Bab 1: Sajadah Terakhir Di Tanah Air
Udara Jakarta sore itu terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena polusi yang memenuhi paru-paru kota, melainkan karena rasa sesak yang menggelayuti dada Fatimah. Di dalam kamar berukuran tiga kali empat meter itu, sebuah koper besar berwarna biru dongker tergeletak terbuka di atas lantai semen yang dialasi karpet plastik. Di sampingnya, tumpukan buku, kerudung yang sudah dilipat rapi, dan beberapa potong gamis menunggu untuk dijejalkan masuk.
Fatimah menghela napas panjang. Jemarinya mengusap sampul paspor hijau yang tergeletak di atas meja belajar kayunya yang sudah mulai mengelupas. Di dalamnya, terselip sebuah lembaran berharga: Visa Pelajar Republik Turki.
"Fat, sudah selesai kemas-kemasnya?" Suara lembut Ibu memecah keheningan. Wanita paruh baya itu berdiri di ambang pintu, menyandarkan tubuhnya yang tampak semakin ringkih dimakan usia.
Fatimah menoleh dan tersenyum tipis, jenis senyum yang dipaksakan agar genangan air di matanya tidak tumpah. "Sedikit lagi, Bu. Fatimah bingung, mau bawa kitab Al-Hikam ini atau ditinggal saja?"
Ibu melangkah masuk, duduk di tepi ranjang. "Bawa, Nak. Ilmu itu tidak berat dibawa, justru dia yang akan meringankan bebanmu di negeri orang nanti. Istanbul itu jauh, Fat. Bukan cuma jaraknya, tapi budayanya, udaranya, ujiannya."
Fatimah mendekat, berlutut di depan ibunya, lalu meletakkan kepalanya di pangkuan sang ibu. Inilah posisi favoritnya sejak kecil. Wangi sabun batang dan sisa aroma bumbu dapur di pakaian ibu selalu menjadi penenang paling ampuh bagi jiwanya yang gelisah.
"Fat takut, Bu. Bagaimana kalau Fat tidak kuat? Bagaimana kalau Fat rindu Ibu sampai tidak bisa belajar?" bisik Fatimah lirih.
Tangan ibu hilma yang kasar karena kerja keras mengusap lembut kepala Fatimah yang masih tertutup jilbab rumah. "Allah tidak memanggil yang mampu, Fat. Allah memampukan yang dipanggil. Kamu mendapatkan beasiswa Türkiye Bursları ini bukan karena kebetulan. Ini adalah jawaban dari sujud-sujud panjangmu di sepertiga malam. Menara-menara masjid di Istanbul sudah menunggumu."
Malam terakhir di Jakarta dilewati Fatimah dengan terjaga. Setelah melaksanakan salat Tahajud, ia duduk terdiam di atas sajadah lusuhnya. Ia teringat bagaimana perjuangannya dua tahun terakhir. Sebagai anak seorang janda penjual kue pasar di pinggiran Jakarta, kuliah di luar negeri awalnya terasa seperti mimpi yang terlalu tinggi—bahkan mungkin lancang untuk diimpikan.
Namun, Fatimah adalah pejuang. Ia bekerja paruh waktu sebagai guru mengaji dan penerjemah lepas sambil menjaga nilai IPK-nya tetap sempurna di tingkat sarjana dulu. Dan kini, ia akan berangkat untuk menempuh gelar Magister dalam bidang Arsitektur Islam di Istanbul Technical University.
"Ya Allah," bisiknya dalam doa yang panjang. "Jika perjalanan ini adalah sarana untuk lebih mengenal-Mu melalui keindahan ciptaan-Mu, maka mudahkanlah. Jagalah hatiku agar tidak tertambat pada dunia, melainkan hanya pada-Mu."
Keesokan harinya, Bandara Soekarno-Hatta menjadi saksi perpisahan yang mengharu biru. Sahabat-sahabat Fatimah dari organisasi kampus datang melepasnya. Riuh rendah doa dan pelukan menyertai langkahnya menuju pintu keberangkatan internasional.
"Ingat ya, Fat! Cari pangeran Turki yang saleh, tapi jangan lupa pulang ke Indonesia!" seloroh Sarah, sahabat karibnya, mencoba mencairkan suasana meskipun matanya sendiri sembap.
