34.kalau Aku Jadi Dia, Mungkin Sudah Kuobrak-abrik Dunia Dan Seisinya
“Ga! Arga!”
Telinga Arga menangkap suara lembut di sekeliling, membuat pria yang masih lelap dalam tidur tersebut perlahan membuka matanya yang sepat. Sembari mengusap kedua kelopak matanya yang lengket, dia mendapati seorang perempuan tersenyum di sisi ranjang.
“Bangun!”
Lexi menyisir rambut, sesekali menoleh ke arah cermin besar di meja rias yang berada persis di sebelah tempat tidur Arga, yang membuat pria setengah kantuk itu bisa menangkap penampilan Lexi lebih jelas.
Cantik dan segar.
Rambut yang basah menjadi indikator bahwasanya Lexi baru saja keramas. Juga handuk di atas ranjang lain di dalam kamar, tempat Lexi tidur semalam, yang persis berada di sebelah kiri ranjang Arga, lengkap dengan tumpukan pakaian kotor –kaos dan celana pendek yang juga Lexi kenakan semalam masih belum dibersihkan.
“Aku mau cari sarapan. Kamu ikut, tidak?” tanya Lexi tanpa menoleh, tetapi Arga tahu bahwa mata keabu-abuan milik Lexi memandanginya lewat pantulan cermin.
Tak langsung menjawab, Arga mengulat sebentar. Membiarkan sendi dan tulangnya yang kelelahan setelah perjalanan setengah hari kemarin lebih nyaman. Maklum saja, dia tak pernah naik kapal sebelumnya. Dan ternyata, meskipun tidak mabuk laut, Arga baru sadar bahwa menaiki feri cukup menguras banyak tenaga. Tidur semalaman pun masih kurang untuk memulihkan tenaganya. “Memang di sini nggak disediakan sarapan ya?”
“Bayar murah minta lebih,” jawab Lexi meledek. Lalu, dia menoleh, menepuk badan Arga dengan bantal yang berada di lantai. “Sumpah ya, Ga. Kamu kalau tidur benar-benar tidak bisa diam. Untung saja di kamar ini ada dua kasur. Kalau tidak, sepertinya aku bisa bonyok.”
“Masa?” Arga mengusap wajahnya sendiri, mencoba menghilangkan rasa tak nyaman yang membuatnya enggan bangun dari kasur. “Perasaanku biasa-biasa saja.”
Lexi tersenyum, berjalan ke kasurnya dan membereskan pakaian kotornya ke dalam kresek. “Jadi, bagaimana? Mau ikut atau tidak? Kalau tidak, aku langsung berangkat ini. Sekalian mau antar baju ke laundry.”
“Ikut!” jawab Arga, malas.
“Ya sudah, sana cuci muka.”
“Mandi sekalian?”
“Tidak usah. Kelamaan.”
“Tolong!” Arga mengulurkan tangan, yang langsung di sambut oleh Lexi untuk membantunya bangkit.
Sebelum melangkah sempoyongan menuju kamar mandi, Arga tak lupa meraih kacamatanya yang disimpan di meja kecil di samping ranjang.
♥♥♥
Sama seperti kebanyakan orang Indonesia yang belum pernah ke mana-mana, Arga berpikir bahwa Bali pastilah merupakan tempat eksotis yang dipenuhi aura magis. Namun, selain itu, berdasarkan cerita teman-temannya yang sudah pernah ke sini sebelumnya, Bali lebih dari itu.
Bali sudah seperti negara lain di dalam negara. Tempat di mana turis dan kebisingan menguasai seluruh wilayahnya. Bahkan tak kalah sibuk dengan Jakarta. Yang untungnya, berhubung di saat itu pandemi masih cukup mencekam, Arga bisa melihat wajah Bali sebagaimana yang dia pikirkan.
Sunyi, indah dan eksotis.
