membawa warna baru—dan tantangan baru—dalam rumah tangga mereka. Ternyata, Fafa yang sedang hamil adalah versi Fafa yang jauh lebih ajaib. Fase ngidam dimulai, dan Rayyan adalah target utamanya.

"Mas... aku mau mencium bau jengkol yang lagi digoreng Kang Udin di dapur pesantren," pinta Fafa suatu malam.

Rayyan mengucek matanya yang mengantuk. "Fa, ini jam sebelas malam. Puncak itu dua jam dari sini kalau nggak macet. Lagian Kang Udin jam segini sudah tidur, mungkin sudah mimpi jadi juragan empang."

"Tapi baunya kayak manggil-manggil aku, Mas. Aku nggak mau makan, aku cuma mau hirup aromanya aja sebentar."

Rayyan menghela napas pasrah. Inilah pengabdian. Ia segera menyambar kunci mobil, memakai jaket, dan melakukan perjalanan Jakarta-Puncak demi sebuah aroma.

Sesampainya di pesantren jam satu pagi, Rayyan mengetuk pintu dapur umum dengan panik. Kang Udin keluar dengan sarung yang melilit leher karena kedinginan.

"Gusti... Mas Rayyan? Ada apa? Ada kebakaran?" tanya Kang Udin panik.

"Kang... tolong... gorengin jengkol satu biji aja. Fafa ngidam baunya," pinta Rayyan dengan wajah memelas.

Kang Udin terdiam, lalu tertawa terbahak-bahak sampai membangunkan beberapa santri yang sedang tahajud. "Oalah, Mas... Mas... nasibmu.

Sini, saya gorengkan satu wajan sekalian. Ini namanya 'Jengkol Pembawa Berkah'."

Rayyan kembali ke Jakarta membawa satu wadah jengkol goreng. Begitu sampai di apartemen, ia mendapati Fafa sudah tertidur pulas dengan wajah yang sangat damai. Rayyan hanya bisa duduk di samping tempat tidur, memegangi wadah jengkol yang masih hangat, sambil tersenyum kecut.

"Anakku... belum lahir saja kamu sudah bikin bapakmu jadi kurir antar-jemput jengkol lintas kota ya," bisik Rayyan lembut sambil mengelus perut Fafa yang masih rata.

Ujian Kesehatan dan Doa yang Melangit
Namun, kehamilan pertama tidak selalu tentang tawa dan ngidam. Memasuki bulan ketiga, kondisi fisik Fafa menurun drastis. Ia sering mengalami perdarahan kecil yang membuatnya harus bed rest total. Butiknya terpaksa ia kelola sepenuhnya dari tempat tidur, dan Rayyan harus mengambil alih seluruh pekerjaan rumah tangga—dari mencuci piring sampai memasak (yang syukurnya, kemampuannya meningkat pesat).
Di saat-saat kritis itu, Rayyan tidak pernah berhenti membacakan Surah Maryam dan Surah Yusuf di samping perut Fafa.

"Mas, maaf ya aku jadi ngerepotin. Aku nggak bisa jadi istri yang produktif," ujar Fafa sedih suatu sore saat melihat Rayyan sedang menyetrika jilbab-jilbabnya.

Rayyan menghentikan setrikanya, menatap Fafa dengan penuh kasih. "Fa, kamu sedang melakukan pekerjaan paling produktif di dunia: membentuk manusia baru. Menyetrika ini nggak ada apa-apanya dibanding perjuangan kamu nahan mual dan sakit setiap hari. Kamu itu kayak ayat Sajdah, tinggi kedudukannya. Mas justru bangga bisa melayani kamu."

Fafa tersenyum, hatinya merasa sangat tenang. Ia menyadari bahwa Tajwid Cinta yang mereka pelajari bukan hanya soal keindahan pelafalan, tapi soal bagaimana saling menjaga di saat-saat tersulit.



Other Stories
Daisy’s

Kisah Tiga Bersaudari ...

Mother & Son

Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...

Akibat Salah Gaul

Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...

Rembulan Digenggam Malam

Pernah nggak kamu kamu membayangkan suatu hari kamu bangun di 1 Januari, terus kamu diberi ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Rona

Arga ...

Download Titik & Koma