1.Lombok
Hijau.
Mata Nadine menangkap hamparan hijau yang membentang luas di bawahnya tatkala pesawat Airbus A-320 yang ia tumpangi mulai mengurangi throttle kecepatan cruise.
Awan tipis menyebar di bawah membentuk bayang pada permukaan pulau.
Nadine merasa sedikit berdebar sebab sebentar lagi ia akan tiba di tujuannya: Bandara Internasional Lombok.
Setelah sekitar tiga jam lamanya ia berada di udara dari Singapore tadi.
Sebuah runway panjang terlihat beberapa jauh di depan saat roda pesawat jet itu perlahan keluar. Bagian nose pesawat itu sedikit terangkat.
Flap di sayap kanan- kiri sayap membuka, membuat hambatan udara untuk membantu pesawat mengurangi kecepatan.
Kini ketinggian roda pesawat hanya tinggal beberapa belas feet dari permukaan runway.
Dan kemudian— touchdown.
Asap putih mengepul sesaat ketika roda pesawat itu bergesekan dengan aspal runway.
Nadine menghela nafas— kini ia benar- benar telah mendarat di Lombok.
Ia membaca history sebuah pesan singkat dari Natasya, sebelum akhirnya ia memasukkan ponsel itu ke dalam tas tangannya.
Enjoy Lombok ya, Beb!
-----
"Lombok?" tanya Nadine tanpa menoleh dari majalah yang ia baca. Ia tengah berbaring di sofa besar, di sebuah apartemen studio yang ia sewa bersama sahabatnya.
"Iya, Lombok. Kamu harus ke sana, Say," Tasya memasukkan beberapa potong buah pisang ke dalam blender, lalu menuangkan susu dan madu. "It's good for you."
"Nggak tahu ya, Sya," pandangan Nadine masih lekat pada halaman majalah, walau ia tak membaca apapun. "Kalau travelling kan biasanya aku ke Bali. Lombok— aku nggak tahu."
"No, it must be Lombok," Tasya menekan tombol blender, membuat suara denging nyaring.
"Bali tuh udah overcrowded banget, kan? Lagipula kita ke Bali itu kalau kepingin party. Buat healing, nggak banget. Beneran kamu harus coba ke Lombok, Nad."
"Healing?" Nadine meletakkan— setengah melempar majalahnya ke meja samping sofa. Lalu Nadine memutar tubuhnya, menghadap sandaran sofa.
"Buat apa? Aku nggak butuh kok."
"..."
Tasya tersenyum menuang smoothie buatannya ke dalam dua gelas besar. Ia memperhatikan sahabatnya itu beberapa lama. "Ini yang aku maksud, Nad. Sampe kapan kamu kayak gini?"
Nadine hanya bergeming tak menjawab.
Tasya berjalan ke sofa, lalu duduk di dekat kaki Nadine. Gadis itu meletakkan gelas smoothie Nadine di meja.
"It's been a year already. Kamu harus coba lupakan itu, oke?"
Lupakan?
Bagaimana mungkin Nadine bisa melupakan?
Bagaimana mungkin ia bisa melupakan momen itu?
Momen di mana sedan sport yang ia kendarai bersama Barrack— pacarnya, bergulingan di jalanan Singapore pada tengah malam.
Momen di mana ia melihat Barrack tergantung terbalik, masih terikat seatbelt, dengan darah mengucur deras membasahi interior mobil dari kepalanya.
Tanpa Nadine bisa berbuat apa- apa, sebab Nadine juga dalam kondisi yang sama mengenaskannya.
Nadine hanya bisa menangis melihat bagaimana perlahan kehidupan meninggalkan raut wajah Barrack.
Dan kemudian menatapnya kosong.
Tak bergerak.
Mana mungkin Nadine bisa melupakan momen itu, kan?
Sebuah momen yang merubah hidup Nadine, seorang model berbakat yang sedang berada di puncak karirnya— menjadi hancur berantakan begitu saja.
"Kamu inget kan, beberapa waktu lalu aku sama Joshua pernah ngilang seminggu?" Tasya menggosok lembut kaki Nadine. Ia nampak sedikit khawatir dengan kondisi sahabatnya yang seolah menarik dari dari semuanya.
"Sebenarnya itu aku ambil paket liburan ke Lombok. Kami ambil private trip, sejenak menghilang dari sistem. Sumpah Nad, beda banget di sana. Kayak— kita lagi ada di dunia lain gitu."
"Terus kamu mau aku gimana?" tanya Nadine dengan suara sedikit bergetar. "Kamu tahu sendiri kan udah hampir setahunan ini—"
"..."
"I just can't afford it, Sya," tambah Nadine. "Paket liburan semacam itu sudah di luar jangkauanku."
