Bab 5: Rahasia Di Balik Manuskrip Tua
Pagi itu, Istanbul dibasuh oleh gerimis tipis yang disebut warga lokal sebagai bereket atau berkah. Fatimah berdiri di depan gerbang asramanya, mengenakan gamis berwarna cokelat muda dipadukan dengan jilbab hitam yang senada dengan tas ranselnya. Sesuai janjinya, sebuah mobil Volvo tua berhenti tepat pukul delapan.
Emir Arslan turun dari mobil, kali ini tanpa helm proyek. Ia tampak lebih santai dengan jaket harrington berwarna biru gelap. Matanya melirik kaki Fatimah sejenak. "Masih bengkak?"
"Sudah jauh lebih baik, Bey. Salepnya sangat manjur," jawab Fatimah sambil tersenyum tulus.
Emir hanya mengangguk singkat, seolah ingin menyembunyikan rasa puasnya karena bantuannya berguna. "Ayo. Perpustakaan Suleymaniye tidak akan menunggu kita, dan jika kita terlambat, kursi di dekat jendela akan diambil orang."
Perjalanan menuju distrik Fatih kali ini terasa lebih cair. Emir mulai bercerita tentang sejarah distrik-distrik yang mereka lewati. Fatimah mendengarkan dengan saksama, sesekali mencatat hal-hal menarik di buku kecilnya. Ia menyadari satu hal: Emir adalah ensiklopedia berjalan tentang Istanbul.
Perpustakaan Suleymaniye bukan sekadar tempat menyimpan buku. Ia adalah bagian dari kompleks masjid yang dibangun oleh Sultan Suleyman Al-Qanuni. Aroma kertas tua, kulit penjilid buku, dan debu sejarah yang khas menyambut mereka saat melangkah masuk.
Emir membawa Fatimah ke sebuah meja kayu panjang yang menghadap ke taman dalam. Ia meletakkan beberapa jilid buku besar dan gulungan kertas yang tampak sangat rapuh.
"Ini adalah catatan asisten Mimar Sinan tentang pembangunan kubah-kubah di semenanjung bersejarah," Emir berbisik, suaranya merendah mengikuti etika perpustakaan. "Semuanya ditulis dalam bahasa Ottoman—campuran bahasa Turki, Arab, dan Persia. Kau tidak akan bisa membacanya tanpa bantuan."
Fatimah mendekat, memperhatikan aksara Arab yang meliuk-liuk indah namun sulit dipahami maknanya secara tekstual bagi orang awam. Emir mulai membacakan baris demi baris, menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris yang lancar untuk Fatimah.
"Di sini tertulis," Emir menunjuk satu baris dengan ujung jarinya yang panjang, "bahwa setiap batu yang diletakkan di menara harus dibarengi dengan zikir kepada Al-Latif. Itulah sebabnya bangunan ini terasa tenang. Karena ia tidak hanya dibangun dengan semen, tapi dengan napas ibadah."
Fatimah terpesona. "Arsitektur yang lahir dari spiritualitas. Di Indonesia, kami punya Borobudur atau masjid-masjid kuno di Demak yang juga punya filosofi serupa, tapi mendengarnya langsung dari catatan abad ke-16 ini... rasanya seperti mendengar sang arsitek bicara langsung pada kita."
Emir menatap Fatimah. Untuk pertama kalinya, tatapan matanya tidak lagi menghakimi atau dingin. Ada binar kekaguman yang samar. "Kau punya cara pandang yang jarang dimiliki mahasiswa sekarang, Fatimah. Kebanyakan dari mereka hanya peduli pada estetika untuk diunggah di media sosial."
Beberapa jam berlalu tanpa terasa. Saat mereka sedang sibuk membandingkan sketsa akustik, tangan mereka secara tidak sengaja bersentuhan di atas selembar peta kuno.
Fatimah seperti tersengat listrik kecil. Ia segera menarik tangannya dan membetulkan posisi duduknya, wajahnya merona merah. "Maaf, Bey."
