Pacar Sewaan

Reads
7.9K
Votes
2.5K
Parts
22
Vote
Report
Penulis Komandala Putra

Bab 5 – Ajakan

Restoran itu lebih sepi dari biasanya. Lampu-lampu gantungnya menyala kekuningan, memantulkan bayangan samar di dinding kaca.

Di hadapan Ledi, seorang pria berusia awal tiga puluhan bercerita tentang proyek kantornya dengan suara yang terlalu bersemangat untuk topik yang terlalu teknis.

Ledi duduk tegak, kedua tangannya terlipat rapi di atas meja. Ia mengangguk di waktu yang tepat, tertawa kecil saat diperlukan, sesekali menyelipkan pertanyaan ringan agar percakapan tetap hidup.

“Apa hal yang paling nggak enak selama jadi pacar sewaan?” tanya pria itu.

Ledi membuka mulut—

Ponsel Ledi berdering.

Ia menunggu beberapa detik sebelum mengeluarkannya, seolah tidak ingin terlihat tergesa. Nama yang muncul di layar membuat jarinya berhenti sepersekian detik.

Kevin.

“Maaf, aku ke toilet sebentar ya, Kak,” kata Ledi, berdiri tanpa menunggu jawaban panjang.

Di lorong menuju toilet, ia mengangkat panggilan itu. “Halo.”

“Kamu lagi kerja?” Suara Kevin datar seperti biasa.

“Iya.”

“Dua bulan lagi aku ke Paris,” kata Kevin.

Ledi diam, menunggu pria itu melanjutkan ucapannya.

“Ikut?” tanya Kevin. Setelah jeda singkat, ia melanjutkan, “Tenang. Dua kamar.”

Ledi menyandarkan punggungnya ke dinding—dinginnya merembes lewat kaos tipisnya. “Lewat agensi?”

“Kalau mau lewat agensi, bisa.” Ada jeda di seberang sana. “Kalau nggak, juga nggak apa-apa.”

Ia menatap ujung sepatunya sendiri. “Aku belum punya paspor.”

“Bikin.” Nada Kevin tetap datar. “Aku transfer.”

Kevin tidak langsung melanjutkan.

Jari Ledi yang memegang ponsel mengencang tanpa ia sadari. Ia menelan ludah.

“Visa, aku yang urus,” lanjut Kevin.

Ledi tidak langsung menjawab. Punggungnya yang tadi bersandar kini terlepas dari dinding. Ia menarik napas pelan.

Napas di seberang terdengar berat dan pendek. “Tiga hari lagi, kasih kabar.”

Sambungan terputus.

Ledi menatap lurus ke depan, ke lorong yang hampir kosong, membayangkan sesuatu yang lebih jauh dari sekadar restoran ini.

Ia memandangi layar ponselnya yang kembali gelap. Pantulannya sendiri terlihat samar di sana—lipstik rapi, rambut tergerai, ekspresi yang sulit dibaca.

Ia kembali ke meja, menemui kliennya.

Pria di hadapannya itu melanjutkan ceritanya. Kali ini, tentang rencana pindah kantor cabang.

Ledi duduk, menyilangkan kaki, dan kembali ke perannya. Ia tertawa ketika pria itu membuat lelucon yang sebenarnya tidak lucu. Ia memegang gelasnya dengan dua jari, mengangguk, menyimak.

Di kepalanya, ia terus membayangkan kota Paris. Menara Eiffel yang sering ia lihat di wallpaper ponselnya. Sepasang kekasih berciuman di atas jembatan batu—kota berkilau di belakangnya.

***

Malam itu, di kamar kosnya yang sempit, Ledi membuka laptop tuanya. Bunyi kipas di dalamnya mendengung halus, seolah menolak dinyalakan.

Ia mengetik “cara membuat paspor” di mesin pencari. Beberapa tab terbuka berderet. Persyaratan. Biaya. Lokasi kantor imigrasi terdekat.

Ia membuka tab baru, lalu mengetik “tiket Jakarta Paris pulang pergi.” Deretan angka muncul di layar.
Ia membaca satu yang paling murah, lalu menutupnya tanpa komentar.

Di sudut meja, sebuah gantungan kunci berbentuk Menara Eiffel tergantung di tasnya—logam tipis yang dulu ia beli di lapak aksesori murah di Tanah Abang. Cat peraknya sudah sedikit pudar.

Ia membuka lemari kecilnya, menggeser tumpukan pakaian, dan menarik map plastik bening berisi dokumen. KTP. KK. Ijazah SMA.

Ia menutup laptop perlahan, lalu meraih ponsel.

Ia membuka WhatsApp dan menekan nama Bima. Panggilan tersambung.

