2. ESCAPE
"Hai, itu aku," Nadine menunjuk paging board bertuliskan namanya.
Lelaki berseragam ESCAPE itu mendekat. "Mbak Nadine? Temannya Mbak Tasya?"
Nadine mengangguk pelan. "Iya, aku Nadine."
"Nama saya Caraka," ujarnya memperkenalkan diri sambil menunjuk patch nama di kemejanya. "Panggil saja Raka. Selama berada di Lombok, saya adalah personal guide Mbak Nadine."
Nadine terdiam sejenak memperhatikan lelaki di hadapannya itu. Raka berperawakan tinggi ramping, dengan rambut gondrong yang diikat man-bun. Kulit kecoklatannya seolah mempertegas image nya sebagai anak lapangan.
Raka mungkin seusia Nadine, atau sedikit di atasnya.
"Mari, saya bantu," Raka sigap mengambil alih bawaan Nadine. Lalu ia menoleh ke arah arrival gate— seolah tengah mencari- cari seseorang.
Lalu ia pun kembali menghadap Nadine. "Mbak Nadine datang sendirian?"
Sebuah pertanyaan ringan, namun membuat Nadine merasa seolah dadanya ditusuk. Ia menarik nafas, mencoba tidak memasukkannya dalam hati.
Ia tahu Raka tidak bermaksud buruk.
"Iya, lagi bosen banget di Singapore."
"Kalau begitu, Mbak Nadine datang ke tempat yang tepat!" Raka tersenyum sambil berjalan menarik lugagge Nadine. "Selamat datang di Lombok. Dan terima kasih sudah memilih ESCAPE untuk menemani momen berlibur Mbak Nadine."
Nadine tak menjawab, dan hanya berjalan mengekor di belakang Raka.
Keduanya berjalan menuju sebuah Toyota Avanza silver dengan logo ESCAPE besar di bodi sampingnya. Raka segera membukakan pintu kabin belakang, mempersilakan Nadine masuk.
Nadine menghela nafas lega saat merasakan hawa sejuk AC yang telah menyala. Mobil ini memang berukuran sedang, namun terasa bersih dan wangi.
"Silakan diminum Mbak. Ini jamu, welcome drink tradisional racikan warga kami," Raka menyodorkan sebotol jamu berwarna cokelat pucat dari dalam cooler box. "Jahe dan rempahnya cocok untuk mengurangi lelah setelah penerbangan."
"Oh?" Nadine tersenyum menerima botol tersebut. "Terima kasih."
Setelah memasukkan barang pada bagasi belakang, Raka segera duduk di kursi sopir. Ia membetulkan posisi rear-view, dan bertanya kepada tamunya.
"Mbak Nadine mau makan dulu? Atau bagaimana?"
Nadine menggeleng sambil menyisip jamunya. "Aku agak capek. Boleh langsung ke penginapannya?"
"Tentu saja," Raka mengangguk, dan menggeser tuas perseneling ke posisi satu.
Mobil silver itu melaju perlahan keluar meninggalkan Bandara, dan kemudian menyatu dengan lalu lintas Lombok yang tak terlalu padat.
Pandangan Nadine menyapu persawahan luas di kanan- kiri jalan yang menyambutnya. Matahari bersinar begitu cerah, dengan sedikit gores awan di langit yang bersih. Sesuatu yang tak mungkin ia dapatkan di Singapore.
"Dari sini, kita akan berkendara kurang lebih satu— satu setengah jam menuju Barat Daya, ke wilayah Sekotong," Raka mengemudi sambil menjelaskan secara singkat tujuan mereka.
"Kita akan menuju desa Segare, base ESCAPE sekaligus tempat menginap Mbak Nadine nanti."
Nadine tak terlalu menggubris penjelasan Raka.
Ia meraih sebuah brosur yang berada di dalam kantong jok tepat di belakang Raka.
Nadine pun membuka brosur tersebut.
Plan your ESCAPE now!!
Experience the real, authentic soul of Lombok — far beyond the resorts, far beyond the crowds.
We welcome you to Segare Village, a remote coastal sanctuary in the southwest Lombok where time slows down and life feels honest again.
+Live the natural rhythm of village life
+Embrace local customs and warm community traditions
+Savor authentic traditional cuisine made from the land and sea
+Witness untouched landscapes — raw hills, quiet beaches, endless horizon
Just you, nature, and the people who call it home.
With ESCAPE, you don’t just escape.
You disconnect to rediscover yourself.
