44. Kehidupan Memang Misterius, Seolah Tak Rela Manusia Bahagia Sedikit Saja
“Happy Birthday, our precious daughter.”
Lexi masih bisa membayangkan saat pertama kali dia merayakan hari kelahirannya di rumah Keluarga Harris. Saat itu dia masih terlalu kecil, sepuluh tahun dan baru pertama kali melihat kue ulang tahun bertuliskan namanya ada di atas meja untuk dirinya sendiri. Padahal biasanya dia hanya bisa menyaksikan kue semacam itu bila ada anak dari keluarga kaya yang kunjungan di pasti, merayakan ulang tahun di dampingi kedua orang tua dengan dalih berbagi, tanpa tahu perayaan semacam itu akan melukai hati anak-anak panti asuhan.
“You are the most beautiful blessing God has ever given us. Even though you weren’t born from us, you were truly born for us. We are so grateful to be your parents, and we love you more than words can ever say.” Handrick mengelus kepala Lexi, memberinya ciuman seorang ayah di pipi, yang kemudian disusul oleh Marie. Lalu, dengan penuh semangat mengambil gambar, mengabadikan momen bahagia tersebut, yang gambarnya masih tersimpan di galeri ponsel Lexi. Malah, Lexi menjadikannya gambar latar belakang pada ponsel pintarnya.
Batin Lexi menjerit, membuatnya tak bisa menahan air mata kala mengenang kebersamaannya bersama mendiang ayahnya. Sosok yang biasanya akan menjadi orang pertama yang akan mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Yang sayangnya, sejak kematian pria itu, Lexi tak pernah lagi merayakan hari kelahirannya. Terlalu sakit.
“Aku benci hari kelahiranku.” Dia pernah menyampaikan hal tersebut kepada sang bibi.
Bisa ditebak, Bibi Nora langsung memeluknya. “Sweetheart, tolong jangan seperti ini! Jangan siksa dirimu seperti ini! Semua ini bukan salahmu.”
♥♥♥
“Aku tahu kamu tidak suka ulang tahun tapi izinkan aku memberikan ini kepadamu.”
Lexi menatap cincin emas polos yang baru saja diberikan Arga padanya. Tepat setelah jam dua belas malam, satu jam yang lalu. Dengan muka penuh kesungguhan, Arga menghadiahkan dan memasangkan benda tersebut di jari manis kekasihnya.
“Apakah ini lamaran?” tanya Lexi, tadi.
Arga tersenyum, penuh kebahagiaan. “Kalau kamu mau?”
Namun, belum sempat hati Lexi melemeh, dia justru dikejutkan oleh suara langkah kaki seseorang dari arah lorong. Pun dia segera berbalik guna memastikan siapa yang datang.
“Ga?” katanya memanggil, sekaligus memastikan. Akan tetapi, yang ditanya malah bungkam. Lebih tepatnya kebingungan. “Kok nangis? Kenapa?” lanjut Lexi, panik.
Mulut Arga terbuka, tetapi tak ada satu pun kata berhasil keluar dari sana.
Sadar ada sesuatu yang buruk baru saja terjadi, Lexi buru-buru berlari menghampiri, memeluk Arga. Hanya saja, tepat saat tangan Lexi menyentuhnya, Arga malah ..., ambruk.
“Sayang? Ada apa?”
♥♥♥
“Mas Arga ke mana saja sih? Kenapa angkat telepon? Dari tadi lho aku nelponin Mas Arga.” Persis setelah sampai di kamar, Arga langsung disambut dering ponsel pintarnya, lengkap dengan puluhan panggilan tak terjawab dari sang keponakan.
“Maaf. Mas nggak dengar, Vid!” Arga melemparkan tubuhnya di atas ranjang, menatap langit-langit kamar yang lampunya temaram. “Lagian, tumben kamu telepon Mas malam-malam. Ada apa? Mau minta apa lagi? Motormu kenapa?”
“Kok motor sih?” David terdengar kesal. Suara napasnya keras, tanda menahan tangis.
Arga berdecih. “Sudahlah. Iya. Mas izinkan beli motor tapi –“
“Mas Rian sama Niar kecelakaan!” sela David, keras dan berteriak. Membuat Arga seketika terdiam.
Butuh waktu lama sebelum akhirnya Arga berkata, “Jangan bercanda, Vid. Nggak lucu. Mas nggak suka kalau ber –“
“Aku serius, Mas!” jawab David, dia akhirnya meledak juga. “Ini sekarang aku di rumah sakit. Daniar luka parah. Mas –Mas Rian mati.”
♥♥♥
“Nggak! Rian nggak meninggal!” Pak Lukman menjelaskan, persis setelah Arga yang panik berhasil ditenangkan oleh Lexi. Dan akhirnya, berani menghubungi orang rumah untuk memastikan.
Namun, apa pun itu tak ada yang bisa menghentikan Arga mencari tiket pagi. Dia bahkan rela datang ke rumah sakit pagi buka –tanpa tidur sama sekali –untuk mendapatkan surat kesehatan.
Beruntung, dia bisa lolos pemeriksaan.
Arga dan Lexi mendapat tiket untuk penerbangan kedua. Selama itu, tidak sekalipun Arga melepaskan gawai dari ponselnya, menghubungi David dan Sella. Sebab, dia paham betul bila tak seorang pun bisa dia percaya selain kedua remaja tersebut.
