LIMA
Tanganku gemetar hebat saat menggenggam botol plastik kecil itu. Permukaannya terasa dingin, seolah baru saja dikeluarkan dari lemari es. Aku membawanya ke bawah sinar lampu tidur yang temaram, mencoba memfokuskan mataku pada huruf-huruf yang tercetak di label kertas yang agak mengelupas itu.
Nama Pasien: NADIA SASMITA. Gunakan 1 tablet saat merasa cemas atau kehilangan kendali.
Jantungku seperti dihantam palu godam. Aku tahu botol ini. Aku ingat dokter di Jakarta pernah memberikannya padaku setelah "hari buruk" tahun lalu saat semua orang menganggapku tidak stabil karena terlalu sedih.
Tapi aku sudah membuangnya semua. Aku sudah meyakinkan diriku bahwa aku sudah baik-baik saja. Bahwa aku tidak butuh bantuan kimia untuk menjalani hidupku.
Lalu kenapa benda ini ada di tas ransel Arif? Sejak kapan dia menyembunyikannya di sana?
"Nad? Kamu sedang apa di lantai?"
Suara Arif membuatku tersentak. Aku segera menyembunyikan botol itu di balik punggungku, namun gerakanku terlalu kikuk. Arif sudah berdiri tepat di hadapanku. Rahangnya tegas dan sorot matanya yang tenang.
"Ini apa, Rif?" Aku menunjukkan botol itu dengan tangan yang tak bisa berhenti gemetar. "Kenapa ini ada di tasmu? Dan kenapa namaku yang tertulis di sini?"
Arif tidak tampak terkejut. Dia tidak panik. Dia justru menatapku dengan tatapan yang sangat dalam, seolah sedang menimbang-nimbang setiap kata yang akan ia ucapkan.
"Kamu yang menitipkannya padaku sebelum kita berangkat, Nad. Kamu bilang kamu takut tidak kuat menghadapi perjalanan ini sendirian."
"Bohong!" teriakku. Suaraku menggema di dinding kayu pondok yang sunyi. "Aku tidak pernah menitipkan apa pun padamu! Aku sudah sehat, Rif! Kamu sendiri yang bilang kalau kita perlu liburan ini untuk merayakan hidup baru kita!"
"Nadia, tenanglah..." Arif mencoba meraih tanganku, tapi aku menghindar dengan kasar.
"Jangan sentuh aku! Apa kamu sengaja? Kamu menyembunyikan ini dariku karena kamu ingin aku bergantung pada benda ini lagi?" Air mata mulai mengalir deras.
Arif menghela napas panjang. Dia duduk di tepi ranjang. Bahunya meluruh. "Mungkin kamu memang perlu meminumnya satu kali saja, Nad. Pendakian tadi, angin di atas bukit itu… mungkin membuatmu bingung. Kamu hanya perlu sedikit ketenangan."
"Bingung?" Aku tertawa getir.
Arif tidak menjawab. Dia hanya menatapku dengan mata yang tampak sangat lelah.
Aku mundur menjauh darinya hingga punggungku menabrak lemari.
Arif mencoba meraih tanganku, tapi aku terus menghempasnya. Lalu dia berdiri di tengah ruangan, tepat di bawah kipas angin gantung yang berputar lambat.
"Aku sudah nggak perlu obat ini, Rif," bisikku sambil menyodorkan botol plastik itu ke arahnya.
Arif hanya mengangguk pelan. Suaranya hampir menyerupai bisikan angin laut. "Kalau itu membuatmu tenang, tidurlah sekarang. Besok pagi kita harus ke laut. Kita akan melihat apa yang ada di kedalaman."
Aku tidak membalas. Aku merangkak naik ke tempat tidur, menjauh dari sisi tempat Arif biasanya berbaring. Aku melempar botol putih itu ke lantai hingga isi dari botol plastik itu keluar berhamburan.
Malam itu, aku tidak benar-benar tidur. Aku mencium bau laut dan parfum maskulin yang samar dari bantal di sebelahku. Aku memalingkan wajah, menatap butiran pil yang berserakan di lantai kayu seperti bintang-bintang pucat yang jatuh.
Aku harus membuktikan pada dunia, dan pada diriku sendiri, bahwa aku tidak membutuhkan botol putih itu. Bahwa apa yang kulihat, apa yang kusentuh, dan apa yang kucintai adalah nyata.
Besok, di bawah air yang sunyi, aku akan merekam semuanya. Aku akan menunjukkan pada Arif dan pada suara-suara di kepalaku, bahwa aku sudah benar-benar sembuh.
Other Stories
Gm.
menakutkan. ...
DARAH NAGA
Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...
Desa Di Ujung Senja
Namaku Anin, aku hanya ingin berlibur ke rumah oma untuk mengisi liburanku seperti biasany ...
Yang Dekat Itu Belum Tentu Lekat
Dua puluh tahun sudah aku berkarya disini. Di setiap sudut tempat ini begitu hangat, penuh ...
Ruf Mainen Namen
Lieben .... Hoffe .... Auge .... Traurig .... ...
Agum Lail Akbar
Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...