(bukan) Tentang Kita

Reads
902
Votes
0
Parts
61
Vote
Report
(bukan) tentang kita
(bukan) Tentang Kita
Penulis Nandreans

38.

Seluruh Dunia Boleh Membencimu, Tapi Kamu Tidak Boleh Benci Dirimu Sendiri. Karena Nggak Akan Ada yang Lebih Bisa Mencintaimu Selain Dirimu Sendiri

Apa yang baru saja dia lakukan?

Adalah pertanyaan yang Lexi berikan pada dirinya sendiri, lebih tepatnya saat menatap kepergian Arga.

Pria itu pergi. Meninggalkannya.

Namun, bagian terburuknya ialah semua ini terjadi karena pemikiran bodoh Lexi.

Apa yang sudah dia perbuat? Mengapa dia bisa berpikir sedangkal itu? Batin Lexi menjerit. Mengutuk dirinya sendiri.

♥♥♥

Tak pernah sehari pun dalam hidup Nurhasanah tidak memikirkan Lexi, putri kecil tersayangnya yang hanya seminggu bisa dia dekap di pelukannya, sebelum dengan sangat terpaksa dia bungkus menggunakan kain lembut dan mengantarnya sendiri ke panti asuhan.

“Apa tidak ada cara lain, Kak?”

Inara, kakak iparnya, menjawab tanpa kata. Tatapan mata wanita yang pada saat itu baru tiga puluh lima tahun tersebut tak kalah pedih, mengasihani nasib malang sang adik.

Andaikan saja dulu mereka lebih tegas menentang hubungan Nurhasanah dengan Yovan, pastilah adik dan keponakan mereka tidak perlu merasakan penderitaan sebesar ini.

Namun, nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk melepaskan diri dari jerat gila Yovan. Bahkan setelah melarikan diri ke Singapura pun hidup Nurhasanah nyatanya tidak pernah benar-benar pulih.

Yovan tidak pernah membiarkan mantan istrinya bahagia. Tidak sampai dia bisa membuat hidup Nurhasanah hancur.

♥♥♥

“Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku, Yovan? Kenapa kau tidak membiarkanku hidup tenang?”

“Aku hanya ingin melihatmu hancur. Bila tidak denganku, kau tidak boleh hidup bersama siapa pun.”

“Termasuk anak kita?”

“Ya. Karena aku tidak akan pernah melepaskan anak kandungku hidup bersama perempuan bodoh dan tak tahu terima kasih sepertimu.”

♥♥♥

Melihat sang istri sendirian di halaman belakang, Peter dan kedua putra mereka hanya bisa memperhatikan dari kejauhan. Sebab mereka paham betul betapa berat beban yang ditanggung oleh wanita yang mereka panggil mami tersebut.

Bagi Nurhasanah, pertemuannya dengan Lexi bukan sekadar keajaiban tetapi juga jawaban atas doa-doa panjang yang tidak henti dia pinta kepada Tuhan. Apalagi setelah kepergian nahas Niko sepuluh tahun lalu. Dunia Nurhasanah seolah tersita, tak peduli meski di sisinya Tuhan telah mengirimkan dua malaikat lain untuk mengobati hatinya.

“Markus dan Theo bukan pengganti Niko dan Sisi.” Demikianlah Nurhasanah selalu menegaskan pada orang-orang yang memintanya melupakan masa lalu. “Sampai kapan aku tidak akan pernah berhenti mengutuk diriku sendiri. Karena ketidakberdayaankulah anak-anakku hilang.”

“Sisi sudah bahagia di sana, Dik!” Hampir setiap waktu Inara menasihati. Tidak berhenti. “Apakah ini artinya kamu meragukan cerita Niko? Bukankah Niko sudah bilang kalau dia mengetahui alamat Sisi dan memastikan bahwa kedua orang tua angkat Sisi sangat menyayanginya?”

“Apakah itu sepadan dengan rasa sakit yang Sisi rasakan selama sepuluh tahun awal hidupnya?”

“Lalu, apakah bila nanti dia mengetahui semua kenyataan ini hidupnya akan lebih baik? Atau malah lebih buruk?”

Ya. Harusnya Nurhasanah mendengarkan nasehat sang kakak ipar. Harusnya dia bisa lebih menjaga diri, menjaga mulutnya sendiri. Harusnya dia tidak bicara terlalu banyak, setidaknya tidak hari itu.

Mereka baru bertemu, tapi Nurhasanah menerima atau bisa disebut memaksa Lexi menerima segala rasa sakit selama tiga puluh tahun terakhir sekaligus. Ini sama seperti Nurhasanah sengaja menjatuhkan dua buah bom atom di atas kota-kota penuh bunga di dalam dada putri kecilnya.

Menahan tangis, Nurhasanah terkejut saat menyadari suaminya datang dan duduk di sebelahnya, mengisi sisi lain dari kursi taman yang kosong. Lalu, Peter mempersilakan istri tercintanya itu untuk meletakkan kepala di pundaknya.

