The Pavilion

Reads
24
Votes
3
Parts
2
Vote
Report
The pavilion
The Pavilion
Penulis Rendy Alfariz

BAB 2 • Sawah Yang Membentang •

BAB 2: Sawah yang Membentang




Bus Lazuardi Trans terus membelah aspal jalanan provinsi setelah keluar dari gerbang tol terakhir. Matahari kini tepat berada di atas kepala, menciptakan fatamorgana panas di permukaan jalan, namun di dalam bus, hawa dingin AC masih membuat suasana terasa sejuk. Aroma di dalam kabin berubah, kini ada campuran aroma jeruk, minyak telon, dan bau mi instan cup yang mulai diseduh oleh beberapa siswa.

Dimas, sang ketua kelas, berdiri dari kursinya sambil memegang botol minum sebagai mikrofon. "Tes, tes! Rakyat IPA 3, kita baru saja memasuki wilayah pesisir. Lihat ke sebelah kiri, kalau kalian beruntung, kalian bisa melihat laut yang mulai mengintip di balik pohon kelapa!"

Sontak, bus yang tadinya agak tenang karena beberapa orang mengantuk, kembali riuh. Bimo yang duduk di barisan tengah langsung menempelkan hidungnya ke kaca jendela.

"Mana, Dim? Mana? Kok yang kelihatan cuma warung sate sama bengkel tambal ban?" tanya Bimo dengan nada kecewa yang dibuat-buat.

"Sabar, Bimo! Itu di balik pohon jati yang rimbun disana. Makanya matanya dipakai buat liat masa depan, jangan liat mantan mulu!" sahut Andre yang duduk di belakangnya, memicu tawa dari teman-teman di sekitarnya.

Bu Sarah yang duduk di depan menoleh ke arah murid-muridnya. "Anak-anak, kita akan segera berhenti di sebuah restoran lokal yang terkenal dengan sambal terasinya. Setelah itu, perjalanan tinggal tiga jam lagi. Ada yang sudah lapar?"

"Lapar banget, Bu!" teriak Joko paling kencang. "Perut saya sudah konser dari tadi, bunyinya sudah kayak musik EDM!"

Laras, yang tadinya mual, mulai terlihat lebih segar. Ia membuka jendela kecil di bagian atas kursi (jika ada) atau sekadar menghirup aroma dari ventilasi AC. "Siska, kalau nanti makan, kita duduk dekat jendela ya. Biar angin lautnya lebih kerasa," bisik Laras pada Siska.

"Boleh, Laras sayang. Tapi jangan pingsan ya kalau liat sambalnya pedas banget. Kamu kan perutnya manja," goda Siska sambil membenarkan letak jepit rambutnya yang berwarna pastel.

Di bagian belakang, Rian masih tetap dengan dunianya, namun kini ia melepas satu earbud-nya. Gani dan Haikal sedang asyik bermain gim kartu remi!

"Gue keluarin kartu Raja, nih! Mati lo, Kal!" seru Gani sambil membanting kartu ke atas lipatan jaket yang dijadikan meja.

"Eits, belum tentu! Gue punya kartu Joker! Sori ya, strategi lo kebaca!" balas Haikal dengan tawa puas.

Irfan yang menonton mereka hanya bisa menggeleng. "Yah, akhirnya kalah juga Lo Gan."

Sementara itu, Maya dan Karin sedang membicarakan hal yang sangat random: koleksi masker wajah yang mereka bawa untuk dipakai di tempat menginap nanti.

"Aku bawa yang aroma greentea, Kar. Katanya bagus buat menenangkan kulit setelah kena matahari pantai," kata Maya sambil menunjukkan beberapa sachet masker dari tas kecilnya.

"Ih, seru! Aku bawa yang sheet mask gambar binatang. Ada yang macan, ada yang panda. Nanti kita foto bareng ya pakai itu!" sahut Karin antusias.