+ Remote Segare Village, Southwest Lombok
+Limited spots for an intimate and meaningful experience
Lalu di halaman sebelahnya, terdapa peta lokasi Desa Segare, dan beberapa foto kegiatan ESCAPE bersama para tamu mereka.
Nadine mengangguk pelan. Kelihatannya grup travel ini tidak terlalu buruk. Lagipula, jika Tasya yang seorang paling rewel soal jalan- jalan saja suka dengan pelayanan ESCAPE, maka Nadine bisa merasa tenang dengan mereka.
Tasya?
Ah, Nadine lupa mengabari sahabatnya itu.
Nadine meraih ponselnya, dan menyalakan layar. Lalu beberapa lama ia termenung, menatap lekat wallpaper ponselnya yang memasang fotonya berdua bersama Barrack.
Foto Nadine yang nampak cantik mengenakan dress merah, dan Barrack yang nampak gagah dengan kemeja hitam.
Foto terakhir mereka sebelum kecelakaan itu terjadi.
Nadine mematikan ponselnya cepat, dan segera memasukkannya ke dalam tas tangan. Lalu ia menatap kembali ke arah luar— ke sebuah pemandangan asing yang begitu kontras dengan Singapore.
"..."
Nadine menyandarkan kepala pada headrest.
Entah kenapa dadanya tiba- tiba saja terasa sesak.
Nadine sendiri tak bisa menjelaskan.
Mungkin ia hanya merasa lelah, karena harus berkendara selama satu jam setelah penerbangan selama tiga jam?
Atau ia merasa lelah dengan perasaannya?
Mobil itu terus melaju membelah jalan aspal yang dinaungi pepohonan besar.
Raka yang sedang fokus mengemudi, melirik ke arah tamunya yang telah terlelap dari rear mirror.
Raka tersenyum tipis.
Ia cukup sadar untuk tidak mengganggu istirahat tamu istimewanya.
Lelaki berseragam ESCAPE itu mendekat. "Mbak Nadine? Temannya Mbak Tasya?"
Nadine mengangguk pelan. "Iya, aku Nadine."
"Nama saya Caraka," ujarnya memperkenalkan diri sambil menunjuk patch nama di kemejanya. "Panggil saja Raka. Selama berada di Lombok, saya adalah personal guide Mbak Nadine."
Nadine terdiam sejenak memperhatikan lelaki di hadapannya itu. Raka berperawakan tinggi ramping, dengan rambut gondrong yang diikat man-bun. Kulit kecoklatannya seolah mempertegas image nya sebagai anak lapangan.
Raka mungkin seusia Nadine, atau sedikit di atasnya.
"Mari, saya bantu," Raka sigap mengambil alih bawaan Nadine. Lalu ia menoleh ke arah arrival gate— seolah tengah mencari- cari seseorang.
Lalu ia pun kembali menghadap Nadine. "Mbak Nadine datang sendirian?"
Sebuah pertanyaan ringan, namun membuat Nadine merasa seolah dadanya ditusuk. Ia menarik nafas, mencoba tidak memasukkannya dalam hati.
Ia tahu Raka tidak bermaksud buruk.
"Iya, lagi bosen banget di Singapore."
"Kalau begitu, Mbak Nadine datang ke tempat yang tepat!" Raka tersenyum sambil berjalan menarik lugagge Nadine. "Selamat datang di Lombok. Dan terima kasih sudah memilih ESCAPE untuk menemani momen berlibur Mbak Nadine."
Nadine tak menjawab, dan hanya berjalan mengekor di belakang Raka.
Keduanya berjalan menuju sebuah Toyota Avanza silver dengan logo ESCAPE besar di bodi sampingnya. Raka segera membukakan pintu kabin belakang, mempersilakan Nadine masuk.
Nadine menghela nafas lega saat merasakan hawa sejuk AC yang telah menyala. Mobil ini memang berukuran sedang, namun terasa bersih dan wangi.
"Silakan diminum Mbak. Ini jamu, welcome drink tradisional racikan warga kami," Raka menyodorkan sebotol jamu berwarna cokelat pucat dari dalam cooler box. "Jahe dan rempahnya cocok untuk mengurangi lelah setelah penerbangan."
"Oh?" Nadine tersenyum menerima botol tersebut. "Terima kasih."
Setelah memasukkan barang pada bagasi belakang, Raka segera duduk di kursi sopir. Ia membetulkan posisi rear-view, dan bertanya kepada tamunya.
