14. Orang Yang Tersesat Tidak Selalu Bodoh, Beberapa Tidak Bisa Menemukan Jalan Pulang Karena Terlalu Takut Melangkah
“Topeng? Dia benar-benar bilang begitu?”
Seperti sebelum-sebelumnya, Arga menyempatkan diri menelepon editor sekaligus sahabat kesayangannya persis setelah acara malam itu berakhir. Ditemani segelas teh hangat Arga duduk di atas pasir, menatap lautan seraya menatap layar gawainya yang menampilkan wanita berbaju tidur yang sedang menyulam di kursi kayu ruang tamu. Arga bahkan bisa mendengar suara berisik dari ketiga anak Mbak Indah, juga suara televisi yang ditonton Mas Wahab.
“Kok bisa?” ulang Mbak Indah, bingung. “Ini baru pertama kali lho, Ga, setelah lebih dari lima belas tahun.”
Arga menghela napas pendek, kecewa. “Ya makanya itu. Gue juga bingung. Bisa-bisanya dia spesifik bilang kalau,” dia menjeda kalimatnya, tidak sanggup melanjutkan, “Apa akhir-akhir ini gue kelihatan banget ya, Mbak?”
Mbak Indah menyipitkan mata. “Kelihatan apa?”
“Kalau gue lagi galau?” jawabnya penuh kehati-hatian.
Yang justru direspons tawa renyah oleh Mbak Indah. “Kalau itu sih dari dulu, Ga.”
“Mbak, gue serius!”
“Gue juga serius, Arga!” Mbak Indah meletakkan jarum dan benang ke atas meja, lalu mengambil ponsel pintarnya supaya bisa menatap Arga lebih jelas. “Pokoknya, sebelum acara selesai ..., lo harus pastikan kalau perempuan itu nggak macam-macam. Jangan sampai semua berantakan hanya karena masalah sepele.”
“Mbak, ini bukan masalah sepele.” Arga mengeluh, frustrasi.
“Ya justru itu!” Mbak Indah mengangguk, menunjuk ke kamera. “Semakin serius masalah, semakin besar juga dampaknya buat karier lo.”
Arga mendecit, mengusap wajahnya dengan tangan kiri. “Terus gue harus apa?”
“Ya mana gue tahu?” Mbak Indah menaikkan kedua bahunya. “Baik-baikin dia, mungkin. Rayu dan bikin dia tutup mulut.”
“Caranya?”
“Dengan menjadi rekan satu tim yang baik?”
Yang benar saja?
Meski kesal, Arga tetap menjalankan saran Mbak Indah. Bukan karena mau, melainkan dia sadar dirinya tak punya pilihan. Maka, keesokan paginya, selepas mandi dan menyantap sarapan, tidak seperti hari sebelumnya Arga langsung menghampiri Lexi ke tenda perempuan, yang sudah bisa ditebak membuat gadis berambut dicepol asal tersebut kaget.
“Tumben? Kenapa? Mau bujuk aku soal kemarin?” Alih-alih kalimat manis, Lexi justru menonjok Arga tepat di muka menggunakan kata-kata tersebut.
Tak ingin masalah menjadi semakin buruk, Arga mencoba meredam emosinya. “Nggak kok. Gue hanya mau memperbaiki kinerja tim kita.”
Lexi meraih ransel hitamnya, lalu menggendongnya di punggung. “Oh ya?” katanya, masih dengan nada meledek. “Masa?” Kemudian menuju tempat berkumpul, tempat para peserta lain telah berkumpul, sebelum nantinya menembus rimbunnya hutan tropis untuk sampai ke Pantai Plengkung.
Seperti anak ayam, Arga mengekori Lexi. Namun, langkahnya berhenti saat matanya secara tidak terduga beradu tatap dengan Djaya, yang masih penuh intimidasi seperti biasa. Persis seperti tatapan binatang buas kepada mangsanya yang tak berdaya, yang hanya bisa pasrah saat ingin diterkam. Belum lagi dengan tubuh tinggi, besar dan berisi milik Djaya. Arga jelas tak ada apa-apanya.
“Kenapa? Dia gangguin kamu?”
Meski dari kejauhan tetapi Arga masih bisa membaca gerak bibir pemuda itu, terlebih Lebas yang berdiri di sebelahnya spontan menoleh ke arahnya, membuat Arga dengan cepat bergabung dengan rombongan lain.
♥♥♥
“Aku dengar di hutan ini ada jalur hidup.” Celetukan Nina membuat para gadis yang tengah bersantai di pantai malam itu merapatkan posisi duduk. Raut penasaran terpancar dari wajah satu per satu dari mereka, memaksa gadis berjaket tebal itu untuk melanjutkan, “Terutama jalan yang akan kita lalui besok, dari Trianggulasi ke Plengkung kabarnya punya banyak banget titik jalur yang hidup.” Dia membuat tanda petik dari jari tengah dan telunjuk di kedua tangannya, menambah penegasan.