Tania yang sejak tadi sibuk dengan kameranya, kini mendekati Eko yang masih asyik membaca. "Eko, boleh masuk vlog aku nggak? Please.. Kasih satu patah kata buat perjalanan ini."

Eko menatap kamera dengan kaku, lalu bergumam pelan, "Jalannya... panjang."

Tania tertawa. "Singkat, padat, dan sangat Eko sekali! Oke, lanjut ke Doni!"

Doni yang sedang mengisi daya ponselnya lewat powerbank raksasa langsung berpose peace.

"Harapan gue cuma satu, semoga sinyal di tempat menginap nanti kencang. Gue mau push rank!"

"Yah, Doni mah game terus!" celetuk Lulu yang duduk di dekat situ. "Mendingan kita nanti main Truth or Dare pas malam-malam, lebih seru!"

Percakapan mengalir deras seperti air. Tidak ada satupun dari mereka yang merasa terbebani. Zaki sibuk menceritakan pengalamannya ikut lari maraton yang sebenarnya hanya berakhir dengan dia makan bubur ayam di garis start, membuat Santi dan Tio tertawa sampai sakit perut.

"Beneran, Zak? Kamu baru lari satu kilo sudah nyerah?" tanya Santi tak percaya.

"Bukan nyerah, San. Tapi bubur ayamnya manggil-manggil. Aromanya lebih kuat daripada ambisiku buat juara," bela Zaki dengan wajah serius yang lucu.

Di barisan kursi lain, Nadia, Olive, dan Putri kini beralih topik ke zodiak.

"Bulan ini Leo katanya bakal dapat kejutan besar," ujar Olive sambil membaca ramalan di ponselnya. "Siapa di sini yang Leo?"

"Aku!" teriak Ferry dari seberang lorong. "Kejutan apa? Dapat warisan?"

"Bukan, Fer. Kejutannya adalah... kamu bakal nemuin jodoh yang galak," goda Putri yang membuat seisi bus bersorak "Cieee!" pada Ferry.

Ferry hanya menyeringai. "Galak juga nggak apa-apa dah, yang penting sayang."

Pak Bambang dan Pak Hendra juga tak kalah asyik mengobrol. Mereka membicarakan rencana pertandingan sepak bola persahabatan antara guru dan murid jika ada lapangan di dekat paviliun nanti.

"Saya jamin, Hendra, fisik saya masih kuat lari 90 menit muterin paviliun nanti," tantang Pak Bambang sambil menepuk perutnya yang sedikit buncit.

"Ah, Bapak mah palingan lari 5 menit juga sudah minta air kelapa muda disana," canda Pak Hendra.

Bus kemudian melambat dan belok ke arah sebuah rumah makan besar dengan parkiran luas yang dipenuhi pohon beringin. Nama rumah makannya "Seleraku". Bau ikan bakar dan sambal terasi langsung menyapa indera penciuman saat pintu bus dibuka.

"Ayo, turun semua! Makan siang dulu!" perintah Pak Hendra.

Ke-35 siswa itu berhamburan turun dengan ceria. Mereka berkerumun di meja-meja panjang. Zul, Yuda, dan Xander langsung menyerbu meja paling pojok agar bisa makan dengan porsi besar tanpa dipantau Bu Linda.

"Zul, ambil ikannya yang gedean dong!" bisik Yuda.
"Tenang, ini sudah gue incar dari tadi," sahut Zul sambil menyendok nasi putih hangat.

Di meja lain, para siswi seperti Citra, Dewi, Rani, dan Wanda sedang asyik memotret makanan sebelum menyentuhnya.

"Aduh, foto makanannya dulu ya, guys. Pencahayaannya bagus nih di bawah pohon," ujar Rani sambil mengatur posisi piring sambal.

Qori dan Umar yang duduk bersama Vina mengobrol tentang film horor yang baru saja mereka tonton minggu lalu di bioskop, sama sekali tidak menyadari bahwa tema pembicaraan mereka akan menjadi kenyataan pahit dalam beberapa hari ke depan.

