EPILOG
Di bandara Soekarno-Hatta, seorang petugas keamanan masih mengingat perempuan itu.
Ia berdiri di antrean boarding sambil berbicara pelan, sesekali tertawa kecil, lalu mengangguk pada ruang kosong di sebelahnya.
Saat diminta menunjukkan tiket, ia menyerahkan satu.
“Kursi sebelah kosong, ya, Bu?” tanya petugas.
Perempuan itu tersenyum.
“itu kursi suami saya.”
Tak ada siapa pun di sampingnya.
Di resort Labuan Bajo, seorang resepsionis sempat menuliskan catatan kecil di buku laporan malam.
Tamu pondok no 3 itu, datang sendiri. Terlihat berbicara sendiri di balkon.
Ia ragu menuliskannya, lalu tetap membiarkannya di sana.
Di Bukit Padar, seorang pemandu wisata memperhatikan perempuan itu berdiri di puncak lebih lama dari wisatawan lain.
Tangannya terulur, seperti sedang digenggam seseorang.
Angin kencang menerbangkan rambutnya.
Ia tertawa pada cakrawala.
Pemandu itu sempat menoleh ke sekeliling.
Tak ada siapa pun di sampingnya.
Saat snorkeling, instruktur beberapa kali berenang mendekat.
Perempuan itu menunjuk ke arah terumbu karang, lalu memberi isyarat pada seseorang yang tidak berada di air.
Ia bahkan memberi ruang, seolah takut bertabrakan.
Laut hanya beriak tenang.
Ketika kepulangan, staf hotel melihatnya berjalan ke mobil sambil membuka pintu penumpang depan terlebih dahulu.
Ia menunggu beberapa detik.
Lalu menutupnya pelan.
Mobil itu melaju dengan satu bayangan di kursi pengemudi.
Beberapa hari kemudian, kehidupan di bandara, resort, dan bukit itu kembali seperti biasa.
Wisatawan datang dan pergi.
Tawa berganti wajah.
Namun di antara mereka, ada beberapa orang yang sesekali teringat pada perempuan yang terus berbicara pada udara kosong.
Mereka tidak tahu namanya.
Mereka hanya ingat satu hal
ia selalu terlihat seolah sedang bersama seseorang.
Padahal tidak pernah ada siapa-siapa.
Ia berdiri di antrean boarding sambil berbicara pelan, sesekali tertawa kecil, lalu mengangguk pada ruang kosong di sebelahnya.
Saat diminta menunjukkan tiket, ia menyerahkan satu.
“Kursi sebelah kosong, ya, Bu?” tanya petugas.
Perempuan itu tersenyum.
“itu kursi suami saya.”
Tak ada siapa pun di sampingnya.
Di resort Labuan Bajo, seorang resepsionis sempat menuliskan catatan kecil di buku laporan malam.
Tamu pondok no 3 itu, datang sendiri. Terlihat berbicara sendiri di balkon.
Ia ragu menuliskannya, lalu tetap membiarkannya di sana.
Di Bukit Padar, seorang pemandu wisata memperhatikan perempuan itu berdiri di puncak lebih lama dari wisatawan lain.
Tangannya terulur, seperti sedang digenggam seseorang.
Angin kencang menerbangkan rambutnya.
Ia tertawa pada cakrawala.
Pemandu itu sempat menoleh ke sekeliling.
Tak ada siapa pun di sampingnya.
Saat snorkeling, instruktur beberapa kali berenang mendekat.
Perempuan itu menunjuk ke arah terumbu karang, lalu memberi isyarat pada seseorang yang tidak berada di air.
Ia bahkan memberi ruang, seolah takut bertabrakan.
Laut hanya beriak tenang.
Ketika kepulangan, staf hotel melihatnya berjalan ke mobil sambil membuka pintu penumpang depan terlebih dahulu.
Ia menunggu beberapa detik.
Lalu menutupnya pelan.
Mobil itu melaju dengan satu bayangan di kursi pengemudi.
Beberapa hari kemudian, kehidupan di bandara, resort, dan bukit itu kembali seperti biasa.
Wisatawan datang dan pergi.
Tawa berganti wajah.
Namun di antara mereka, ada beberapa orang yang sesekali teringat pada perempuan yang terus berbicara pada udara kosong.
Mereka tidak tahu namanya.
Mereka hanya ingat satu hal
ia selalu terlihat seolah sedang bersama seseorang.
Padahal tidak pernah ada siapa-siapa.
Other Stories
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
The Truth
Seth Barker, jurnalis pemenang penghargaan, dimanfaatkan CEO Kathy untuk menghadapi perebu ...
Nala
Nala tumbuh dalam keluarga sederhana yang perlahan berubah sejak kepergian Ayahnya. Gadis ...
Kutukan Yang Kupanggil Cinta
Sekar Diajeng Wardhani tidak percaya cinta. Bagi perempuan seperti dia, hubungan hanya per ...
Reuni Mantan
Iko dan tiga mantan Sarah lainnya menghadiri halalbihalal di vila terpencil milik Darius, ...
Sebelum Ya ( Ketika Hidup Butuh Diperjuangkan )
(Diangkat dari kisah nyata. Kisah-kisah penuh hikmah bagi tokoh utama, yang diharapkan bis ...