(bukan) Tentang Kita

Reads
881
Votes
0
Parts
61
Vote
Report
(bukan) tentang kita
(bukan) Tentang Kita
Penulis Nandreans

39. Andai Semua Ayah Seperti Rian, Mungkin Tidak Akan Ada Lagi Anak-anak Telantar Di Panti Asuhan


Cara untuk mencintai adalah mengenal dengan baik, termasuk pada diri sendiri. Sayangnya, banyak orang tidak benar-benar bisa mengenal diri mereka, apa yang mereka inginkan dan kehidupan seperti apa yang mereka harapkan sebelum hari kematian tiba.

Adalah kalimat yang Arga gunakan sebagai penutup draft pertama novel terbarunya, yang seharusnya butuh beberapa polesan lagi sebelum bisa benar-benar dikirimkan kepada Mbak Indah.

Tidak seperti buku-buku sebelumnya di mana Arga mengutip inspirasi dari kehidupan orang lain, orang-orang terdekatnya dan menempatkan dirinya sendiri dalam bagian sebagai tokoh pendukung. Di naskah Laut dan Gunung kali itu dirinya benar-benar mengambil peran sebagai tokoh utama. Malah, dia pun memberikan beberapa gambar pemanis sebagai pelengkap cerita, yang diambil dari foto-foto dalam daftar perjalanannya bersama Lexi selama dua bulan terakhir.

“Bisa dibilang cerita ini semi fiksi,” katanya saat meyakinkan Mbak Indah beberapa minggu sebelumnya dalam presentasi daring, ditemani oleh Lexi yang duduk persis di sebelahnya. “Ide dan persiapannya juga sudah sangat matang, karena sebenarnya kami mengambilnya dari –“

“Presentasi yang sama di proyek utama Satu Rasa Pulih Bersama Nusantara.” Lexi menyambung, membuka buku tulis tempatnya mencatat untuk membuka kembali rancangan tulisan lama mereka. “Hanya saja di beberapa part akan ada penyesuaian, mengingat kami tidak benar-benar mengikuti program hingga selesai. Tapi tidak perlu khawatir, karena kami pun sudah mempersiapkan penggantinya.”

“Yang jauh lebih baik, malah!” Tak mau kalah, Arga ikut mendekatkan wajahnya ke kamera. “Karena di sini nanti ..., kita akan mengeksplorasi perkebunan kopi, lengkap dengan potret kehidupan masyarakat serta berbagai tempat menarik yang belum pernah dibahas di buku-buku populer mana pun.”

Mbak Indah manggut-manggut, sambil sesekali mencatat sesuatu di tablet miliknya. “Untuk hak cipta, bagaimana? Mengingat kalian kan tidak mengikuti program kemarin sampai selesai.”

“Seharusnya sih aman.” Jawaban Arga mantap, dan untuk meyakinkan diri dia menoleh pada Lexi, yang juga memberi reaksi serupa.

“Toh, kami tidak melanggar apa pun dalam kontrak.” Lexi mengeluarkan ponsel pintar dari dalam saku kemejanya, membuka file yang pernah dia tandatangani dan menunjukkannya ke kamera. Meskipun sudah bisa dipastikan Mbak Indah tidak akan bisa membaca tulisan tersebut, kamera laptop Arga tidak cukup bagus untuk menangkap gambar.

Yang hasilnya Mbak Indah berkata, “Kirimkan saja salinan kontraknya via email.”

“Kan lo punya salinan kontrak gue, Mbak In. Kenapa masih harus minta punya Lexi?”

“Ya karena isi kontraknya beda, Argantara!” tegas Mbak Indah, penuh kesabaran. “Lo masuk lewat jalur khusus sebagai penulis kehormatan, sementara Alexia adalah peserta reguler.”

“Bedanya, apa?”

“Kan gue belum baca. Makanya, gue minta kontraknya Alexia, supaya nanti gue bisa paham dan memberitahukannya kepada kalian.” Mbak Indah berdecih pelan, membetulkan kacamata bacanya yang melorot, sebelum kembali fokus pada kertas putih di atas meja. “Sejujurnya, ide ini cukup baru jika dibandingkan dengan tulisan-tulisan lo sebelumnya. Tapi tetap, gue nggak mau terlalu terburu-buru, apalagi ini naskah kolaborasi.”