"Gue sih nggak takut sama hantu yang cuma muncul sebentar terus hilang," kata Umar sambil mengunyah kerupuk. "Gue lebih takut kalau hantunya itu tipe yang ngejar-ngejar mulu kayak psikopat gitu."

"Iya, kayak yang di film Conjuring gitu ya? Serem banget," sahut Vina. "Tapi ah, itu kan cuma film. Di dunia nyata mana ada yang se-ekstrim itu."

Makan siang itu berlangsung penuh canda. Joko benar-benar menjadi bintang dengan menghabiskan tiga porsi nasi, sementara Dimas sibuk memastikan tidak ada barang teman-temannya yang tertinggal di atas meja.

Setelah perut kenyang dan energi kembali pulih, mereka semua kembali ke bus. Perjalanan berlanjut melewati jalanan yang mulai menanjak dan berkelok-kelok.

Di sebelah kanan, bukit-bukit hijau menjulang, dan di sebelah kiri, jurang yang di bawahnya terdapat aliran sungai jernih terlihat sangat memukau.

"Wah, liat itu! Air terjun mini!" teriak Santi sambil menunjuk ke tebing jalan.

Suasana menjadi sedikit lebih tenang saat bus mulai memasuki kawasan yang lebih sunyi. Pepohonan semakin rapat. Cahaya matahari yang masuk ke dalam bus mulai terhalang oleh dedaunan rimbun dari pohon-pohon besar yang seolah membentuk terowongan alami.

"Kok jalannya makin sepi ya?" tanya Laras pelan pada Siska.

"Kan kita mau ke tempat yang privat, Ras. Namanya juga liburan berkelas, kalau ramai mah namanya pasar malam," jawab Siska santai sambil mulai memakai headphone-nya untuk mendengarkan lagu.

Di barisan belakang, Gani, Haikal, dan Irfan mulai tertidur pulas karena kekenyangan. Begitu juga dengan beberapa siswa lainnya. Bus yang tadinya sangat bising, kini hanya menyisakan suara mesin dan obrolan berbisik dari beberapa orang yang masih terjaga.

Tio dan Santi sedang asyik bermain tebak-tebakan lagu melalui gerakan tangan, sebuah permainan yang mereka ciptakan sendiri agar tidak berisik.
"Satu jam lagi, Pak?" tanya Bu Linda pada sopir bus.

"Iya Bu, sebentar lagi kita masuk ke jalan desa yang menuju paviliun. Jalannya agak sempit, tapi bus ini masih bisa lewat," jawab Pak Sopir dengan ramah.

Matahari mulai condong ke barat, memberikan warna keemasan pada hamparan sawah terakhir yang mereka lewati sebelum benar-benar masuk ke kawasan hutan di lereng bukit.

Tidak ada yang tahu, di balik keindahan warna emas itu, tiga sosok yang telah menunggu selama puluhan tahun di dalam paviliun tua lantai tiga sudah mulai 'mencium' kehadiran mereka.

Namun bagi Dimas, Bimo, Siska, dan teman-temannya, ini hanyalah awal dari tiga hari penuh tawa di pantai. Mereka masih asyik dengan impian masing-masing, tentang api unggun, tentang tawa, dan tentang kebersamaan yang mereka harap tidak akan pernah berakhir.

"Guys, bangun! Bentar lagi nyampe!" teriak Dimas membangunkan teman-temannya yang tertidur.
"Hoammm... sudah sampai ya?" tanya Maya sambil mengucek matanya.

"Belum, tapi pemandangannya makin bagus! Liat tuh, di depan!" tunjuk Bimo.

