BAB 20 | "Perjamuan Terakhir Di Kapal Karat"
Lantai besi kapal tongkang itu berdenyut, atau mungkin itu hanya perasaan Adit karena rasa takut yang sudah melampaui batas kewarasan. Bau karat yang basah beradu dengan aroma busuk dari palka, menciptakan sebuah simfoni kematian yang menyesakkan. Di depan mereka, sosok pria yang menyebut dirinya "Kapten" Bakri berdiri dengan keangkeran yang tenang. Ia tidak terlihat seperti monster, tapi di tempat seperti ini, menjadi manusia yang waras adalah hal yang paling mustahil.
Bab 20: Perjamuan Terakhir di Kapal Karat
"Jangan mendekat!" teriak Bram, ia mengangkat potongan besi tajam yang ia pungut dari dek sebagai senjata. Tubuhnya yang atletis tampak gemetar, ia sudah kehilangan terlalu banyak teman untuk bisa bersikap tenang.
Kapten Bakri tertawa, suara tawa yang terdengar seperti gesekan logam berkarat. "Tenang, Anak Muda. Kalau aku ingin kalian mati, kalian tidak akan sempat memanjat tangga tadi. Anak-anakku di bawah sana sudah lapar, tapi mereka tahu mana tamu dan mana hidangan utama."
Adit melangkah maju, mencoba menjaga kewarasan kelompoknya. "Anak-anak? Bapak bilang telur-telur monster itu anak Bapak? Bapak gila!"
"Gila adalah kata yang sering dipakai orang lemah untuk menjelaskan hal yang tidak mereka pahami," sahut si Kapten sambil meneguk sisa wiski dari botolnya yang sebenarnya sudah kosong, hanya sebuah kebiasaan saraf yang tersisa. "Adikku di mercusuar itu... dia terlalu lembek. Dia merasa bersalah. Dia pikir dengan memberikan diri sebagai umpan, dia bisa menebus dosa keluarga kami. Padahal, predator ini adalah anugerah. Mereka adalah pembersih."
Di sudut belakang, Dina dan Lala masih belum sadar sepenuhnya dari syok. Nadia sedang memeriksa luka di dahi Maya yang terus mengeluarkan darah. Situasi di atas kapal tongkang ini tidak lebih baik dari karang tadi. Mereka terjebak di atas "sarang" yang siap menetas.
"Ris, coba cari apa pun yang bisa dipakai buat komunikasi di ruang mesin," bisik Adit kepada Aris.
Aris mengangguk pelan, namun saat ia hendak bergeser, Kapten Bakri mengacungkan parangnya.
"Jangan repot-repot. Radio di sini sudah mati sejak tahun sembilan puluhan. Kapal ini tidak akan ke mana-mana. Kapal ini adalah piring besar, dan kalian baru saja mendarat di atasnya."
Kilas Balik: Masa Lalu Si Kembar Bakri dan Pulau Seribu Hening
Jauh sebelum Adit dan teman-temannya merencanakan liburan ini, Pulau Seribu Hening adalah lokasi rahasia sebuah pembuangan ilegal. Bukan limbah kimia yang rumit, melainkan sisa-sisa hasil curian dari sebuah ekspedisi gelap di laut dalam yang tak sengaja membawa polong telur yang tidak dikenal.
Keluarga Bakri adalah penjaga pulau ini secara turun-temurun. Ayah mereka adalah orang pertama yang menyadari bahwa telur-telur itu membutuhkan protein mamalia untuk menetas.
Awalnya mereka menggunakan hewan ternak. Namun, predator yang lahir ternyata memiliki kecerdasan yang menakutkan. Mereka mulai meniru suara mangsanya.
Bakri kecil melihat ayahnya diseret ke dalam gua oleh makhluk yang bersuara persis seperti ibunya. Sejak saat itu, si kembar Bakri terbagi. Sang adik ingin memusnahkan mereka, sementara sang kakak, si Kapten, memilih untuk "bekerja sama". Ia mulai mengundang pelancong-pelancong kaya, menjanjikan surga tersembunyi, hanya untuk menjadikan mereka inang bagi generasi baru.