Jangankan wisatawan asing, sepanjang jalan penduduk lokal pun bisa dihitung jari. Akan tetapi, justru di sanalah menariknya. Mereka bisa mendengar lebih jelas suara alam. Kokok ayam, gonggongan anjing dan gemerisik angin pagi yang terbang membawa embun. Membuat Arga mau tak mau kembali mengingat suasana di Banyuwangi. Hanya saja, tanpa perkebunan kopi. Dan di sini, aroma dupa serta sesajen tersaji di mana-mana. Membuat mereka tak berhenti memotret sepanjang kaki melangkah.
“Padahal kamu tinggal di Indonesia, kenapa bisa belum pernah ke Bali sebelumnya?”
Pertanyaan Lexi membuat Arga tak bisa menyembunyikan ekspresi kesal di wajahnya. “Indonesia kan luas, Lex. Jangankan ke Bali, ke Banyuwangi saja baru kemarin. Ke Yogyakarta saja cuma pernah sekali doang, pas studytour SMP.”
“Oh ya, kenapa?”
“Kenapa? Kamu tanya kenapa?” ulang Arga sambil menggeleng-geleng, tak habis pikir. “Mahal, Alexia. Cuan dari mana?”
“Bukannya kamu sudah kerja dari SMA?”
“Iya, sih. Masalahnya aku terlalu sayang.”
“Ke Ellia?”
“Ke duitnya.”
Jawaban Arga membuat keduanya melempar tawa renyah, yang diteruskan menuju warung sederhana di pinggir jalan. Keduanya memutuskan membeli sarapan, yang pedagangnya seorang perantau asal Madura.
Ditemani peyek, tahu, tempe dan dadar jagung membuat nasi pecel menjadi kian nikmat. Perpaduan sempurna nasi hangat, sayur segar dan sambal kacang pekat makin sempurna dengan ditemani teh manis hangat.
“Enak. Pedas,” kata Arga sembari menyendok nasi dan sambal ke dalam mulut mungilnya. “Kamu nggak suka pedas ya?”
Lexi yang wajahnya memerah menggeleng. “Suka kok. Lagi pula sudah lama aku tidak makan pecel. Terakhir waktu di Surabaya. Kamu?”
“Agak susah cari pecel yang beneran pecel di Jakarta.” Jawaban Arga membuat Lexi mengerutkan kening, yang karena tahu kawannya butuh penjelasan, pria itu pun melanjutkan, “Untungnya, Bonyok orang Jawa Timur. Jadi, kalau bisa buat sendiri sambal pecel ala Jawa Timuran.”
“Oh ya? Memang orang mana?”
“Papa Malang. Mama Jember.”
“Oh ya?” Mata Lexi membulat, tak percaya. “Berarti dekat Banyuwangi dong ya? Kenapa tidak pulang kampung saja kemarin?”
Arga menusuk tahu dengan garpu. “Nggak lah. Males. Takut ditanya kapan nikah sama Bude dan Pak De.”
“Kamu Madura dong berarti?”
“Bukan. Kebetulan kebagian Jawa.”
Lexi meneguk teh hangat di depannya, penutup suapan terakhir. “Kenapa ya orang Indonesia kebanyakan berpikir kalau kita tidak menikah di usia tertentu dianggap kegagalan? Padahal, ada banyak hal yang bisa dilakukan selain menikah.”
“Itulah.” Arga berdecih, lalu mencaplok dadar jagung mungil di piringnya. “Apalagi umurku sudah kepala tiga. Di mata mereka seolah diriku sudah lansia dan siap masuk museum.”
“Museum apa?”
“Museum khusus orang-orang jompo!” canda Arga.
Lexi memukul pundak Arga pelan. “Bisa saja kamu, Ga. Tapi kalau dipikir-pikir lucu juga ya?”
“Apanya?”
“Kita.”
“Kita kenapa?”
“Setelah semua yang terjadi selama tiga puluh tahun terakhir, ternyata kita cuma butuh teman ngobrol buat berani keluar dari sangkar.”
