(bukan) Tentang Kita

Reads
920
Votes
0
Parts
61
Vote
Report
Penulis Nandreans

27. Terkadang Seseorang Berbohong Hanya Karena Terlalu Cinta


“Bahkan untuk mati pun aku gagal.” Perkataan itu akhirnya keluar dari mulut Lexi setelah dua hari bungkam, tidak mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya yang kering.

Membuat langkah Arga spontan terhenti. Cukup lama, sebelum akhirnya pria itu berbalik, menatap ke arah ranjang tempat di mana gadis yang terbaring membelakanginya tersebut berada.

Dari suara serak dan pergerakan punggungnya, Arga tahu persis bila Lexi menangis. Terisak-isak. Terlalu lemah.

“Kenapa?” kata Lexi, pelan. “Kenapa kamu menyelamatkan aku? Kenapa kamu tidak membiarkan aku mati saja? Padahal aku –“ Dia berhenti sejenak, menyedot ingus sebelum melanjutkan dengan lebih tenang tetapi tetap pilu. “Aku ..., entah apa yang sekarang harus aku lakukan.”

Arga menahan napas, lantas berjalan mendekati ranjang. “Sembuh. Lo nggak harus ngapa-apain. Lo hanya harus sembuh. Itu doang. Cukup.”

“Tidak!” Lexi menggeleng. Kepalanya tenggelam ke dalam bantal. “Kamu tidak mengerti perasaanku. Kamu tidak tahu rasanya jadi aku.”

“Ya memang aku nggak tahu, Lex,” jawab Arga. “Sampai kapan pun aku nggak akan pernah tahu. Karena aku memang bukan kamu. Tapi ....”

“Tapi apa?”

“Tapi aku bisa bantuin kamu.”

Lagi, Lexi menggeleng. Tangisnya terdengar semakin sendu. Menyakitkan, sampai-sampai bisa membuat dada Arga serasa diiris-iris. Padahal terakhir kali Arga menyaksikan kepiluan seperti ini adalah empat tahun yang lalu. Dan dia tidak menyangka akan melihat keputusasaan semacam ini lagi. “Kamu tidak akan bisa bantu, kamu tidak tahu rasanya.”

“Ya sudah, kalau begitu sekarang buat aku tahu,” ujar Arga, seketika membuat Lexi menoleh, kemudian menatapnya tak percaya. “Aku mau dengar ceritamu. Aku mau membantumu.”

Namun, seperti kebanyakan orang depresi, Lexi justru kembali menyangkal. “Tidak, Ga! Percuma. Kamu pasti hanya akan menertawakanku nanti.”

“Kata siapa?” Arga semakin mendekat, dia duduk di tepi ranjang. “Kata siapa aku akan menertawakanmu?”

Lexi kembali memalingkan muka, lalu menenggelamkan tangis di dalam bantal. “Kamu pikir aku tidak tahu? Kalian ..., kalian pasti menertawakanku, kan? Kalian pasti mengolok-olok aku karena gagal bunuh diri, iya, kan? Sudahlah, jangan bohong!

“Aku tak sebodoh itu buat ditipu. Aku sudah cukup lelah. Aku .... Ya Tuhan, aku tidak kuat! Aku capek! Aku takut! Sendirian dan –“

Arga menarik napas panjang, menahan dan mengembuskannya perlawanan lewat mulut. Mencoba menenangkan diri. Setelah dirasa cukup dingin, barulah Arga memberi tanggapan, “Kan aku sudah bilang, kamu tidak sendirian. Kita teman, Lexi.”

“Kita bahkan baru kenal.”

“Terus kenapa? Bukannya dulu kamu sendiri yang bilang kita berteman?” ujar Arga. “Saat di hutan, waktu kita diserang rusa dan malaikat maut di mimpi itu? Kan kamu sendiri yang bilang kalau kita berdua berteman. Teman menghadapi kematian bersama-sama, ingat?”

♥♥♥

Tentu saja Lexi ingat.

Namun, situasinya sudah sangat berbeda sekarang. “Lexi yang kamu kenal sudah mati. Dia bahkan tidak pernah benar-benar ada. Dia topeng.”

“Sama dong,” jawab Arga. “Arga yang kamu kenal juga palsu. Arga yang dikenal orang-orang juga tidak asli.” Pandangannya masih tertuju ke arah Lexi, yang perlahan menoleh kembali. Mata mereka bertemu selama beberapa detik. Bibir Arga perlahan tersenyum, meski tak mendapat balasan yang sama. “Sangat wajar bagi seseorang memakai topeng ketika keluar.”

“Tapi kasus kita beda, Ga.”