Sambil menunggu diangkat, ia bangkit dan berdiri di dekat jendela kecil yang terhalang jemuran pakaian tetangga. Angin malam masuk tipis-tipis lewat sela kaca yang tidak rapat.

Tak lama kemudian, suara pria itu terdengar. “Halo?”

“Aku ada tawaran job ke luar negeri,” kata Ledi tanpa pengantar.

Di seberang sana hening beberapa detik. “Kerja apa?”

Ledi tidak menjawab.

“Nemenin cowok?” Suara Bima lebih pelan sekarang.

“Iya. Pisah kamar. Profesional kok.”

“Siapa?”

Ledi menatap dinding kamar yang catnya mulai mengelupas—tidak menjawab.

“Dia?” tanya Bima.

“Iya.”

Napas Bima terdengar lebih berat. “Ke mana?”

“Paris.”

Diam lagi.

“Aku khawatir,” kata Bima. Suaranya sedikit gemetar.

Ledi memutar gantungan kunci kecil berbentuk Menara Eiffel itu dengan ujung jarinya. “Dia sopan kok, Yang. Dua kali ketemuan, nggak pernah megang-megang sama sekali.”

“Aku tahu isi pikiran cowok,” kata Bima. Tidak keras, tidak marah. Hanya datar.

Ledi menjawab dengan nada yang sama tenangnya. “Kami pernah ketemuan di hotel. Di restorannya maksudku. Dia tetap jaga jarak.”

Sunyi di ujung sana. Hanya suara napas dan dengung samar televisi dari kamar sebelah.

“Dua bulan lagi berangkatnya,” tambah Ledi. “Cuma dua minggu.”

Bima menghela napas panjang. “Kamu mau?”

Ledi duduk di tepi ranjang. Ranjangnya berderit pelan. Ia memandangi poster kecil Menara Eiffel yang ditempel miring di dinding—sudah sedikit terkelupas di sudutnya karena selotip yang mengering.

“Aku cuma kerja, Yang,” katanya pelan, “aku bisa jaga diri.”

Ia mengambil gantungan kunci itu dari tasnya, menggenggamnya erat di telapak tangan, lalu menempelkannya sebentar ke tengah dada.

Pandangannya masih terpaku pada poster di dinding, seolah kota itu bisa menjawab untuknya. “Kamu kan tahu sendiri, Yang, aku pengen banget ke Paris,” lanjutnya, suaranya melembut tanpa sadar.

Beberapa detik berlalu sebelum terdengar tarikan napas panjang dari ujung sana. “Iya, nggak apa-apa. Aku percaya kamu.”

Senyum terukir di wajah Ledi. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tumitnya terangkat sesaat, lalu mendarat lagi di atas kasur tipis itu.

“Makasih ya, Yang,” ucap Ledi, nada suaranya lebih ringan. Ia memeluk gulingnya dengan erat, pipinya menempel pada kain yang dingin. “I love you.”

I love you too,” kata Bima.

Setelah telepon ditutup, ia membuka kembali percakapan dengan Kevin. Jarinya berhenti di atas layar, matanya menoleh sebentar ke arah poster Menara Eiffel.

Tangannya mengetik: “Aku ikut.”

Balasan datang tidak sampai satu menit. “Kirim nomor rekening.”

Ledi menatap pesan itu tanpa berkedip. Senyum yang tadi mengembang pelan-pelan mengendur.

Ledi membuka aplikasi m-banking, lalu menyalin nomor rekeningnya ke Kevin—telapak tangannya terasa dingin.

Ledi berbaring menatap langit-langit. Kipas angin berputar lambat di atas kepala.

Ting!

Ledi meraih ponsel di sampingnya.

Notifikasi: transfer masuk.

Jumlahnya lebih banyak dari biaya membuat paspor yang tadi ia lihat.

Ledi membuka WhatsApp agensi, lalu mengetik singkat: “Kak, aku cuti 2 minggu mulai tanggal 14.”

Balasan datang tak lama kemudian: “Oke. Kita announce di IG.”

Ledi memejamkan mata, membayangkan dirinya berjalan di kota yang selama ini hanya ia lihat di layar.


Other Stories
Kala Kisah Tentang Cahaya

Kala, seorang gadis desa yang dibesarkan oleh neneknya, MbahRum. tumbuh dalam keterbatasan ...

Bu Guru Dan Mantan Murid

Salsa, guru yang terjebak pernikahan dingin, tergoda perhatian mantan muridnya, Anton. Per ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Arti Yang Tak Pernah Usai

Siapa sangka liburan akhir tahun beberapa mahasiswa ini membawa dua insan menyelesaikan se ...

Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Misteri Kursi Goyang

Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...

Download Titik & Koma