“Bahasamu, Lex. Ngalah-ngalahin aku saja,” ledek Arga, membuatnya kembali mendapat hadiah pukulan di bahu. “Terus bagaimana? Kapan kita mau ke rumah ibumu?”
♥♥♥
Ibu?
Lexi bahkan tidak tahu apakah dia boleh dan bisa menyebut perempuan itu sebagai ibunya. Terlebih mereka sudah sangat berbeda dari terakhir kali bertemu tiga puluh tahun lalu.
Apakah wanita yang fotonya kini ada di genggaman tangannya tersebut bisa mengenalinya sebagai bayi mungil berwarna merah yang dulu dia titipkan di panti asuhan? Atau justru, Ana akan menganggapnya sebagai ..., orang asing? Dan reaksi macam apa yang akan dia dapatkan saat bertatap muka dengan Ana nanti?
Terlebih ....
“Dia sudah punya keluarga.” Itulah yang keluar dari mulut Lexi saat menyaksikan kehidupan perempuan berambut cokelat di kejauhan. Perempuan yang langsung dia kenali sebagai ibunya, perempuan yang menghadirkan sekaligus membuangnya dari kehidupan menyedihkan ini.
Arga menggenggam jemari lentik Lexi dengan lembut untuk menguatkan. Sudah dua jam mereka berdiri di sana, memperhatikan rumah besar di seberang jalan tanpa berniat menyeberang dan mengetuk pintu. Dan baru lima menit yang lalu, sebuah mobil hitam berhenti di halaman, memperlihatkan seorang pria kulit putih keluar dari dalam kendaraan mewah tersebut dan langsung disambut oleh wanita paruh baya dan dua anak lelaki berusia kisaran sepuluh dan lima balas tahun.
Bisa dipastikan keduanya adalah saudara tiri Lexi, batin Arga.
Anak-anak dengan suami baru dari ibu kandung Lexi.
♥♥♥
Nurhasanah baru saja menemani putra bungsunya, Theo, mengerjakan tugas daring saat menemukan seorang gadis muda berdiri di depan tokonya. Sebuah bangunan kecil dekat jalan raya yang bertuliskan Toko Bunga Cantika di dekat gerbang, yang mana papan di balik kaca masih bertuliskan tutup karena memang belum dia balik sejak kemarin.
Maklum saja, sudah beberapa hari ini dia tidak mendapatkan kiriman bunga baru. Dan stok di gudang pun tinggal sedikit. Sangat sedikit hingga dia merasa tak mungkin melayani pelanggan dengan pilihan sesedikit itu.
Toh, di masa pandemi seperti sekarang tak banyak orang yang mau membelanjakan uang mereka untuk sebuah karangan bunga, kecuali memang sedang ada momen spesial.
Namun, tak mau membuat pembeli kecewa dia pun bergegas menghampiri perempuan yang dimaksud dan memperingatkan, “Mohon maaf karena toko masih belum bisa buka untuk saat ini.”
“Sama sekali?” tanya wanita muda berkaos cokelat di hadapannya sembari melempar tatapan kecewa. “Apa di dalam sama sekali tidak ada bunga yang bisa dibeli?”
Tahu bahwa orang di hadapannya begitu berharap, Nurhasanah menghela napas panjang. Kemudian membukakan pintu toko dan mempersilakan gadis itu masuk. “Lavender, Rosemary, Kaktus,” dia menunjuk deret tanaman yang masih hidup di dalam pot-pot kecil yang tersusun di rak tinggi sebelah pintu menerangkan. Lalu melanjutkan ke bunga lain, “Dan ini ada beberapa tangkai Mawar yang sudah nyaris overbloom, Krisan dan ..., sebenarnya hampir tidak layak jual. Jadi, saran saya Adik bisa mencari di toko bunga lain saja.”
Akan tetapi, alih-alih menurut pelanggannya kali itu justru mendekati rak bunga hidup dan memperhatikan bunga-bunga yang tersisa dengan penuh kekaguman. “Ini masih bagus.”