“Yang bilang sama siapa?” Arga duduk di pinggir ranjang. “Lex, aku nggak tahu masalah apa yang kamu hadapi, tapi kamu nggak harus menanggungnya sendiri. Cerita ke orang lain itu nggak apa-apa lho. Siapa tahu mereka bisa bantu.”

“Atau malah menertawakan.”

“Ya, beberapa mungkin akan menertawakannya, tapi nggak semua, kan?” Arga melipat kedua tangannya di dada. “Jangan lo pikir orang kayak gue –yang lo bilang menyimpan rahasia besar. Gue bahkan nggak pernah benar-benar sendiri.

“Gue sadar betul kalau orang lain mengetahui kisah asli gue, mereka pasti –dan bisa dipastikan, akan menertawakannya. Tapi apa gue pasrah? Tentu nggak. Gue cari orang yang bisa gue percaya untuk bercerita. Untuk menumpahkan isi kepala gue. Kalau nggak? Gue pasti gila. Dan gue nggak mau gila.”

“Ya kan kamu bisa, Ga.”

“Apanya yang beda?” balas Arga. “Lex, semua manusia pada dasarnya memang sudah beda. Jangankan kita yang jelas-jelas orang lain, saudara kandung bahkan kembar pun itu beda lho.

“Tapi kita ini manusia. Makhluk sosial. Kita bukan ahli ramal –eh, memang sih beberapa dari kita mungkin bisa meramal, tapi kan nggak semua? Kebanyakan orang normal, bukan tukang ramal. Karena itu kita nggak bisa meraba-raba.”

“Kamu tidak mengerti, Ga.”

“Tentu, karena kamu nggak menjelaskan apa-apa!” ralat Arga. “Coba seandainya kamu cerita, aku pasti akan mengerti nantinya. Seperti kataku tadi, kita ini makhluk sosial. Kita hanya akan saling mengerti saat berinteraksi, saat berkomunikasi.

“Lha kamu saja diam. Berhari-hari nggak ngomong. Terus dari mana ceritanya aku –yang bukan ahli ramal ini –bisa paham maksudmu? Masalahmu? Dan segala cerita tentang hidupmu?

“Jangankan isi hati dan kepalamu, yang jelas-jelas nyata seperti kontak keluargamu saja, saat ditanya sama orang-orang, aku nggak tahu. Karena kamu nggak pernah kasih tahu.”

Lexi menyeka air matanya sendiri, cepat. “Kamu tidak perlu tahu. Aku harusnya diam. Kamu harusnya tidak menyelamatkan aku.”

“Biar apa? Biar kami semua merasa bersalah karena membiarkan teman kami mati mengenaskan di dalam penginapan?” todong Arga, cukup keras. “Lex, kamu pernah mikir nggak kalau kematianmu nantinya akan sangat menyiksa orang lain? Entah yang menemukan atau .... Bagaimana dengan penginapan Bu Galuh dan Pak Agung? Bagaimana kalau kematianmu di sana akan mematikan rezeki mereka?”

“Kok bisa?”

“Ya bisalah. Kayak nggak paham pemikiran masyarakat kita saja?” Arga mendengkus, muak. “Itulah kenapa penting untuk mempersiapkan tempat bunuh diri supaya nggak merugikan orang lain.”

“Mana sempat, Ga.”

“Ya harus sempat!” Arga menekan kata-katanya. “Paling nggak supaya ..., jangan sampai kematian kita membuat kematian-kematian baru ke depannya. Apalagi kematian ekonomi.” Dia bergidik ngeri. “Seram banget itu. Bisa mematikan banyak dapur keluarga. Masa, sudah mati penuh dosa, masih dapat kiriman dosa jariyah juga?”

Lexi menyeka air mata di pipinya, lagi. “Kenapa jadi ngomongin dosa jariyah sih?”

“Kenapa nggak?

“Masalahnya, kalau orang masih punya waktu berpikir sejauh itu artinya dia belum benar-benar ingin bunuh diri, Ga.”

“Justru itu kan tujuannya. Ketika pikiran bunuh diri datang, coba pikirkan lagi orang-orang di sekitar. Jangan hanya memikirkan diri sendiri. Karena bahkan saat kita sudah jadi mayat, kita masih akan mempengaruhi hidup orang lain.”

Arga benar, kata Lexi dalam hari. Karena keputusan Lexi pun memang ditengarai oleh kematian Handrick. Dan harusnya, Lexi juga memikirkan hal tersebut.

Tapi masalahnya, “Dad duniaku.”

Arga yang sebelumnya sempat diam menoleh, seakan tidak percaya kalau Lexi akan bicara lagi. Membicarakan topik ini.

