Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi

Reads
1.7K
Votes
15
Parts
24
Vote
Report
Tajwid cinta di tanah tinggi
Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi
Penulis Matchaa

Bab 20 Al-Fatih


Waktu di Tanah Tinggi Puncak seolah-olah memiliki ritme tersendiri; ia berlalu secepat kabut yang tersapu angin pagi, namun meninggalkan jejak yang dalam di setiap sudut Pesantren Al-Ikhlas. Ahmad Rayyan Al-Fatih kini bukan lagi bayi merah yang hanya bisa merintih. Di usianya yang menginjak tiga tahun, Al-Fatih telah bertransformasi menjadi "Gubernur Kecil" pesantren. Ia memiliki langkah kaki yang mantap—tentu saja dengan sandal jepit kecil berwarna biru yang selalu ia pastikan tidak tertukar dengan milik santri lain.

"Abi! Lihat! Al-Fatih bikin 'Nun Sukun'!" teriak bocah itu suatu sore di studio kerja Fafa.

Rayyan, yang baru saja meletakkan kitab kuningnya, menghampiri putranya. Matanya membelalak. Di lantai studio yang tadinya bersih, kini terdapat coretan besar menggunakan cat tekstil milik Fafa. Namun, coretan itu bukan sembarang coretan. Al-Fatih, dengan bakat visual warisan Ibunya, menggambar lengkungan besar yang di tengahnya terdapat titik sempurna.

"Itu bukan Nun Sukun, Sayang. Itu Nun yang lagi mandi cat," goda Rayyan sambil mengangkat tubuh mungil putranya.

Fafa muncul dari balik tumpukan kain dengan wajah yang sudah tercoreng noda pensil warna. Ia melihat hasil karya putranya dan hanya bisa menghela napas panjang—campuran antara gemas dan ingin menangis melihat stok cat mahalnya berkurang.

"Mas, lihat itu. Bakat desainku bercampur dengan obsesi tajwid kamu. Al-Fatih nggak cuma menggambar, dia mendiktekan hukum bacaan lewat lukisan dinding," ujar Fafa sambil berkacak pinggang.

Rayyan tertawa renyah. "Nggak apa-apa, Fa. Ini namanya ekspresi seni yang mutqin. Daripada dia coret-coret tembok pakai spidol permanen, mending dia belajar filosofi titik di atas huruf Nun."


Fase ini adalah fase di mana Rayyan dan Fafa benar-benar diuji ilmu sabarnya. Rayyan, sebagai seorang pengajar berpengalaman, mengira mengajari anak sendiri akan semudah mengajari santri di madrasah. Nyatanya? Mengajari Al-Fatih adalah petualangan emosional yang lebih berat daripada mendaki Gunung Gede saat badai.

"Al-Fatih, ikuti Abi. A... Li... Fu..." tuntun Rayyan dengan sabar sambil menunjuk poster huruf hijaiyah yang dibuat khusus oleh Fafa dengan desain yang sangat estetis.

Al-Fatih menatap poster itu dengan mata bulatnya yang cerdas. "Alif itu kayak tiang butik Ummi ya, Bi? Yang buat gantung baju?"

Rayyan menarik napas panjang. "Iya, bentuknya memang lurus. Tapi namanya Alif. Ayo, sebut Alif."

"Alif... butik!" jawab Al-Fatih dengan riang.

Fafa yang sedang menjahit di sudut ruangan tidak bisa menahan tawa. "Mas, anak kita itu visual banget. Dia nggak bisa cuma hafal bunyi, dia harus punya korelasi gambar. Itulah kenapa aku bilang, kurikulum Abi harus disesuaikan dengan kurikulum Ummi."

Akhirnya, mereka menciptakan metode baru: "Tajwid Visual". Huruf Ba digambarkan seperti perahu kain, huruf Ta seperti wajah orang tersenyum yang memakai dua jepit rambut, dan huruf Jim seperti perut Kang Udin yang kekenyangan setelah makan jengkol.

Ajaibnya, metode ini berhasil. Al-Fatih belajar dengan sangat cepat. Ia bukan hanya hafal huruf, tapi ia memahami karakter setiap bentuknya. Rayyan mulai menyadari bahwa mendidik anak adalah tentang meruntuhkan ego orang tua dan masuk ke dalam dunia imajinasi sang anak.

