(bukan) Tentang Kita

Reads
890
Votes
0
Parts
61
Vote
Report
(bukan) tentang kita
(bukan) Tentang Kita
Penulis Nandreans

49. Kata Mereka, Tuhan Memberi Cobaan Untuk Membuat Manusia Menjadi Lebih Kuat, Tapi Bolehkah Bila Aku Minta Tidak Menjadi Kuat, Tuhan?


“Cantiknya.”

Masih terekam jelas di ingatan Arga saat untuk pertama kalinya dia diberi kesempatan melihat Daniar. Yang pada saat itu masih dibungkus kain tebal, lengkap dengan mata yang masih tertutup serta bibir mungil yang tak berhenti bergerak-gerak seolah tengah menyusu. Padahal, dot yang sebelumnya Bu Fatimah berikan pada Daniar telah diambil, disudahi agar bayi mungil itu tidak kekenyangan dan berakhir gumoh.

Arga menyentuh pipi keriput Daniar menggunakan ujung jarinya, kemudian menghadiahkan ciuman lembut di sana. Hangat, bukan main. Sebuah aroma yang tak akan mampu ditandingi oleh apa pun juga. Tak peduli meskipun secara teknis bayi ini bukan buah hatinya, akan tetapi kelahirannya dari perut Bella sudah cukup memberi Arga alasan untuk jatuh cinta pada Daniar. Bahkan jauh sebelum Daniar ada di dunia, saat Bella dan Rian memberinya kesempatan mendengarkan tendangan anak itu dalam rahim ..., di saat itu pulalah cinta tumbuh subur di hati Arga.

“Bukankah dia seperti malaikat?” kata Rian membuat Arga mengangguk tanpa berpikir, setuju tanpa bertimbangan lain. “Menurut Mas, dia mirip siapa?” lanjut ayah baru tersebut penuh rasa ingin tahu.

Arga berpura-pura mengerutkan kening, kemudian sedikit memundurkan dirinya sebelum dengan mata menyipit memperhatikan wajah Daniar kecil dan Rian, serta Bella yang saat itu juga berada di ruangan yang sama bergantian. Meneliti. Ekspresinya menandakan seolah-olah dia tengah berpikir sangat keras. “Mirip lo deh, kayaknya.”

“Masa?” Mata Rian berbinar, senang.

Meski tidak yakin, Arga mengangguk. Bukan apa, wajah Daniar saat itu masih terlalu kecil untuk dinilai. Pun bayi memang masih cenderung berubah-ubah, belum terlalu terang.

♥♥♥

“Ya-ya!”

Adalah kata yang paling sering diucapkan oleh Daniar di masa kecilnya. Meskipun secara teknis sekarang pun anak itu masih sangat kecil, tetapi dua tahun yang lalu, ketika dia masih belum sepenuhnya bisa disebut sebagai manusia –melainkan malaikat mungil bermata besar, berpipi tembam dan memiliki rambut pendek nyaris gundul akibat terlalu sering dicukur –yang dipaksa mengenakan pita serta bandana warna-warni berhiaskan aneka macam bentuk lucu yang terkadang terlalu besar untuk kepalanya, Daniar justru tetap menjadikan sang ayah sebagai idolanya.

Bahkan alih-alih Bella, Arga tahu pasti orang pertama yang gadis kecil itu panggil setiap kali terjatuh justru Rian. Yang sudah bisa dipastikan, di saat-saat seperti itu Arga tak mampu menyembunyikan rasa perih di ujung hatinya. Seolah ada yang membakar dadanya. Lengkap dengan pertanyaan, apa jadinya bila dialah ayah anak ini? Alangkah indahnya bila dia lah yang menggandeng tangan Daniar untuk mengambil langkah pertama. Atau, betapa menakjubkan kehidupan Arga seandainya dia punya kesempatan menjadi rumah bagi keponakan kecilnya ini.

Namun, sungguh seburuk apa pun imajinasi Arga, dia sama sekali tidak pernah berniat jahat. Itulah mengapa ketika pada akhirnya dia menyaksikan Daniar kembali belajar berdiri –merangkak di tempat rehabilitasi pasca amputasi, tidak ada kata yang bisa menggambarkan betapa remuk dada Arga saat itu. Terlebih dengan fakta bahwa setengah kaki kiri Daniar hilang.