Emir berdehem, tampak sedikit salah tingkah—sebuah pemandangan langka. Ia menutup buku besarnya sejenak. "Fatimah, aku ingin bertanya sesuatu. Kenapa kau memilih Istanbul? Dengan kualifikasimu, kau bisa saja ke London atau Harvard."
Fatimah terdiam sejenak, menatap ke arah taman di luar jendela di mana seekor kucing Istanbul sedang meringkuk di bawah pohon zaitun. "Ibu saya selalu bilang, ilmu yang paling berkah adalah ilmu yang mendekatkan kita pada sejarah kejayaan Islam. Saya ingin belajar dari yang terbaik, dan bagi saya, Istanbul adalah puncaknya. Selain itu..."
"Selain itu apa?"
"Saya selalu merasa ada yang memanggil saya ke sini. Seperti sebuah doa yang belum selesai," Fatimah menunduk.
Emir terdiam cukup lama. Ia memutar-mutar pena di tangannya. "Doa yang belum selesai, ya? Aku juga pernah merasakan itu. Tapi bagiku, Istanbul terkadang terasa seperti penjara yang sangat indah."
Fatimah memberanikan diri menatap mata Emir. "Kenapa Anda bilang begitu?"
Emir menghela napas panjang. Ia tampak ragu, namun lingkungan perpustakaan yang sunyi seolah memberinya keberanian untuk membuka sedikit celah pada dinding hatinya. "Keluargaku dulu tinggal di Bursa. Saat gempa besar terjadi tahun 1999, aku kehilangan segalanya. Ayah, Ibu, dan adik perempuanku. Aku selamat karena saat itu aku sedang berada di luar rumah untuk membeli roti."
Fatimah menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca. "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un... saya tidak tahu, Emir Bey. Saya minta maaf karena bertanya."
"Tidak apa-apa. Sudah lama sekali," Emir tersenyum pahit. "Aku pindah ke Istanbul, diasuh oleh paman yang seorang kontraktor. Itulah sebabnya aku menjadi arsitek. Aku ingin membangun bangunan yang tidak akan menimbun orang-orang yang kucintai lagi. Aku terobsesi pada kekuatan fondasi karena aku tahu rasanya kehilangan segalanya dalam hitungan detik."
Kini Fatimah mengerti. Amarah Emir saat ia melihat Fatimah dalam bahaya di lokasi proyek kemarin bukan karena ia galak, melainkan karena ia trauma. Ia tidak ingin melihat "kehilangan" lagi di depan matanya.
"Anda tidak sendirian, Emir Bey," ucap Fatimah lembut. "Allah menyelamatkan Anda karena Anda punya tugas besar. Menjaga warisan ini... itu adalah tugas yang mulia."
Emir menatap Fatimah dalam-dalam. "Baru kali ini ada yang mengatakan itu padaku. Biasanya orang-orang hanya memuji betapa hebatnya karierku."
Keheningan emosional itu terpecah ketika ponsel Emir bergetar di atas meja. Ia melihat layarnya dan ekspresinya kembali mengeras.
"Aku harus mengangkat ini. Tunggu di sini," ujarnya pendek.
Emir berjalan keluar menuju koridor. Fatimah yang merasa penasaran tanpa sengaja melihat nama di layar ponsel Emir sebelum ia pergi: "Melisa". Nama yang terdengar sangat feminin dan lokal.
Dari balik jendela kaca, Fatimah bisa melihat Emir berbicara dengan nada yang cukup tegang dengan seseorang di telepon. Tak lama kemudian, seorang wanita cantik dengan rambut pirang tergerai dan pakaian yang sangat modis—sangat kontras dengan lingkungan perpustakaan—muncul di ujung koridor dan langsung menghampiri Emir.
Wanita itu tampak ingin memegang lengan Emir, namun Emir menghindar dengan halus. Mereka terlibat dalam pembicaraan serius yang tidak bisa didengar Fatimah. Hati Fatimah tiba-tiba terasa mencelos. Ada perasaan tidak nyaman yang asing merayap di dadanya. Siapa wanita itu? Apakah dia bagian dari masa lalu Emir yang belum selesai?