Suatu hari, pesantren mengadakan acara syukuran besar. Ratusan tamu datang, dan area masjid dipenuhi oleh lautan sandal. Al-Fatih, yang merasa sudah "dewasa", bersikeras ingin menaruh sandalnya sendiri di rak paling bawah.
"Al-Fatih bisa, Ummi! Al-Fatih sudah hafal makhraj sandal Al-Fatih!" ujarnya dengan penuh percaya diri.

Namun, saat acara selesai, drama yang sangat familiar terjadi. Sandal biru Al-Fatih hanya tinggal sebelah. Sebelahnya lagi berubah menjadi sandal plastik berwarna merah jambu yang ukurannya dua kali lebih besar.

Al-Fatih duduk di tangga masjid dengan bibir melengkung ke bawah, siap meledakkan tangisan level Ghunnah paling panjang. "Sandal Al-Fatih... diculik..."

Rayyan dan Fafa yang melihat itu saling pandang. Memori mereka terlempar kembali ke belasan tahun lalu.

"Mas, ini deja vu," bisik Fafa.

Rayyan berjongkok di depan putranya. "Al-Fatih, ingat nggak apa yang Abi bilang soal sabar? Kadang Allah ambil sesuatu dari kita supaya kita belajar mencari dengan teliti. Mungkin sandal Al-Fatih lagi main sama sandal temannya."

Tiba-tiba, seorang anak kecil lain datang bersama Ibunya. Anak itu memakai satu sandal biru dan satu sandal merah jambu. "Ma... sandal aku kok rasanya sempit sebelah ya?"

Tawa pecah di halaman masjid. Ternyata, putra dari salah satu alumni santri tidak sengaja memakai sandal Al-Fatih. Setelah ditukar kembali, Al-Fatih kembali ceria.

"Alhamdulillah," ujar Al-Fatih sambil mencium sandalnya. "Abi, nanti Al-Fatih mau tulis nama Al-Fatih pakai cat Ummi di sini, biar nggak tertukar lagi."

"Ide bagus, Jagoan. Tapi pakainya di sandal ya, jangan di jidat Abi," sahut Rayyan.


Malam harinya, setelah Al-Fatih tertidur pulas dengan memeluk buku gambar dan mushaf saku, Fafa dan Rayyan duduk di teras kayu. Al-Fatih tumbuh begitu cepat, dan itu membuat mereka merasa waktu adalah aset yang sangat mahal.

"Mas, aku sering merasa bersalah kalau terlalu sibuk sama butik," curhat Fafa. "Lihat Al-Fatih tadi, dia pengen banget pamer gambarnya tapi aku malah sibuk terima telepon supplier."

Rayyan merangkul bahu Fafa, menyalurkan kehangatan di tengah udara Puncak yang makin menggigit. "Fa, anak itu nggak butuh orang tua yang sempurna. Dia cuma butuh orang tua yang 'hadir'. Tadi pas kamu tutup telepon dan peluk dia, dia sudah lupa kok kalau kamu tadi sempat cuek. Kamu bekerja juga untuk masa depannya, untuk bangun rumah tahfidz yang kita impikan."

"Aku cuma mau dia tumbuh jadi anak yang bahagia, Mas. Bukan cuma pintar tajwid, tapi punya hati yang luas."

"Dia akan punya itu, Fa. Dia punya Ibunya yang kreatif dan gigih, dan dia punya bapaknya yang... yah, bapaknya yang hobi naruh handuk sembarangan ini," Rayyan tertawa.

"Eh, soal handuk, sekarang Al-Fatih yang malah sering ingetin Mas, kan? Dia bilang: 'Abi, handuknya jangan Waqaf di atas kasur!'" goda Fafa.

Rayyan terbahak. "Iya, aku kena batunya sekarang. Didikan kamu lewat Al-Fatih keras juga ya."

Fafa dan Rayyan menyadari bahwa fase "menanam" sudah mulai membuahkan tunas-tunas kecil. Al-Fatih adalah perpaduan sempurna antara logika tajwid yang presisi dan estetika seni yang bebas.

Other Stories
Bukan Cinta Sempurna

Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...

Hati Yang Terbatas

Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...

Rumah Malaikat

Alex, guru pengganti di panti Rumah Malaikat, diteror kejadian misterius dan menemukan aja ...

Kepingan Hati Alisa

Di sebuah rumah sederhana, seorang wanita paruh baya berkerudung hitam, berbincang agak ...

Cinta Dibalik Rasa

Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. ...

Setelah Perayaan Itu Usai.

Amara tumbuh di sebuah dusun kecil, ditemani sahabatnya, Angga. Setiap hari mereka lalui d ...

Download Titik & Koma