Fatimah hanya tertawa kecil. "Doakan saja kuliahku lancar, Sar. Soal itu... biarlah Allah yang mengatur skenarionya."
Saat tubuh pesawat Boeing 777 itu mulai meninggalkan landasan pacu, Fatimah menatap keluar jendela. Lampu-lampu Jakarta perlahan mengecil, lalu menghilang di balik gumpalan awan hitam. Di telinganya, ia memasang earphone, mendengarkan murattal surah Ar-Rahman. Sebuah perjalanan baru, di usia 23 tahun, dimulai hari ini.
Penerbangan sebelas jam itu berakhir ketika roda pesawat menyentuh landasan pacu Istanbul Airport. Udara musim gugur yang mulai mendingin menyambut Fatimah saat ia melangkah keluar dari garba rata. Ia merapatkan jaket tebalnya, menghirup aroma udara yang berbeda—segar, tajam, dan asing.
Istanbul adalah kota di mana sejarah berbisik dari setiap sudut jalannya. Kota yang membelah diri di antara Asia dan Eropa, dihubungkan oleh Selat Bosphorus yang legendaris.
Setelah melewati proses imigrasi yang cukup panjang, Fatimah disambut oleh perwakilan mahasiswa Indonesia di sana. Ia dibawa menuju asrama di daerah Uskudar, sisi Asia dari Istanbul. Sepanjang perjalanan di dalam bus, mata Fatimah tidak berhenti berkedip kagum. Ia melihat kubah-kubah masjid raksasa dengan menara-menara lancip yang menusuk langit, kontras dengan gedung-gedung modern dan jembatan gantung yang megah.
"Kita akan melewati Bukit Çamlıca sebentar lagi," ujar Kak Zahra, senior yang menjemputnya. "Di sana ada Masjid Büyük Çamlıca, masjid terbesar di Turki. Menaranya bisa terlihat dari hampir seluruh penjuru kota."
Fatimah menatap ke arah perbukitan hijau di kejauhan. Di puncaknya, berdiri megah sebuah masjid dengan enam menara yang menjulang tinggi, seolah-olah menjadi tiang penyangga langit. Cahaya matahari senja menyepuh bangunan itu dengan warna keemasan. Hati Fatimah bergetar. Ada rasa rindu yang aneh, seolah-olah ia baru saja pulang ke sebuah tempat yang belum pernah ia kunjungi.
Hari-hari pertama di Istanbul dihabiskan Fatimah dengan mengurus administrasi kampus dan menyesuaikan diri dengan bahasa Turki yang terdengar cepat dan bersemangat. “Merhaba”, “Teşekkür ederim”, “Lütfen”—kata-kata itu mulai akrab di lidahnya.
Suatu sore, setelah kelas orientasi berakhir, Fatimah memutuskan untuk mencari ketenangan. Ia menaiki bus menuju Bukit Çamlıca. Ia ingin melihat lebih dekat masjid yang membuatnya terpesona saat pertama kali datang.
Sesampainya di sana, angin kencang menerpa wajahnya. Pemandangan dari bukit itu luar biasa; seluruh Istanbul terhampar di bawahnya. Selat Bosphorus terlihat seperti pita biru yang berkilauan ditimpa cahaya lampu kota yang mulai menyala.
Fatimah melangkah masuk ke area pelataran masjid yang luas. Saat itulah, ia menyadari betapa kecilnya dirinya di hadapan keagungan ciptaan-Nya. Ia mengeluarkan buku sketsanya, mencoba mengabadikan detail ornamen pintu masjid yang sangat rumit dan indah.
Namun, karena angin yang tiba-tiba bertiup kencang, secarik kertas berisi catatan penting kuliahnya yang terselip di buku sketsa terbang tertiup angin.
"Ya Allah!" Fatimah mencoba mengejarnya, namun kertas itu terbang ke arah area taman yang lebih rendah.
Kertas itu mendarat tepat di kaki seorang pria yang sedang berdiri membelakanginya, menatap ke arah jembatan Bosphorus. Pria itu membungkuk, mengambil kertas tersebut, lalu berbalik.
Fatimah terpaku. Pria itu mengenakan setelan kasual namun rapi, dengan syal wol melingkar di lehernya. Wajahnya tipikal pria lokal dengan garis rahang tegas dan mata cokelat yang teduh.