♥♥♥

Satu bulan yang lalu, lebih tepatnya minggu kedua di bulan Februari yang kering ketika pertama kali mereka memulai perjalanan keliling Bali setelah hari-hari depresif penuh air mata, Arga dan Lexi memutuskan untuk menyewa kendaraan.

Menggunakan sepeda motor metik berwarna putih yang kemudian mereka beri nama Tito inilah keduanya memulai perjalanan panjang, menyenangkan sekaligus melelahkan sebelum nantinya bergeser ke arah Timur Indonesia.

Pada rencana awal, mereka memperkirakan satu atau dua minggu saja di Bali. Terlebih dengan situasi pandemi di mana banyak destinasi dibatasi atau malah ditutup sama sekali, rasa-rasanya tidak akan memberi kesempatan mereka berlama-lama di Pulau Dewata. Mengingat Bali juga bukan pulau yang cukup luas.

Sayangnya, perkiraan tersebut meleset jauh. Karena bahkan setelah hampir delapan belas hari berkeliling, Arga dan Lexi justru semakin tak bisa keluar dari Bali. Terlebih dengan sedikitnya jumlah wisatawan di sana pada masa itu, membuat pantai-pantai cantik di Bali seolah-olah milik mereka sendiri.

Pun berhubung mereka cuma berdua, tak ada batas waktu pasti kapan mereka harus pindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Malah, Lexi bisa dua hari sendiri menempati satu pantai, menghabiskan waktu untuk berselancar, atau malah kamping dan membangun tenda kecil sebagai tempat mereka bermalam.

Dan, Pantai Balian adalah salah satunya.

Ombak yang panjang, rapi dan tidak begitu tinggi –mengingat saat mereka datang bukan musim ombak tinggi –sama sekali tidak mengurangi ketertarikan Lexi pada tempat tersebut. Terlebih selain memiliki area pantai yang lapang dan luas, yang bisa dimanfaatkan untuk membangun tenda dan membuat api unggun, keberadaan muara sungai juga memudahkan keduanya mendapat akses pada air bersih, meskipun tetap saja mereka membawa beberapa botol air mineral untuk kebutuhan konsumsi. Akan tetapi yang jelas, lokasinya yang jauh dari lalu lalang kendaraan bermotor dan kesibukan kota, berkamping di sana benar-benar bisa melegakan pikiran.

Ditemani segelas kopi panas, ubi bakar dan lantunan suara ombak yang menyapu pantai ..., sungguh relaksasi yang sempurna, bukan?

“Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?” kata Arga di atas tikar bambu tempat mereka duduk malam itu. Matanya menatap ke langit, ke arah taburan bintang yang tak berhenti berkerlip-kelirpan. “Aneh ya, Lex. Padahal sebelumnya, saat kita di Banyuwangi dulu, aku nggak suka lho tidur di pantai. Eh, sekarang malah ketagihan.”

Lexi tersenyum, memeluk selimut tipis berwarna biru bergambar beruang yang mereka beli dengan harga murah di pasar dua hari lalu erat-erat, mencoba menghangatkan diri. “Alam memang tidak pernah gagal membuat manusia jatuh cinta.” Dia menoleh, memandang wajah lelah Arga lekat-lekat. “Sesibuk apa pun kota, nyatanya tidak mampu menyaingi keindahan alam yang sesungguhnya.”

“Kamu benar.” Arga membaringkan tubuhnya, lalu menjadikan tangannya sendiri sebagai bantalan. “Boleh nggak sih kalau aku berpikir bahwa pandemi adalah cara alam untuk menyelamatkan dirinya dari kesibukan manusia? Maksudku, manusia terlalu menekan bumi. Bahkan tidak memberi waktu bagi alam untuk bernapas.”

“Tentu tidak.” Lexi menjawab penuh keyakinan. “Karena lihat saja sendiri!” Dia menyapukan tangannya ke sekeliling. “Tanpa manusia, alam bisa seindah ini. Toh, pada dasarnya memang kita lah yang membutuhkan alam. Bukan sebaliknya.”

♥♥♥

“Jadi, mau ke mana kalian setelah ini?” Pertanyaan itu keluar dari mulut Bella saat mereka tersambung melalui panggilan video dua jam setelah matahari terbenam. Atau lebih tepatnya persis setelah Lexi dan Arga selesai menyantap mi instan dan sosis bakar sebagai menu makan malam.