Bus melaju melewati gerbang batu yang sudah berlumut, masuk ke area yang lebih dalam lagi. Mereka mulai meninggalkan peradaban, menuju sebuah titik di mana tawa mereka akan segera berganti menjadi jeritan yang tak terdengar oleh siapapun dari dunia luar.

~~~

Bus Lazuardi Trans kini telah meninggalkan rumah makan "Seleraku". Perut yang kenyang membuat suasana di dalam bus sedikit lebih rileks, namun bukan berarti sepi. Justru, energi dari makanan pedas dan nasi hangat tadi membuat beberapa murid makin "aktif" dengan cara yang berbeda.

Di barisan paling belakang, Gani yang baru saja terbangun dari tidur singkatnya, tiba-tiba mendapatkan ide jahil. Ia mengambil spidol permanen dari tasnya dan menatap Haikal yang masih mendengkur halus di sampingnya.

"Sstt... Irfan, liat nih," bisik Gani pada Irfan yang duduk di seberang lorong.

Irfan menahan tawa saat melihat Gani perlahan mendekatkan spidol ke wajah Haikal. Dengan sangat hati-hati, Gani menggambar kumis melintir ala kompeni Belanda di atas bibir Haikal. Rian yang biasanya dingin, kali ini tidak tahan untuk tidak mengeluarkan ponselnya dan merekam kejadian itu.

"Satu... dua... tiga..." bisik Rian tanpa suara.

"HOAAMMM!" Haikal mendadak terbangun karena hidungnya gatal.

Gani secepat kilat menyembunyikan spidolnya di balik pantat. Haikal mengucek matanya, bingung melihat Irfan dan Rian yang memalingkan muka sambil bahunya berguncang karena menahan tawa hebat.

"Kenapa kalian? Ada yang lucu?" tanya Haikal polos.

"Enggak, Kal. Muka kamu... lebih segar aja habis bangun," sahut Zul dari kursi depan sambil membekap mulutnya sendiri.

Sementara itu, di barisan tengah, para siswi sedang asyik dengan sesi "Curhat Massal". Siska memimpin pembicaraan, sementara Laras, Maya, Karin, dan Lulu mendengarkan dengan saksama.

"Jadi menurut kalian, si Dimas itu sebenarnya suka nggak sih sama Santi?" tanya Siska dengan nada gosip yang sangat kental.

Karin mengetuk-ngetuk dagunya. "Kayaknya sih suka. Tadi pas makan siang, Dimas sengaja banget kan ngambilin tisu buat Santi, padahal tisunya ada di depan Santi banget."

"Tapi kayaknya Santi lebih asyik ngobrol sama Tio soal kucing," timpal Lulu. "Secara Tio kan punya kucing Persia yang baru lahir, Santi kan pecinta kucing garis keras."

Maya menguap kecil. "Duh, drama cinta kelas kita lebih ribet daripada soal matematika Bu Linda ya. Eh, ngomong-ngomong, kalian bawa pakaian buat api unggun nanti malam kan?"

"Bawa dong! Aku bawa jaket bulu-bulu hadiah dari emakku yang paling anget!" seru Wanda yang tiba-tiba ikut nimbrung dari kursi belakang mereka.

Di sisi lain bus, Doni masih sibuk dengan dunianya. Namun kali ini, ia tidak bermain game sendirian. Ia mengajak Zaki dan Ferry untuk main tebak-tebakan skor pertandingan bola nanti malam.

"Gue berani taruhan, kalau ada TV LED besar di paviliun nanti, skornya pasti 2-1 buat tim kita," ujar Doni yakin.

"Halah, mimpi lo ketinggian, Don! 1-0 aja udah sukur," balas Ferry sambil mengunyah kacang atom.

Zaki tiba-tiba berdiri dan berjalan ke arah Pak Hendra. "Pak, nanti di paviliun ada kolam renangnya nggak? Saya udah bawa celana renang nih!"