Kamala mengusap kedua lengannya yang mendadak dingin akibat embusan angin hutan. “Maksudnya hidup itu, gimana?”
“Ya hidup, Kak Mala!” Nina mendesis, kemudian mencondongkan sedikit tubuhnya agar bisa menjangkau wajah pucat Kamala yang memang agak jauh karena terhalang oleh Merida dan Lexi. “Di mana jalur itu bisa berubah-ubah, seolah pohon bergerak dan punya nyawa sendiri.”
“Tapi, tumbuhan bukannya memang bernyawa ya? Dia kan makhluk hidup,” sahut Sabrina, membuat yang lain tak senang karena membuyarkan fokus obrolan. “Oke! Oke! Lanjutkan!”
Nina kembali menarik napas panjang, menahannya sebentar untuk menciptakan ketegangan yang sempat buyar sebelum berbisik, “Mitosnya sih, orang yang kehilangan arah atau punya tempat buruk bakalan disesatkan oleh hutan. Dan saat kita tersesat, maka nggak akan ada jalan keluar sebelum –”
“Sebelum apa?” Merida penasaran.
“Sebelum kita menemukan jalan yang lurus.”
“Ya sudah, kalau begitu kita tinggal jalan lurus saja, kan?” Tak mau diam, Lexi ikut menyambung, membuat para gadis tertawa. “Why? Apakah aku salah?”
“Ini nggak dalam arti sebenarnya, Alexia Renata!” Merida merangkul Lexi, menepuk-nepuk bahu berbalut selimut tipis itu lembut. “Ini lebih ke arah –kamu tahu, hal mistis? Supranatural dan nggak bisa dijelaskan dengan logika.“
Lexi manggut-manggut, bukan setuju tetapi karena dia paham arah pembicaraan kawan-kawannya. “Tapi yang sampai sekarang aku tidak mengerti adalah ..., kenapa hutan di Indonesia hanya menyesatkan mereka yang tidak merusak? Maksudku, ketika pembabatan hutan terjadi, ke mana makhluk gaib itu? Kenapa mereka tidak menyesatkan mereka?”
Para gadis terdiam, saling pandang satu sama lain. Susana mendadak hening. Sebelum tanpa diduga sebuah suara muncul dari kejauhan, memecah rasa kikuk, “Karena kapitalisme lebih menyeramkan dari apa pun juga.”
“Djaya?”
Yang dimaksud mendekat, membawa nampan berisi potongan semangka segar. “Camilan. Dari Mbak Mawar.”
“Wah, makasih, Djay!” seru Cecillia.
“Tahu saja lo kalau kami lapar.” Kamala ikut mencomot.
“Mau jalan-jalan malam, nggak?”
Pertanyaan Djaya sontak membuat Lexi kaget, tetapi dengan cepat membaca situasi. Dia mengerti bahwa teman-temannya memberinya kode mata yang mengatakan bahwa kamu harus ikut. Terima saja.
Maka, berakhirlah keduanya menelusuri pantai malam itu. Lengkap dengan sepotong semangka segar berasa manis, Lexi membiarkan Djaya berjalan di sebelahnya.
“Kudengar besok di Pengkung ada tempat bagus untuk surfing.”
“Oh ya? Kamu suka selancar juga?”
Djaya mengangguk. “Tentu. Dan aku lihat di Instagram, kamu juga, kan?”
“Sudah lama sekali aku nggak surfing,” kata Lexi, dia menghela napas panjang dan sesak. Mengenang hari-hari menyenangkan bersama sang ayah saat untuk pertama kali dia belajar menggunakan papan selancar, saat mengunjungi Hawai dan –“Itu lama sekali. Kupikir, aku mungkin telah lupa caranya.”
“Mau mencobanya besok?”
“Entahlah, tapi aku merasa sedikit takut.”
“Kamu? Punya rasa takut?” goda Djaya. “Aku sangat terkejut mendengarnya. Kukira kau wanita paling berani di dunia.”
♥♥♥
Djaya Satyawan mirip sekali dengan Simon, mantan pacar Lexi tujuh tahun lalu. Keduanya sama-sama punya badan tinggi, atletis, tampan dengan wajah maskulin dengan rahang tegas yang menonjol, serta memiliki kulit cokelat menawan yang dihiasi jejak terpanggang matahari. Rambut keduanya pun sama-sama panjang, meskipun rambut Djaya lebih tebal dan hitam. Jauh berbeda dengan pria kurus, berkulit putih pucat dan tersandung-sandung saat berjalan di belakangnya.