Ya.
Kejadian kecelekaan itu benar- benar begitu membekas, meninggalkan luka di dalam kehidupan Nadine.
Dan di wajahnya.
Sebuah bekas luka memanjang dari dahi, mata hingga ke pipi. Yang terlihat begitu jelas di wajah cantiknya.
Sebuah bekas luka memanjang yang begitu saja mencoret nama Nadine dari dunia model.
Semenjak kecelakaan itu, Nadine hampir tak penah mendapat job offer untuk menjadi model mereka— kecuali beberapa produk lingerie yang tak menampilkan wajah.
But that's all.
Nadine benar- benar terpuruk secara mental dan finansial.
Memang nilai SGD di rekening tabungannya masih sangat terbilang aman. Namun sampai Nadine mendapatkan kontrak baru, atau sumber pendapatan lain, gadis itu benar- benar harus merasio semua pengeluarannya.
"Kamu nggak perlu mikirin uang, Nad," Tasya menyeruput smoothie miliknya dengan sebuah senyuman tipis. "Josh dan aku sudah mengatur semuanya."
"Maksudnya?" Nadine menoleh.
"Kami sudah memesankan satu paket liburan buat kamu," Tasya menyodorkan sebuah amplop kepada Nadine.
"Pack your luggage up. Minggu depan kamu berangkat."
"Hah!?" Nadine beranjak bangun dari sofa. Ia membuka amplop itu dan membaca isinya: sebuah email konfirmasi pemesanan paket liburan dengan sebuah travel agent bernama ESCAPE.
"Gila! Enggak usah! Apaan sih Sya?"
"Kamu harus pergi liburan ke Lombok," Tasya mengacungkan telunjuknya membuat penekanan, sedikit memaksa. "Josh dan aku sudah membayar semuanya."
"Kamu— aku nggak mau," Nadine meletakkan kembali amplop itu kepada pangkuan Tasya.
"Nad, please. Sekali ini aja, kamu harus mau pergi liburan," Tasya menggenggam kedua tangan Nadine dengan tatapan wajah memohon.
"Aku nggak bisa lihat kamu kayak gini terus- terusan."
"..."
"Kamu mau pergi ya?" lirih Tasya. "Demi aku."
"Demi kamu—" Nadine menyipitkan mata, mencoba membaca maksud sahabatnya.
"Maksudnya kamu ingin aku pergi seminggu dari sini, supaya kamu bisa bebas berduaan ngapain aja sama Joshua di sini kan?"
Tasya nyengir dengan lidah terjulur.
"You bitch," Nadine mencibir. "Nggak mau."
Kali ini Tasya nampak mulai senewen. Ia mencubit hidung Nadine sambil mengomel.
"Take it, Nad. Kalau kamu enggak ambil paket liburan itu, terserah! Kamu mau nge-gembel di Orchard seminggu juga nggak apa. Pokoknya minggu depan apart ini harus steril dari kamu."
"Adudududuh!!" Nadine menepuk- nepuk tangan Tasya. "Iya deh, iya! Tapi lepasin hidungku!"
Dan begitulah.
Berkat kebaikan hati Tasya yang mendepak Nadine untuk pergi liburan ke Lombok, di sini lah Nadine sekarang.
Menyeret sebuah luggage besar dan tas travel keluar dari terminal arrival. Pintu kaca ruang itu terbuka otomatis saat Nadine melangkah keluar.
Udara panas dan suara bising menyambutnya.
Nadine berjalan, menoleh ke sana kemari mencari seseorang dari ESCAPE yang akan menjemputnya. Di area pick up, nampak membludak penuh oleh para penjemput yang menunggu.
Karena pembawaan Nadine yang seorang model, ia terlihat sedikit mencolok di antara ratusan penumpang lainnya. Sebuah bucket hat kecil menutupi rabut bergelombangnya yang ia sanggul jamu. Sebuah jumpsuit sederhana, terlihat pas membalut tubuh jenjang Nadine— berjalan begitu elegan menuju area pick up.
Belasan papan dan kertas teracung tinggi, dengan nama- nama tamu yang baru keluar dari arrival gate.
Nadine berhenti sejenak, memicingkan matanya berusaha membaca namanya di paging board.
Dan kemudian, ia menemukannya.
Seorang lelaki, berdiri di antara belasan lainnya, memegang sebuah papan dengan tulisan:
NADINE AMIRTASARI
Mata Nadine menangkap hamparan hijau yang membentang luas di bawahnya tatkala pesawat Airbus A-320 yang ia tumpangi mulai mengurangi throttle kecepatan cruise.
Awan tipis menyebar di bawah membentuk bayang pada permukaan pulau.