Pak Hendra tertawa lebar. "Ada, Zak. Tapi airnya dingin lho, kalau kamu kuat jadi bocah beku sih silakan saja!"

Tawa pecah kembali memenuhi bus. Bu Sarah kemudian berdiri, memegang mic bus. "Anak-anak, dengarkan sebentar. Sambil menunggu kita sampai, bagaimana kalau kita main 'Kesan dan Pesan' selama tiga tahun di sekolah? Tapi versinya yang lucu-lucu saja!"

"Ayo, Bu!" teriak Bimo. "Saya mulai duluan! Kesan saya selama sekolah adalah: Kantin adalah perpustakaan saya, dan perpustakaan adalah tempat tidur saya!"

Semua murid bersorak setuju. "Itu mah kamu doang, Bim!" teriak Nadia.

Olive kemudian melanjutkan, "Kalau kesan saya, saya paling berkesan pas Andre nggak sengaja masuk ke toilet guru karena ngantuk. Wajahnya pas keluar itu lho, pucat banget kayak ketemu hantu!"

"Woi! Itu karena aku beneran kebelet!" bela Andre yang disambut tawa oleh Bu Linda juga.

Satu per satu siswa bercerita. Eko yang biasanya diam, secara mengejutkan memberikan pesan yang sangat menyentuh. "Mungkin saya jarang bicara, tapi saya senang bisa satu kelas dengan kalian. Kalian berisik, tapi kalian udah kayak keluarga ke dua buatku."

Suasana di dalam bus mendadak jadi puitis dan mengharukan selama beberapa menit. Putri dan Dewi sampai mengusap sudut mata mereka. Namun, suasana haru itu segera buyar saat Joko berteriak.

"Woy! Lihat ke depan! Jalannya keren banget!"

Bus kini memasuki jalanan desa yang benar-benar asri. Di kanan-kiri bukan lagi ruko atau rumah warga, melainkan hutan pinus yang berjajar rapi. Udara yang masuk lewat sela-sela jendela (karena AC sempat dimatikan sebentar agar mesin kuat menanjak) terasa sangat dingin dan murni.

"Wah, gila! Ini kayak di luar negeri!" seru Tio sambil mengeluarkan kepalanya sedikit ke jendela, namun segera ditarik oleh Pak Bambang.

"Bahaya, Tio! Jangan keluarin anggota badan," tegur Pak Bambang dengan nada bapak-bapak yang peduli.

Santi menatap pohon-pohon besar itu dengan kagum. "Cantik banget ya. Rasanya tenang banget di sini. Jauh dari polusi Jakarta."

Dimas berjalan ke belakang, menghampiri Qori dan Umar. "Gimana, Qor? Kamu kan yang paling hobi fotografi. Pemandangan kayak gini oke nggak buat dijadiin konten?"

Qori mengangguk sambil sibuk membidikkan kameranya ke arah pepohonan yang bergerak cepat. "Cahayanya pas banget, nanti pas kita sampai, pasti lebih bagus lagi kalau ada pantai."

Bus terus menanjak. Mesinnya menderu keras saat melewati tikungan tajam yang disebut warga lokal sebagai "Tikungan Pencabut Nyawa", namun para siswa tidak tahu nama itu. Mereka hanya merasa sensasi seperti naik roller coaster.

"Wooooooo!" teriak Bimo dan Zul setiap kali bus miring ke kiri atau ke kanan mengikuti kelokan jalan.

"Kalian ini, sudah pada puber masih aja kayak anak TK kalau naik bus," sindir Rani sambil tertawa.

Vina dan Wanda sedang asyik membagikan cokelat batangan kepada teman-temannya. "Ayo, biar nggak lemas. Perjalanan terakhir nih sebelum sampai di 'kerajaan' kita selama tiga hari!"

Yuda mengambil cokelat itu dan langsung melahapnya. "Kerajaan ya? Semoga kasurnya empuk, gue pengen tidur kayak raja."

"Yaelah Yuda, tujuan kita kan mau main ke pantai, bukan malah tidur!" sahut Xander.

