04. Malam Pengubah Arah
Malam keempat tiba dengan angin pegunungan yang lebih dingin dari sebelumnya, Vila tampak tenang di bawah langit berbintang, tapi hati Aruna berdebar tak menentu.
Suasana malam itu berbeda, ada rasa tegang yang samar, seperti sesuatu yang akan segera terungkap.
Tiba-tiba, suara mobil terdengar di gerbang, Aruna menahan napas ketika ia melihat papa dan mamanya turun dari mobil. Mereka datang tanpa banyak kata, tapi pandangan papanya kali ini berbeda, tidak dingin, tapi waspada dan penuh perhatian.
Aruna berlari menghampiri orangtuanya yang baru saja menginjakkan kaki di teras vila,
"papa,mama...ada apa? Kenapa kalian datang kesini?"
" Iya,papa mama sengaja kesini untuk memberikan makanan kesukaan kamu ini dari nenek kamu, takutnya besok basi,nenek kamu baru saja kita antar ke rumahnya, ke Bandung, Aruna." Ucap mamanya Aruna sembari melebarkan senyumnya.
" Waduhh...pas banget nih Tante, pasokan makanan sudah habis, kebetulan ini malam terkahir kita menginap disini." Ucap tito bersemangat mengambil makanan itu dari genggaman tangan mama Aruna.
"Yoi..." Sahut Christy.
"Sebenarnya...ada hal lain juga yang mau papa bahas, tentang kamu dan Tirta kemarin." Deg... perasaan itu muncul lagi setelah hampir menyusut, kedua mata Aruna sibuk berkeliling mencari dimana keberadaan Tirta.
Tirta yang sedang menulis di teras, menyadari kehadiran mereka, tanpa kata-kata panjang, ia menaruh surat terakhir di depan kamar Aruna, seperti biasanya, dan tetap duduk diam.
Papanya Aruna melihat dari kejauhan, mengamati cara Tirta menulis dan menaruh surat itu dengan penuh kesabaran, sesuatu di dalam diri papanya Aruna bergerak, ketulusan Tirta tidak bisa ia abaikan begitu saja.
Papanya Aruna tersenyum tipis lalu mengalihkan pandangannya ke arah Aruna.
Malam itu, Tirta menghampiri semua teman temannya didepan kayu bakar yang sudah ditumpuk untuk acara api unggun seru-seruan, Aruna duduk sedikit dekat disamping Tirta, ia melihat papanya menghampiri mereka.
Papanya Aruna menatap Tirta lama, lalu tersenyum tipis. “Aku salah menilai." katanya pelan.
Papanya Aruna tidak berubah begitu saja dalam semalam, tetap keras, tetap percaya pada stabilitas, tetap curiga pada cinta yang terlalu sunyi.
Sampai disuatu sore, dua hari lalu papanya Aruna memergoki calon menantunya, laki-laki yang ia pilih dengan perhitungan yang matang, sedang bersama wanita lain yang seusia anaknya, keduanya terlihat seru, tidak ada batasan, tertawa terlalu lepas untuk ukuran teman biasa.
Tidak ada teriakan.
Tak ada konfrontasi besar.
Hanya satu kesadaran pahit, ia telah salah membaca manusia yang akan dipercaya menjaga putrinya untuk seumur hidupnya.
Setelah mengonfirmasi dengan temannya, dan benar cowok itu sudah beristri, tidak ada pikiran panjang yang terbersit, hanya ingin menyelamatkan hidup anaknya.
Mungkin teman papanya Aruna itu cuma mau memanfaatkan papanya Aruna, dan mungkin begitulah dunia bisnis.
Diam-diam Aruna kemarin memotret dan mengirim surat-surat dari Tirta untuk papanya, tidak langsung percaya.
Masih dengan kepala keras, masih menyangka kalau itu cuma akal-akalan cowok pengecut yang berusaha mendapatkan keluluhan dari seorang ayah untuk merestui putrinya dan dia.
Tapi begitu sore itu terlintas, papanya Aruna berpikir ada sesuatu dari Tirta yang tidak ia lihat.
Surat-surat yang menenangkan.
Kertas sederhana, tulisan rapi, tidak menuntut apapun.
Ia berusaha membaca satu.
Lalu satu lagi.
Isinya tidak tentang cinta.
Tidak ada janji.
Tidak ada klaim atas kepemilikan atas anaknya.
Melainkan isinya tentang menjaga diri, berani hidup, percaya pada mimpi meski bergetar.
Dimomen itu papanya Aruna duduk lama.
Dan untuk pertama kalinya, ia bertanya kepada dirinya sendiri, "sejak kapan anakku hanya aku lihat sebagai tanggung jawab, bukan sebagai manusia?"
Pertemuan papanya Aruna dan Tirta ini tidak hangat, tidak juga canggung.
Tirta menghadapi papanya Aruna dengan sikap yang masih sama dengan enam hari yang lalu, tenang, sopan, tidak memohon.
" Aku tidak ingin anakku hancur begitu saja." Ucap papanya Aruna dengan tatapan menerima.
“Calon jodoh yang kami pilihkan untuk Aruna … ternyata sudah punya istri, kita merasa ditipu, tapi melihatmu Tirta, menulis surat-surat itu untuk Aruna… aku jadi paham, ketulusanmu berbeda.”
mendengar pernyataan papanya Aruna, kedua matanya Tirta sedikit berkaca-kaca, ia tidak menyangka bahwa dibalik kekesalan Aruna kepadanya kemarin, diam-diam ia tetap memperjuangkan mereka dihadapan papanya.
Suasana malam itu berbeda, ada rasa tegang yang samar, seperti sesuatu yang akan segera terungkap.
