Pulang Tanpa Diikuti

Reads
54
Votes
1
Parts
5
Vote
Report
Penulis Ayu Ayy

**BAB 2 Nama Yang Tidak Pernah Disebut**

Pagi datang tanpa benar-benar mengusir rasa dingin. Sekar terbangun dengan kepala berat dan perasaan tidak enak yang menggantung di dada. Rumah nenek terasa berbeda—bukan karena suara, melainkan karena keheningan yang terlalu rapi, seolah setiap benda sedang menahan napas.
Ia duduk di tepi ranjang dan menatap lantai. Ada bau samar yang tidak ia kenali. Bukan bau kayu, bukan minyak kayu putih. Bau itu mengingatkannya pada sesuatu yang lama, sesuatu yang pernah akrab, tapi tidak pernah ia simpan namanya.
Di dapur, nenek sedang menyiapkan sarapan. Gerakannya pelan, teratur, seperti biasa. Sekar memperhatikan tangan itu—tangan yang dulu sering memegang kepala orang sakit, menempelkan doa, mengusap pelan seolah rasa sakit bisa berpindah.
“Kamu mimpi?” tanya nenek tanpa menoleh.
Sekar terdiam. “Sedikit,” jawabnya akhirnya.
Nenek mengangguk, tidak bertanya lebih jauh.
Menjelang siang, suara motor berhenti di depan rumah. Sekar menoleh ketika seorang perempuan masuk membawa plastik berisi sayur dan lauk. Buliknya. Wajahnya ramah, senyumnya lebar, tapi matanya bergerak cepat—menyapu rumah, lorong, dan berhenti sesaat di pintu kamar yang terkunci.
“Kamu sudah sampai kemarin ya,” kata bulik pada Sekar sambil tersenyum.
“Iya, Bulik.”
“Orang tuamu langsung pulang?”
Sekar mengangguk. “Ada kerjaan.”
Bulik mengangguk juga, lalu mengalihkan pandangan. Seolah jawaban itu menutup sesuatu yang lain.
Mereka makan siang bersama. Obrolannya ringan—tentang cuaca, harga sayur, kabar tetangga. Sekar mencoba ikut tertawa, tapi pikirannya terus kembali ke lorong samping rumah.
“Bulik,” kata Sekar pelan, “dulu… aku sering sama siapa waktu kecil di sini?”
Sendok di tangan bulik berhenti sejenak.
“Maksudnya?” tanyanya, terlalu cepat.
Sekar ragu. “Aku ingat ada yang sering gendong aku. Perempuan. Bukan ibu, bukan nenek.”
Bulik tersenyum, tapi senyumnya tidak sampai ke mata. “Kamu kebanyakan ingat yang aneh-aneh,” katanya ringan. “Namanya juga anak kecil.”
Nenek berdiri dan mengambil piring kotor, suaranya memecah jeda. “Sudah, jangan dibahas.”
Satu nama hampir keluar dari mulut bulik—Sekar yakin itu. Tapi tidak jadi. Nama itu mengendap di udara, tidak terucap, tapi terasa.
Sore hari, Sekar duduk sendirian di teras. Angin membawa suara dedaunan dan aroma tanah basah. Dari sudut matanya, ia melihat bayangan perempuan berdiri di lorong samping rumah. Rambutnya panjang, tubuhnya kurus. Bayangan itu tidak mendekat, tidak menatap. Hanya berdiri, seperti menunggu.
“Siapa kamu?” bisik Sekar.
Bayangan itu memudar.
Malam datang lagi, lebih berat dari sebelumnya. Saat Sekar memejamkan mata, suara itu kembali.
Bukan langkah.
Bukan panggilan.
Hanya satu kalimat pendek, berulang, seperti doa yang tersesat.
“Kamu ingat aku, kan?”
Sekar membuka mata, air mata mengalir tanpa ia tahu sebabnya. Ia sadar, ada seseorang yang dulu sangat dekat dengannya. Seseorang yang pernah merawat, menjaga, dan mencintainya dengan caranya sendiri.
Dan sekarang, orang itu menunggu.
Bukan untuk menakut-nakuti.
Hanya untuk diingat.

Other Stories
Konselor

Musonif, 45 tahun, seorang pemilik kios tindik, hidup dalam penantian hampa dan duka yang ...

Egler

Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...

My 24

Apa yang tak ia miliki? Karir yang gemilang, prestasi yang apik, istri yang cantik. Namun ...

Padang Kuyang

Warga desa yakin jika Mariam lah hantu kuyang yang selama ini mengganggu desa mereka. Bany ...

After Honeymoon

Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...

Bad Close Friend

Denta, siswa SMA 91 Cirebon yang urakan dan suka tawuran, tak pernah merasa cocok berteman ...

Download Titik & Koma