"Kenapa Bapak lakuin ini?" tanya Maya dengan suara parau. "Bapak juga manusia. Bapak punya hati, kan?"
"Hati?" Kapten Bakri mendekat, wajahnya kini terpapar cahaya matahari pagi. Matanya tidak putih seperti Tora, tapi ada kekosongan yang mengerikan di sana. "Hati saya sudah habis dimakan saat saya harus memilih antara memberi makan mereka atau membiarkan mereka memakan saya. Saya memilih hidup. Dan untuk hidup, saya butuh kalian."
Tiba-tiba, suara retakan terdengar dari palka di tengah dek. Krak... krak...
"Sial, mereka mulai menetas," desis Pak Bakri. Ekspresi wajahnya berubah dari gila menjadi waspada. "Dengar, ada satu kesempatan buat kalian. Di dalam palka itu, ada satu sekoci kecil yang masih bisa dipakai. Tapi sekoci itu ada di balik tumpukan telur."
"Bapak mau kami masuk ke sana?!" seru Bram. "Itu bunuh diri!"
"Itu adalah cara kalian membayar 'tiket' liburan ini," kata si Kapten sambil melemparkan parangnya ke arah Adit. Adit menangkapnya dengan ragu.
"Masuk ke bawah, ambil sekoci itu, dan lari. Atau tetap di sini dan tunggu sampai ribuan larva itu merayap naik dan membungkus kalian hidup-hidup."
Konflik moral kembali menghantam. Mereka tinggal tujuh orang: Adit, Aris, Bram, Nadia, Maya, Dina, dan Lala. Kehilangan Rico masih terasa seperti lubang di dada mereka, dan kini mereka diminta masuk ke dalam perut bumi atau dalam hal ini, perut kapal, yang penuh dengan ancaman.
"Gue nggak mau masuk ke sana, Dit... gue nggak mau," isak Dina.
"Kita harus masuk, Din," ucap Adit dengan nada yang sangat mature. Ia memegang bahu Dina. "Gue yang bawa kalian ke sini. Gue nggak akan biarin satu pun dari kalian jadi nutrisi buat telur-telur itu. Bram, lu ikut gue ke bawah. Aris, lu jaga para cewek di sini. Kalau dalam sepuluh menit kami nggak keluar, kalian lari ke arah buritan, lompat ke laut dan berharap pada keberuntungan."
"Dit, jangan bego! Kita harus bareng-bareng!" protes Aris.
"Nggak cukup waktu, Ris! Palka itu sempit!"
Adit dan Bram mulai menuruni tangga besi yang menuju ke kegelapan palka. Setiap anak tangga mengeluarkan bunyi ngiiik yang menyayat hati. Begitu kaki mereka menyentuh dasar palka, bau amisnya menjadi seribu kali lebih kuat. Di sana, dalam cahaya senter yang mulai melemah, mereka melihat pemandangan yang akan menghantui mimpi mereka selamanya.
Ribuan telur transparan sebesar bola basket menempel di dinding besi. Di dalamnya, siluet makhluk kecil dengan tangan panjang dan gigi-gigi tajam tampak menggeliat. Dan di tengah-tengah itu, mereka melihat sosok yang mereka kenal.
"Gilang?" bisik Bram.
Itu benar-benar Gilang. Dia masih hidup, tapi tubuhnya sudah dibungkus oleh semacam lendir putih yang mengeras seperti semen, menempelkannya ke dinding kapal. Matanya terbuka lebar, namun tidak ada kehidupan di sana. Ia digunakan sebagai "pemanas" alami bagi telur-telur di sekitarnya. Suhu tubuh manusianya adalah apa yang dibutuhkan larva itu untuk pecah.
"Lang... maafin kami..." Adit mendekat, mencoba menyayat lendir itu dengan parang.
"Jangan... Dit..." suara Gilang terdengar seperti embusan angin. Sangat lemah. "Pergi... mereka... di belakang kalian..."
Adit dan Bram berbalik. Di sudut gelap palka, seekor predator dewasa, yang mungkin adalah induk dari semua telur ini sedang merayap di langit-langit palka. Berbeda dengan 'Pangeran' yang terbakar atau 'Tora', induk ini memiliki kulit yang transparan, memperlihatkan organ dalamnya yang berdenyut dengan cairan biru.