"Am I a bad mother?" bisik Nurhasanah.

Yang langsung dijawab gelengan oleh Peter. “No. You are the greatest mother I have ever known, Honey."

"But I’ve filled my children’s lives with nothing but heartache."

“Jangan bicara begitu.” Peter menggenggam jemari keriput Nurnasanah erat. “I married you because I knew you were an amazing woman, a mother who never gives in to fate. Even until your very last breath, you still think of the children …, our children."

"But now… the daughter I’ve just gotten back in my life ..., she’s hates me."

"No, my love. Sisi’s not only your daughter, she’s ours. And Sisi doesn’t hate you. She just needs some time to herself. When the time is right and things have healed, I know she’ll come back to you. She will."

“Bagaimana jika tidak?”

Peter menjawab, “Kita akan berjuang bersama. Kamu tidak sendirian.”

“Oh, Sayangku.” Tangan Nurhasanah menyentuh wajah berjambang tebal suaminya dengan kedua tangan. “Terima kasih. Sekali lagi, terima kasih karena kamu masih dan selalu mau membantuku. Tanpamu, aku tak akan bisa apa-apa.”

“Tidak perlu mengatakan terima kasih. Kau istriku. Itu sudah cukup memberiku alasan untuk membantumu mendapatkan kebahagiaan. Tak peduli meskipun itu mungkin dianggap mustahil oleh orang lain. Karena aku akan selalu percaya padamu. Pada perjuanganmu.”

♥♥♥

Tiga puluh tahun.

Hampir tiga puluh satu tahun, jika dihitung berdasarkan bulan kelahirannya yang akan jatuh di pertengahan tahun nanti. Dan baru kali itu Arga merasakan bibirnya dicumbu oleh seorang gadis. Akan tetapi, alih-alih berbunga-bunga seperti yang diceritakan teman-temannya, yang saat itu dia rasakan justru –Arga tersiksa!

Bohong kalau dia tidak merasakan desir hangat menjalar di sekujur tubuh saat Lexi melumat bibirnya. Namun, di saat yang sama, Arga juga sangat terkejut sekaligus menyesal telah membiarkan dirinya jatuh dalam tragedi semacam itu. Ya, Arga menyebutnya tragedi sebab Lexi memang melakukannya dalam kondisi tidak sadar.

Tindakan Lexi terlalu impulsif. Spontan. Dan tidak rasional.

“Terus, sekarang apa yang akan lo lakukan? Balik ke Jakarta?” pertanyaan Mbak Indah masih terus terang seperti biasanya.

Arga menggeleng tanpa menatap layar ponsel di genggamannya. “Nggak mungkinlah. Dia sendirian di sini. Gue takut dia kenapa-kenapa.”

“Kan, dia sudah ketemu keluarganya.”

“Yang malah bikin dia nangis sampai kayak begitu?” Arga berdecih, kepalanya menggeleng kecil. “Gue akan tetap tinggal setidaknya dia benar-benar bisa mandiri.”

“Mandi sendiri?”

Ledekan Mbak Indah justru membuat Arga cemberut. “Nggak lucu ya. Ini kesehatan mental orang lho.”

“Ya maaf!” Di seberang panggilan video, Mbak Indah tampak memindahkan makanan dari depan ponsel supaya bisa memandang wajah Arga lebih jelas. “Ga.”

“Hmm?” Arga melirik sebentar, sebelum kembali mengarahkan mata di balik kacamatanya ke arah taman penginapan. Menikmati kesendiriannya di malam yang gerah di kursi kayu persis di area ruang tamu terbuka penginapan yang sepi. Maklum saja, di masa pandemi tak banyak penyewa yang datang untuk menginap di sini. Ada pun, kebanyakan memilih tinggal di kamar. Menyembunyikan diri mereka masing-masing dari virus mematikan yang mengancam nyawa manusia.

“Jujur gue senang lihat lo seperti ini.”

“Maksudnya, lihat gue bingung dan stres?”

“Bukan!” Mbak Indah tersenyum, menampakkan lekung di kedua pipinya. “Gue bahagia karena akhirnya lo bisa suka sama orang lain.”

“Hah?” Kedua kelopak mata Arga membelalak. “Suka sama siapa?”

Mbak Indah malah tersenyum, semakin lebar.

“Lexi?” tebak Arga. Yang dijawab anggukan penuh kepastian oleh sahabatnya tersebut. “Ya ampun, Mbak. Gue melakukan semua ini karena –“

“Karena kemanusiaan?”

“Tentu saja. Memang apa lagi?”

“Yakin cuma itu?” Mbak Indah memberi tatapan penuh intimidasi. Bukan kejam, tapi menggoda. “Gue kenal lo nggak setahun atau dua tahun, Ga. Lo memang orang baik. Lo nggak pernah memandang siapa pun saat memberi pertolongan. Tapi sekarang gue tanya, perempuan mana yang lo ceritakan ke gue setiap malam selama berjam-jam selain Bella kalau bukan Lexi?”

