Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi

Reads
1.7K
Votes
15
Parts
24
Vote
Report
Tajwid cinta di tanah tinggi
Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi
Penulis Matchaa

Bab 21 Dari Puncak Ke Padang Pasir


Jakarta dan Puncak mungkin terasa jauh, namun Dubai terasa seperti planet lain. Fafa berdiri di tengah megahnya Dubai Design District, dikelilingi oleh pencakar langit yang seolah ingin menyentuh Arasy. Ini adalah puncak kariernya.

Koleksi "Tajwid Cinta: The High Land Series" akan segera dipamerkan di panggung internasional. Namun, di balik kemilau lampu runway, hati Fafa tertinggal di sebuah rumah kayu yang berbau kayu pinus dan minyak telon.

"Mas Rayyan, aku baru saja gladi bersih. Bajunya cantik sekali di bawah lampu, tapi rasanya ada yang kurang kalau nggak ada kamu yang protes soal makhraj warnanya," bisik Fafa lewat panggilan video.

Di layar ponsel, Rayyan tampak sedang berada di perpustakaan pesantren. Al-Fatih terlihat sedang tertidur pulas di pangkuannya dengan posisi kepala yang agak miring—persis gaya tidur Rayyan kalau kelelahan mengoreksi hafalan santri.

"Fa, kamu di sana bukan cuma bawa nama butik. Kamu bawa martabat kita. Jangan merasa kurang. Mas di sini bersama ribuan doa santri. Bahkan Al-Fatih tadi sebelum tidur bilang, 'Ummi lagi gambar di awan ya, Bi?'" Rayyan tersenyum, meski lingkaran hitam di bawah matanya menunjukkan betapa beratnya menjadi orang tua tunggal sementara.

"Makasih, Mas. Bagaimana kondisi Abah?"

Wajah Rayyan sedikit meredup. "Abah stabil, tapi beliau lebih banyak diam. Beliau titip salam buat kamu. Katanya, 'Jangan lupa sujud syukur kalau nanti orang-orang tepuk tangan'."

Fafa mengangguk pelan. Ia menyadari bahwa keberadaannya di Dubai adalah bentuk Safar—perjalanan untuk mencari ilmu dan menyebarkan keberkahan.

Hari pertunjukan tiba. Fafa mengenakan busana Muslimah karyanya yang paling megah perpaduan antara kain tenun Puncak dengan potongan modern yang elegan. Saat model pertama keluar dengan iringan musik instrumen rebana yang diaransemen secara sinematik, napas Fafa tertahan.

Koleksinya menceritakan perjalanan cinta di Tanah Tinggi. Ada gradasi warna hijau kabut, putih awan, dan cokelat tanah. Di setiap busana, terselip detail bordir halus yang membentuk kaligrafi hukum-hukum tajwid.

Para pengamat mode dari berbagai negara tampak terpesona. Mereka belum pernah melihat bagaimana sebuah aturan bacaan kitab suci bisa diubah menjadi estetika tingkat tinggi.

Namun, kejutan sebenarnya datang di akhir acara. Saat Fafa keluar ke panggung untuk melakukan final bow, ia melihat di barisan terdepan seorang jurnalis mode ternama sedang memotret detail sepatunya. Fafa tersenyum kecil. Ia sengaja tidak memakai sepatu hak tinggi rancangan desainer ternama. Ia memakai selop buatan pengrajin lokal Puncak yang di bagian bawahnya ia minta Kang Udin mengukir simbol khusus.

Seorang jurnalis bertanya saat sesi wawancara, "Mrs. Fatimah, desain Anda sangat religius namun sangat fashionable. Apa pesan tersembunyi yang ingin Anda sampaikan?"
Fafa menjawab dengan bahasa Inggris yang lancar namun tetap rendah hati. "Desain ini adalah tentang ketetapan. Seperti tajwid, hidup punya aturan agar suaranya indah. Jika kita mengikuti 'aturan' Sang Pencipta, maka perjalanan hidup kita—baik di puncak gunung maupun di padang pasir—akan selalu menjadi harmoni yang cantik."

