Bab 9 – Menara Eiffel
Matahari belum tinggi ketika mereka keluar dari hotel. Udara lebih cerah dari kemarin, langit biru tipis tanpa awan tebal.
Ledi keluar dari kamar. Ia mengenakan gaun hitam sederhana yang jatuh lurus hingga betis, dilapisi mantel panjang berwarna gelap. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai rapi.
Kevin segera merangkul pinggang Ledi.
***
Menara Eiffel terlihat pertama kali dari balik bangunan rendah yang berjajar rapi. Ujung besinya menjulang seperti garis yang terlalu lurus untuk terlihat nyata.
Ledi berhenti melangkah. “Itu …,” katanya pelan sambil menunjuk.
Kevin mengikuti arah pandangnya. “Iya.”
Semakin dekat, struktur besi itu terlihat lebih besar dari bayangan di poster kamar kosnya. Cahaya siang memantul di sela-sela rangka logam.
Turis berkerumun. Kamera terangkat. Percakapan dalam berbagai bahasa terdengar.
Ledi berjalan lebih lambat sekarang. Matanya bergerak ke atas, mengikuti lengkungan rangka hingga hilang di langit.
Kevin berdiri di sampingnya. Tangannya masih merangkul pinggang Ledi.
“Akhirnya bisa langsung,” kata Ledi.
Kevin menoleh, bukan ke menara, melainkan ke wajah Ledi. “Iya.”
***
Siang itu mereka memasuki sebuah bistro kecil dengan bangku-bangku besi menghadap trotoar. Pelayan berbicara cepat dalam bahasa Prancis yang tidak sepenuhnya Ledi pahami.
“Pesen apa?” tanya Kevin.
Ledi meletakkan buku menu ke atas meja. “Terserah.”
“Oke. Aku pilihin,” jawab Kevin. Ia menoleh ke arah pelayan, memesan untuk mereka berdua.
Tak lama kemudian, dua piring terhidang di meja—croque monsieur di depan Ledi, steak di depan Kevin.
Kevin mengambil garpu, memotong sedikit daging, lalu mengangkatnya ke arah Ledi. “Cobain.”
Ledi terdiam sejenak.
Beberapa meja dari mereka, seorang pria melakukan hal yang sama pada pasangannya. Perempuan itu tertawa kecil sebelum membuka mulut.
Ledi akhirnya mendekatkan wajahnya. Bibirnya menyentuh ujung garpu. Ia mengunyah.
Kevin tidak langsung menurunkan tangannya. “Gimana?”
Ledi mengangguk pelan. “Enak.”
Mereka tertawa kecil.
“Sini aku suapin,” kata Kevin.
Ledi mengangkat alisnya, tapi tetap membuka mulut. Kevin tersenyum tipis saat melihatnya menurut.
Suara tawa dan gelas beradu terdengar dari meja lain.
Kevin tidak berhenti pada satu suapan. Garpu itu berkali-kali kembali ke arah Ledi. Kadang dengan daging, kadang dengan potongan kecil roti dari croque monsieur. Ledi membuka mulut tanpa menunggu aba-aba lagi.
“Gantian dong,” kata Kevin.
Ledi memoncongkan mulutnya sedikit, pura-pura cemberut. “Iya deh aku suapin.”
***
Selesai suap-suapan, mereka menghabiskan waktu di taman. Berjalan santai. Duduk di bangku. Bercanda. Tertawa.
Cekrek!
Kevin memotret Ledi tanpa diminta.
“Eh,” protes Ledi pelan.
Kevin memperlihatkan layar ponselnya. Wajah Ledi tertangkap dengan latar Menara Eiffel di belakangnya. Rambutnya tertiup angin. Matanya menyipit karena cahaya.
“Bagus,” kata Kevin.
Ledi menatap layar itu sambil tersenyum, lalu menoleh ke Kevin. “Kamu berbakat jadi fotografer.”
“Apalagi kalau modelnya ... seperti kamu,” balas Kevin.
Ledi tersenyum.
Tak jauh dari bangku mereka, sepasang turis muda berdiri di bawah bayangan pohon. Mereka saling menatap sebentar, lalu berciuman singkat sebelum tertawa.
Ledi melihat sekilas. Kevin mengikuti arah pandangnya. Tidak ada yang berkomentar.
***
Langit perlahan berubah menjadi jingga tipis.
Bayangan rangka besi memanjang di tanah, membelah kerumunan turis yang belum juga berkurang. Suara percakapan bercampur dengan bunyi kamera yang berulang-ulang.
Ledi dan Kevin tidak benar-benar bergerak jauh—hanya berpindah posisi, mencari tempat yang lebih sepi di antara pagar dan taman kecil di sekitarnya.
Di dekat pagar besi, seorang pria menarik pinggang pasangannya dan mencium keningnya. Perempuan itu memejamkan mata. Lalu bibir mereka saling berpadu.
Ledi memperlambat langkah dan Kevin langsung menoleh ke arahnya.
Kini, Ledi tidak lagi menatap menara. Ia memperhatikan pasangan itu.
Kevin menoleh ke arah yang sama. Sekilas, ia menggigit bibir bawahnya.
