Reuni Mantan

Reads
5
Votes
0
Parts
5
Vote
Report
Penulis Komandala Putra

Bab 4 – Makan Malam

Meja makan panjang itu sudah tertata rapi ketika Arif dan yang lain turun dari lantai dua.

Piring-piring putih tersusun di atas taplak meja berwarna krem.

Beberapa hidangan telah diletakkan di tengah meja: sup bening dalam mangkuk besar, daging sapi dan ayam panggang, tumisan sayur, dan sepiring nasi hangat yang masih mengepulkan uap tipis.

Darius duduk di kepala meja. Sarah di sebelah kirinya. Arif di sebelah kanan Darius.

Gaun merah pendek yang dikenakan Sarah kontras dengan taplak meja krem di depannya.

Di sisi lain meja, Rudi, Bayu, dan Farhan telah mengambil tempat masing-masing.

Pelayan itu berdiri di sisi meja. Ia menusukkan garpu ke permukaan daging lalu mengirisnya perlahan. Pisau itu bergerak lurus dan rapi, memotong lapisan daging merah menjadi irisan tipis.

Beberapa potong ia susun di piring saji sebelum mendorongnya ke tengah meja.

Darius mengangkat tangan sedikit. Sebuah isyarat kecil.

Pelayan itu langsung mengangguk. “Permisi.” Lalu berjalan menuju dapur sambil membawa pisaunya yang berkilau terkena caha

a lampu.

Beberapa detik ruangan itu hanya dipenuhi suara sendok yang menyentuh piring.

Darius menatap mereka satu per satu sebelum akhirnya berbicara, “Saya senang kita bisa duduk bersama malam ini.” Suaranya tenang dan jelas, seperti orang yang telah terbiasa berbicara di depan publik.

“Sarah bilang kalian semua sempat menjadi bagian penting dalam hidupnya. Jadi saya pikir … tidak ada salahnya kita bertemu dengan cara yang baik.”

Ia berhenti sebentar. “Sekalian halalbihalal sebelum kami menikah.” Ia menoleh ke Sarah.

Sarah tersenyum tipis.

Darius menoleh ke yang lain. “Mohon maaf lahir dan batin kalau ada yang kurang berkenan.”

“Sama-sama,” jawab Arif.

Darius melanjutkan, nadanya tetap santai. “Selain itu, saya juga sedang mempersiapkan diri untuk mencalonkan sebagai wakil wali kota di pemilu berikutnya. Jadi … mohon doa dan dukungannya.”

Farhan mengangguk lebih dulu. “Terima kasih sudah mengundang kami.”

Bayu menyandarkan punggungnya ke kursi. “Kami bakal nyoblos,” katanya ringan. Ia menoleh ke yang lain.

Beberapa orang tersenyum kecil.

Rudi kemudian menyandarkan sikunya di meja. “Jarang ada orang yang mau ngumpulin mantan pasangannya kayak gini.” Kalimat itu terdengar seperti setengah bercanda.

Bayu terkekeh pelan. Farhan hanya menatap piringnya.

Sarah tersenyum—Arif menangkap sedikit ketegangan di sudut bibirnya.

“Hebat,” lanjut Rudi. “Salut.”

Darius tidak menanggapi. Ia hanya tersenyum tipis sebelum kembali memotong ayam di piringnya.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan ringan.

“Apa kesibukan kalian sekarang?” tanya Darius akhirnya.

Tak ada yang langsung menjawab.

Darius lalu mengangkat telapak tangannya sedikit ke arah Rudi. “Rudi dulu.”

Rudi menyeka tangannya dengan tisu. “Kontraktor kecil-kecilan. Proyek rumah sama ruko.”

Darius mengangguk. Ia menoleh ke Bayu.

“Kalau saya trading kripto,” kata Bayu. “Kadang juga bisnis online.”

“Menarik.” Darius lalu menoleh ke Arif.

Arif merasa semua mata ikut mengarah padanya. “Saya cuma … analis data,” jawabnya. Ia menunduk sedikit ke piringnya setelah bicara.