Makhluk ini tidak menyerang dengan kasar. Ia menjatuhkan setetes cairan dari mulutnya ke lantai besi. Cairan itu langsung melubangi besi kapal, menunjukkan betapa korosifnya asam yang ia miliki.
"Bram, sekocinya di sana!" tunjuk Adit ke arah pojok palka yang tertutup jaring ikan tua.
Mereka harus melewati sang Induk. Ini bukan lagi soal lari, ini adalah soal bagaimana dua anak kuliahan yang biasanya hanya bertarung dengan tugas akhir, kini harus bertarung dengan puncak rantai makanan purba.
Di atas dek, Kapten Bakri tiba-tiba mulai bernyanyi sebuah lagu nina bobo dalam bahasa daerah yang tidak mereka mengerti. Suaranya bergema masuk ke dalam palka, seolah-olah ia sedang menenangkan anak-anaknya yang sedang berburu.
"Dia gila... dia bener-bener gila," gumam Lala sambil memeluk Nadia.
Tiba-tiba, Aris menyadari sesuatu yang aneh. "Tunggu... kalau sekoci itu ada di bawah, kenapa Kapten Bakri nggak pakai itu buat lari dari dulu?"
Nadia menoleh ke arah si Kapten yang masih bernyanyi. Ia melihat kaki si Kapten. Kaki itu tidak menapak di lantai besi. Kaki itu... sudah menyatu dengan struktur kapal. Kapten Bakri bukan lagi sekadar penjaga, dia sudah menjadi bagian dari kapal tongkang ini, sebuah inang raksasa yang masih memiliki kesadaran manusia.
"Dit! Bram! Keluar dari sana! Ini jebakan!" teriak Aris ke arah lubang palka.
Tapi di bawah sana, pertarungan sudah dimulai. Bram melemparkan potongan besi ke arah sang Induk untuk mengalihkan perhatian, sementara Adit merayap menuju sekoci. Sang Induk menjerit, sebuah frekuensi tinggi yang membuat telinga Adit berdarah.
Makhluk itu terjatuh dari langit-langit dan mulai mengejar Bram dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Bram menggunakan keahlian parkour-nya untuk melompat di antara tumpukan telur, mencoba tidak memecahkan satu pun, karena ia tahu cairan di dalamnya sama mematikannya dengan asam sang Induk.
"GUE DAPET SEKOCINYA! BRAM, CEPET!" teriak Adit. Sekoci itu ternyata terbuat dari plastik keras berkualitas tinggi, cukup ringan untuk didorong.
Namun, saat mereka hendak mendorong sekoci itu ke arah lubang palka, Gilang mengeluarkan suara lengkingan terakhirnya. Telur-telur di sekitar Gilang mulai pecah serentak. Ribuan larva kecil seukuran kucing merayap keluar, mata mereka langsung tertuju pada dua sumber panas terbesar di ruangan itu: Adit dan Bram.
"Lari, Bram! Jangan liat ke belakang!"
Adit dan Bram mendorong sekoci itu dengan tenaga gila-gilaan. Sang Induk mencoba menghalangi, namun Adit menebaskan parangnya ke arah pipa uap yang ada di dinding palka.
BOOOSSSHHH!
Uap panas menyembur keluar, mengenai wajah sang Induk. Makhluk itu mundur sambil menjerit kesakitan. Adit dan Bram berhasil mencapai tangga dan dengan bantuan Aris serta yang lainnya dari atas, mereka menarik sekoci itu keluar dari palka tepat saat ribuan larva mulai memenuhi lantai palka.
Mereka berhasil keluar ke dek, tapi mereka disambut oleh Kapten Bakri yang kini wajahnya mulai berubah. Kulitnya pecah, menyingkap jaringan otot yang sama dengan predator.
"Kalian pikir... bisa pergi... tanpa... ijin?" suara si Kapten kini sepenuhnya adalah desisan.
Maya mengambil botol wiski kosong yang ada di lantai, memecahkannya, dan menghujamkan ujung tajamnya ke leher si Kapten yang sudah berubah. "Ijin ini cukup?! Hah?! Makan ini!"