Namun, yang membuat Fatimah terdiam bukan hanya ketampanannya, melainkan aura ketenangan yang terpancar dari wajah pria itu.
"Bu sizin mi?" (Apakah ini milik Anda?) tanya pria itu dengan suara berat yang sopan.
Fatimah tersadar, ia sedikit tergagap. "Evet, teşekkür ederim," jawabnya singkat, sambil menundukkan pandangan.
Pria itu memberikan kertas itu kembali. Sebelum Fatimah beranjak, pria itu melihat buku sketsa yang masih terbuka di tangan Fatimah. "Çiziminiz çok güzel. Mimar mısınız?" (Gambar Anda bagus sekali. Apakah Anda seorang arsitek?)
Fatimah tertegun. Ia mengerti pertanyaannya, tapi belum cukup lancar untuk menjawab panjang lebar. "I... Student. Architecture," jawabnya dalam bahasa Inggris yang kaku.
Pria itu tersenyum kecil—sebuah senyum yang tampak tulus namun misterius. "Hoş geldiniz," (Selamat datang) ucapnya pelan. "Istanbul, kalbi olanlar için bir şehirdir. Umarım kalbiniz burada huzur bulur." (Istanbul adalah kota bagi mereka yang memiliki hati. Semoga hatimu menemukan kedamaian di sini.)
Tanpa menunggu jawaban, pria itu mengangguk hormat lalu berjalan pergi, menghilang di balik pilar-pilar raksasa masjid. Fatimah berdiri mematung, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia tidak tahu siapa pria itu, atau apa arti kata-katanya yang panjang tadi.
Namun, di bawah naungan cahaya dari Menara Çamlıca yang mulai berpijar terang di malam hari, Fatimah merasa bahwa perjalanannya di Turki bukan sekadar tentang mengejar gelar akademik. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang telah dituliskan-Nya di Lauhul Mahfuz, yang kini perlahan mulai terurai.
Fatimah menarik napas dalam, memeluk buku sketsanya erat-erat, dan melangkah masuk ke dalam masjid untuk menunaikan salat Magrib. Di tanah para sufi ini, ia baru saja memulai babak pertama dari sebuah takdir yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Fatimah menghela napas panjang. Jemarinya mengusap sampul paspor hijau yang tergeletak di atas meja belajar kayunya yang sudah mulai mengelupas. Di dalamnya, terselip sebuah lembaran berharga: Visa Pelajar Republik Turki.
"Fat, sudah selesai kemas-kemasnya?" Suara lembut Ibu memecah keheningan. Wanita paruh baya itu berdiri di ambang pintu, menyandarkan tubuhnya yang tampak semakin ringkih dimakan usia.
Fatimah menoleh dan tersenyum tipis, jenis senyum yang dipaksakan agar genangan air di matanya tidak tumpah. "Sedikit lagi, Bu. Fatimah bingung, mau bawa kitab Al-Hikam ini atau ditinggal saja?"
Ibu melangkah masuk, duduk di tepi ranjang. "Bawa, Nak. Ilmu itu tidak berat dibawa, justru dia yang akan meringankan bebanmu di negeri orang nanti. Istanbul itu jauh, Fat. Bukan cuma jaraknya, tapi budayanya, udaranya, ujiannya."
Fatimah mendekat, berlutut di depan ibunya, lalu meletakkan kepalanya di pangkuan sang ibu. Inilah posisi favoritnya sejak kecil. Wangi sabun batang dan sisa aroma bumbu dapur di pakaian ibu selalu menjadi penenang paling ampuh bagi jiwanya yang gelisah.
"Fat takut, Bu. Bagaimana kalau Fat tidak kuat? Bagaimana kalau Fat rindu Ibu sampai tidak bisa belajar?" bisik Fatimah lirih.
Tangan ibu hilma yang kasar karena kerja keras mengusap lembut kepala Fatimah yang masih tertutup jilbab rumah. "Allah tidak memanggil yang mampu, Fat. Allah memampukan yang dipanggil. Kamu mendapatkan beasiswa Türkiye Bursları ini bukan karena kebetulan. Ini adalah jawaban dari sujud-sujud panjangmu di sepertiga malam. Menara-menara masjid di Istanbul sudah menunggumu."
