BAB 22 | "Perlawanan Di Ambang Daratan"
Angin laut malam itu berembus lebih kencang, membawa bau garam yang bercampur dengan aroma logam dari sekoci yang mulai karatan di beberapa sisinya. Daratan utama kini hanya berjarak beberapa ratus meter, namun air dangkal di depan mereka tampak seperti ladang ranjau. Sinar rembulan yang pucat memantul di atas riak air, menyingkapkan bayangan-bayangan panjang yang bergerak cepat di bawah permukaan.
Bab 22: Perlawanan Di Ambang Daratan
"Dayung terus, Ris! Jangan kasih mereka celah buat nempel ke lambung!" teriak Adit sambil mengayunkan potongan besi panjang yang ujungnya sudah ia asah tajam ke arah air.
Aris menggeram, otot-otot lengannya menegang hebat. "Gue nggak berhenti, Dit! Tapi air di sini dangkal banget, dayung gue mulai kena karang!"
Di tengah sekoci, Bram berdiri dengan posisi kuda-kuda yang kokoh. Ia memegang sebilah parang besar milik Kapten Bakri yang tadi sempat ia rebut. Matanya tajam mengawasi sekeliling. Di sebelahnya, Nadia sedang sibuk membalut luka di tangan Maya menggunakan sisa kain baju mereka yang paling bersih. Dina, meskipun terlihat gemetar, kini memegang sebuah jeriken kosong yang ia gunakan sebagai pemukul darurat.
"Gue nggak bakal biarin mereka narik gue kayak mereka narik Lala," gumam Dina. Matanya yang biasanya penuh air mata, kini memancarkan kilat kemarahan yang dingin. "Gue bakal hancurin kepala mereka kalau ada yang berani naik."
Tiba-tiba, sebuah guncangan hebat menghantam bagian bawah sekoci. BRAKK!
"Satu di bawah! Dia coba ngebalik kita!" teriak Maya. Tanpa ragu, ia merangkak ke pinggir sekoci dan menghujamkan pisau lipatnya ke dalam air secara membabi buta.
Suara pekikan melengking yang memekakkan telinga terdengar dari bawah sana. Cairan hitam menyembur ke atas, membasahi wajah Maya. Bukannya takut, Maya justru menyeka cairan itu dengan kasar dan meludah. "Mati lu, setan!"
Keenam orang ini, Adit, Aris, Bram, Nadia, Maya, dan Dina, bukan lagi mahasiswa manja yang datang ke pulau ini untuk sekadar bersenang-senang.
Mereka telah melalui seleksi alam yang paling brutal. Mengapa mereka belum terinfeksi? Mengapa mereka begitu sulit untuk ditaklukkan?
Jawabannya ada pada insting bertahan hidup yang sangat matang. Bram, dengan latar belakangnya sebagai atlet bela diri, tahu persis bagaimana cara menghemat tenaga. Ia tidak menyerang secara liar, melainkan menunggu momen saat predator itu menunjukkan kepalanya. Adit, sang pemimpin, memiliki otak yang bekerja seperti mesin strategi; ia selalu memposisikan teman-temannya di titik yang paling aman.
Nadia menggunakan pengetahuan medisnya untuk memastikan tidak ada dari mereka yang melakukan kontak langsung dengan lendir predator tanpa pelapis kain. Ia tahu bahwa infeksi menyebar melalui luka terbuka atau membran mukosa, sehingga ia memerintahkan semua orang untuk menutupi mulut dan hidung dengan kain lembap.
Predator-predator itu mulai kewalahan. Biasanya, mangsa mereka akan panik, menangis, dan melakukan kesalahan bodoh. Namun, kelompok ini melawan balik dengan koordinasi yang sangat dewasa. Setiap kali satu predator mencoba melompat ke dek, dua orang lainnya sudah siap menyambut dengan serangan kombinasi.
"Bram! Jam dua!" teriak Adit.
Seekor predator dengan ukuran lebih besar dari biasanya melesat keluar dari air, mencoba menerjang Nadia. Bram tidak menunggu. Ia melakukan gerakan putaran cepat dan menebaskan parangnya tepat di leher makhluk itu.
Kepala predator itu terlepas dan jatuh ke laut, sementara tubuhnya yang masih bergerak-gerak jatuh di lantai sekoci.
"Dina, buang tubuhnya! Cepat!" perintah Bram.
Dina, yang biasanya jijik melihat kecoa sekalipun, kini dengan berani menendang bangkai predator itu kembali ke laut. "Jangan berani-berani sentuh Nadia!" teriaknya penuh emosi.
Namun, tantangan sebenarnya baru saja dimulai. Dari arah pantai yang gelap, Sang Pemimpin Predator mulai mengeluarkan suara humming yang dalam. Suara itu bukan hanya frekuensi, tapi sebuah perintah.