Si Kapten terhuyung. Di saat itulah, Adit menyadari bahwa kapal ini mulai miring. Ledakan pipa uap di bawah tadi ternyata memicu reaksi berantai pada dasar kapal yang sudah rapuh. Air laut mulai masuk ke dalam palka, menenggelamkan ribuan larva yang belum siap terkena air garam.
"CEPET TURUNIN SEKOCINYA!" perintah Adit.
Mereka melemparkan sekoci itu ke laut. Satu per satu mereka melompat: Aris, Nadia, Maya, Dina, Lala, lalu Bram. Adit adalah yang terakhir. Sebelum ia melompat, ia melihat Kapten Bakri yang terduduk di dek, tertawa saat air mulai menelan kapal tongkang itu.
"Selamat datang... di laut... yang sebenarnya..." bisik si Kapten sebelum sebuah ledakan internal menenggelamkan seluruh bagian buritan kapal.
Adit melompat dan berenang sekuat tenaga menuju sekoci. Begitu ia naik, mereka segera mendayung menjauh dari pusaran air yang diciptakan oleh kapal tongkang yang tenggelam.
Kini, di atas sekoci kecil itu, tujuh orang yang tersisa menatap ke arah tempat kapal itu berada. Tidak ada lagi Pulau Seribu Hening, tidak ada lagi mercusuar, tidak ada lagi kapal tongkang. Yang ada hanya hamparan laut biru yang tampak tenang namun menyimpan ribuan mayat teman-teman mereka di dasarnya.
Namun, di tengah kesunyian itu, Lala tiba-tiba memegang perutnya. "Nadia... kenapa perut gue rasanya dingin banget ya? Sama kayak yang dibilang Rico tadi..."
Nadia menatap Lala dengan horor. Ia melihat sebuah luka goresan kecil di lengan Lala, mungkin terkena lendir saat mereka menarik sekoci tadi. Di bawah kulit transparan Lala, sebuah urat hitam mulai berdenyut.
•••
Bab 20: Perjamuan Terakhir di Kapal Karat
"Jangan mendekat!" teriak Bram, ia mengangkat potongan besi tajam yang ia pungut dari dek sebagai senjata. Tubuhnya yang atletis tampak gemetar, ia sudah kehilangan terlalu banyak teman untuk bisa bersikap tenang.
Kapten Bakri tertawa, suara tawa yang terdengar seperti gesekan logam berkarat. "Tenang, Anak Muda. Kalau aku ingin kalian mati, kalian tidak akan sempat memanjat tangga tadi. Anak-anakku di bawah sana sudah lapar, tapi mereka tahu mana tamu dan mana hidangan utama."
Adit melangkah maju, mencoba menjaga kewarasan kelompoknya. "Anak-anak? Bapak bilang telur-telur monster itu anak Bapak? Bapak gila!"
"Gila adalah kata yang sering dipakai orang lemah untuk menjelaskan hal yang tidak mereka pahami," sahut si Kapten sambil meneguk sisa wiski dari botolnya yang sebenarnya sudah kosong, hanya sebuah kebiasaan saraf yang tersisa. "Adikku di mercusuar itu... dia terlalu lembek. Dia merasa bersalah. Dia pikir dengan memberikan diri sebagai umpan, dia bisa menebus dosa keluarga kami. Padahal, predator ini adalah anugerah. Mereka adalah pembersih."
Di sudut belakang, Dina dan Lala masih belum sadar sepenuhnya dari syok. Nadia sedang memeriksa luka di dahi Maya yang terus mengeluarkan darah. Situasi di atas kapal tongkang ini tidak lebih baik dari karang tadi. Mereka terjebak di atas "sarang" yang siap menetas.
"Ris, coba cari apa pun yang bisa dipakai buat komunikasi di ruang mesin," bisik Adit kepada Aris.
Aris mengangguk pelan, namun saat ia hendak bergeser, Kapten Bakri mengacungkan parangnya.