Tiba-tiba, suara mobil terdengar di gerbang, Aruna menahan napas ketika ia melihat papa dan mamanya turun dari mobil. Mereka datang tanpa banyak kata, tapi pandangan papanya kali ini berbeda, tidak dingin, tapi waspada dan penuh perhatian.
Aruna berlari menghampiri orangtuanya yang baru saja menginjakkan kaki di teras vila,
"papa,mama...ada apa? Kenapa kalian datang kesini?"
" Iya,papa mama sengaja kesini untuk memberikan makanan kesukaan kamu ini dari nenek kamu, takutnya besok basi,nenek kamu baru saja kita antar ke rumahnya, ke Bandung, Aruna." Ucap mamanya Aruna sembari melebarkan senyumnya.
" Waduhh...pas banget nih Tante, pasokan makanan sudah habis, kebetulan ini malam terkahir kita menginap disini." Ucap tito bersemangat mengambil makanan itu dari genggaman tangan mama Aruna.
"Yoi..." Sahut Christy.
"Sebenarnya...ada hal lain juga yang mau papa bahas, tentang kamu dan Tirta kemarin." Deg... perasaan itu muncul lagi setelah hampir menyusut, kedua mata Aruna sibuk berkeliling mencari dimana keberadaan Tirta.
Tirta yang sedang menulis di teras, menyadari kehadiran mereka, tanpa kata-kata panjang, ia menaruh surat terakhir di depan kamar Aruna, seperti biasanya, dan tetap duduk diam.
Papanya Aruna melihat dari kejauhan, mengamati cara Tirta menulis dan menaruh surat itu dengan penuh kesabaran, sesuatu di dalam diri papanya Aruna bergerak, ketulusan Tirta tidak bisa ia abaikan begitu saja.
Papanya Aruna tersenyum tipis lalu mengalihkan pandangannya ke arah Aruna.
Malam itu, Tirta menghampiri semua teman temannya didepan kayu bakar yang sudah ditumpuk untuk acara api unggun seru-seruan, Aruna duduk sedikit dekat disamping Tirta, ia melihat papanya menghampiri mereka.
Papanya Aruna menatap Tirta lama, lalu tersenyum tipis. “Aku salah menilai." katanya pelan.
Papanya Aruna tidak berubah begitu saja dalam semalam, tetap keras, tetap percaya pada stabilitas, tetap curiga pada cinta yang terlalu sunyi.
Sampai disuatu sore, dua hari lalu papanya Aruna memergoki calon menantunya, laki-laki yang ia pilih dengan perhitungan yang matang, sedang bersama wanita lain yang seusia anaknya, keduanya terlihat seru, tidak ada batasan, tertawa terlalu lepas untuk ukuran teman biasa.
Tidak ada teriakan.
Tak ada konfrontasi besar.
Hanya satu kesadaran pahit, ia telah salah membaca manusia yang akan dipercaya menjaga putrinya untuk seumur hidupnya.
Setelah mengonfirmasi dengan temannya, dan benar cowok itu sudah beristri, tidak ada pikiran panjang yang terbersit, hanya ingin menyelamatkan hidup anaknya.
Mungkin teman papanya Aruna itu cuma mau memanfaatkan papanya Aruna, dan mungkin begitulah dunia bisnis.
Diam-diam Aruna kemarin memotret dan mengirim surat-surat dari Tirta untuk papanya, tidak langsung percaya.
Masih dengan kepala keras, masih menyangka kalau itu cuma akal-akalan cowok pengecut yang berusaha mendapatkan keluluhan dari seorang ayah untuk merestui putrinya dan dia.
Tapi begitu sore itu terlintas, papanya Aruna berpikir ada sesuatu dari Tirta yang tidak ia lihat.
Surat-surat yang menenangkan.
Kertas sederhana, tulisan rapi, tidak menuntut apapun.
Ia berusaha membaca satu.
Lalu satu lagi.
Isinya tidak tentang cinta.
Tidak ada janji.
Tidak ada klaim atas kepemilikan atas anaknya.
Melainkan isinya tentang menjaga diri, berani hidup, percaya pada mimpi meski bergetar.
Dimomen itu papanya Aruna duduk lama.
Dan untuk pertama kalinya, ia bertanya kepada dirinya sendiri, "sejak kapan anakku hanya aku lihat sebagai tanggung jawab, bukan sebagai manusia?"
Pertemuan papanya Aruna dan Tirta ini tidak hangat, tidak juga canggung.
Tirta menghadapi papanya Aruna dengan sikap yang masih sama dengan enam hari yang lalu, tenang, sopan, tidak memohon.
" Aku tidak ingin anakku hancur begitu saja." Ucap papanya Aruna dengan tatapan menerima.
“Calon jodoh yang kami pilihkan untuk Aruna … ternyata sudah punya istri, kita merasa ditipu, tapi melihatmu Tirta, menulis surat-surat itu untuk Aruna… aku jadi paham, ketulusanmu berbeda.”
mendengar pernyataan papanya Aruna, kedua matanya Tirta sedikit berkaca-kaca, ia tidak menyangka bahwa dibalik kekesalan Aruna kepadanya kemarin, diam-diam ia tetap memperjuangkan mereka dihadapan papanya.
Other Stories
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Test
Test ...
Cicak Di Dinding ( Halusinada )
Sang Ayah mencium kening putri semata wayangnya seraya mengusap rambut dan berlinang air m ...
Melepasmu Untuk Sementara
Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...
Saat Cinta Itu Hadir
Zita hancur karena gagal menikah setelah Fauzi ketahuan selingkuh. Saat masih terluka, ia ...
Dream Analyst
Frisky, si “Dream Analyst”, bersama teman-temannya mengalami serangkaian kejadian meny ...