Tidak ada pilihan lain. Dalam kamping kecil-kecilan ini, sangat tidak memungkinkan membawa banyak barang, apalagi keduanya hanya berboncengan menggunakan sepeda motor. Belum membawa tenda, peralatan syuting dan lain-lain. Itulah mengapa bisa membawa panci mungil sebagai bekal merebus air saja sudah syukur alhamdulillah.

Pun mereka juga tidak perlu membereskan banyak barang setelah selesai, hanya tinggal memasukkan bungkus mi ke dalam plastik untuk dibawa pulang esok hari. Dan, ketika ponsel Arga kemudian berdering, mereka bisa segera mengangkat untuk menyapa Daniar kecil yang tersenyum, menampakkan gigi-gigi susunya rapi ke kamera.

“Halo, Sayangku!” Arga dan Lexi kompak melambaikan tangan, membuat Daniar buru-buru menunjukkan boneka beruang kepada mereka.

“Wah, cantik sekali,” puji Lexi.

Daniar tersenyum, kedua pipi tembam bocah berambut pendek itu memerah bahagia. “Ia, beli ini. Antik kan, Ate Eci?”

“Cantik sekali. Sama seperti Daniar!”

“Wah, Niar begitu ya sekarang. Yang disapa cuma Tante Eci. Om Aga nggak disayang lagi sama Niar,” kata Arga sambil berpura-pura sedih. Dia bahkan menenggelamkan wajahnya ke selimut biru milik Lexi, yang sebelahnya digeletakkan di atas tikar ketika mereka makan malam. “Om Aga nangis dulu.” Lalu, mengeluarkan bunyi tangis seperti anak-anak.

Daniar yang tertipu seketika memasang wajah penuh rasa bersalah. “Om Aga, jangan angis. Ia tayang Om Aga. Cup! Cup!” Dia menepuk-nepuk ponsel ayahnya, seolah benda itu bisa mengirimkan sinyal langsung ke tubuh Arga. “Eh, ini! Ia punya ainan buat Om Aga. Cebental ya!”

Melihat Daniar berlari panik ke dalam kamar, meninggalkan gawai yang sepertinya diletakkan di dudukan sofa, Arga dan Lexi yang melihat betapa menggemaskannya bocah tiga tahun tersebut seketika tertawa.

“Kamu ini. Nggak kasihan sama anak kecil!”

“Nggak apa-apa. Lucu banget. Aku memang suka mengerjai Daniar,” ungkap Arga. Akan tetapi, begitu melihat keponakannya muncul kembali, dia buru-buru menyembunyikan tawa dan memasang wajah memelas. “Apa, Niar? Om Aga masih nangis ini.”

“Lihat ini, Om Aga! Lihat!” Daniar memamerkan beberapa boneka lain. Salah satunya berbentuk gajah, sementara dua sisanya masing-masing tampak seperti rusa dan singa. “Ia kemalin ke kebun binatang lho.”

“Sama siapa?” tanya Lexi, penasaran. Lebih tepatnya, dia tertarik pada bagaimana mata berbinar-binar Daniar yang selalu penuh semangat setiap kali berbicara. Sejak saling mengenal sebulan lalu, hampir setiap minggu Daniar selalu menelepon, mengobrol bukan dengan Arga lagi, melainkan berganti pada Lexi.

Mata dan mulut Daniar terbuka, tetapi alih-alih langsung menjawab dia malah menarik napas panjang. Kemudian diam, berpikir sejenak sebelum menyapa orang lain di belakang kamera. “Ayah, kemalin kita ke kebun binatang tama tiapa saja?”

“Sama siapa hayo!” Suara Rian terdengar, sedikit menggoda. Lalu, pria berkaos abu-abu itu muncul, menyapa Lexi dan Arga dengan lambaian tangan. “Apa kabar?”

“Alhamdulillah, masih bernapas,” jawab Arga. “Lagi apa lo?”

Rian duduk di lantai, mengikuti Daniar. “Lha ini! Bisa kalian lihat sendiri! Mengurusi Tuan Putri.”

“Memang Bella ke mana?”

“Ada. Lagi bantu-bantu di rumah mertua lo,” celetuk Rian membuat Lexi dan Arga seketika saling menoleh satu sama lain, tetapi dengan cepat juga saling menghindari kontak mata. “Sudahlah, tunggu apa lagi? Kalian pikir diriku tidak tahu?”