"Mbak Nadine mau makan dulu? Atau bagaimana?"
Nadine menggeleng sambil menyisip jamunya. "Aku agak capek. Boleh langsung ke penginapannya?"
"Tentu saja," Raka mengangguk, dan menggeser tuas perseneling ke posisi satu.
Mobil silver itu melaju perlahan keluar meninggalkan Bandara, dan kemudian menyatu dengan lalu lintas Lombok yang tak terlalu padat.
Pandangan Nadine menyapu persawahan luas di kanan- kiri jalan yang menyambutnya. Matahari bersinar begitu cerah, dengan sedikit gores awan di langit yang bersih. Sesuatu yang tak mungkin ia dapatkan di Singapore.
"Dari sini, kita akan berkendara kurang lebih satu— satu setengah jam menuju Barat Daya, ke wilayah Sekotong," Raka mengemudi sambil menjelaskan secara singkat tujuan mereka.
"Kita akan menuju desa Segare, base ESCAPE sekaligus tempat menginap Mbak Nadine nanti."
Nadine tak terlalu menggubris penjelasan Raka.
Ia meraih sebuah brosur yang berada di dalam kantong jok tepat di belakang Raka.
Nadine pun membuka brosur tersebut.
Plan your ESCAPE now!!
Experience the real, authentic soul of Lombok — far beyond the resorts, far beyond the crowds.
We welcome you to Segare Village, a remote coastal sanctuary in the southwest Lombok where time slows down and life feels honest again.
+Live the natural rhythm of village life
+Embrace local customs and warm community traditions
+Savor authentic traditional cuisine made from the land and sea
+Witness untouched landscapes — raw hills, quiet beaches, endless horizon
Just you, nature, and the people who call it home.
With ESCAPE, you don’t just escape.
You disconnect to rediscover yourself.
+ Remote Segare Village, Southwest Lombok
+Limited spots for an intimate and meaningful experience
Lalu di halaman sebelahnya, terdapa peta lokasi Desa Segare, dan beberapa foto kegiatan ESCAPE bersama para tamu mereka.
Nadine mengangguk pelan. Kelihatannya grup travel ini tidak terlalu buruk. Lagipula, jika Tasya yang seorang paling rewel soal jalan- jalan saja suka dengan pelayanan ESCAPE, maka Nadine bisa merasa tenang dengan mereka.
Tasya?
Ah, Nadine lupa mengabari sahabatnya itu.
Nadine meraih ponselnya, dan menyalakan layar. Lalu beberapa lama ia termenung, menatap lekat wallpaper ponselnya yang memasang fotonya berdua bersama Barrack.
Foto Nadine yang nampak cantik mengenakan dress merah, dan Barrack yang nampak gagah dengan kemeja hitam.
Foto terakhir mereka sebelum kecelakaan itu terjadi.
Nadine mematikan ponselnya cepat, dan segera memasukkannya ke dalam tas tangan. Lalu ia menatap kembali ke arah luar— ke sebuah pemandangan asing yang begitu kontras dengan Singapore.
"..."
Nadine menyandarkan kepala pada headrest.
Entah kenapa dadanya tiba- tiba saja terasa sesak.
Nadine sendiri tak bisa menjelaskan.
Mungkin ia hanya merasa lelah, karena harus berkendara selama satu jam setelah penerbangan selama tiga jam?
Atau ia merasa lelah dengan perasaannya?
Mobil itu terus melaju membelah jalan aspal yang dinaungi pepohonan besar.
Raka yang sedang fokus mengemudi, melirik ke arah tamunya yang telah terlelap dari rear mirror.
Raka tersenyum tipis.
Ia cukup sadar untuk tidak mengganggu istirahat tamu istimewanya.
Other Stories
Air Susu Dibalas Madu
Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...
Rumah Malaikat
Alex, guru pengganti di panti Rumah Malaikat, diteror kejadian misterius dan menemukan aja ...
Saat Cinta Itu Hadir
Zita hancur karena gagal menikah setelah Fauzi ketahuan selingkuh. Saat masih terluka, ia ...
Jogja With You
Tertinggal kereta mungkin tidak selamanya menjadi hal buruk. Mungkin Tuhan mau kamu bertem ...
After Meet You
kacamata hitam milik pria itu berkilat tertimpa cahaya keemasan, sang mata dewa nyaris t ...
Aswin, Kami Menyayangimu
Aswin adalah remaja bermasalah yang terpaksa tinggal di sebuah panti asuhan karena ia tak ...