Puluhan predator darat yang tadinya hanya menonton di pinggir pantai, kini mulai merayap masuk ke air dangkal. Mereka bergerak seperti komodo, sangat cepat dan efisien.
"Mereka mengepung kita dari segala sisi," bisik Aris. "Dit, kalau kita tetep di sekoci, kita bakal jadi sasaran empuk pas air makin dangkal."
"Kita harus mendarat," jawab Adit. "Tapi nggak di desa itu. Liat di sebelah kanan, ada tebing karang yang agak tinggi. Kalau kita bisa naik ke sana, kita punya keunggulan posisi. Mereka bakal susah manjat batu tajam."
"Tapi Dina... kakinya lecet, Dit. Dia bakal susah manjat," sahut Nadia khawatir.
Dina menatap Nadia dengan serius. "Nad, gue bakal manjat pakai tangan kosong kalau perlu. Jangan khawatirin gue. Fokus aja gimana kita semua bisa nyampe atas."
Percakapan mereka sangat mature. Tidak ada lagi rengekan atau perdebatan yang kekanak-kanakan. Mereka saling menghargai pendapat satu sama lain karena mereka tahu, satu kesalahan kecil berarti kematian bagi semua orang.
Kilas Balik: Kekuatan Maya
Maya, yang biasanya terlihat paling sinis, sebenarnya menyimpan rahasia tentang masa lalunya. Ayahnya adalah seorang mantan anggota tim penyelamat yang tewas saat bertugas di tengah badai. Sejak kecil, Maya dididik untuk tidak pernah bergantung pada orang lain. Itulah sebabnya ia adalah orang yang paling pertama mengambil senjata.
"Gue nggak mau mati kayak bokap gue, tanpa perlawanan," bisik Maya pada dirinya sendiri saat ia menusukkan belatinya ke arah predator lain yang mencoba mencengkeram kaki Aris.
Pertarungan di air dangkal itu berlangsung selama hampir satu jam. Tubuh mereka bermandikan keringat dan darah hitam predator. Adit mengalami luka cakar di bahunya, namun ia menolak untuk menyerah. Ia membungkus lukanya dengan plastik tebal agar racun tidak masuk lebih dalam.
"Sedikit lagi! Aris, lompat!" teriak Adit.
Sekoci itu menghantam batu karang di bawah tebing. Dengan gerakan yang sangat cepat dan terkoordinasi, mereka melompat keluar.
Bram membantu Nadia dan Dina, sementara Adit dan Aris menahan gelombang serangan predator dari belakang menggunakan sisa-sisa jeriken bensin yang mereka bakar sebagai obor darurat.
Api adalah kelemahan mereka, setidaknya untuk sementara. Sinar jingga dari api membuat predator-predator itu mundur sesaat, memberi waktu bagi keenam orang itu untuk memanjat dinding tebing yang kasar.
Begitu mereka mencapai puncak tebing, mereka melihat pemandangan yang menakjubkan sekaligus ngeri. Di bawah sana, ribuan predator berkumpul di pinggir laut, menatap ke arah mereka. Namun, Sang Pemimpin Predator yang raksasa itu tetap diam di tengah laut.
Makhluk itu tampak... lelah. Melalui tatapan matanya yang sangat manusiawi, ia seolah-olah memberikan apresiasi kepada keenam manusia ini. Belum pernah ada mangsa yang melawan sekuat mereka.
Belum pernah ada yang sanggup membunuh puluhan anaknya dalam satu malam tanpa kehilangan satu orang pun di babak ini.
"Kita bertahan, guys... kita masih selamat," napas Aris tersengal-sengal saat mereka duduk di puncak tebing yang aman.
"Jangan senang dulu, Ris," ucap Maya sambil menunjuk ke arah daratan di balik tebing. "Kita baru saja masuk ke wilayah perburuan darat mereka. Tapi satu hal yang pasti..." Maya mengangkat parangnya yang berlumuran darah. "...mereka sudah tau kalau kita bukan makanan yang gampang ditelen.
Keheningan malam itu kembali menyelimuti mereka. Di tengah ancaman yang masih mengintai, ada sebuah humor kecil yang muncul dari Bram. "Eh, Ris... Ngomong-ngomong lu tadi pas dorong sekoci, gaya berenang lu kocak banget, kayak bebek ngibrit. Asli kocak parah!"
Aris tertawa kecil, suara tawa yang sangat mahal di tengah situasi ini. "Sialan lu, Bram. Yang penting kita masih napas, kan sekarang. Berkat siapa, gue juga kan?"
Mereka tertawa pelan bersama-sama, sebuah momen emosional yang menunjukkan betapa kuatnya ikatan mereka sekarang. Namun, di balik tawa itu, Adit terus mengawasi kegelapan. Ia tahu bahwa babak final baru saja dimulai.
