Pacar Sewaan

Reads
8.1K
Votes
2.6K
Parts
22
Vote
Report
Penulis Komandala Putra

Bab 21 – Akhir Bahagia?

Siang itu, mereka melangsungkan pernikahan di KUA. Tanpa tenda. Tanpa pelaminan. Tanpa fotografer profesional yang sibuk mengatur pose.

Bima mengenakan kemeja putih polos yang disetrika licin. Rambutnya tersisir rapi. Wajahnya tampak tenang.

Ledi duduk di sampingnya, kebaya putih sederhana membungkus tubuhnya. Hijab putih terpasang rapi. Tidak ada riasan berlebihan, hanya sentuhan tipis di bibir dan pipi. Tangannya terlipat di atas pangkuan, cincin kecil sudah siap di kotak beludru.

Beberapa anggota keluarga duduk diam. Ibu Bima menyeka sudut matanya sekali, lalu kembali duduk tegak. Tidak ada bisik-bisik panjang. Tidak ada suara tawa.

Ijab kabul diucapkan dengan lancar. Suara Bima jelas, tidak tersendat.

Para saksi mengangguk. Kata “sah” terdengar tegas.

Bima, dengan tangan sedikit gemetar, memasukkan cincin ke jari manis Ledi.

Ledi yang semula menunduk mengangkat wajah—lalu tersenyum lebar.

Tidak ada resepsi. Tidak ada bulan madu ke luar negeri atau ke Bali.

***

Kontrakan kecil yang mereka tempati tidak jauh dari kantor Bima. Dindingnya dicat biru muda. Dapurnya sempit dengan kompor dua tungku dan rak piring sederhana.

Sebuah kalender bergambar gunung tergantung di dinding, tanggal-tanggalnya sudah dicoret dengan pulpen biru.

Perabot minimal: satu lemari plastik, satu meja makan kecil, kasur di kamar yang cukup untuk dua orang.

Bima berangkat kerja dengan tas hitam yang sama setiap pagi. Sepatunya disemir. Jam tangannya terpasang rapi.

Sebelum keluar, ia selalu mencium kening Ledi. Kadang, tangannya singgah sebentar di atas perut istrinya yang mulai membulat. Ledi membalas dengan mencium punggung tangan suaminya.

“Bekalnya dimakan ya, Yang,” kata Ledi pagi itu.

“Iya. Kamu juga jangan sampai kecapaian,” balas Bima.

***

Kehamilan Ledi mulai terlihat jelas. Tidak besar, tapi cukup untuk membuat Bima lebih protektif.

Di pasar, Bima mengambil semua kantong belanjaan. “Jangan angkat yang berat-berat, Yang.”

“Nggak apa-apa. Aku bisa kok,” jawab Ledi.

“Aku tahu kamu bisa. Tapi biar aku aja.”

Saat Ledi mencuci piring, Bima menempelkan pipinya ke bahu Ledi dari belakang, seperti kebiasaan lama yang kembali menemukan tempatnya.

“Biar aku aja,” kata Bima.

Saat malam, tangan Bima sering terletak di atas perut Ledi sebelum mereka akhirnya terlelap.

***

Sore itu, Ledi duduk di kursi ruang tamu, membuka Instagram dan menggulir tanpa tujuan.

Jempolnya berhenti menggulir ketika sebuah unggahan dari akun media bisnis muncul di berandanya: foto sepasang pengantin di sebuah ballroom hotel mewah.

Di foto itu, Kevin, yang mengenakan jas hitam, berdiri di samping wanita bergaun putih. Cincin di jari wanita itu begitu indah. Berlian di lehernya memantulkan cahaya.

Ledi melihat jumlah likes foto itu sudah puluhan ribu. Komentar berderet di bawahnya:

“Pernikahan kaum elit.”

“Power couple masa depan.”

“Kalau bukan sesama konglomerat, nggak mungkin.”

Ledi menggulir sedikit lagi. Ada komentar yang menyebut nama keluarga perempuan itu sebagai “dinasti bisnis.”

Ledi teringat Kevin waktu di Paris. Pria itu beberapa kali menatap layar ponsel sambil tersenyum.

Ia berhenti scrolling.

Tidak ada air mata. Tidak ada perubahan di wajahnya. Hanya layar yang tetap menyala di tangannya.

Pintu depan terbuka. “Yang?” suara Bima terdengar ceria. “Aku beliin buah kesukaan kamu.”

Ledi mematikan layar ponsel. “Mangga?”

Bima masuk sambil tersenyum, mengangkat kantong plastik sedikit lebih tinggi. “Manis banget, tadi aku cobain.”

Bima melangkah ke dapur. Ledi mengikuti. Cahaya sore jatuh lembut di lantai kontrakan yang sederhana itu.

Di atas meja makan, sebuah piring plastik—bukan porselen mahal—diletakkan di antara mereka berdua.

Bima memotong mangga dan menyuapkan potongan pertamanya pada Ledi. “I love you.”

Ledi memegang pergelangan tangan Bima. “I love you too.”

Bima tersenyum, lalu kembali memotong mangga.

Di dapur sederhana ini, tidak ada lampu kristal. Tidak ada peralatan mewah. Yang ada, hanya dua orang yang memilih untuk saling bersama. Dan itu cukup—setidaknya untuk saat ini.

***TAMAT***


Other Stories
Se-birru Langit. Se-bening Embun

Liburan—antara tawa dan air mata. Birru dan Bening, saudara kembar yang harus berpisah s ...

Membabi Buta

Mariatin dan putrinya tinggal di rumah dua kakak beradik tua yang makin menunjukkan perila ...

Arti Yang Tak Pernah Usai

Siapa sangka liburan akhir tahun beberapa mahasiswa ini membawa dua insan menyelesaikan se ...

Deru Suara Kagum

Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...

Permainan Mematikan: Narsistik

Delapan orang asing diculik dan dipaksa mengikuti serangkaian permainan mematikan. Tujuh d ...

Hati Diatas Melati ( 17+ )

Melati adalah asisten pribadi yang perfeksionis dengan penampilan yang selalu tertutup dan ...

Download Titik & Koma