Gadis kecilnya tetap sempurna, tapi tidak lagi sama.

Ada begitu banyak ketakutan di kepala Arga. Bersembunyi di balik senyum serta tawa tipis penuh optimis yang tak henti dia lukiskan kepada Daniar di ruang perawatan, serta Bella dan Lexi yang dengan penuh pengharapan memberi semangat dari balik jendela kaca.

“Nggak apa-apa, Sayang. Pelan-pelan ya,” kata Arga selembut mungkin. Dia mengulurkan tangan, seolah memberi tahu keponakan kecilnya bahwa apa pun yang terjadi dirinya akan selalu ada, dan bersiap menangkap Daniar bila dia terjatuh nanti. Sesuatu yang jelas-jelas dia pelajari dari sosok Rian.

♥♥♥

Rian bukan ayah yang sempurna tapi dia jelas figur yang luar biasa, setidaknya begitulah Arga menyimpulkan.

Dan, itulah satu-satunya alasan mengapa dahulu Arga memilih mundur. Memberi kesempatan pada sahabat sekaligus saingan terbesarnya tersebut untuk mendampingi Bella, menjadi teman hidup dari perempuan yang paling dia cinta di dunia pada waktu itu.

“Aku suka Bella!” Kalimat tersebut Arga ingat keluar pertama kali dari Rian saat mereka masih sama-sama belia. Remaja SMA yang dimabuk asmara, yang jelas tidak mudah Arga percayai mengingat Rian tidak tampak seperti orang yang serius.

Bahkan bisa dibilang, tak cuma meremehkan, Arga pun malah melabelinya sebagai playboy yang hanya akan menyakiti Bella. Lalu, membawa perempuan paling dia puja –tetapi tidak digariskan untuknya itu dalam kekecewaan dan pengkhianatan.

Namun, siapa yang bisa membaca masa depan?

Rian. Sang Candra di dunia nyata berani mengambil sikap. Sama seperti karakter Candra yang pemberani, dia berhasil menyentuh hati Bella dan mendapatkannya. Sementara Arga justru berakhir seperti Nuga. Malah mungkin jauh lebih nahas sebab Bella tak lebih dari menganggapnya ..., kakak?

Memang, di saat mereka masih sama-sama remaja label kakak tampaknya jauh lebih menguntungkan ketimbang sahabat atau kekasih. Akan tetapi, saat pada akhirnya mereka bertiga menjelma manusia dewasa, Arga baru tersadar bila dianggap saudara –pada akhirnya seorang kakak lelaki harus melepaskan adik mereka terbang sendiri. Memilih pria lain yang mencintai untuk membangun kisah mereka sendiri. Dan meskipun pedih, itulah yang Arga lakukan.

Hanya saja, kenapa Rian justru ingkar?

“Tolong bangun, Ian,” pinta Arga di depan ruang ICU, ketika pada akhirnya dia berkesempatan datang menjenguk sahabat sekaligus adik tersayangnya itu. Yang bahkan untuk sekadar melihatnya saja Arga tidak bisa. Sebab tak sembarang orang boleh masuk. Dan demi menghargai keluarga kandung Rian, kesempatan yang ada diberikan sepenuhnya untuk mereka. Mewakili Bella yang sejak hari pertama belum diizinkan datang.

“Kondisi kehamilan Bella membuatnya lebih rentan,” jelas Arga dengan suara lirih, seolah Rian bisa mendengarnya. “Minggu lalu dia dirawat inap karena kelelahan. Tapi lo nggak usah khawatir karena gue pasti jagain Bella sampai lo bangun. Gue janji, Ian.”

Sementara itu, menyadari kolam air mata di pelupuk kekasihnya, Lexi segera melingkarkan jemarinya di tangan Arga. Menggenggam erat tangan kanan pria itu penuh kekuatan. “Aku yakin Rian pasti bangun. Dia kuat. Kan?”

Menahan tangis, Arga mengangguk. Suaranya berubah serak. “Aku bingung, Lex.”

