Chapter 4
Bab 6 – Pertengkaran Kecil yang Membuka Luka
Konflik batinku akhirnya menemukan jalan keluar, dalam bentuk emosi yang tak terkontrol.
Hari itu, Arga mengajakku ikut ke desa tempat ia dibesarkan. Tapi aku menolak dengan nada yang lebih ketus dari seharusnya.
“Kenapa sih kamu selalu ngajak aku ke mana-mana?” tanyaku.
Arga terdiam, jelas terkejut.
“Aku cuma ngajak. Kalau kamu nggak mau, nggak apa-apa.”
Aku menyesal seketika, tapi gengsiku lebih dulu berbicara.
“Aku cuma liburan di sini. Jangan bikin seolah-olah aku bakal lama.”
Kalimat itu meluncur tanpa filter.
Arga menatapku lama. “Aku tahu kamu cuma liburan,” katanya pelan. “Justru karena itu aku berusaha bikin waktumu di sini berarti.”
Aku tidak menjawab. Tenggorokanku terasa kering. Untuk pertama kalinya, aku melihat kekecewaan di wajahnya.
Hari itu kami berpisah tanpa kata.
Malamnya, aku menangis dalam diam. Bukan karena Arga marah, tapi karena aku sadar aku sedang melarikan diri dari perasaanku sendiri.
Bab 7 – Mengakui pada Diri Sendiri
Aku menghabiskan hari berikutnya sendirian. Menulis, membaca, dan memikirkan banyak hal yang selama ini kuhindari.
Aku takut jatuh cinta.
Bukan karena Arga, tapi karena aku tahu jatuh cinta berarti siap kehilangan. Dan aku belum siap itu.
Sore hari, aku berjalan ke pantai. Arga ada di sana. Duduk sendiri, memandangi laut. Aku memberanikan diri mendekat.
“Maaf,” kataku pelan.
Ia menoleh. “Kamu nggak salah apa-apa.”
“Aku salah. Aku takut, dan aku malah nyakitin kamu.”
Arga tersenyum tipis. “Aku juga takut, Ra. Tapi aku memilih jujur sama perasaanku.”
Dadaku sesak. Aku akhirnya mengakui sesuatu yang sejak awal kutahu.
“Aku suka kamu,” kataku. “Tapi aku lebih takut sama jarak daripada perasaan itu sendiri.”
Kami terdiam. Ombak menjadi satu-satunya suara.
“Aku nggak minta apa-apa,” katanya akhirnya. “Aku cuma ingin kamu jujur, sama aku dan sama diri kamu sendiri.”
Bab 8 – Hari Kepulangan yang Paling Sunyi
Hari kepulanganku tiba dengan langit mendung.
Koperku terasa lebih berat, bukan karena barang, tapi karena kenangan. Kak Maya memelukku lebih lama dari biasanya. Kak Dimas menatapku seolah tahu ada sesuatu yang kutinggalkan.
Arga mengantarku ke bandara.
“Kamu akan baik-baik saja,” katanya.
“Aku harap begitu.”
“Kita semua tumbuh dari perpisahan.”
Aku menatapnya. Untuk pertama kalinya, aku tidak menahan air mata.
“Aku nggak tahu apakah kita akan bertemu lagi.”
“Kalau memang harus, kita akan,” jawabnya tenang.
Ia tidak memelukku. Hanya tersenyum dan melambaikan tangan. Dan justru itu yang membuat perpisahan ini terasa dewasa.
Other Stories
Ryan Si Pemulung
Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...
32 Detik
Hanya 32 detik untuk menghancurkan cinta dan hidup Kirana. Saat video pribadinya bocor, du ...
Cahaya Dalam Ketidakmungkinan
Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...
Horor
horor ...
2r
Fajri tahu Ryan menukar bayi dan berniat membongkar, tapi Ryan mengungkap Fajri penyebab k ...
Free Mind
KITA j e d a .... sepertinya waktu tak akan pernah berpihak pada kita lagi setelah aku ...