“Semua orang membohongi aku,” keluh Arga kepada Lexi, sesaat sebelum mereka masuk ke terminal penerbangan. “Papa, Mama, Rangga bahkan Ferdi ..., semua orang bilang Daniar nggak kenapa-kenapa, tapi David bilang, dia dioperasi pagi tadi.”
Lexi tak tahu harus bagaimana. Karena kata kecelakaan terlalu pedih di hatinya. Mengingatkan dia pada mendiang ayahnya. Itulah kenapa dia hanya bisa menguatkan Arga, menepuk-nepuk bahu kekasihnya itu lembut.
“Daniar! Ya Allah!” ratap Arga, pilu. “Dia masih sangat kecil, Lex. Dia baru tiga tahun tujuh bulan. Dia baru bisa jalan. Dan sekarang ..., dia harus nggak punya kaki –itu bagaimana, Lex?
“Aku harus bagaimana, Lex? Aku harus apa? Dia keponakanku, Lex! Dia sudah seperti anakku sendiri –nggak ada seorang pun rela anaknya –ya Allah!”
♥♥♥
Mobil yang mereka tumpangi sampai di rumah sekitar pukul sepuluh siang.
Dalam suasana hari yang mendung dan nyaris hujan, Arga mengajak Lexi berjalan menyusuri gang menuju kediamannya. Tempat di mana seorang wanita paruh baya yang sangat Lexi kenali menyambut mereka.
Bu Fatimah menghambur, memeluk putra semata wayangnya tersebut erat-erat. Begitu pula dengan Arga. Mereka sama-sama menangis, membuat Lexi seolah-olah menyaksikan masa lalunya sendiri.
Dad.
Dia ingat betul hari itu.
“Kok bisa, Ma?”
Bu Fatimah menggeleng, dia terisak-isak. “Mama juga tidak tahu, Sayang. Papamu yang tahu ceritanya. Mama –oh Gusti!” Dia mengusap wajahnya sendiri, putus asa. “Daniar ....”
“Iya, Ma. Arga sudah dengar.”
Mereka kembali berpelukan, menumpahkan tangis.
♥♥♥
“Maaf ya, Lexi. Harusnya kita tidak bertemu dalam kondisi seperti ini,” ucap Bu Fatimah saat mengantar kekasih putranya tersebut ke kamar untuk beristirahat.
Merasa tak enak, Lexi menggeleng. “Tidak apa-apa kok, Tante. Saya maklum. Lagi pula, ini musibah.”
Dengan mata sembab, Bu Fatimah memaksakan senyuman. “Ya sudah, kamu istirahat dulu ya. Kalau mau mandi, kamar mandinya di belakang. Tante belikan makan siang dulu untuk kalian.”
“Tidak usah, Tante. Kita bisa beli sendiri.”
Namun, Bu Fatimah terang menolak rencana tersebut. “Jangan! Kalian baru datang. Pasti capek.” Dia menyeka air yang jatuh di wajah ayunya. “Dekat kok. Di depan situ.”
Tak tega membantah, Lexi buru-buru masuk ke dalam kamar yang langsung dia sadari merupakan milik Arga. Sebab pada dindingnya terdapat tempelan foto-foto masa remaja pria itu, lengkap dengan beberapa bingkai penghargaan menulis bergengsi sebagai pemanis.
“Papa!”
Suara teriakan Arga dari arah ruang tamu mengejutkan Lexi. Memaksa wanita berambut dicepol itu berlari keluar, memastikan. Dan benar saja, di sana telah ada seorang pria berjaket kulit hitam dengan wajah lesu terduduk di sofa ruang tamu. Yang ketika mereka beradu pandang, mencoba memaksakan senyum.
Lexi tahu, ayah Arga kelelahan.
“Om.” Lexi menghampiri, lalu menjabat tangan Pak Lukman. Toh, mereka sudah lama kenal lewat telepon. “Apa kabar?”
Sungguh basa-basi yang buruk, batin Lexi.
Pak Lukman menjawab, “Alhamdulillah. Kamu sehat?”
“Papa dari kantor polisi?” Belum sempat Lexi menjawab, Arga lebih dulu bertanya.
Yang dijawab helaan napas panjang oleh Pak Lukman. “Kecelakaan beruntun. Jalanan licin karena hujan. Pelakunya juga luka parah.”
“Terus?”
“Ya terus apa?” Pak Lukman menggeleng, tapi kali itu bermakna keputusasaan. “Mobil ringsek. Kaki kiri Daniar terjepit. Pendarahan. Dan diamputasi. Kamu sudah tahu tho?”
Air mata Arga kembali jatuh, membuat mata di balik kacamata itu membengkak. “Rian?”
Mendengar nama itu disebut, air muka Pak Lukman seketika berubah. Gelap.
“Papa, jangan diam saja!” Arga mendekat, bersimpuh di kaki sang ayah. “Pa, Rian kenapa? Kata Papa semalam Rian masih hidup, kan? Iya, kan, Pa! Papa?!”
Other Stories
Testing
testing ...
People Like Us
Setelah 2 tahun di Singapura,Diaz kembali ke Bandung dengan kenangan masa lalu & konflik k ...
Di Bawah Panji Dipenogoro
Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...
Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan
Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...
Cahaya Menembus Semesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Painted Distance (tamat)
Dara memutuskan untuk pergi ke Sapporo bukan hanya sekadar liburan. Perjalanannya di kota ...