Lexi bahkan harus menoleh, memastikan Arga tidak tertinggal oleh rombongan. Sementara Djaya, yang jelas bukan rekan satu timnya, justru sigap membantu Lexi dan bersedia membawakan ransel beratnya saat medan yang mereka lalui cukup terjal, becek sisa hujan semalam.
Pagi itu matahari belum cukup tinggi saat mereka meninggalkan kemah, tetapi paling tidak mentari telah bangun, dan cahayanya menembus sela-sela rimbunnya dedaunan.
“Perjalanan ini tidak akan lama, hanya sekitar sembilan kilometer saja,” ujar Mbah Rasmo kepada mereka semua sebelum memasuki hutan tadi. Yang sayangnya, karena jalur ini hutan, yang penuh pepohonan, minum sinar matahari dan dipenuhi sisa pohon tumbang dan ketidakpastian, jarak segitu seolah jauh lebih panjang dan melelahkan.
Beberapa peserta terlihat mulai lelah, tetapi karena dia sendiri sangat menikmati, Lexi justru merasa semakin dia melangkah semakin besar juga semangat yang membara di dadanya. Terlebih dengan nyanyian hutan, serangga dan jejak binatang liar yang bisa mereka temukan di sepanjang jalur. Membuat Lexi tak berhenti mengambil gambar dengan kameranya.
“Kak, berhenti sebentar!” Seruan Kamala membuat yang lain menoleh, termasuk Lexi yang memang ada di bagian tengah. “Ada yang sesak napas ini.” Dia menepuk punggung Revon, asisten Gideon yang sedang membungkuk.
“Tolongin dong!” Gideon membimbing pria besar itu untuk duduk di tanah. “Minum ya? Minum dikit saja? Kenapa tiba-tiba sih? Ya ampun, Von.”
“Lex, aku ke sana ya!” kata Djaya, dan tanpa menunggu reaksi Lexi, pria tampan itu buru-buru berlari untuk memberi pertolongan, membuat Lexi tak bisa menahan diri untuk tidak memberinya pujian.
Luar biasa.
Tak sekadar tampan secara fisik, Djaya juga punya tangan besar untuk menolong orang lain.
“Sepuluh menit!” Mas Joko memperingatkan peserta lain. “Kita istirahat sepuluh menit. Buat yang mau makan, minum atau pipis silakan di sini. Tapi ingat, jangan nyampah.”
Lexi bisa melihat air muka lega di wajah Arga saat mendengar pengumuman tersebut. Yang memang kebetulan berada di belakangnya, persis. Arga menurunkan ranselnya, kemudian selonjoran di atas tanah. Napasnya pendek, lalu meminum air dari botol yang dia bawa.
“Tumben tidak mengambil gambar?” tanya Lexi lebih tepat disebut pernyataan.
Arga menoleh. “Katanya disuruh hemat baterai.”
“Kata siapa?”
“Kata pacarnya Djaya.”
“Pacarnya Djay? Oh, astaga! Maksudmu, aku? Kami tidak pacaran!” elak Lexi. Akan tetapi dia tidak marah, malah tertawa. “Tapi dia memang ganteng sih. Baik dan lebih mirip sama Candra ketimbang –“
“Iya, gue tahu!” Muka Arga murung. “Please-lah, nggak usah dibahas. Nanti ada yang dengar lho. Kan gue sudah minta maaf juga tadi pagi.”
“Memang aku memaafkan?”
Arga memutar bola matanya malas. “Kok lo bisa tahu sih?”
“Ya bisa dong. Kan jelas banget.”
“Jelas?”
“Mata lo itu lebih mirip Nuga si Mayat Hidup daripada Candra.” Lexi ikut mengeluarkan botol air minumnya. “Makanya, kalau mau akting itu jangan setengah-setengah. Eh, tunggu!”
“Apa?” tanya Arga, bingung karena mendadak kawannya itu membatu.
Lexi memasang telinganya. “Kamu dengar, tidak?”
“Dengar –?” Arga ikut mencari suara, dan detik berikutnya keduanya kompak menoleh ke arah semak-semak tak jauh dari lokasi mereka berada. Beberapa meter saja.
“Rusa?” bisik Lexi.
“Hah?” Mata Arga membulat. “Mana?”
“Ya ampun, dia punya tanduk tiga!” Lexi hampir melompat, tetapi malah meremas lengan Arga.
Mendengar kata tanduk tiga, Arga buru-buru berdiri. Keduanya mengendap-endap, berjalan dan menyibak semak penuh kehati-hatian agar tak mengejutkan si binatang. Dan benar saja, mata Arga seketika terpana. Itu ..., apakah ini artinya kemarin dia tak berhalusinasi? Rusa itu benar adanya?
♥♥♥
“Tunggu!”