Fatimah segera menundukkan kepala, kembali menatap manuskrip Ottoman di depannya. Tiba-tiba, aksara-aksara indah itu tampak buram. Ia tersadar bahwa ia baru saja melakukan kesalahan besar: ia membiarkan hatinya mulai tertarik pada sebuah misteri yang mungkin saja sudah dimiliki oleh orang lain.
Saat Emir kembali ke meja, suasana di antara mereka sudah berubah. Emir tampak terburu-buru dan pikirannya bercabang.
"Fatimah, ada urusan mendesak yang harus kuselesaikan. Aku akan mengantarmu ke halte bus terdekat, apa kau keberatan?"
"Tidak, Bey. Tidak apa-apa. Saya bisa pulang sendiri," jawab Fatimah dengan nada yang lebih datar dari sebelumnya.
Di dalam mobil, keheningan kembali menyergap. Fatimah tidak lagi bertanya tentang sejarah, dan Emir tidak lagi bercerita. Sebelum turun, Emir menatap Fatimah, menyadari ada perubahan sikap pada gadis itu.
"Fatimah, soal wanita tadi..."
"Anda tidak perlu menjelaskan apa pun pada saya, Bey. Saya hanya mahasiswa Anda," potong Fatimah dengan senyum profesional yang paling kuat yang bisa ia buat.
Emir tampak ingin mengatakan sesuatu, namun ia mengurungkannya. "Baiklah. Sampai jumpa di kampus lusa. Jaga kakimu."
Fatimah turun dan berjalan menuju halte. Angin sore Istanbul terasa lebih dingin dari biasanya. Ia merapatkan jaketnya, teringat pada Menara Çamlıca yang ia lihat setiap malam. Ia menyadari bahwa perjalanannya di sini tidak akan semudah mencatat sejarah. Ada hati yang harus ia jaga, dan ada batas-batas yang tidak boleh ia langgar.
Satu hal yang ia tahu: Istanbul baru saja memberinya satu lagi pelajaran penting. Bahwa dalam arsitektur maupun cinta, tanpa fondasi yang jelas, segalanya bisa runtuh dalam sekejap.
Emir Arslan turun dari mobil, kali ini tanpa helm proyek. Ia tampak lebih santai dengan jaket harrington berwarna biru gelap. Matanya melirik kaki Fatimah sejenak. "Masih bengkak?"
"Sudah jauh lebih baik, Bey. Salepnya sangat manjur," jawab Fatimah sambil tersenyum tulus.
Emir hanya mengangguk singkat, seolah ingin menyembunyikan rasa puasnya karena bantuannya berguna. "Ayo. Perpustakaan Suleymaniye tidak akan menunggu kita, dan jika kita terlambat, kursi di dekat jendela akan diambil orang."
Perjalanan menuju distrik Fatih kali ini terasa lebih cair. Emir mulai bercerita tentang sejarah distrik-distrik yang mereka lewati. Fatimah mendengarkan dengan saksama, sesekali mencatat hal-hal menarik di buku kecilnya. Ia menyadari satu hal: Emir adalah ensiklopedia berjalan tentang Istanbul.
Perpustakaan Suleymaniye bukan sekadar tempat menyimpan buku. Ia adalah bagian dari kompleks masjid yang dibangun oleh Sultan Suleyman Al-Qanuni. Aroma kertas tua, kulit penjilid buku, dan debu sejarah yang khas menyambut mereka saat melangkah masuk.
Emir membawa Fatimah ke sebuah meja kayu panjang yang menghadap ke taman dalam. Ia meletakkan beberapa jilid buku besar dan gulungan kertas yang tampak sangat rapuh.
"Ini adalah catatan asisten Mimar Sinan tentang pembangunan kubah-kubah di semenanjung bersejarah," Emir berbisik, suaranya merendah mengikuti etika perpustakaan. "Semuanya ditulis dalam bahasa Ottoman—campuran bahasa Turki, Arab, dan Persia. Kau tidak akan bisa membacanya tanpa bantuan."