Namun, pria bermata tersebut memilih diam, membiarkan Lexi melanjutkan ceritanya, “Selama ini aku pikir Papa benar-benar ayah yang sempurna.” Lexi memutar posisinya, bersusah payah dia mendudukkan dirinya sendiri yang tanpa diminta, Arga langsung mengulurkan tangan, membantunya bangkit. “Makasih, Ga.”

“Sama-sama.” Arga menarik kursi besi untuk duduk lebih nyaman. “Jadi, bagaimana?”

“Kamu mau dengar?” ulang Lexi.

Arga mantap mengangguk. “Kan aku yang menawari.” Senyumnya tipis, tapi menenangkan. Pemandangan yang sangat kontras bila Lexi mengenang pertemuan pertama mereka. Seolah peran mereka tertukar. Arga yang dipenuhi kegelapan justru sangat hidup, sementara Lexi yang sebelumnya –bersemangat ..., Lexi tidak mengenal dirinya sendiri. Dia sangat kosong. “Lex?”

“Oh iya.” Lexi buru-buru menyembunyikan lamunannya. “Sampai mana kita tadi?”

“Daddy-mu.”

“Ah, Dad.” Lexi menyandarkan punggungnya ke bantal di belakang. Mencoba mengingat kembali hari-hari masa kecilnya bersama pria yang dia kenal sebagai ..., cinta pertamanya.

♥♥♥

Bukan hanya ayah yang sempurna, Handrick juga suami yang luar biasa.

“Jika kehidupan kedua ada, Mom tidak yakin bisa menemukan pria lain seperti ayahmu.” Itulah kata yang selalu Marie katakan kepada Lexi sejak dia datang ke rumah keluarga Harris hingga sekarang, melalui sambungan telepon di masa-masa kritis wanita tua tersebut.

Sayangnya, itu sangat tidak berlebihan. Bahkan mungkin kata berlebihan tidak pernah cukup untuk mendeskripsikan kasih sayang Handrick Harris pada keluarganya.

“Kami bertemu ketika sama-sama menjadi relawan di panti jompo.” Melalui cerita Marie lah Lexi mengetahui kisah tersebut, yang karena dikisahkan berulang membuat satu-satunya anak di keluarga Harris tersebut bisa menghafal percintaan orang tuanya di luar kepala. “Dad menawari Mom untuk pulang bersama menggunakan mobil bututnya.”

“Dan di sanalah gombalan itu datang.” Bibi Nora yang menjadi saksi ikut menambahkan bumbu dalam cerita. “Padahal Bibi sudah memperingatkan ibumu untuk menerima Timmoty yang seorang bintang sekolah daripada Handrick. Tapi Marie tampaknya memang lebih suka pria kutu buku ketimbang cowok keren yang bersinar.”

“Apa gunanya pria seperti Tim? Dia terlalu bersinar, dan hidup bersama pria seperti itu aku yakin akan sangat membosankan.”

Lexi melingkarkan tangannya ke perut ibunya. “Jadi, apakah Mom bahagia hidup bersama Dad?”

“Tentu saja.” Handrick yang baru datang langsung ikut bergabung, memeluk kedua wanita tersayangnya sambil menjatuhkan kecupan di sana, di pipi Lexi dan di bibir Marie. “Jika tidak bahagia, apakah kami bisa sampai di titik ini?”

“Oh ayolah, Sayang. Kau bau ikan.”

“Aku memang pulang memancing.”

“Lagi? Aku benci ikan.”

“Sama. Aku juga benci sesuatu yang membuatmu menderita.”

“Tapi kau suka memancing.”

“Justru itu. Karena aku benci ikan, maka aku memancing mereka.”

♥♥♥

Sayangnya, sama seperti kebanyakan kisah di dunia, tak ada yang benar-benar sempurna.

“Mom divonis tidak bisa hamil.”

Arga yang masih setia mendengarkan bergeming. Menatap Lexi cukup lama sebelum berani bertanya, “Jadi, itu alasanmu diadopsi?”

“Bisa dibilang begitu.” Lexi memaksakan senyum. “Tapi itu bukan satu-satunya. Kalau kata Mom, aku hanya hadirkan dengan cara yang sedikit berbeda dari kebanyakan orang. Tapi aku tetap anak mereka.”

“Ya. Kamu benar. Diadopsi bukan sesuatu yang buruk. Setidaknya mereka menginginkanmu. Banyak anak kandung justru lahir dalam kondisi tidak diinginkan.”