Bab 22: Perlawanan Di Ambang Daratan
"Dayung terus, Ris! Jangan kasih mereka celah buat nempel ke lambung!" teriak Adit sambil mengayunkan potongan besi panjang yang ujungnya sudah ia asah tajam ke arah air.
Aris menggeram, otot-otot lengannya menegang hebat. "Gue nggak berhenti, Dit! Tapi air di sini dangkal banget, dayung gue mulai kena karang!"
Di tengah sekoci, Bram berdiri dengan posisi kuda-kuda yang kokoh. Ia memegang sebilah parang besar milik Kapten Bakri yang tadi sempat ia rebut. Matanya tajam mengawasi sekeliling. Di sebelahnya, Nadia sedang sibuk membalut luka di tangan Maya menggunakan sisa kain baju mereka yang paling bersih. Dina, meskipun terlihat gemetar, kini memegang sebuah jeriken kosong yang ia gunakan sebagai pemukul darurat.
"Gue nggak bakal biarin mereka narik gue kayak mereka narik Lala," gumam Dina. Matanya yang biasanya penuh air mata, kini memancarkan kilat kemarahan yang dingin. "Gue bakal hancurin kepala mereka kalau ada yang berani naik."
Tiba-tiba, sebuah guncangan hebat menghantam bagian bawah sekoci. BRAKK!
"Satu di bawah! Dia coba ngebalik kita!" teriak Maya. Tanpa ragu, ia merangkak ke pinggir sekoci dan menghujamkan pisau lipatnya ke dalam air secara membabi buta.
Suara pekikan melengking yang memekakkan telinga terdengar dari bawah sana. Cairan hitam menyembur ke atas, membasahi wajah Maya. Bukannya takut, Maya justru menyeka cairan itu dengan kasar dan meludah. "Mati lu, setan!"
Keenam orang ini, Adit, Aris, Bram, Nadia, Maya, dan Dina, bukan lagi mahasiswa manja yang datang ke pulau ini untuk sekadar bersenang-senang.
Mereka telah melalui seleksi alam yang paling brutal. Mengapa mereka belum terinfeksi? Mengapa mereka begitu sulit untuk ditaklukkan?
Jawabannya ada pada insting bertahan hidup yang sangat matang. Bram, dengan latar belakangnya sebagai atlet bela diri, tahu persis bagaimana cara menghemat tenaga. Ia tidak menyerang secara liar, melainkan menunggu momen saat predator itu menunjukkan kepalanya. Adit, sang pemimpin, memiliki otak yang bekerja seperti mesin strategi; ia selalu memposisikan teman-temannya di titik yang paling aman.
Nadia menggunakan pengetahuan medisnya untuk memastikan tidak ada dari mereka yang melakukan kontak langsung dengan lendir predator tanpa pelapis kain. Ia tahu bahwa infeksi menyebar melalui luka terbuka atau membran mukosa, sehingga ia memerintahkan semua orang untuk menutupi mulut dan hidung dengan kain lembap.
Predator-predator itu mulai kewalahan. Biasanya, mangsa mereka akan panik, menangis, dan melakukan kesalahan bodoh. Namun, kelompok ini melawan balik dengan koordinasi yang sangat dewasa. Setiap kali satu predator mencoba melompat ke dek, dua orang lainnya sudah siap menyambut dengan serangan kombinasi.
"Bram! Jam dua!" teriak Adit.
Seekor predator dengan ukuran lebih besar dari biasanya melesat keluar dari air, mencoba menerjang Nadia. Bram tidak menunggu. Ia melakukan gerakan putaran cepat dan menebaskan parangnya tepat di leher makhluk itu.
Kepala predator itu terlepas dan jatuh ke laut, sementara tubuhnya yang masih bergerak-gerak jatuh di lantai sekoci.
"Dina, buang tubuhnya! Cepat!" perintah Bram.
Dina, yang biasanya jijik melihat kecoa sekalipun, kini dengan berani menendang bangkai predator itu kembali ke laut. "Jangan berani-berani sentuh Nadia!" teriaknya penuh emosi.
Namun, tantangan sebenarnya baru saja dimulai. Dari arah pantai yang gelap, Sang Pemimpin Predator mulai mengeluarkan suara humming yang dalam. Suara itu bukan hanya frekuensi, tapi sebuah perintah.
Puluhan predator darat yang tadinya hanya menonton di pinggir pantai, kini mulai merayap masuk ke air dangkal. Mereka bergerak seperti komodo, sangat cepat dan efisien.
"Mereka mengepung kita dari segala sisi," bisik Aris. "Dit, kalau kita tetep di sekoci, kita bakal jadi sasaran empuk pas air makin dangkal."