Fatimah mendekat, memperhatikan aksara Arab yang meliuk-liuk indah namun sulit dipahami maknanya secara tekstual bagi orang awam. Emir mulai membacakan baris demi baris, menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris yang lancar untuk Fatimah.
"Di sini tertulis," Emir menunjuk satu baris dengan ujung jarinya yang panjang, "bahwa setiap batu yang diletakkan di menara harus dibarengi dengan zikir kepada Al-Latif. Itulah sebabnya bangunan ini terasa tenang. Karena ia tidak hanya dibangun dengan semen, tapi dengan napas ibadah."
Fatimah terpesona. "Arsitektur yang lahir dari spiritualitas. Di Indonesia, kami punya Borobudur atau masjid-masjid kuno di Demak yang juga punya filosofi serupa, tapi mendengarnya langsung dari catatan abad ke-16 ini... rasanya seperti mendengar sang arsitek bicara langsung pada kita."
Emir menatap Fatimah. Untuk pertama kalinya, tatapan matanya tidak lagi menghakimi atau dingin. Ada binar kekaguman yang samar. "Kau punya cara pandang yang jarang dimiliki mahasiswa sekarang, Fatimah. Kebanyakan dari mereka hanya peduli pada estetika untuk diunggah di media sosial."
Beberapa jam berlalu tanpa terasa. Saat mereka sedang sibuk membandingkan sketsa akustik, tangan mereka secara tidak sengaja bersentuhan di atas selembar peta kuno.
Fatimah seperti tersengat listrik kecil. Ia segera menarik tangannya dan membetulkan posisi duduknya, wajahnya merona merah. "Maaf, Bey."
Emir berdehem, tampak sedikit salah tingkah—sebuah pemandangan langka. Ia menutup buku besarnya sejenak. "Fatimah, aku ingin bertanya sesuatu. Kenapa kau memilih Istanbul? Dengan kualifikasimu, kau bisa saja ke London atau Harvard."
Fatimah terdiam sejenak, menatap ke arah taman di luar jendela di mana seekor kucing Istanbul sedang meringkuk di bawah pohon zaitun. "Ibu saya selalu bilang, ilmu yang paling berkah adalah ilmu yang mendekatkan kita pada sejarah kejayaan Islam. Saya ingin belajar dari yang terbaik, dan bagi saya, Istanbul adalah puncaknya. Selain itu..."
"Selain itu apa?"
"Saya selalu merasa ada yang memanggil saya ke sini. Seperti sebuah doa yang belum selesai," Fatimah menunduk.
Emir terdiam cukup lama. Ia memutar-mutar pena di tangannya. "Doa yang belum selesai, ya? Aku juga pernah merasakan itu. Tapi bagiku, Istanbul terkadang terasa seperti penjara yang sangat indah."
Fatimah memberanikan diri menatap mata Emir. "Kenapa Anda bilang begitu?"
Emir menghela napas panjang. Ia tampak ragu, namun lingkungan perpustakaan yang sunyi seolah memberinya keberanian untuk membuka sedikit celah pada dinding hatinya. "Keluargaku dulu tinggal di Bursa. Saat gempa besar terjadi tahun 1999, aku kehilangan segalanya. Ayah, Ibu, dan adik perempuanku. Aku selamat karena saat itu aku sedang berada di luar rumah untuk membeli roti."
Fatimah menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca. "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un... saya tidak tahu, Emir Bey. Saya minta maaf karena bertanya."
"Tidak apa-apa. Sudah lama sekali," Emir tersenyum pahit. "Aku pindah ke Istanbul, diasuh oleh paman yang seorang kontraktor. Itulah sebabnya aku menjadi arsitek. Aku ingin membangun bangunan yang tidak akan menimbun orang-orang yang kucintai lagi. Aku terobsesi pada kekuatan fondasi karena aku tahu rasanya kehilangan segalanya dalam hitungan detik."
Kini Fatimah mengerti. Amarah Emir saat ia melihat Fatimah dalam bahaya di lokasi proyek kemarin bukan karena ia galak, melainkan karena ia trauma. Ia tidak ingin melihat "kehilangan" lagi di depan matanya.
