Perjalanan Terakhir Bersama Bapak

Reads
143
Votes
28
Parts
14
Vote
Report
Perjalanan terakhir bersama bapak
Perjalanan Terakhir Bersama Bapak
Penulis Sveetnona

Penerimaan

Di atas ranjang rumah sakit, Khalil terbaring diam. Wajahnya yang pucat tampak kontras dengan perban yang membalut pelipisnya. Selang infus terpasang di tangannya, sementara mesin di samping ranjang sesekali mengeluarkan bunyi pelan yang membuat suasana terasa semakin mencekam.
Bapak duduk di kursi kecil di samping ranjang itu. Tangannya yang kasar menggenggam tangan Khalil dengan hati-hati.

“Khalil…. Anak Bapak… ”

“Abang bangun… Ada Ale di sini, ada Bapak juga, Nak…” Bapak menunduk, dahinya hampir menyentuh tangan Kale yang masih ia genggam. Entah sudah kali ke berapa Bapak menyeka air matanya yang terus mengalir tanpa jeda.

“Bapak, sudah jangan nangis…. Nanti Abang ikut sedih.”

Ale mengusap matanya yang masih basah dengan punggung tangan, berusaha menenangkan napasnya sendiri. Ia melangkah sedikit mendekat ke sisi ranjang, memandang wajah abangnya dengan hati yang masih dipenuhi ketakutan.

Ruangan itu kembali tenggelam dalam sunyi.
Beberapa detik berlalu. Perlahan jari Khalil bergerak sedikit. Ale adalah orang yang pertama kali menyadarinya.

“Pak… Abang bangun, Pak.”

Bapak segera menegakkan tubuhnya.

Di atas ranjang itu, kelopak mata Khalil yang semula terpejam tampak bergerak pelan, seolah berat untuk dibuka. Beberapa kali berkedip, sebelum akhirnya perlahan terbuka. Pandangan itu terlihat kosong selama beberapa detik.

Perlahan matanya berhenti pada satu titik di depan. Bibirnya bergerak pelan, “I-Ibu?”

Suara itu sangat lirih, tetapi cukup jelas untuk membuat Bapak dan Ale saling menatap dengan wajah pucat.

“Ibu… Khalil mau ikut Ibu…. ”

Bapak langsung menggeleng, air matanya kembali mengalir deras.

“Abang… nggak ada siapa-siapa…” suaranya pecah.

“Aku mau ikut Ibu…”

Tangisan Ale pecah lebih keras. Tubuh kecilnya gemetar saat ia memegang tangan abangnya.

“Abang jangan…” isaknya. “Abang jangan ikut…”
Ia menoleh pada Bapak dengan wajah yang penuh harap dan ketakutan.

“Pak… bilang sama Abang…”

Bapak masih duduk di kursinya, tangannya tetap menggenggam tangan Khalil yang semakin terasa dingin. Wajahnya pucat, tetapi matanya menatap putra sulungnya dengan sangat dalam.

“Khalil…. Bapak ikhlas, Nak.”

Kalimat itu keluar dengan sangat pelan, namun terasa berat seperti sesuatu yang selama ini ia tahan di dalam dada.

“Bapak sudah ikhlas melepas.”

Ale menatap Bapak dengan mata membesar, sementara tangisnya semakin pecah. Namun Bapak hanya terus menggenggam tangan anak sulungnya, mengusapnya perlahan.

“Pergilah kalau memang di sana Khalil bisa bahagia… Liburan kemarin… sudah cukup membuat Bapak bahagia.”

Napas Bapak tersendat. “Bapak senang sekali melihat Abang tertawa lagi. Melihat kalian bermain seperti dulu.”

“Itu sudah cukup untuk Bapak kenang, Bang.”

Di sisi lain, Ale masih terisak sambil memegang tangan abangnya erat, seolah tak ingin melepasnya.
Di ruangan yang dipenuhi tangis itu, kenangan tentang hari-hari liburan mereka, tawa di tepi air, kejar-kejaran di halaman, dan meja makan yang kembali hangat, seolah berkelebat pelan.

Sebuah liburan yang singkat.Namun cukup untuk mengembalikan kembali cahaya di hati mereka, sebelum akhirnya harus dilepas lagi.


Other Stories
Melepasmu Untuk Sementara

Menetapkan tujuan adalah langkah pertama mencapai kesuksesanmu. Seperti halnya aku, tahu ...

Perpustakaan Berdarah

Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...

Hantu Dan Hati

Di tengah duka dan rutinitasnya berjualan bunga, seorang pemuda menyadari bahwa ia tidak s ...

Jatuh Untuk Tumbuh

Layaknya pohon yang meranggas saat kemarau panjang, daunnya perlahan jatuh, terinjak, bahk ...

Cowok Hujan

Ia selalu terlihat tenang. Tapi setiap kali langit mulai gelap dan angin berhembus kencang ...

Bu Guru Dan Mantan Murid

Salsa, guru yang terjebak pernikahan dingin, tergoda perhatian mantan muridnya, Anton. Per ...

Download Titik & Koma