(bukan) Tentang Kita

Reads
866
Votes
0
Parts
61
Vote
Report
Penulis Nandreans

17.

Mama, I Miss You

Baik Arga maupun Lexi sama-sama bungkam.

Keduanya menjaga jarak.

Lexi berjalan lebih dulu bersama Djaya, membiarkan pria ganteng itu mengoceh tentang kondisi Revon. Meski sebenarnya tidak dia dengarkan. Sebab buku-buku jari tangannya rasanya masih kebas, napasnya pun belum teratur.

Di sisi lain, Arga yang ada di belakang juga masih mencoba mencerna situasi. Apakah ini murni mimpi, apakah hanya dia yang merasakan atau –semua terlalu membingungkan baginya.

Pengalaman sekaratnya barusan lebih serius dan menyeramkan. Bahkan Arga masih bisa merasakan aroma tanah dan sakitnya semut mencubit kulit wajahnya.

Namun, dia memilih tak membahasnya.

Gengsi.

Ya, apa kata Lexi kalau ternyata hanya Arga yang merasakan mimpi tersebut?

Wanita itu bisa dipastikan akan mengolok-oloknya. Dan satu-satunya yang ingin Arga lakukan saat itu adalah sampai di Pantai Plengkung, lalu menghubungi sang mama. Yang sialnya, masih tidak ada sinyal.

♥♥♥

Setelah cukup istirahat di area shelter konservasi, menghilangkan lelah setelah perjalanan sepanjang dua setengah jam lamanya, para peserta akhirnya bisa menikmati keindahan pesisir Pantai Plengkung.

Dipandu Pak Juna, penjaga pantai, mereka menyusuri kawasan pantai.

“Kalian lihat ombak di depan sana!” Pria bertopi besar dengan seragam khas penjaga pantai itu mulai bicara, menunjuk gulungan ombak di depan mereka. “Itu merupakan salah satu ombak terbaik di dunia. Banyak peselancar rela jauh-jauh datang ke sini hanya untuk menikmati keindahannya, menaklukkannya.

“Ombak itu merupakan anak-anak dari badai yang jaraknya ribuan kilo meter jauhnya, di tengah Samudera Hindia yang berhasil sampai ke sini.”

Para peserta termasuk Lexi sibuk mendengarkan, sesekali mencatat dalam buku catatan kecil di tangannya.

“Seperti pesan berantai, mereka datang dalam set,” lanjut Pak Juna. “Jumlahnya bisa beragam, kadang enam, kadang delapan, tapi yang hampir pasti –tujuh. Itulah kenapa orang menyebutnya The Seven Waves.” Tangan beliau bergerak-gerak, seolah memberi ilustrasi kepada para peserta untuk lebih mudah membayangkan. “Gelombang pertama relatif pelan, sebagai pengantar. Gelombang kedua dan ketiga, mulai agak besar. Baru di gelombang ke empat dan seterusnya, kekuatannya luar biasa dan mencapai puncak. Setelah itu, mereka akan reda sebentar. Tenang. Dan datang lagi gelombang awal.

“Selain ground swell, gelombang ini bisa terjadi karena dasar karang laut Plengkung –seperti namanya membentuk lengkung. Melengkung seperti mangkok. Yang begitu ombak datang, mereka tidak langsung memecah, melainkan menyaring, menahan dan melepaskannya bertahap.

“Dan karena panjang gelombang laut sendiri berbeda-beda, maka pecahannya inilah yang kita lihat. Lalu kenapa gelombang terakhir paling tinggi? Ya, benar, karena energinya menumpuk di sana. Seperti kalian,” Pak Juna menunjuk mengedarkan pandang, seolah mengajak bercanda. “Kalau sudah emosi, ditahan, ditahan, akhirnya meledak hebat.”

Semua tertawa, beberapa terpingkal, beberapa hanya formalitas.

“Orang dulu percaya bahwa gelombang ini bukan hanya sebuah fenomena alam, tetapi juga memiliki makna mendalam di dalamnya. Tidak seperti pantai lain yang bisa dinikmati, pantai ini memaksa kita untuk menghadapi.”