“Eh, Rian Kampret! Tahu apa?” Mata Arga membulat, berusaha terlihat seram. “Jangan ngeres pikiran ente.”

“Lho! Lho! Lho! Diriku tidak berpikir ke situ lho!” Rian tersenyum licik. “Oh, apa, Sayang? Daniar kenapa? Kok cemberut?” Menyadari sang anak duduk menyilang tangan di dada, Rian menggapai tubuh Daniar ke pangkuannya, yang sayangnya, malah ditangkis oleh bocah itu dengan kasar. “Lho, Anak Ayah kok begitu?”

“Ayah akal!” Daniar meremas udara saking kesalnya.

“Eh, nakal bagaimana?”

“Iya. Ayah akal.” Daniar menujuk ke kamera. “Ia mau ngomong. Tama Ate Eci, tama Om Aga. Ayah malah ganggu Ia.”

“Oalah, maaf ya!” Rian nyengir ke kamera. “Ya sudah, sini. Silakan ngobrol, Tuan Putri.” Dia memangku Daniar, membantu memegangi ponsel agar tidak bergeser. “Memang mau cerita apa?”

“Li-bu-lan.”

“Ke kebun binatang?”

“Heeh!” Daniar mengangguk, membuat lemak di pipinya bergoyang-goyang. “Ia balu ingat. Ia ke lumah hewan tama Ayah, tama Bunda, tama Kak Cella, tama Kak Dapit.”

“Terus?”

“Oma sama Opa diajak, nggak?”

“Cebental, Om Aga! Ia belum teletai celita!” gemas Daniar.

“Iya, maaf.”

“Ia maafin.”

“Ya sudah, sekarang Niar lanjutkan dulu!” usul Lexi, membuat muka Daniar seketika berbinar.

Ada Oma, Opa, telus Uyut. Telus ..., telus ....”

“Bibi Tik,” tambah Rian, memancing ingatan anaknya.

Daniar mengangguk. “Iya. Bibi Tik, Pakde Dul, Om Isan. Pokoknya temua olang. Ikut lihat binatang. Telus, habis itu Ia bilang ke Ayah. ‘Ayah, Ia mau beli mainan.’.”

“Dibeliin sama Ayah?”

“Iya, Ate Eci. Api catu. Beluang.”

“Kok, itu dapat banyak?”

“Ini?” Daniar mengangkat boneka lainnya menggunakan jari-jari mungilnya. “Opa yang beliin. Kata Opa, ‘Oh iya. Ia mau?’ Ia jawab, ‘Iya, Opa. Ia mau.’

‘Beli saja Ia. Temuanya.’ Tapi, Ayah bilang, ‘Jangan Ia. Jangan banyak-banyak ya. Anti Bunda malah!’.”

“Oh, Ayah ngomong begitu?” Arga memasang ekspresi serius, menyambut Daniar seolah ikut kesal. “Dasar Ayah ya. Harusnya beli semua.”

“Iya, Om Aga.”

“Hmm. Kebiasaan. Om sama keponakan sama saja.” Rian segera memasang ekspresi datar, tetapi sangat mematikan. Seakan siap menerkam Arga yang justru menjadi sumbu bagi kemarahan putri kecilnya. “Mainan Niar lho sudah banyak. Nggak cukup rumah kita.”

“Kan bica taluh lumah Oma.”

“Nah, benar! Rumah Oma lho masih luas. Bisa menampung semua mainan Niar ya, Sayang.”

“Mas Arga!” mata Rian menyipit, mencoba mengintimidasi. Lengkap dengan tangan kanan yang dikepalkan. “Jangan jadi kompor!”

Sementara Lexi hanya bisa tertawa. Menyaksikan tingkah konyol dua pria dewasa di hadapannya. Sungguh pemandangan sempurna. 


Other Stories
Hanya Ibu

Perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantung sej ...

Menolak Jatuh Cinta

Maretha Agnia, novelis terkenal dengan nama pena sahabatnya, menjelajah dunia selama tiga ...

Di Bawah Langit Al-ihya

Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...

Kuraih Mimpiku

Edo, Denny,Ringo,Sonny,Dito adalah sekumpulan anak band yang digandrungi kawula muda. Kema ...

Cinta Koma

Cinta ini tak tahu sampai kapan akan bertahan. Jika semesta tak mempertemukan kita, biarla ...

Langit Ungu

Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...

Download Titik & Koma