Malam terakhir di Jakarta dilewati Fatimah dengan terjaga. Setelah melaksanakan salat Tahajud, ia duduk terdiam di atas sajadah lusuhnya. Ia teringat bagaimana perjuangannya dua tahun terakhir. Sebagai anak seorang janda penjual kue pasar di pinggiran Jakarta, kuliah di luar negeri awalnya terasa seperti mimpi yang terlalu tinggi—bahkan mungkin lancang untuk diimpikan.
Namun, Fatimah adalah pejuang. Ia bekerja paruh waktu sebagai guru mengaji dan penerjemah lepas sambil menjaga nilai IPK-nya tetap sempurna di tingkat sarjana dulu. Dan kini, ia akan berangkat untuk menempuh gelar Magister dalam bidang Arsitektur Islam di Istanbul Technical University.
"Ya Allah," bisiknya dalam doa yang panjang. "Jika perjalanan ini adalah sarana untuk lebih mengenal-Mu melalui keindahan ciptaan-Mu, maka mudahkanlah. Jagalah hatiku agar tidak tertambat pada dunia, melainkan hanya pada-Mu."
Keesokan harinya, Bandara Soekarno-Hatta menjadi saksi perpisahan yang mengharu biru. Sahabat-sahabat Fatimah dari organisasi kampus datang melepasnya. Riuh rendah doa dan pelukan menyertai langkahnya menuju pintu keberangkatan internasional.
"Ingat ya, Fat! Cari pangeran Turki yang saleh, tapi jangan lupa pulang ke Indonesia!" seloroh Sarah, sahabat karibnya, mencoba mencairkan suasana meskipun matanya sendiri sembap.
Fatimah hanya tertawa kecil. "Doakan saja kuliahku lancar, Sar. Soal itu... biarlah Allah yang mengatur skenarionya."
Saat tubuh pesawat Boeing 777 itu mulai meninggalkan landasan pacu, Fatimah menatap keluar jendela. Lampu-lampu Jakarta perlahan mengecil, lalu menghilang di balik gumpalan awan hitam. Di telinganya, ia memasang earphone, mendengarkan murattal surah Ar-Rahman. Sebuah perjalanan baru, di usia 23 tahun, dimulai hari ini.
Penerbangan sebelas jam itu berakhir ketika roda pesawat menyentuh landasan pacu Istanbul Airport. Udara musim gugur yang mulai mendingin menyambut Fatimah saat ia melangkah keluar dari garba rata. Ia merapatkan jaket tebalnya, menghirup aroma udara yang berbeda—segar, tajam, dan asing.
Istanbul adalah kota di mana sejarah berbisik dari setiap sudut jalannya. Kota yang membelah diri di antara Asia dan Eropa, dihubungkan oleh Selat Bosphorus yang legendaris.
Setelah melewati proses imigrasi yang cukup panjang, Fatimah disambut oleh perwakilan mahasiswa Indonesia di sana. Ia dibawa menuju asrama di daerah Uskudar, sisi Asia dari Istanbul. Sepanjang perjalanan di dalam bus, mata Fatimah tidak berhenti berkedip kagum. Ia melihat kubah-kubah masjid raksasa dengan menara-menara lancip yang menusuk langit, kontras dengan gedung-gedung modern dan jembatan gantung yang megah.
"Kita akan melewati Bukit Çamlıca sebentar lagi," ujar Kak Zahra, senior yang menjemputnya. "Di sana ada Masjid Büyük Çamlıca, masjid terbesar di Turki. Menaranya bisa terlihat dari hampir seluruh penjuru kota."
Fatimah menatap ke arah perbukitan hijau di kejauhan. Di puncaknya, berdiri megah sebuah masjid dengan enam menara yang menjulang tinggi, seolah-olah menjadi tiang penyangga langit. Cahaya matahari senja menyepuh bangunan itu dengan warna keemasan. Hati Fatimah bergetar. Ada rasa rindu yang aneh, seolah-olah ia baru saja pulang ke sebuah tempat yang belum pernah ia kunjungi.
Hari-hari pertama di Istanbul dihabiskan Fatimah dengan mengurus administrasi kampus dan menyesuaikan diri dengan bahasa Turki yang terdengar cepat dan bersemangat. “Merhaba”, “Teşekkür ederim”, “Lütfen”—kata-kata itu mulai akrab di lidahnya.