“Menghadapi apa, Pak?” sahut Lebas.

Pak Juna menjawab, “Menghadapi apa yang bisa dihadapi. Laut. Keberanian. Dan yang paling penting ..., diri sendiri.”

“Wah, kalau itu paling sulit, Pak!” Cecillia menyambung, membuat semua berseru, setuju.

Dan memang benar. Dari kebanyakan pria di sana, hanya Arga yang tidak berani menghadapi –ombak. Bukan hanya karena dia tidak bisa berselancar, dan bila dipaksakan akan mati konyol karena tenggelam, melainkan juga dalam arti tidak sebenarnya. Arga akui dia memang pengecut.

Bahkan Lexi yang semalam tampak lemah di mimpinya pun kini terlihat begitu bersemangat. Menantang ombak bersama Djaya. Lalu, bagaimana mungkin Arga dengan lancang menganggap gadis itu lemah? Konyol. Mimpi Arga terlalu tak masuk akal.

“Ga, sibuk nggak?” Suara Mas Yohan, salah satu panitia terdengar dari belakang, membuat Arga menoleh cepat. “Bisa tolongin aku?”

“Tolong apa, Mas?”

“Ambil logistik. Di Pancur. Dekat kok. Kalau tunggu Mas Wahid nanti lama. Bentar lagi anak-anak harus makan siang.”

♥♥♥

Setelah kurang lebih setengah jam perjalanan menggunakan motor trail, Arga dan rombongan pengambil logistik akhirnya sampai juga di pantai Pancur. Seraya menunggu tim mempersiapkan logistik untuk dibawa nanti, Arga menyempatkan diri untuk membuka ponsel, mengetik nama Ibu Negara dan mengirim panggilan. Tidak lama, terdengar suara dari seberang sana.

“Halo, Ma?” sapa Arga, penuh semangat.

Namun, alih-alih Bu Fatimah, yang menjawab justru suara pria muda, yang tidak begitu jelas karena mengunyah sesuatu. “Nelpon juga lo. Gue kira sudah lupa kalau punya orang tua.”

“Mama mana, Dave?” Arga yang malas mendebat, langsung menodong keponakan tercintanya itu.

“Mama!” Terdengar suara David berteriak, memaksa Arga menjauhkan speaker ponsel dari telinga. “Malin Kundang ini!”

“Bocah kurang ajar!” umpat Arga, menggerutu.

Setelahnya, terdengar bunyi langkah kaki. David berlari, menuju dapur, sepertinya. Sebelum suara yang amat Arga rindukan akhirnya terdengar. “Halo, Argantara? Kamu di mana? Mama berhari-hari nyariin kamu. Kata Indah kamu ke Banyuwangi. Ngapain? Kenapa nggak bilang dulu ke Mama?”

Entah terkena sihir atau apa, Arga mendadak merasa lega. Omelan mamanya ..., dia merindukan hal ini. Sangat rindu.

“Mana? Kok nggak ada suaranya?” Bu Fatimah mengomel pada David.

“Makanya, Mama jangan teriak-teriak. Ngambek lagi nanti Om Arga.” David terdengar kesal, lalu suaranya menjadi jelas. “Halo! Mas Arga! Masih di sana lo?”

Arga menyeka air mata. “Ya. Gue masih di sini.”

“Ini. Mama jangan ngomel. Aku mau lanjut makan dulu.”

“Ya sudah, sana! Nanti dicuci lho piringmu!” Seperti biasa, Bu Fatimah selalu mengomel. “Ga, kamu mbok ya jangan kayak begini tho, Nak. Mama ngerti kamu kesal sama Mama karena disuruh menikah melulu, tapi niat Mama kan baik. Mama janji deh mulai sekarang tidak akan memaksa kamu menikah. Terserahmu mau menikah atau tidak. Mama nggak akan mempermasalahkannya. Mama janji. Asal kamu pulang ya? Ga? Kamu nangis?”

“Nggak kok, Ma!” jawab Arga, suaranya parau. “Arga cuma kangen sama Mama.”