Di balik kesuksesan itu, sisi "Fafa dari Puncak" tidak bisa hilang begitu saja. Saat dijamu makan malam mewah di sebuah hotel berbintang yang menyajikan hidangan internasional, Fafa justru merogoh tas clutch mahalnya.

Di sana, tersembunyi sebuah botol kecil berisi sambal teri kacang buatan Ummi dan... satu keping jengkol goreng kering yang ia bawa diam-diam sebagai "jimat" pengusir rindu.

"Duh, Mas Rayyan benar. Lidahku ini memang sudah terkunci hukum Lazim sama masakan pesantren," gumamnya sambil mencicipi sedikit sambal di balik serbet mahal.

Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Rayyan masuk:

> "Fa, barusan Al-Fatih bangun. Dia nangis bukan karena kangen kamu, tapi karena dia nggak sengaja masukin sandal biru dia ke dalam kolam ikan Abah. Dia bilang: 'Bi, sandal Al-Fatih mau berenang ke Dubai nyusul Ummi'. Mas sekarang lagi basah kuyup nyerok sandal di kolam. Cepat pulang ya, sebelum Mas berubah jadi ikan juga."
>

Fafa tertawa sampai mengeluarkan air mata. Di tengah kemewahan Dubai, pesan konyol itu adalah pengingat yang paling nyata tentang di mana rumahnya berada.


Kunjungan ke Dubai berakhir dengan sukses besar. Koleksi Fafa dibeli oleh beberapa butik ternama di Timur Tengah. Namun, kemenangan terbesar Fafa adalah saat ia melangkah keluar dari Bandara Soekarno-Hatta dan melihat dua sosok laki-laki yang sangat ia cintai menunggunya.

Al-Fatih berlari kencang, menabrak kaki Ibunya. "Ummi! Ummi bawa es krim gurun pasir nggak?"
Rayyan berdiri di belakangnya, tampak lebih kurus namun dengan senyum yang jauh lebih lebar. Ia tidak membawa bunga. Ia membawa sebuah plastik berisi jagung bakar Puncak yang aromanya sangat familiar.

"Selamat pulang, Sang Penakluk Dubai," ujar Rayyan lembut.

Fafa memeluk mereka berdua erat-erat. "Mas, aku sukses. Tapi aku capek banget pakai bahasa Inggris terus. Aku kangen ngomong 'Mas, handuknya pindahin' pakai bahasa Indonesia."

"Tenang, di rumah handuknya sudah siap menunggu untuk dipindahkan," canda Rayyan.


Sesampainya di Puncak, suasana haru kembali menyelimuti. Abah Kyai mengumpulkan keluarga di kamarnya. Dengan suara yang sangat lemah, beliau memegang tangan Rayyan dan Fafa.

"Tugas Abah sudah hampir selesai," bisik Abah.

"Rayyan, pesantren ini sekarang adalah 'ayat' yang harus kamu baca dengan benar. Fafa, jadilah penyangga bagi suamimu. Dunia sudah melihat karyamu, sekarang biarkan akhirat melihat pengabdianmu di sini."

Rayyan mengangguk dengan air mata mengalir. Ia menyadari bahwa ini adalah titik balik. Mereka bukan lagi pengantin baru yang berdebat soal sandal. Mereka adalah penerus estafet sebuah perjuangan besar.



Other Stories
Dua Bintang

Setelah lulus, Manda ikut Tante Yuni ke Jakarta untuk melupakan luka keluarga. Tapi dikhia ...

Bumi

Seni mencintai terkadang memang menyenangkan, tetapi tak selamanya berada dalam titik mani ...

Bapakku Bukan Pengkhianat

Udin, seorang laki-laki biasa, berharap kehidupannya baik-baik saja saat para pengkhianat ...

Just, Open Your Heart

Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...

Pacar Sewaan

Sebagai pacar sewaan yang memiliki kekasih, Ledi yakin mampu menjaga batas antara pekerjaa ...

Di Luar Rencana

Hening yang tidak akur dengan Endaru, putrinya, harus pulang ke kampung halaman karena Ibu ...

Download Titik & Koma