Fajar Abadi Di Ambang Dunia
Suara derap langkah kaki Aris dan Baskara menggema di dalam gudang, namun Kirana dan Rhea telah bergerak lebih cepat. Mereka menyelinap melalui lubang ventilasi rendah yang mengarah langsung ke dermaga kayu tua yang tersembunyi. Di sana, sebuah kapal nelayan kecil dengan mesin yang sudah menyala menunggu dalam kegelapan.
"Kirana! Rhea! Jangan harap kalian bisa lari!" teriak Aris dari kejauhan, suaranya parau oleh amarah yang terluka.
Tanpa menoleh, mereka melompat ke atas geladak. Kapal itu melaju membelah ombak, meninggalkan daratan yang penuh dengan aturan mencekik dan pria-pria yang hanya mencintai kepemilikan. Di belakang mereka, Hotel Asmon di kejauhan tampak seperti titik kecil yang terbakar oleh kenangan pahit. Kini, hanya ada laut lepas yang luas dan mereka berdua.
Beberapa jam kemudian, kapal itu menurunkan mereka di sebuah teluk tersembunyi yang hanya bisa diakses lewat laut. Sebuah pondok kayu kecil berdiri di tepi pantai yang berpasir putih bersih, tersembunyi di balik tebing-tebing tinggi. Inilah akhir dari pelarian mereka, dan awal dari segalanya.
Fajar mulai menyingsing, mewarnai langit dengan palet ungu dan emas yang memukau. Udara laut yang asin dan segar menyapu kulit mereka. Begitu pintu pondok kayu itu tertutup, dunia luar benar-benar lenyap.
"Kita bebas, Rhea," bisik Kirana, suaranya bergetar oleh haru.
Rhea tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menarik Kirana ke tengah ruangan yang hanya beralaskan permadani bulu tebal di depan jendela besar yang menghadap langsung ke laut lepas. Di bawah cahaya fajar yang mulai menyentuh kulit mereka, Rhea mulai melucuti pakaian Kirana dengan perlahan,sangat perlahan, seolah-olah ia sedang membuka kado paling berharga di dunia.
Kemeja putih yang dikenakan Kirana terbuka, memperlihatkan dadanya yang naik-turun dengan napas yang memburu. Di bawah cahaya keemasan itu, kulit Kirana tampak seperti porselen yang bercahaya. Rhea berlutut, menciumi setiap inci perut Kirana, lalu bergerak lebih rendah. Tangannya yang hangat membelai paha dalam Kirana, memicu getaran elektrik yang membuat Kirana hampir kehilangan tumpuan.
"Malam ini, dan setiap fajar setelah ini... kau hanya milikku," geram Rhea, suaranya parau oleh gairah yang telah mencapai titik didih.
Rhea mengangkat tubuh Kirana, membawanya ke atas tempat tidur kayu yang rendah. Pakaian mereka kini telah sepenuhnya tanggal, menyisakan dua tubuh yang telanjang bulat dalam keindahan yang murni. Penyatuan mereka kali ini adalah sebuah ledakan erotisme yang tak tertandingi,lebih detail, lebih berani, dan lebih jujur daripada sebelumnya.
Rhea memposisikan dirinya di atas Kirana, menatap mata kekasihnya dengan tatapan yang membara. Ia memulai dengan ciuman yang dalam dan panjang, sebuah tarian lidah yang penuh rasa lapar. Tangan Rhea merayap turun, menjelajahi pusat sensitivitas Kirana yang sudah basah oleh hasrat. Sentuhannya kali ini begitu mahir, menekan di titik yang tepat hingga Kirana melengkungkan punggungnya, kepalanya mendongak ke belakang dengan desahan yang memenuhi seluruh pondok.
"Rhea... oh, Tuhan... lebih dalam lagi..." rintih Kirana, jemarinya mencakar punggung Rhea yang berkeringat, meninggalkan bekas merah yang sensual.
Rhea bergerak dengan ritme yang buas namun terkendali, setiap gerakan adalah klaim atas jiwa dan raga Kirana. Di bawah mereka, sprei putih itu kusut dalam gairah yang liar. Kirana merasakan panas tubuh Rhea yang menghujamnya, sebuah sensasi yang membuatnya merasa benar-benar hidup. Mereka tidak lagi hanya sekadar bercinta, mereka sedang merayakan kemenangan cinta atas penindasan.
Eksplorasi mereka menjadi semakin intens. Rhea menggunakan lidahnya untuk menelusuri tulang selangka Kirana hingga ke dadanya, menyesap rasa haus yang telah lama ia pendam. Setiap jeritan nikmat Kirana adalah musik bagi Rhea. Di tengah puncak ekstasi yang luar biasa, di mana saraf-saraf mereka seolah meledak dalam kembang api kenikmatan, mereka saling menjeritkan nama masing-masing.
Cairan cinta dan keringat mereka menyatu, menciptakan aroma khas gairah yang memenuhi ruangan. Saat puncak itu akhirnya mereda, mereka tetap dalam posisi saling mengunci, napas mereka menjadi satu harmoni yang tenang.
Kirana menyandarkan kepalanya di dada Rhea, mendengarkan detak jantung wanita itu yang mulai melambat. Di luar jendela, matahari telah sepenuhnya terbit, menyinari laut yang tenang. Tidak ada lagi pengejaran, tidak ada lagi suami yang menuntut, tidak ada lagi sandiwara.
"Kita akan membangun hidup di sini, Kirana," bisik Rhea sambil mencium kening Kirana yang masih basah oleh keringat.
Kirana tersenyum, senyum pertama yang benar-benar sampai ke matanya setelah bertahun-tahun. "Hanya ada kita, Rhea. Di bawah langit ini, kita adalah penguasa atas cinta kita sendiri."
Di pantai yang terisolasi itu, di bawah perlindungan fajar yang abadi, Kirana dan Rhea akhirnya menemukan apa yang mereka cari selama ini, sebuah rumah yang dibangun bukan dari dinding dan atap, melainkan dari gairah yang jujur dan kebebasan yang tak ternilai harganya. Mereka telah membakar jembatan masa lalu, dan dari abunya, tumbuh sebuah cinta yang akan terus membara, sehangat mentari pagi yang baru saja menyapa mereka.
Other Stories
Nyanyian Hati Seruni
Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...
Percobaan
percobaan ...
Hold Me Closer
Pertanyaan yang paling kuhindari di dunia ini bukanlah pertanyaan polos dari anak-anak y ...
Ada Apa Dengan Rasi
Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...
Melepasmu Untuk Sementara
Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...
Bahagiakan Ibu
Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...