Arga diam. Kemudian menundukkan kepalanya dalam-dalam. Bukan karena merasa kalah, melainkan dia sadar betul apa yang dikatakan Mbak Indah memanglah kenyataan.

Bohong bila Arga tidak tertarik pada Lexi. Terlebih setelah perjalanan mereka berminggu-minggu di Banyuwangi. Cuma, perlukah baginya mengakui perasaan ini?

Tidakkah semua sekadar perasaan sesaat yang muncul akibat kebersamaan? Bagaimana kalau perasaan ini tidak nyata dan hanya reaksi yang muncul akibat belas kasih? Yang jelas, Arga hanya ingin terus berada di sisi Lexi. Menemaninya melalui semua rasa sakit yang dia rasakan.

♥♥♥

Sementara di bagian yang berbeda, Lexi tidak henti merutuki dirinya sendiri. Apalagi saat dia terbangun di keesokan paginya, Arga tidak ada di ranjang sebelah.

Tempat tidur yang biasa Arga tiduri kosong.

Maka, setelah mencuci muka dan tidak mengganti pakaian, Lexi segera keluar dari kamar untuk mengecek keadaan. Dan benar saja, dia menemukan pria beralis tebal itu tengah terlelap di atas kursi ruang tamu, meringkuk kedinginan tanpa selimut maupun bantal.

Antara lega dan merasa bersalah, Lexi buru-buru kembali ke kamar untuk mengambilkan dua benda tersebut untuk Arga. Yang sayangnya, sebelum dia sempat melangkah lebih jauh, suara Arga terlebih dahulu memanggil namanya. Memaksa Lexi berbalik.

“Ya, Ga?” Penuh kehati-hatian, Lexi tidak berani menatap langsung ke mata Arga.

Namun, bukannya meledakkan amarah, Arga justru bertanya dengan lembut, “Are you ok?”

Yang seketika membuat mata Lexi memanas. Dia terharu, bukan main. “Ya. A –aku baik-baik saja. Maafkan aku ya soal semalam.”

“Sudah. Tidak usah dibahas!” tegas Arga. “Jadi, hari ini kita mau ke mana?”

“Ke mana?”

“Ya. Jalan-jalan. Mumpung di Bali, kan?” Arga memasang senyuman lebar, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang berjajar rapi. “Hitung-hitung cari hiburan.”

“Ta –tapi ....”

“Tapi apa, Alexia?”

“Aku gagal, Ga.”

“Gagal apa?” Arga meminta Lexi duduk dengan menepuk-nepuk bagian lain sofa. “Kamu nggak gagal, Lex. Kamu lupa dulu pernah bilang apa soal burung Bondol Haji?”

Lexi menaikkan sebelah alisnya, menunggu Arga melanjutkan.

“Kalau hidup kita nggak sempurna, buat jadi sempurna dengan cara kita sendiri.” Arga menyentuh tangan kanan Lexi, lalu menggenggamnya kuat-kuat. “Kamu boleh nggak percaya sama siapa pun di dunia, asal jangan sampai nggak percaya sama dirimu sendiri.”

“Ga?”

“Oh iya, soal rencana tur kamu keliling Indonesia bagaimana? Mau dilanjutkan atau tidak?”

“Tur?” Lexi kaget, karena sejujurnya dia sudah lupa rencana itu. Menguburnya bersama rimbunnya hutan di Banyuwangi. “Sepertinya tidak.”

“Kenapa?”

“Karena Djaya –“

“Padahal kalau jadi, aku mau ikut.”

“Hah? Kamu?” Masih dengan ekspresi kaget, Lexi menatap Arga. Detik berikutnya, dia tertawa. “Yakin? Ini bukan sekadar hutan lho. Tapi juga pantai.”

“Memang kenapa?” Arga berpura-pura tersinggung. “Kamu meremehkan aku? Aku memang nggak bisa berselancar sejago Djaya, tapi paling nggak aku bisa mengambang di atas air.”


Other Stories
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster

Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...

Kuraih Mimpiku

Edo, Denny,Ringo,Sonny,Dito adalah sekumpulan anak band yang digandrungi kawula muda. Kema ...

Menolak Jatuh Cinta

Maretha Agnia, novelis terkenal dengan nama pena sahabatnya, menjelajah dunia selama tiga ...

Awas, Ada Bakpao!

Liburan Ramadhan yang Lulu kira bakal adem dan hangat, berubah ketika dia bertemu dengan R ...

Liburan Di Pulau Terpilih

Setelah putus cinta yang menghancurkan, Anna Mariana mencoba menjalani hari-harinya dalam ...

Pulang Tanpa Diikuti

Sekar menghabiskan liburan panjang di rumah neneknya, sebuah rumah tua di desa yang menyim ...

Download Titik & Koma