Bu Fatimah menghela napas, kasar tapi lega. “Mama juga kangen kamu, Sayang. Kangen banget.”

♥♥♥

“Sinyalnya hilang-hilangan di sini, Ma. Kadang bagus, kadang nggak. Kebetulan hari ini lagi buruk, mungkin karena cuacanya nggak bersahabat,” jelas Arga kepada sang ibu sembari menatap awan yang berkumpul di atas kepalanya. Padahal ketika berangkat dari Plengkung tadi, langit cukup cerah. “Makanya, aku nggak bisa pakai koneksi internet.”

“Oalah, iya nggak apa-apa. Mama paham kok,” jawab Bu Fatima, diiringi bunyi klunting-klunting, peralatan dapur yang saling beradu. “Ini Mama juga sambil masak, ada pesanan katering dari Bu RT buat nanti sore.”

“Acara apa?”

“Nggak ada. Jumat berkah saja. Nanti kalau sudah matang, David disuruh bagiin ke tetangga-tetangga.”

Mamanya memang gudang ide, apa yang tidak bisa diuangkan oleh perempuan satu ini?

“Siapa, Sayang?”

“Soyang-sayang!” Bu Fatima mendadak garang saat mendengar kalimat tersebut dari mulut Pak Lukman, suami tercintanya. “Anakmu.”

“Arga?” Dari nada bicaranya, Pak Lukman agaknya terkejut.

“Siapa lagi? Mau ngomong? Ini.”

Belum sempat suara Pak Lukman terdengar, lebih dulu telinga Arga menangkap suara menggemaskan dari seberang sana, yang membuat hatinya meleleh. “Om Aga. Om Aga. Opa, Om Aga?”

“Iya. Ini Om Aga.” Pak Lukman bicara menggunakan bahasa bayi, diimut-imutkan. “Coba sapa Om Aga, Niar. Halo, Om Aga. Ayo!”

“Halo, Om Aga. Ini Ia. Mamam.”

“Halo, Niar. Niar makan apa?”

“Empe.”

“Hah? Tempe?”

“Empe.”

“Iya, tempe?”

“Bukan! Empe! Empe, Om Aga! Empe!” Daniar begitu emosional, kesal karena tidak dimengerti. “Oma, Om Aga akal!”

“Oh iya, sini sama Oma!” Bu Fatima mengambil alih.

“Lemper!” Pak Lukman meralat. “Lemper, Ga.”

“Oalah. Maaf ya, Om nggak ngerti Niar ngomong apa.”

“Kebiasaan kamu ini, Ga.” Pak Lukman tertawa.

“Nangis dia?”

“Jelas. Itu, sekarang dibawa keluar sama mamamu. Ngadu ke Rian pasti sebentar lagi. Benar-benar ngambekan kayak bapaknya.” Dia tertawa sebentar, sebelum berubah serius. “Jadi, apakah kamu sudah menemukan apa yang kamu cari?”

“Maksud Papa?”

“Sudahlah, Ga. Kamu pikir Papa tidak tahu?” Pak Lukman menarik napas dalam, seolah telah menunggu waktu ini sejak lama, untuk menanyakan pada sang putra bungsu. “Terkadang jawaban dalam hidup tidak perlu dicari, tetapi perlu digali. Karena jawabannya ada di dalam diri kita sendiri. Lalu, apakah kamu sudah menemukannya sekarang? Di perjalananmu kali ini?”


Other Stories
Seribu Wajah Venus

Kisah-kisah kehidupan manusia yang kuat, mandiri, dan tegar dalam menghadapi persoalan hid ...

Dua Bintang

Setelah lulus, Manda ikut Tante Yuni ke Jakarta untuk melupakan luka keluarga. Tapi dikhia ...

Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...

Pulang Tanpa Diikuti

Sekar menghabiskan liburan panjang di rumah neneknya, sebuah rumah tua di desa yang menyim ...

Sinopsis

hdhjjfdseetyyygfd ...

Jogja With You

Tertinggal kereta mungkin tidak selamanya menjadi hal buruk. Mungkin Tuhan mau kamu bertem ...

Download Titik & Koma