“Masalahnya, aku juga anak yang tidak diinginkan itu.” Meski tertawa, tapi luka di mata Lexi sangat jelas. “Setidaknya begitulah aku berpikir sebelumnya.”

“Sebelumnya? Tunggu, maksudnya?”

Lexi meraih sesuatu dari laci meja, mengeluarkan sebuah gelang bayi dari manik-manik yang kemudian disodorkan kepada Arga.

“Apa ini?” tanya Arga, bingung.

Lexi menjawab, “Itu satu-satunya barang pemberian orang tua kandungku sebelum kami berpisah.”

“Sebelum mereka meninggalkanmu di panti asuhan?”

“Ya.” Lexi kembali memaksakan senyum, sementara matanya justru kian memerah. “Aku membenci mereka selama bertahun-tahun. Seumur hidupku.”

Arga menerima gelang itu, memperlihatkan setiap sisi gelang yang pada manik-maniknya tertulis huruf yang bisa dibaca terang berbunyi, “Sisi?”

“Namaku. Nama panggilanku saat masih di panti dulu.”

“Lucu.”

“Apanya yang lucu?” ujar Lexi diikuti senyuman tipis. “Nama yang aneh. Terlalu aneh untuk ..., namaku Alexia tapi dipanggil Sisi? Macam tidak ada nama panggilan lain saja.”

“Mau dipanggil apa? Alex? Terlalu laki, nggak sih?”

Lexi memukul bahu Arga, tapi saking lemahnya tidak berhasil membuat pria berkacamata itu kesakitan. “Dulu kata perawat di panti ..., perempuan itu –“

“Ibumu?”

Lexi diam, menelan ludah kasar. “Iya. Orang yang melahirkan sekaligus membuangku di panti. Dia berjanji akan kembali. Dia bahkan berjanji akan mengirimiku surat setiap bulan.”

“Tapi dia bohong?”

“Tidak juga. Dia memang sempat berkabar ke pengurus panti. Tanya kondisiku bagaimana, cerita kondisinya di sana. Tapi, itu cuma bertahan sampai umurku dua tahun. Setelah itu, dia tak pernah mengirimiku apa-apa. Dia lupa pada aku.”

“Apa mungkin sesuatu yang buruk terjadi?”

Lexi mengangkat bahunya. “Entahlah. Aku tak pernah berpikir sejauh itu, sampai akhirnya –“ Dia mendadak diam.

“Akhirnya?”

Mata Lexi benar-benar merah. “Semalam Bibi Nora mengatakan sesuatu yang sangat membuatku terkejut.”

“Apa?”

Lexi menutup wajahnya dengan kedua tangan. Di saat yang sama, tanpa diminta Arga bangkit, merengkuh Lexi dalam pelukannya. Dan begitu pun sebaliknya, Lexi balik memeluk. Mencari ruang menumpahkan tangis.

“Pelan-pelan, Lex,” bisik Arga. “Nggak apa-apa. Jangan dipaksa.”

Lexi meremas baju Arga. “Aku salah, Ga.”

“Kita semua pernah salah.” Mata Arga ikut menahan tangis. “Nggak apa-apa. Nggak apa-apa.”

“Tidak, Ga. Tidak.” Lexi melepaskan peluk, matanya menatap wajah Arga dalam. “Dad tahu dia mencariku. Dad tahu semuanya sejak awal. Dad tahu perempuan itu mencariku tapi ....

“Padahal Dad tahu aku menunggu.” Lexi menepuk dadanya sendiri, penuh kebencian. “Dad tidak pernah bilang. Dan ..., surat-surat itu ..., dia bahkan datang ke rumahku tapi kenapa? Kenapa Dad jahat sama aku?

“Aku marah, Ga. Aku mau marah tapi tak bisa. Aku sayang Dad.”

Air mata Arga luruh juga, membasahi tidak hanya pipi tapi kacamatanya. “Iya, Lex. Aku paham.”

“Aku ingin marah, Ga,” ulang Lexi, merintih. “Kenapa? Kenapa aku tidak bisa marah meski ingin? Kenapa, Ga? Kenapa Dad tidak jujur sejak awal? Kenapa Dad membuat semuanya rumit buat aku?”


Other Stories
Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Lust

​Bagi Maya, pernikahannya dengan Aris adalah segalanya. Ia memercayai Aris lebih dari si ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Tiada Cinta Tertinggal

Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...

Cahaya Dari Menara Camlica

Fatimah, seorang gadis sederhana asal Jakarta, tidak pernah menyangka bahwa sujud-sujud pa ...

Misteri Kursi Goyang

Rumah tua itu terasa hangat, sampai kursi goyang mewah dari tetangga itu datang. Saretha d ...

Download Titik & Koma