“Baiklah. Kalau begitu silakan memilih,” kata Nurhasanah sembari membuka jendela-jendela kaca yang sebelumnya tertutup untuk membiarkan udara segar masuk. Pun dia juga perlu membuang bunga-bunga layu yang tersisa agar tidak menjadi sampah.
Hanya saja, setelah hampir satu jam membersihkan toko dan memastikan semuanya sempurna, pelanggan yang dimaksud tak kunjung selesai berkeliling. Padahal bunga yang tersisa tidak banyak. Malah, sangat sedikit untuk dibuat daftar pilihan.
“Kalau boleh tahu, bunga apa yang kamu cari?” Yang langsung dijawab dengan gelengan, yang sudah pasti membuat kening wanita paruh baya itu mengerut. “Apa kamu membeli bunga ini untuk orang lain?”
Lexi mengangguk. “Benar.”
“Untuk siapa? Maksudku, untuk sahabat, kekasih atau –“
“My Mother.”
“Oh. Itu mudah. Bunga apa yang dia suka?”
Namun, Lexi menggeleng. “Entahlah. Aku tidak tahu.”
“Kalau begitu, orang seperti apa dia? Kita bisa menyesuaikan dengan karakternya.”
“Sayangnya, aku tidak begitu mengenalnya.” Lexi tersenyum, kikuk.
Membuat Nurhasanah ikut melempar senyuman yang sama. “Aku mengerti. Tidak semua anak dan orang tua akur. Aku dan anak-anakku pun juga tidak selalu saling memahami. Tapi tidak perlu khawatir, kita bisa mempelajarinya. Dengan kau datang ke toko bunga saja, ibumu pasti sudah sangat senang. Niat baikmu, pasti menyentuh hatinya.” Dia menghela napas panjang, memilihkan sebuah pot kecil berisi bunga hidup. “Bagaimana bila Rosemary?”
Lexi menerima bunga tersebut dan bertanya, “Bukankah bunga ini memiliki makna kematian?”
“Memang tapi tidak selalu,” jawab Nurhasanah. “Selain kematian, Rosemary juga mengandung makna dalam soal kesetiaan dan cinta yang abadi. Pun bunga ini bisa digunakan untuk memasak. Ibumu pasti senang menerimanya.”
Bibir Lexi tersenyum, lebar. Membuat gigi putihnya yang berjajar rapi terlihat. “Kalau begitu, berapa harganya?”
“Kau bisa membawanya.”
“Gratis?”
“Ya.”
“Why?”
“Karena aku juga seorang ibu.” Nurhasanah mengajak Lexi ke kasir. “Biarkan aku membungkusnya untukmu.” Dia mengambil kotak besar dari bawah meja, lengkap buku catatan kecil serta pulpen. “Mau sekalian dengan kartu ucapan?” Mendapat anggukan, dia menyerahkan pulpen dan kertas di depannya kepada Lexi. “Silakan tulis.”
Setelah membubuhkan isi hatinya, Lexi mengembalikan kertas dan pulpen kepada Nurhasanah untuk dibantu memasukkannya ke dalam kotak.
Dan di sanalah wanita paruh baya itu memiliki kesempatan membaca apa yang Lexi tulis di selembar kertas berwarna biru tersebut. Yang seketika membuat matanya membulat. Tak percaya.
Hi, Mom. It’s me, Sisi.
Other Stories
Berkemah, Jangan Berlemah!
Dinda, Skye, dan Sally semangat untuk sebuah liburan seru untuk berkemah. Namun dengan Sta ...
Separuh Dzrah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suar ...
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Malam yang sunyi aku duduk seorang diri. Duduk terdiam tanpa teman di hati. Kuterdiam me ...
Mozarella Bukan Cinderella
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...
Bisikan Lada
Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketahui ...
Arti Yang Tak Pernah Usai
Siapa sangka liburan akhir tahun beberapa mahasiswa ini membawa dua insan menyelesaikan se ...