Nadine merasa sedikit berdebar sebab sebentar lagi ia akan tiba di tujuannya: Bandara Internasional Lombok.
Setelah sekitar tiga jam lamanya ia berada di udara dari Singapore tadi.
Sebuah runway panjang terlihat beberapa jauh di depan saat roda pesawat jet itu perlahan keluar. Bagian nose pesawat itu sedikit terangkat.
Flap di sayap kanan- kiri sayap membuka, membuat hambatan udara untuk membantu pesawat mengurangi kecepatan.
Kini ketinggian roda pesawat hanya tinggal beberapa belas feet dari permukaan runway.
Dan kemudian— touchdown.
Asap putih mengepul sesaat ketika roda pesawat itu bergesekan dengan aspal runway.
Nadine menghela nafas— kini ia benar- benar telah mendarat di Lombok.
Ia membaca history sebuah pesan singkat dari Natasya, sebelum akhirnya ia memasukkan ponsel itu ke dalam tas tangannya.
Enjoy Lombok ya, Beb!
-----
"Lombok?" tanya Nadine tanpa menoleh dari majalah yang ia baca. Ia tengah berbaring di sofa besar, di sebuah apartemen studio yang ia sewa bersama sahabatnya.
"Iya, Lombok. Kamu harus ke sana, Say," Tasya memasukkan beberapa potong buah pisang ke dalam blender, lalu menuangkan susu dan madu. "It's good for you."
"Nggak tahu ya, Sya," pandangan Nadine masih lekat pada halaman majalah, walau ia tak membaca apapun. "Kalau travelling kan biasanya aku ke Bali. Lombok— aku nggak tahu."
"No, it must be Lombok," Tasya menekan tombol blender, membuat suara denging nyaring.
"Bali tuh udah overcrowded banget, kan? Lagipula kita ke Bali itu kalau kepingin party. Buat healing, nggak banget. Beneran kamu harus coba ke Lombok, Nad."
"Healing?" Nadine meletakkan— setengah melempar majalahnya ke meja samping sofa. Lalu Nadine memutar tubuhnya, menghadap sandaran sofa.
"Buat apa? Aku nggak butuh kok."
"..."
Tasya tersenyum menuang smoothie buatannya ke dalam dua gelas besar. Ia memperhatikan sahabatnya itu beberapa lama. "Ini yang aku maksud, Nad. Sampe kapan kamu kayak gini?"
Nadine hanya bergeming tak menjawab.
Tasya berjalan ke sofa, lalu duduk di dekat kaki Nadine. Gadis itu meletakkan gelas smoothie Nadine di meja.
"It's been a year already. Kamu harus coba lupakan itu, oke?"
Lupakan?
Bagaimana mungkin Nadine bisa melupakan?
Bagaimana mungkin ia bisa melupakan momen itu?
Momen di mana sedan sport yang ia kendarai bersama Barrack— pacarnya, bergulingan di jalanan Singapore pada tengah malam.
Momen di mana ia melihat Barrack tergantung terbalik, masih terikat seatbelt, dengan darah mengucur deras membasahi interior mobil dari kepalanya.
Tanpa Nadine bisa berbuat apa- apa, sebab Nadine juga dalam kondisi yang sama mengenaskannya.
Nadine hanya bisa menangis melihat bagaimana perlahan kehidupan meninggalkan raut wajah Barrack.
Dan kemudian menatapnya kosong.
Tak bergerak.
Mana mungkin Nadine bisa melupakan momen itu, kan?
Sebuah momen yang merubah hidup Nadine, seorang model berbakat yang sedang berada di puncak karirnya— menjadi hancur berantakan begitu saja.
"Kamu inget kan, beberapa waktu lalu aku sama Joshua pernah ngilang seminggu?" Tasya menggosok lembut kaki Nadine. Ia nampak sedikit khawatir dengan kondisi sahabatnya yang seolah menarik dari dari semuanya.
"Sebenarnya itu aku ambil paket liburan ke Lombok. Kami ambil private trip, sejenak menghilang dari sistem. Sumpah Nad, beda banget di sana. Kayak— kita lagi ada di dunia lain gitu."
"Terus kamu mau aku gimana?" tanya Nadine dengan suara sedikit bergetar. "Kamu tahu sendiri kan udah hampir setahunan ini—"
"..."
"I just can't afford it, Sya," tambah Nadine. "Paket liburan semacam itu sudah di luar jangkauanku."
Ya.
Kejadian kecelekaan itu benar- benar begitu membekas, meninggalkan luka di dalam kehidupan Nadine.
Dan di wajahnya.
Sebuah bekas luka memanjang dari dahi, mata hingga ke pipi. Yang terlihat begitu jelas di wajah cantiknya.