"Jangan repot-repot. Radio di sini sudah mati sejak tahun sembilan puluhan. Kapal ini tidak akan ke mana-mana. Kapal ini adalah piring besar, dan kalian baru saja mendarat di atasnya."
Kilas Balik: Masa Lalu Si Kembar Bakri dan Pulau Seribu Hening
Jauh sebelum Adit dan teman-temannya merencanakan liburan ini, Pulau Seribu Hening adalah lokasi rahasia sebuah pembuangan ilegal. Bukan limbah kimia yang rumit, melainkan sisa-sisa hasil curian dari sebuah ekspedisi gelap di laut dalam yang tak sengaja membawa polong telur yang tidak dikenal.
Keluarga Bakri adalah penjaga pulau ini secara turun-temurun. Ayah mereka adalah orang pertama yang menyadari bahwa telur-telur itu membutuhkan protein mamalia untuk menetas.
Awalnya mereka menggunakan hewan ternak. Namun, predator yang lahir ternyata memiliki kecerdasan yang menakutkan. Mereka mulai meniru suara mangsanya.
Bakri kecil melihat ayahnya diseret ke dalam gua oleh makhluk yang bersuara persis seperti ibunya. Sejak saat itu, si kembar Bakri terbagi. Sang adik ingin memusnahkan mereka, sementara sang kakak, si Kapten, memilih untuk "bekerja sama". Ia mulai mengundang pelancong-pelancong kaya, menjanjikan surga tersembunyi, hanya untuk menjadikan mereka inang bagi generasi baru.
"Kenapa Bapak lakuin ini?" tanya Maya dengan suara parau. "Bapak juga manusia. Bapak punya hati, kan?"
"Hati?" Kapten Bakri mendekat, wajahnya kini terpapar cahaya matahari pagi. Matanya tidak putih seperti Tora, tapi ada kekosongan yang mengerikan di sana. "Hati saya sudah habis dimakan saat saya harus memilih antara memberi makan mereka atau membiarkan mereka memakan saya. Saya memilih hidup. Dan untuk hidup, saya butuh kalian."
Tiba-tiba, suara retakan terdengar dari palka di tengah dek. Krak... krak...
"Sial, mereka mulai menetas," desis Pak Bakri. Ekspresi wajahnya berubah dari gila menjadi waspada. "Dengar, ada satu kesempatan buat kalian. Di dalam palka itu, ada satu sekoci kecil yang masih bisa dipakai. Tapi sekoci itu ada di balik tumpukan telur."
"Bapak mau kami masuk ke sana?!" seru Bram. "Itu bunuh diri!"
"Itu adalah cara kalian membayar 'tiket' liburan ini," kata si Kapten sambil melemparkan parangnya ke arah Adit. Adit menangkapnya dengan ragu.
"Masuk ke bawah, ambil sekoci itu, dan lari. Atau tetap di sini dan tunggu sampai ribuan larva itu merayap naik dan membungkus kalian hidup-hidup."
Konflik moral kembali menghantam. Mereka tinggal tujuh orang: Adit, Aris, Bram, Nadia, Maya, Dina, dan Lala. Kehilangan Rico masih terasa seperti lubang di dada mereka, dan kini mereka diminta masuk ke dalam perut bumi atau dalam hal ini, perut kapal, yang penuh dengan ancaman.
"Gue nggak mau masuk ke sana, Dit... gue nggak mau," isak Dina.
"Kita harus masuk, Din," ucap Adit dengan nada yang sangat mature. Ia memegang bahu Dina. "Gue yang bawa kalian ke sini. Gue nggak akan biarin satu pun dari kalian jadi nutrisi buat telur-telur itu. Bram, lu ikut gue ke bawah. Aris, lu jaga para cewek di sini. Kalau dalam sepuluh menit kami nggak keluar, kalian lari ke arah buritan, lompat ke laut dan berharap pada keberuntungan."
"Dit, jangan bego! Kita harus bareng-bareng!" protes Aris.
"Nggak cukup waktu, Ris! Palka itu sempit!"