“Bingung kenapa?” tanya Lexi, retorik. “Kan kamu sendiri yang dulu bilang kalau ini semua jalan Tuhan. Ini waktu untuk Rian beristirahat sebentar, apalagi katamu dia tidak pernah sakit sebelumnya. Mungkin, Tuhan mau dia berhenti sebentar ..., sama seperti aku saat di Banyuwangi kemarin.”

Perkataan Lexi spontan membuat salah satu ujung bibir Arga naik. “Bisa saja kamu. Tapi omong-omong, maaf ya, Sayang. Karena gara-gara aku, rencana kamu berantakan.”

“It’s ok!” Lexi menyeka sungai yang mengalir di pipi Arga menggunakan ibu jarinya. “Keluarga kamu kan keluargaku juga. Dan, ini juga bukan kesalahan kamu. Ini takdir, ingat?”

♥♥♥

“Aku justru senang melihat kedekatan Arga dan Bella,” kata Lexi kepada Bianca ketika ibu satu anak itu menginap di rumah Bu Nurmala. Lengkap dengan Alden kecil yang tertidur nyenyak di atas kasur di depan televisi, ditemani siaran drama Tiongkok dari salah satu saluran berbayar yang mereka sewa.

“Kok begitu?” Bianca bertanya sambil memakan potongan buah semangka dingin di dalam mangkuk beling menggunakan garpu. “Kakak nggak cemburu?”

Lexi menggeleng, ikut mencomot isi mangkuk menggunakan garpu lain yang memang disediakan untuknya. “Entah kenapa sejak dengar kabar soal Niko ..., aku yang biasanya biasa saja ..., menjadi sering merasa iri pada kedekatan orang lain dengan saudara mereka.”

Alis Bianca mengerut. “Maksudnya?”

“Ya, aku iri.” Lexi tertawa sebentar. “Iri lihat kamu dekat sama Tommy. Iri lihat Bella sama Arga. Bahkan, aku nggak bisa menahan diri untuk –andai Niko masih hidup mungkin kami bisa sedekat kalian.”

“Kak Sisi.” Bianca buru-buru meletakkan mangkuk di tangannya, lantas memeluk tubuh wanita di hadapannya. “Aku kan adik Kak Sisi juga.”

“Ya beda dong, Bianca.” Lexi tetap membalas pelukan itu sehangat mungkin. “Kamu kan adik aku, bukan kakak aku.” Ada tawa kecil di sana, terlebih saat Bianca dengan sadar menggoyang-goyangkan tubuhnya, membuat Lexi kesulitan bernapas. “Sudah! Sudah! Geli, Bianca!”

“Ish!” Bianca mendesis, kesal. “Tapi memang ya, kehidupan nggak ada yang sempurna. Kalau kata Bunda, sawang sinawang.

“Apa itu?”

“Kita terlalu fokus melihat apa yang orang lain punya, sampai lupa mensyukuri apa yang kita miliki.”

Lexi memundurkan tubuhnya, sedangkan kedua matanya menyipit. “Sejak kapan adikku yang cantik ini menjadi orang bijak?”

“Ih, Kak Sisi!” Bianca berpura-pura tersinggung. “Enak saja. Begini-begini, aku sudah punya buntut.” Dia menunjuk bayinya. “Jadi, harus lebih bijak. Biar bisa jadi panutan.”

Lexi malah tertawa. “Oh ya?”

“Memang benar tahu, Kak!” Bianca menjejali mulutnya sendiri dengan buah, lagi. “Dulu, aku selalu merasa duniaku nggak baik-baik saja. Aku merasa Tuhan terlalu jahat karena memberiku orang tua yang strict, kakak yang sering ngomel sampai ada di titik aku nggak mau lagi jadi anak mereka.”

“Hah?” Mata Lexi membelalak, kaget. “Kok bisa?”

“Ya bisa. Namanya juga masih muda.” Bibir Bianca tersenyum lebar, tetapi matanya malu-malu. “Sampai kemudian aku melihat anak-anak di Lentera Matahari.”

“Nggak punya orang tua itu berat, Bi.”

“Tentu. Aku nggak bilang mudah. Tapi setidaknya, Kak Lexi sudah mendapatkan orang tua asuh, kan?”

“Tetap saja beda.”

“Daripada tinggal di keluarga yang nggak kondusif?”