Suatu sore, setelah kelas orientasi berakhir, Fatimah memutuskan untuk mencari ketenangan. Ia menaiki bus menuju Bukit Çamlıca. Ia ingin melihat lebih dekat masjid yang membuatnya terpesona saat pertama kali datang.
Sesampainya di sana, angin kencang menerpa wajahnya. Pemandangan dari bukit itu luar biasa; seluruh Istanbul terhampar di bawahnya. Selat Bosphorus terlihat seperti pita biru yang berkilauan ditimpa cahaya lampu kota yang mulai menyala.
Fatimah melangkah masuk ke area pelataran masjid yang luas. Saat itulah, ia menyadari betapa kecilnya dirinya di hadapan keagungan ciptaan-Nya. Ia mengeluarkan buku sketsanya, mencoba mengabadikan detail ornamen pintu masjid yang sangat rumit dan indah.
Namun, karena angin yang tiba-tiba bertiup kencang, secarik kertas berisi catatan penting kuliahnya yang terselip di buku sketsa terbang tertiup angin.
"Ya Allah!" Fatimah mencoba mengejarnya, namun kertas itu terbang ke arah area taman yang lebih rendah.
Kertas itu mendarat tepat di kaki seorang pria yang sedang berdiri membelakanginya, menatap ke arah jembatan Bosphorus. Pria itu membungkuk, mengambil kertas tersebut, lalu berbalik.
Fatimah terpaku. Pria itu mengenakan setelan kasual namun rapi, dengan syal wol melingkar di lehernya. Wajahnya tipikal pria lokal dengan garis rahang tegas dan mata cokelat yang teduh.
Namun, yang membuat Fatimah terdiam bukan hanya ketampanannya, melainkan aura ketenangan yang terpancar dari wajah pria itu.
"Bu sizin mi?" (Apakah ini milik Anda?) tanya pria itu dengan suara berat yang sopan.
Fatimah tersadar, ia sedikit tergagap. "Evet, teşekkür ederim," jawabnya singkat, sambil menundukkan pandangan.
Pria itu memberikan kertas itu kembali. Sebelum Fatimah beranjak, pria itu melihat buku sketsa yang masih terbuka di tangan Fatimah. "Çiziminiz çok güzel. Mimar mısınız?" (Gambar Anda bagus sekali. Apakah Anda seorang arsitek?)
Fatimah tertegun. Ia mengerti pertanyaannya, tapi belum cukup lancar untuk menjawab panjang lebar. "I... Student. Architecture," jawabnya dalam bahasa Inggris yang kaku.
Pria itu tersenyum kecil—sebuah senyum yang tampak tulus namun misterius. "Hoş geldiniz," (Selamat datang) ucapnya pelan. "Istanbul, kalbi olanlar için bir şehirdir. Umarım kalbiniz burada huzur bulur." (Istanbul adalah kota bagi mereka yang memiliki hati. Semoga hatimu menemukan kedamaian di sini.)
Tanpa menunggu jawaban, pria itu mengangguk hormat lalu berjalan pergi, menghilang di balik pilar-pilar raksasa masjid. Fatimah berdiri mematung, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia tidak tahu siapa pria itu, atau apa arti kata-katanya yang panjang tadi.
Namun, di bawah naungan cahaya dari Menara Çamlıca yang mulai berpijar terang di malam hari, Fatimah merasa bahwa perjalanannya di Turki bukan sekadar tentang mengejar gelar akademik. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang telah dituliskan-Nya di Lauhul Mahfuz, yang kini perlahan mulai terurai.
Fatimah menarik napas dalam, memeluk buku sketsanya erat-erat, dan melangkah masuk ke dalam masjid untuk menunaikan salat Magrib. Di tanah para sufi ini, ia baru saja memulai babak pertama dari sebuah takdir yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Other Stories
Perpustakaan Berdarah
Sita terbayang ketika Papa marah padanya karena memutuskan masuk Fakultas Desain Komunikas ...
Tessss
pengaplikasian doang ...
Just Open Your Heart
Terkutuk cinta itu! Rasanya menyakitkan bukan karena ditolak, tapi mencintai sepihak dan d ...
Mereka Yang Tak Terlihat
Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...
Rembulan Di Mata Syua
Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek s ...