Adit dan Bram mulai menuruni tangga besi yang menuju ke kegelapan palka. Setiap anak tangga mengeluarkan bunyi ngiiik yang menyayat hati. Begitu kaki mereka menyentuh dasar palka, bau amisnya menjadi seribu kali lebih kuat. Di sana, dalam cahaya senter yang mulai melemah, mereka melihat pemandangan yang akan menghantui mimpi mereka selamanya.
Ribuan telur transparan sebesar bola basket menempel di dinding besi. Di dalamnya, siluet makhluk kecil dengan tangan panjang dan gigi-gigi tajam tampak menggeliat. Dan di tengah-tengah itu, mereka melihat sosok yang mereka kenal.
"Gilang?" bisik Bram.
Itu benar-benar Gilang. Dia masih hidup, tapi tubuhnya sudah dibungkus oleh semacam lendir putih yang mengeras seperti semen, menempelkannya ke dinding kapal. Matanya terbuka lebar, namun tidak ada kehidupan di sana. Ia digunakan sebagai "pemanas" alami bagi telur-telur di sekitarnya. Suhu tubuh manusianya adalah apa yang dibutuhkan larva itu untuk pecah.
"Lang... maafin kami..." Adit mendekat, mencoba menyayat lendir itu dengan parang.
"Jangan... Dit..." suara Gilang terdengar seperti embusan angin. Sangat lemah. "Pergi... mereka... di belakang kalian..."
Adit dan Bram berbalik. Di sudut gelap palka, seekor predator dewasa, yang mungkin adalah induk dari semua telur ini sedang merayap di langit-langit palka. Berbeda dengan 'Pangeran' yang terbakar atau 'Tora', induk ini memiliki kulit yang transparan, memperlihatkan organ dalamnya yang berdenyut dengan cairan biru.
Makhluk ini tidak menyerang dengan kasar. Ia menjatuhkan setetes cairan dari mulutnya ke lantai besi. Cairan itu langsung melubangi besi kapal, menunjukkan betapa korosifnya asam yang ia miliki.
"Bram, sekocinya di sana!" tunjuk Adit ke arah pojok palka yang tertutup jaring ikan tua.
Mereka harus melewati sang Induk. Ini bukan lagi soal lari, ini adalah soal bagaimana dua anak kuliahan yang biasanya hanya bertarung dengan tugas akhir, kini harus bertarung dengan puncak rantai makanan purba.
Di atas dek, Kapten Bakri tiba-tiba mulai bernyanyi sebuah lagu nina bobo dalam bahasa daerah yang tidak mereka mengerti. Suaranya bergema masuk ke dalam palka, seolah-olah ia sedang menenangkan anak-anaknya yang sedang berburu.
"Dia gila... dia bener-bener gila," gumam Lala sambil memeluk Nadia.
Tiba-tiba, Aris menyadari sesuatu yang aneh. "Tunggu... kalau sekoci itu ada di bawah, kenapa Kapten Bakri nggak pakai itu buat lari dari dulu?"
Nadia menoleh ke arah si Kapten yang masih bernyanyi. Ia melihat kaki si Kapten. Kaki itu tidak menapak di lantai besi. Kaki itu... sudah menyatu dengan struktur kapal. Kapten Bakri bukan lagi sekadar penjaga, dia sudah menjadi bagian dari kapal tongkang ini, sebuah inang raksasa yang masih memiliki kesadaran manusia.
"Dit! Bram! Keluar dari sana! Ini jebakan!" teriak Aris ke arah lubang palka.
Tapi di bawah sana, pertarungan sudah dimulai. Bram melemparkan potongan besi ke arah sang Induk untuk mengalihkan perhatian, sementara Adit merayap menuju sekoci. Sang Induk menjerit, sebuah frekuensi tinggi yang membuat telinga Adit berdarah.
Makhluk itu terjatuh dari langit-langit dan mulai mengejar Bram dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Bram menggunakan keahlian parkour-nya untuk melompat di antara tumpukan telur, mencoba tidak memecahkan satu pun, karena ia tahu cairan di dalamnya sama mematikannya dengan asam sang Induk.
"GUE DAPET SEKOCINYA! BRAM, CEPET!" teriak Adit. Sekoci itu ternyata terbuat dari plastik keras berkualitas tinggi, cukup ringan untuk didorong.