Sebuah bekas luka memanjang yang begitu saja mencoret nama Nadine dari dunia model.
Semenjak kecelakaan itu, Nadine hampir tak penah mendapat job offer untuk menjadi model mereka— kecuali beberapa produk lingerie yang tak menampilkan wajah.
But that's all.
Nadine benar- benar terpuruk secara mental dan finansial.
Memang nilai SGD di rekening tabungannya masih sangat terbilang aman. Namun sampai Nadine mendapatkan kontrak baru, atau sumber pendapatan lain, gadis itu benar- benar harus merasio semua pengeluarannya.
"Kamu nggak perlu mikirin uang, Nad," Tasya menyeruput smoothie miliknya dengan sebuah senyuman tipis. "Josh dan aku sudah mengatur semuanya."
"Maksudnya?" Nadine menoleh.
"Kami sudah memesankan satu paket liburan buat kamu," Tasya menyodorkan sebuah amplop kepada Nadine.
"Pack your luggage up. Minggu depan kamu berangkat."
"Hah!?" Nadine beranjak bangun dari sofa. Ia membuka amplop itu dan membaca isinya: sebuah email konfirmasi pemesanan paket liburan dengan sebuah travel agent bernama ESCAPE.
"Gila! Enggak usah! Apaan sih Sya?"
"Kamu harus pergi liburan ke Lombok," Tasya mengacungkan telunjuknya membuat penekanan, sedikit memaksa. "Josh dan aku sudah membayar semuanya."
"Kamu— aku nggak mau," Nadine meletakkan kembali amplop itu kepada pangkuan Tasya.
"Nad, please. Sekali ini aja, kamu harus mau pergi liburan," Tasya menggenggam kedua tangan Nadine dengan tatapan wajah memohon.
"Aku nggak bisa lihat kamu kayak gini terus- terusan."
"..."
"Kamu mau pergi ya?" lirih Tasya. "Demi aku."
"Demi kamu—" Nadine menyipitkan mata, mencoba membaca maksud sahabatnya.
"Maksudnya kamu ingin aku pergi seminggu dari sini, supaya kamu bisa bebas berduaan ngapain aja sama Joshua di sini kan?"
Tasya nyengir dengan lidah terjulur.
"You bitch," Nadine mencibir. "Nggak mau."
Kali ini Tasya nampak mulai senewen. Ia mencubit hidung Nadine sambil mengomel.
"Take it, Nad. Kalau kamu enggak ambil paket liburan itu, terserah! Kamu mau nge-gembel di Orchard seminggu juga nggak apa. Pokoknya minggu depan apart ini harus steril dari kamu."
"Adudududuh!!" Nadine menepuk- nepuk tangan Tasya. "Iya deh, iya! Tapi lepasin hidungku!"
Dan begitulah.
Berkat kebaikan hati Tasya yang mendepak Nadine untuk pergi liburan ke Lombok, di sini lah Nadine sekarang.
Menyeret sebuah luggage besar dan tas travel keluar dari terminal arrival. Pintu kaca ruang itu terbuka otomatis saat Nadine melangkah keluar.
Udara panas dan suara bising menyambutnya.
Nadine berjalan, menoleh ke sana kemari mencari seseorang dari ESCAPE yang akan menjemputnya. Di area pick up, nampak membludak penuh oleh para penjemput yang menunggu.
Karena pembawaan Nadine yang seorang model, ia terlihat sedikit mencolok di antara ratusan penumpang lainnya. Sebuah bucket hat kecil menutupi rabut bergelombangnya yang ia sanggul jamu. Sebuah jumpsuit sederhana, terlihat pas membalut tubuh jenjang Nadine— berjalan begitu elegan menuju area pick up.
Belasan papan dan kertas teracung tinggi, dengan nama- nama tamu yang baru keluar dari arrival gate.
Nadine berhenti sejenak, memicingkan matanya berusaha membaca namanya di paging board.
Dan kemudian, ia menemukannya.
Seorang lelaki, berdiri di antara belasan lainnya, memegang sebuah papan dengan tulisan:
NADINE AMIRTASARI
Other Stories
Menantimu
“Belum tidur Zani?” “Belum. Ngak bisa tidur.” “Hehe. Pasti ada yang dipikirin ...
Hati Yang Terbatas
Kinanti termenung menatap rinai hujan di balik jendela kaca kamarnya. Embun hujan mengh ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Ryan Si Pemulung
Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...
Youtube In Love
Wahyu yang berani kenalan lewat komentar YouTube berhasil mengajak Yunita bertemu. Asep pe ...
Di Bawah Atap Rumah Singgah
Vinna adalah anak orang kaya. Setelah lulus kuliah, setiap orang melihat dia akan hidup me ...