SEMBILAN
Jakarta Selatan pagi ini masih diselimuti sisa hujan semalam. Aku berdiri di depan sebuah toko cetak foto kecil di sudut blok yang sudah menjadi langgananku selama bertahun-tahun. Aroma bahan kimia dan kertas foto yang khas menyambutku saat pintu kaca itu berdenting terbuka.
"Pagi, Mbak Nadia. Tumben pakai kamera sekali, pakai lagi?" sapa Mas Dani, pemilik toko, sambil membetulkan kacamatanya.
Aku tersenyum lebar, meletakkan kamera kuning yang sudah kosong itu di atas meja etalase. "Iya, Mas. Iseng saja pas liburan kemarin di Labuan Bajo. Tolong dicuci semua ya, Mas. Jangan ada yang terlewat."
"Siap. Tunggu sekitar satu jam ya, Mbak. Lagi nggak terlalu antre kok."
Aku mengangguk dan duduk di kursi plastik di pojok ruangan. Arif duduk di sampingku. Dia mengenakan kemeja biru yang sama. Wajahnya terlihat sangat tenang, hampir menyerupai malaikat.
"Sebentar lagi, Nad. Semua orang akan tahu," bisik Arif.
Aku menggenggam tanganku sendiri di atas pangkuan, mencoba meredam debaran jantung yang mulai tak beraturan. Satu jam terasa seperti satu abad. Aku melihat mesin cetak besar di belakang meja etalase itu mulai bekerja.
Satu per satu, lembaran kertas foto keluar dari mesin, jatuh ke dalam wadah plastik. Mas Dani mulai menyusunnya, memasukkannya ke dalam amplop cokelat besar tanpa melihat isinya secara detail.
"Sudah jadi, Mbak," panggil Mas Dani.
Aku membayar biayanya dan menerima amplop itu. Tanganku gemetar. Arif berdiri tepat di belakangku, dagunya bersandar di bahuku.
"Buka sekarang, Nad," pintanya.
Aku duduk kembali di kursi pojok. Perlahan, aku membuka segel amplop itu. Bau kertas foto baru yang tajam menusuk hidungku. Aku mengambil tumpukan pertama.
Foto pertama: Bukit Padar yang megah. Indah, namun… ada yang aneh. Di tempat Arif seharusnya berdiri dengan kemeja birunya, hanya ada hamparan rumput kering dan bayangan tebing.
Aku mengerutkan dahi. Tanganku semakin gemetar saat membalik ke foto kedua. Foto di dermaga. Aku melihat diriku sendiri sedang tersenyum lebar, tapi tanganku yang seolah sedang merangkul seseorang, hanya merangkul udara kosong. Tidak ada Arif.
"Rif... ini salah cetak ya?" bisikku lirih.
Aku membalik foto-foto berikutnya dengan kalap. Foto di atas kapal: kosong. Foto di bawah air hanya ada terumbu karang dan gelembung udara yang tertangkap cahaya matahari. Kemeja biru itu tidak ada. Foto di dalam kamar hotel: lemari, tempat tidur, dan lampu duduk yang menyala. Tidak ada bayangan pria di sana.
"Rif… kamu di mana?" Suaraku mulai pecah.
Hingga aku sampai pada jepretan terakhir. Foto di depan rumah kami semalam. Foto yang seharusnya menunjukkan Arif berdiri gagah menyambut rumah kami kembali.
Di dalam foto itu, aku melihat diriku sendiri yang terpantul di jendela rumah. Aku berdiri sendirian, memegang kamera kuning ke arah cermin, dengan ekspresi bahagia yang terlihat sangat mengerikan karena aku tersenyum pada kekosongan di sampingku.
Tiba-tiba, rasa dingin yang selama ini kurasakan di sampingku lenyap. Aku menoleh ke samping. Kursi plastik itu kosong. Tidak ada Arif. Tidak ada kemeja biru. Hanya ada aroma laut yang samar dan bau bahan kimia toko foto.
"Mbak Nadia? Mbak, nggak apa-apa?" Mas Dani menghampiriku dengan wajah khawatir.
Aku tidak menjawab. Aku melihat ke bawah, ke tumpukan foto-foto itu lagi. Di balik foto terakhir, aku melihat Mas Dani menyelipkan sepotong guntingan koran lama yang mungkin dia temukan di tas kamera yang aku titipkan tahun lalu, atau mungkin itu hanya ingatanku yang mendadak kembali meledak.
Sebuah berita kecil di pojok koran dengan foto Arif mengenakan perlengkapan skydiving: "Kecelakaan Tragis di Langit: Atlet Skydiving Arif Pratama Tewas Setelah Parasut Gagal Mengembang di Hari Pertama Liburannya Bersama Istri."
Ingatanku menghantamku seperti tsunami. Hari pertama. Suara parasut yang robek. Teriakan yang hilang. Dan aku… aku yang tidak sanggup menerima kenyataan itu, memutuskan untuk melanjutkan liburan itu sendirian dengan bayangan yang kuciptakan sendiri.
"Nad, aku selalu mencintaimu," suara Arif terdengar untuk terakhir kalinya, sangat jauh, seperti gema dari dasar laut.
Aku memeluk amplop cokelat itu erat-erat di dadaku, terisak di lantai toko foto yang dingin. Aku sudah sembuh. Tapi kesembuhan ini adalah neraka yang paling nyata.
Aku melihat sekeliling. Arif tidak ada.
Other Stories
Nestapa
Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...
Air Susu Dibalas Madu
Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...
Bekasi Dulu, Bali Nanti
Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...
First Love Fall
Rena mengira dengan mendapat beasiswa akan menjadi petualangan yang menyenangkan. Tapi sia ...
315 Kilometer [end]
Yatra, seorang pegawai kantoran di Surabaya, yang merasa jenuh dengan kehidupan serba hedo ...
Menantimu
Sejak dikhianati Beno, ia memilih jalan kelam menjajakan tubuh demi pelarian. Hingga Raka ...