Namun, saat mereka hendak mendorong sekoci itu ke arah lubang palka, Gilang mengeluarkan suara lengkingan terakhirnya. Telur-telur di sekitar Gilang mulai pecah serentak. Ribuan larva kecil seukuran kucing merayap keluar, mata mereka langsung tertuju pada dua sumber panas terbesar di ruangan itu: Adit dan Bram.
"Lari, Bram! Jangan liat ke belakang!"
Adit dan Bram mendorong sekoci itu dengan tenaga gila-gilaan. Sang Induk mencoba menghalangi, namun Adit menebaskan parangnya ke arah pipa uap yang ada di dinding palka.
BOOOSSSHHH!
Uap panas menyembur keluar, mengenai wajah sang Induk. Makhluk itu mundur sambil menjerit kesakitan. Adit dan Bram berhasil mencapai tangga dan dengan bantuan Aris serta yang lainnya dari atas, mereka menarik sekoci itu keluar dari palka tepat saat ribuan larva mulai memenuhi lantai palka.
Mereka berhasil keluar ke dek, tapi mereka disambut oleh Kapten Bakri yang kini wajahnya mulai berubah. Kulitnya pecah, menyingkap jaringan otot yang sama dengan predator.
"Kalian pikir... bisa pergi... tanpa... ijin?" suara si Kapten kini sepenuhnya adalah desisan.
Maya mengambil botol wiski kosong yang ada di lantai, memecahkannya, dan menghujamkan ujung tajamnya ke leher si Kapten yang sudah berubah. "Ijin ini cukup?! Hah?! Makan ini!"
Si Kapten terhuyung. Di saat itulah, Adit menyadari bahwa kapal ini mulai miring. Ledakan pipa uap di bawah tadi ternyata memicu reaksi berantai pada dasar kapal yang sudah rapuh. Air laut mulai masuk ke dalam palka, menenggelamkan ribuan larva yang belum siap terkena air garam.
"CEPET TURUNIN SEKOCINYA!" perintah Adit.
Mereka melemparkan sekoci itu ke laut. Satu per satu mereka melompat: Aris, Nadia, Maya, Dina, Lala, lalu Bram. Adit adalah yang terakhir. Sebelum ia melompat, ia melihat Kapten Bakri yang terduduk di dek, tertawa saat air mulai menelan kapal tongkang itu.
"Selamat datang... di laut... yang sebenarnya..." bisik si Kapten sebelum sebuah ledakan internal menenggelamkan seluruh bagian buritan kapal.
Adit melompat dan berenang sekuat tenaga menuju sekoci. Begitu ia naik, mereka segera mendayung menjauh dari pusaran air yang diciptakan oleh kapal tongkang yang tenggelam.
Kini, di atas sekoci kecil itu, tujuh orang yang tersisa menatap ke arah tempat kapal itu berada. Tidak ada lagi Pulau Seribu Hening, tidak ada lagi mercusuar, tidak ada lagi kapal tongkang. Yang ada hanya hamparan laut biru yang tampak tenang namun menyimpan ribuan mayat teman-teman mereka di dasarnya.
Namun, di tengah kesunyian itu, Lala tiba-tiba memegang perutnya. "Nadia... kenapa perut gue rasanya dingin banget ya? Sama kayak yang dibilang Rico tadi..."
Nadia menatap Lala dengan horor. Ia melihat sebuah luka goresan kecil di lengan Lala, mungkin terkena lendir saat mereka menarik sekoci tadi. Di bawah kulit transparan Lala, sebuah urat hitam mulai berdenyut.
•••
Other Stories
Di Bawah Langit Al-ihya
Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...
Curahan Hati Seorang Kacung
Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...
Cinta Satu Paket
Namanya Renata Mutiara, secantik dan selembut mutiara. Kelas sebelas dan usianya yang te ...
Pertemuan Di Ujung Kopi
Dari secangkir kopi yang tumpah, Aira tak pernah tahu bahwa hidupnya akan berpapasan kemba ...
Cinta Dua Rasa
Aruna merasa memiliki kehidupan yang sempurna setelah dinikahi oleh Saka, seorang arsitek ...
Aku Bukan Pilihan
Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...