"Kita harus mendarat," jawab Adit. "Tapi nggak di desa itu. Liat di sebelah kanan, ada tebing karang yang agak tinggi. Kalau kita bisa naik ke sana, kita punya keunggulan posisi. Mereka bakal susah manjat batu tajam."
"Tapi Dina... kakinya lecet, Dit. Dia bakal susah manjat," sahut Nadia khawatir.
Dina menatap Nadia dengan serius. "Nad, gue bakal manjat pakai tangan kosong kalau perlu. Jangan khawatirin gue. Fokus aja gimana kita semua bisa nyampe atas."
Percakapan mereka sangat mature. Tidak ada lagi rengekan atau perdebatan yang kekanak-kanakan. Mereka saling menghargai pendapat satu sama lain karena mereka tahu, satu kesalahan kecil berarti kematian bagi semua orang.
Kilas Balik: Kekuatan Maya
Maya, yang biasanya terlihat paling sinis, sebenarnya menyimpan rahasia tentang masa lalunya. Ayahnya adalah seorang mantan anggota tim penyelamat yang tewas saat bertugas di tengah badai. Sejak kecil, Maya dididik untuk tidak pernah bergantung pada orang lain. Itulah sebabnya ia adalah orang yang paling pertama mengambil senjata.
"Gue nggak mau mati kayak bokap gue, tanpa perlawanan," bisik Maya pada dirinya sendiri saat ia menusukkan belatinya ke arah predator lain yang mencoba mencengkeram kaki Aris.
Pertarungan di air dangkal itu berlangsung selama hampir satu jam. Tubuh mereka bermandikan keringat dan darah hitam predator. Adit mengalami luka cakar di bahunya, namun ia menolak untuk menyerah. Ia membungkus lukanya dengan plastik tebal agar racun tidak masuk lebih dalam.
"Sedikit lagi! Aris, lompat!" teriak Adit.
Sekoci itu menghantam batu karang di bawah tebing. Dengan gerakan yang sangat cepat dan terkoordinasi, mereka melompat keluar.
Bram membantu Nadia dan Dina, sementara Adit dan Aris menahan gelombang serangan predator dari belakang menggunakan sisa-sisa jeriken bensin yang mereka bakar sebagai obor darurat.
Api adalah kelemahan mereka, setidaknya untuk sementara. Sinar jingga dari api membuat predator-predator itu mundur sesaat, memberi waktu bagi keenam orang itu untuk memanjat dinding tebing yang kasar.
Begitu mereka mencapai puncak tebing, mereka melihat pemandangan yang menakjubkan sekaligus ngeri. Di bawah sana, ribuan predator berkumpul di pinggir laut, menatap ke arah mereka. Namun, Sang Pemimpin Predator yang raksasa itu tetap diam di tengah laut.
Makhluk itu tampak... lelah. Melalui tatapan matanya yang sangat manusiawi, ia seolah-olah memberikan apresiasi kepada keenam manusia ini. Belum pernah ada mangsa yang melawan sekuat mereka.
Belum pernah ada yang sanggup membunuh puluhan anaknya dalam satu malam tanpa kehilangan satu orang pun di babak ini.
"Kita bertahan, guys... kita masih selamat," napas Aris tersengal-sengal saat mereka duduk di puncak tebing yang aman.
"Jangan senang dulu, Ris," ucap Maya sambil menunjuk ke arah daratan di balik tebing. "Kita baru saja masuk ke wilayah perburuan darat mereka. Tapi satu hal yang pasti..." Maya mengangkat parangnya yang berlumuran darah. "...mereka sudah tau kalau kita bukan makanan yang gampang ditelen.
Keheningan malam itu kembali menyelimuti mereka. Di tengah ancaman yang masih mengintai, ada sebuah humor kecil yang muncul dari Bram. "Eh, Ris... Ngomong-ngomong lu tadi pas dorong sekoci, gaya berenang lu kocak banget, kayak bebek ngibrit. Asli kocak parah!"
Aris tertawa kecil, suara tawa yang sangat mahal di tengah situasi ini. "Sialan lu, Bram. Yang penting kita masih napas, kan sekarang. Berkat siapa, gue juga kan?"
Mereka tertawa pelan bersama-sama, sebuah momen emosional yang menunjukkan betapa kuatnya ikatan mereka sekarang. Namun, di balik tawa itu, Adit terus mengawasi kegelapan. Ia tahu bahwa babak final baru saja dimulai.
Other Stories
Susan Ngesot Reborn
Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...
Autumns Journey
Akhirnya, Henri tiba juga di lantai sepuluh Apartemen Thamrin. Seluruh badannya terasa p ...
Curahan Hati Seorang Kacung
Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...
Gadis Loak & Dua Pelita
SEKAR. Gadis 16 tahun, penjual kue pasar yang dijuluki "gadis loak" karena sering menukar ...
Deska
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...