Di kursi depan, Bu Sarah sedang melihat Google Maps. "Pak Sopir, setelah jembatan kayu di depan itu, kita belok kiri ya?"

"Betul, Bu. Itu jalan khusus menuju paviliun besar tersebut. Memang agak tersembunyi jalannya," jawab Pak Sopir sambil memutar kemudi dengan lihai.

Jembatan kayu yang mereka lewati berderit pelan saat ban bus melindasnya. Di bawahnya, sebuah sungai kecil dengan batu-batu besar mengalir deras. Airnya begitu bening hingga mereka bisa melihat dasar sungai.

"Lihat! Airnya bening banget! Nanti kita main ke sungai juga yuk!" ajak Putri kepada teman-temannya.

"Setuju!" sahut yang lain.

Suasana sangat positif. Tidak ada sedikitpun aura mencekam. Sinar matahari yang mulai memerah menyinari wajah-wajah muda yang penuh tawa tersebut. Mereka membicarakan tentang menu makan malam nanti, tentang siapa yang akan sekamar dengan siapa, dan tentang rencana jahil yang akan mereka lakukan saat malam api unggun.

Haikal yang baru menyadari kumis di wajahnya setelah melihat pantulan di layar ponsel, langsung berteriak, "GANI!!! GUE BUNUH LO YA!"

Haikal mengejar Gani yang lari ke bagian depan bus, melewati lorong sempit di antara kursi. Mereka berdua berkejaran sambil tertawa, membuat seisi bus makin riuh dengan teriakan-teriakan penyemangat.

"Ayo Haikal, tangkap! Hajar!" teriak Andre memanas-manasi.

"Gani, lari Gan! Jangan sampai ketangkap!" sahut Bimo.

Pak Hendra hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan murid-muridnya. "Sudah, sudah! Duduk semua! Kita sudah hampir sampai!"

Mendengar kata "sampai", semua murid langsung kembali ke kursinya masing-masing dengan tertib. Mereka merapikan tas, memakai sepatu, dan bersiap menyambut petualangan mereka.

Di kejauhan, di atas sebuah bukit yang menjorok ke arah laut, mulai terlihat pucuk bangunan berlantai tiga dengan atap berwarna merah tua yang sudah kusam. Bangunan itu berdiri gagah di tengah rimbunnya pohon-pohon tua yang sudah ada di sana selama ratusan tahun.

"Itu dia!" tunjuk Dimas. "Paviliunnya sudah kelihatan!"

"Wah, gede banget! Gila!" gumam Siska terpesona.
Bus mulai melambat, memasuki sebuah jalan setapak yang ditutupi oleh kerikil-kerikil kecil. Suasana tiba-tiba menjadi sedikit lebih sunyi dibandingkan sebelumnya, hanya suara deburan ombak yang mulai terdengar sayup-sayup dari kejauhan.

"Selamat datang di liburan tak akan terlupakan, IPA 3!" seru Pak Hendra dengan semangat yang meluap-luap.



Other Stories
Autumns Journey

Akhirnya, Henri tiba juga di lantai sepuluh Apartemen Thamrin. Seluruh badannya terasa p ...

Keeper Of Destiny

Kim Rangga Pradipta Sutisna, anak dari ayah Korea dan ibu Sunda, tumbuh di Bandung dengan ...

Bahagiakan Ibu

Jalan raya waktu pagi lumayan ramai. Ibu dengan hati-hati menyetir sepeda motor. Jalan ber ...

Bumi

Seni mencintai terkadang memang menyenangkan, tetapi tak selamanya berada dalam titik mani ...

Dante Fair Tale

Dante, bocah kesepian berusia 9 tahun, membuat perjanjian dengan peri terkurung dalam bola ...

Menantimu

“Belum tidur Zani?” “Belum. Ngak bisa tidur.” “Hehe. Pasti ada yang dipikirin ...

Download Titik & Koma