Lexi tidak menyangka kalau langkah Arga yang sebelumnya lemah mendadak bisa sekencang itu. Seolah-olah rusa bertanduk tiga sebelumnya telah membangkitkan kekuatan tersembunyi dari pria yang saat itu hampir menghilang dari pandangan, berbaur dengan rimbunnya pepohonan di hutan. Beruntung, Lexi bisa menyusul, menarik tubuh Arga sebelum pria itu menubruk dan jatuh ke dalam jurang.
“Kamu apa-apaan sih, Ga! Main lari begitu saja! Untung saja tidak terjatuh!” omel Lexi seraya bangkit, tak lupa dia menepuk-nepukkan tangan untuk menghilangkan bekas tanah dari tubuhnya.
Arga yang sadar baru saja diselamatkan dari maut, tidak menjawab. Dia justru kembali mengalihkan pandang, memandang ke sekeliling penuh kekagetan. “Kok? Perasaan barusan gue lihat dia lari ke ..., kok bisa ada ..., jurang dan –“
“Gila kamu ya!” umpat Lexi, lagi. “Ngejar rusa sampai segitunya.”
“Rusa? Eh, lo juga lihat kan tadi? Rusa itu nyata, kan?” tanya Arga, masih penuh semangat. “Gue nggak halusinasi, kan? Dia –beneran ada, kan?”
Lexi menaikkan sebelah alisnya, bingung. “Iya. Terus? Kamu kenapa sih? Aneh banget.”
Bukannya menjawab, Arga malah nyengir. Dia tertawa, bungah. “Ya ampun! Gue nggak gila ternyata! Astaga. Itu rusa yang kemarin, Lex.”
“Kemarin?”
“Ya. Rusa yang menyematkan gue saat –ya Tuhan, kita di mana?” Dia yang baru sadar mengejutkan Lexi. “Yang lain mana?”
“Kita tersesat?” tambah Lexi, tak kalah panik. “Ga! Bagaimana ini?”
♥♥♥
“Betulan tidak ada sinyal dong!” Meski menahan tangis, Lexi tidak berhenti menghubungi siapa pun yang bisa dia hubungi menggunakan gawainya. Akan tetapi, seperti kata Arga, hasilnya nihil. “Kita harus apa? Aku tidak mau mati di sini.”
Arga mendesis, menenangkan. “Sudah! Jangan panik! Kita pasti bisa keluar!”
“Ya tapi bagaimana caranya, Arga?” Lexi menyeka air di ujung matanya. “Oh iya, kemarin kamu –“
“Ditolong bapak-bapak cari kayu!” potong Arga.
“Ya sudah, kalau begitu kita cari saja bapak-bapak itu. Siapa tahu ada orang lain yang lagi cari kayu juga di sini.”
Arga menggeleng, lemah. “Tempat ini beneran di antah-berantah dan jauh dari peradaban. Beda sama jalur Pancur.”
Lexi jatuh, bokongnya menghantam tanah basah. “Ya Tuhan, jadi kita beneran bakal mati?”
“Kenapa jadi ngomongin mati sih?” Arga juga panik tetapi setengah mati menyembunyikannya. “Nggak! Kita pasti bakalan bisa balik. Gue yakin itu.”
“Yakin doang tidak cukup, Arga!” Tangis Lexi menjadi, dia tersedu-sedu. “Lagian kenapa sih kamu tadi lari segala? Harusnya kan kita panggil panitia buat mengejar rusa itu.”
“Ya lo, kenapa malah ngikutin gue? Bukannya panggil panitia buat ngejar gue?”
Jawaban Arga terdengar sangat sadis di telinga Lexi, membuat gadis itu makin menjadi. “Mom, Dad, I don’t wanna die like this!” rintihnya. “I’m not ready. I’m really not. If I die here, please, don’t hate me. I didn’t mean to screw things up. I justr –I’m sorry. I’m so sorry.”
“Nggak usah lebay!” Arga menyodorkan botol air minumnya, yang baru saja dia minum kepada Lexi. “Punya lo dihemat buat nanti. Kita nggak tahu bakal berapa lama di sini.”
Lexi tak langsung menerima. “Maksudnya? Kita akan –ya ampun! Yang benar saja.”
“Minum dulu!” Arga kembali mengayunkan botol. “Biar lo lebih tenang. Setelah ini kita cari jalan keluar. Tenangkan diri dulu. Kalau kepala panas, kita nggak akan bisa berpikir jernih.”
Other Stories
Tenda Dan Hujan Bercerita
Perjalanan liburan kali ini, terasa lebih istimewa baginya. Selain bahagia berkumpul bers ...
Mewarnai
ini adalah contoh uplot buku ...
Perahu Kertas
Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...
Love Of The Death
Cowok itu tak berani menatap wajah gadis di sampingnya. Pandangannya masih menatap pada ...
Bungkusan Rindu
Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...
Deska
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...