Darius lalu memandang Farhan.

Farhan sempat melirik Arif sekilas sebelum menjawab. “HRD.”

Darius mengangguk sekali lagi.

“Kalau boleh tahu,” kata Farhan kemudian, “Pak Darius apa latar pendidikannya?”

Darius menelan makanannya sebelum menjawab. “Saya dulu meteorologi.”

Rudi tertawa kecil. “Dari cuaca ke politik. Jauh juga.”

Darius hanya tersenyum.

Angin tiba-tiba menggesek kaca jendela dengan bunyi tipis. Arif menoleh dan melihat langit di luar begitu gelap.

Rudi menatap Sarah. “Anda beruntung dapat wanita seperti Sarah,” katanya pada Darius.

Darius menoleh ke arah Sarah. Ia berhenti makan sebentar. Lalu kembali melanjutkan seolah tidak ada yang terjadi.

Arif melihat gerakan kecil itu.

Di sisi meja yang lain, Bayu sedang memandang Sarah. Tanpa kata-kata. Namun cara matanya mengikuti setiap gerakan Sarah membuat Arif langsung mengenalinya. Seperti tadi di lorong.

Arif memalingkan pandangan.

Rudi meneguk air minumnya. “Tadi siang saya baca berita,” katanya tiba-tiba. “Kecelakaan kerja di Sulawesi.”

Bayu langsung menyahut. “Info yang saya dengar dari sumber tepercaya, itu bukan kecelakaan.”

Rudi mengangkat alis. “Oh ya?”

“Bentrok pekerja lokal sama pekerja dari Cina.” Ia menyendok nasi dengan santai. “Pemerintah sering nutupin yang begitu.”

Farhan hanya mengamati percakapan itu. Sesekali mengangguk kecil.

Rudi menoleh ke Arif. “Menurut lu gimana?”

Arif berhenti mengunyah. Ia menelan makanannya sebelum menjawab. “Saya … tidak berani berpendapat.”

Rudi menunggu.

“Saya tidak lihat sendiri kejadiannya,” lanjut Arif.

Rudi tersenyum kecil, lalu menoleh ke Darius. “Kalau menurut Pak Darius?”

Darius mengangkat wajahnya. Ia tampak berpikir sebentar sebelum menjawab. “Dalam kondisi tertentu,” katanya pelan, “stabilitas negara jauh lebih penting daripada menyampaikan sesuatu apa adanya.”

Tak ada yang langsung menanggapi. Percakapan itu berhenti begitu saja.

***

Beberapa menit kemudian, piring-piring mulai kosong.

Darius akhirnya berdiri dari kursinya. “Silakan santai saja,” katanya.

Suasana meja terasa sedikit lebih longgar sekarang.

Rudi meregangkan bahunya. “Serius amat makan malamnya.”

Sarah menoleh. “Kenapa?”

Rudi tersenyum. “Kita main game aja.”

“Game apa?” tanya Sarah.

Bayu menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil menatap mereka satu per satu. “Truth or Dare.” Ia mengangkat alis.

Tak ada yang langsung menjawab.

Sarah menoleh ke Darius. Darius mengangkat bahu. Arif memerhatikan mereka berdua.

Keseruan di vila itu baru saja mulai.


Other Stories
Kamera Sekali Pakai

Seorang perempuan menghabiskan liburan singkat di sebuah kota wisata, berharap jarak dapat ...

Dante Fairy Tale

“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita gemu ...

Pintu Dunia Lain

Nadiva terkejut saat gedung kantor berubah misterius: cat memudar, tembok berderak, asap b ...

Kelabu

Cinta? Apakah aku mencintai Samuel? Pertanyaan yang sulit kujawab. Perasaanku padanya sepe ...

My 24

Apa yang tak ia miliki? Karir yang gemilang, prestasi yang apik, istri yang cantik. Namun ...

Kepentok Kacung Kampret

Renata bagai langit yang sulit digapai karena kekayaan dan kehormatan yang melingkupi diri ...

Download Titik & Koma