***
Lampu Eiffel menyala satu per satu, seperti kilau yang merayap naik dari dasar hingga puncak. Cahaya keemasan memantul di wajah orang-orang yang mendongak.
Tak jauh dari mereka, seorang wanita berambut pirang berdiri berjinjit, mencium kekasihnya. Bibir mereka saling bertemu, pelan tapi pasti. Tangan pria itu menahan pinggangnya agar tidak goyah.
Ledi tidak langsung memalingkan wajah.
Kevin memperhatikan Ledi, bukan pasangan itu. Cahaya emas menempel di pipi Ledi, membuat garis rahangnya terlihat lebih tegas.
Mereka saling menatap. Tidak ada yang berbicara. Jarak di antara mereka sudah terlalu dekat untuk disebut kebetulan. Ledi bisa mencium aroma samar kopi yang tadi mereka minum.
Kevin sedikit menunduk.
Bibir mereka bersentuhan. Singkat. Hanya tempelan yang nyaris seperti salah langkah.
Ledi terdiam sepersekian detik—lalu mendorong dada Kevin dengan kedua telapak tangannya. Tidak keras. Hanya refleks.
Kevin mundur setengah langkah. Wajahnya tetap tenang.
Angin malam lewat di antara mereka.
Ledi menatap mata Kevin. Dadanya naik-turun. Ada sesuatu yang belum selesai.
Kevin tidak mendekat lagi. Ia hanya berdiri, menunggu.
Beberapa detik berlalu. Tidak ada yang berbicara. Waktu terasa memanjang.
Kevin maju satu langkah. Ledi tidak mundur. Bibir mereka saling mencari dan kali ini tidak ada yang menarik diri.
Tangan Kevin berpindah ke belakang leher Ledi. Ibu jarinya menyentuh kulit tepat di bawah telinga. Tangan Ledi memeluk punggung Kevin.
Mereka saling mendekap hingga hampir tidak ada lagi ruang yang tersisa. Suara di sekitar memudar. Lampu Eiffel berkilau di atas mereka.
Ketika tubuh mereka akhirnya kembali berjarak, napas Ledi lebih cepat dari sebelumnya. Bibirnya sedikit terbuka. Tangannya belum turun dari dada Kevin.
Kevin menggenggam tangan Ledi.
Tatapan Ledi terkunci pada mata Kevin—ia tidak lagi menoleh ke menara.
***
Perjalanan pulang terasa lebih sunyi.
Di metro, mereka duduk berdampingan. Tangan masih bertaut. Ibu jari Kevin bergerak pelan di punggung tangan Ledi.
Di lobi hotel, Kevin merangkul pinggang Ledi. Ledi tidak lagi canggung menyandarkan kepalanya.
Lift naik perlahan.
Pantulan mereka di cermin tampak berbeda dari dua hari lalu. Tidak ada lagi jarak kosong di antara bahu.
Lorong lantai kamar sunyi.
Mereka berhenti di depan pintu kamar Kevin.
Ledi menoleh sekilas ke arah pintu kamarnya sendiri.
Kevin menatapnya tanpa bertanya.
Beberapa detik berlalu.
Tidak ada “sampai besok”. Tidak ada penjelasan.
Kevin mengangkat kartu kamarnya. Tangan yang satu lagi tetap di pinggang Ledi.
Klik. Pintu terbuka perlahan, menyisakan celah yang cukup untuk memperlihatkan cahaya hangat dari dalam.
Kevin tidak masuk. Masih berdiri di samping Ledi.
Tidak ada kata. Hanya napas mereka yang terdengar pelan.
Ledi berdiri di ambang pintu. Ujung sepatu haknya tepat di garis peralihan antara karpet lorong dan lantai kamar. Cahaya dari dalam menyentuh wajahnya, membuat bayangan lembut di bawah dagunya.
Kevin sedikit menunduk, wajahnya dekat dengan pelipis Ledi. Ia tidak mencium. Tidak menarik. Tidak mendesak. Ia hanya menunggu.
Beberapa detik berlalu. Jari-jarinya di pinggang Ledi tidak bergerak, tidak pula mengencang.
Ledi menelan ludah. Tangannya yang tadi menggenggam jas Kevin perlahan turun, lalu menyentuh lengan yang masih melingkari pinggangnya. Bukan untuk melepas.
Ia menarik napas, lalu melangkah masuk. Kevin ikut bergerak bersamanya, tanpa melepaskan sentuhan.
Pintu di belakang mereka tertutup. Klik.
Other Stories
Dante Fair Tale
Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...
Kuraih Mimpiku
Edo, Denny,Ringo,Sonny,Dito adalah sekumpulan anak band yang digandrungi kawula muda. Kema ...
Cinta Dua Rasa
Aruna merasa memiliki kehidupan yang sempurna setelah dinikahi oleh Saka, seorang arsitek ...
Menjelang Siang
Swastika, yang merasa lelah dengan permasalahan di kampus, memutuskan untuk berkungjung ke ...
Mr. Boros Vs Mrs. Perhitungan
Rani berjuang demi adiknya yang depresi hingga akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Radit ...
Prince Reckless Dan Miss Invisible
Naes, yang insecure dengan hidupnya, bertemu dengan Raka yang insecure dengan masa depann ...