“Ya, paling tidak mereka tetap diperjuangkan oleh orang tuanya.”

“Dengan kondisi yang buruk?” Bianca kembali menyerang dengan pertanyaan, yang begitu Lexi mengangguk segera dia lanjutkan, “Orang yang berhak menjawab pertanyaan terakhir ini aku pikir hanya Mbak Bella.”

“Karena Daniar –“

“Bukan! Bukan!” sela Bianca, cepat. “Bukan Daniar, tapi Mbak Bella sendiri,” lanjutnya membuat Lexi semakin tak paham. “Bukan cuma itu, Mbak Bella bikin aku bertanya-tanya, kenapa Tuhan bisa sejahat itu ke manusia.”

“What? Whay?”

“Because all her life, God never stopped giving her pain. I mean, I can’t even imagine it. If God had given me that fate, I probably would’ve lost my mind from the very beginning.”

“Tunggu!” Lexi membuka tangan kanannya di depan dada. “Aku tahu kehilangan pasangan dan melihat anak kita yang sebelumnya sehat menjadi sakit –“

“Bukan hanya itu, Kak Si.” Lagi, Bianca memotong ucapan Lexi. “Aku tahu, nggak seharusnya aku membanding-bandingkan kehidupan orang lain tapi –apa yang menimpa Mbak Bella itu seakan nggak ada habisnya.

“Mulai dari lahir di keluarga yang miskin,” Bianca menghitung dengan jarinya. “Papanya masuk penjara, mamanya lari dan nikah lagi, ninggalin dia dengan bayi umur sepuluh bulan.”

Lexi terdiam.

“Masih mending Kak Sisi diantar ke panti asuhan, Mbak Bella? Boro-boro.” Bianca memutar bola matanya. “Kok ya bisa dia membesarkan anak sekecil itu di usianya yang baru sepuluh tahun? Kalau aku, pasti itu bayi sudah mati besok paginya. Nggak usah besok atau lusa.”

“B –bukannya Bella itu adiknya Arga?” tanya Lexi penuh kehati-hatian. “Aku lihat keluarganya Arga baik-baik saja kok.”

“Ya ampun, Kak Sisi. Sebenarnya betulan Kakak pacaran atau nggak sih sama Mas Arga?” sindir Bianca. “Mbak Bella dan Mas Arga itu memang adik kakak, tapi nggak kandung.”

“T –tiri?”

“Bukan juga.”

“Terus?”

“Jadi begini,” Bella mengubah posisi duduknya agar lebih nyaman saat bercerita. “Neneknya Mbak Bella itu dulu kerja sebagai pembantu di rumah neneknya Mas Arga. Lalu, persis setelah bapaknya Mbak Bella masuk penjara, mereka diboyong ke Jakarta oleh Tante Ima. Tapi, saking dekatnya –Mas Arga sudah anggap Mbak Bella sebagai adiknya sendiri.”

Mata Lexi semakin membulat, mencoba mencerna situasi. “Wait! Ellia?”

“Kakak baca novel itu juga?” Bianca tampak senang. “Iya. Ellia yang di novel itu memang Kak Bella. Tapi ini rahasia ya. Nggak semua orang tahu. Bahkan teman-temannya saja nggak banyak yang tahu. Secara teknis, bahkan cuma Ferdian yang tahu. Jadi, tolong banget jangan dikasih tahu ke siapa-siapa. Karena aku pun sebenarnya nggak boleh tahu. Mas Arga pasti marah kalau sampai dia tahu Ferdi menceritakan kisah sebenarnya ke aku.”


Other Stories
Kamera Sekali Pakai

Seorang perempuan menghabiskan liburan singkat di sebuah kota wisata, berharap jarak dapat ...

Akibat Salah Gaul

Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...

The Unkindled Of The Broken Soil

Di dunia yang terpecah belah dan terkubur di bawah abu perang masa lalu, suara adalah keme ...

Menolak Jatuh Cinta

Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...

Relung

Edna kehilangan suaminya, Nugraha, secara tiba-tiba. Demi ketenangan hati, ia meninggalkan ...

Nona Manis ( Halusinada )

Dia berjalan ke arah lemari. Hatinya mengatakan ada sebuah petunjuk di lemari ini. Benar s ...

Download Titik & Koma