"Anda tidak sendirian, Emir Bey," ucap Fatimah lembut. "Allah menyelamatkan Anda karena Anda punya tugas besar. Menjaga warisan ini... itu adalah tugas yang mulia."
Emir menatap Fatimah dalam-dalam. "Baru kali ini ada yang mengatakan itu padaku. Biasanya orang-orang hanya memuji betapa hebatnya karierku."
Keheningan emosional itu terpecah ketika ponsel Emir bergetar di atas meja. Ia melihat layarnya dan ekspresinya kembali mengeras.
"Aku harus mengangkat ini. Tunggu di sini," ujarnya pendek.
Emir berjalan keluar menuju koridor. Fatimah yang merasa penasaran tanpa sengaja melihat nama di layar ponsel Emir sebelum ia pergi: "Melisa". Nama yang terdengar sangat feminin dan lokal.
Dari balik jendela kaca, Fatimah bisa melihat Emir berbicara dengan nada yang cukup tegang dengan seseorang di telepon. Tak lama kemudian, seorang wanita cantik dengan rambut pirang tergerai dan pakaian yang sangat modis—sangat kontras dengan lingkungan perpustakaan—muncul di ujung koridor dan langsung menghampiri Emir.
Wanita itu tampak ingin memegang lengan Emir, namun Emir menghindar dengan halus. Mereka terlibat dalam pembicaraan serius yang tidak bisa didengar Fatimah. Hati Fatimah tiba-tiba terasa mencelos. Ada perasaan tidak nyaman yang asing merayap di dadanya. Siapa wanita itu? Apakah dia bagian dari masa lalu Emir yang belum selesai?
Fatimah segera menundukkan kepala, kembali menatap manuskrip Ottoman di depannya. Tiba-tiba, aksara-aksara indah itu tampak buram. Ia tersadar bahwa ia baru saja melakukan kesalahan besar: ia membiarkan hatinya mulai tertarik pada sebuah misteri yang mungkin saja sudah dimiliki oleh orang lain.
Saat Emir kembali ke meja, suasana di antara mereka sudah berubah. Emir tampak terburu-buru dan pikirannya bercabang.
"Fatimah, ada urusan mendesak yang harus kuselesaikan. Aku akan mengantarmu ke halte bus terdekat, apa kau keberatan?"
"Tidak, Bey. Tidak apa-apa. Saya bisa pulang sendiri," jawab Fatimah dengan nada yang lebih datar dari sebelumnya.
Di dalam mobil, keheningan kembali menyergap. Fatimah tidak lagi bertanya tentang sejarah, dan Emir tidak lagi bercerita. Sebelum turun, Emir menatap Fatimah, menyadari ada perubahan sikap pada gadis itu.
"Fatimah, soal wanita tadi..."
"Anda tidak perlu menjelaskan apa pun pada saya, Bey. Saya hanya mahasiswa Anda," potong Fatimah dengan senyum profesional yang paling kuat yang bisa ia buat.
Emir tampak ingin mengatakan sesuatu, namun ia mengurungkannya. "Baiklah. Sampai jumpa di kampus lusa. Jaga kakimu."
Fatimah turun dan berjalan menuju halte. Angin sore Istanbul terasa lebih dingin dari biasanya. Ia merapatkan jaketnya, teringat pada Menara Çamlıca yang ia lihat setiap malam. Ia menyadari bahwa perjalanannya di sini tidak akan semudah mencatat sejarah. Ada hati yang harus ia jaga, dan ada batas-batas yang tidak boleh ia langgar.
Satu hal yang ia tahu: Istanbul baru saja memberinya satu lagi pelajaran penting. Bahwa dalam arsitektur maupun cinta, tanpa fondasi yang jelas, segalanya bisa runtuh dalam sekejap.
Other Stories
Mozarella (bukan Cinderella)
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseora ...
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Hidup Sebatang Rokok
Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...
Kesempurnaan Cintamu
Mungkin ini terakhir kali aku menggoreskan pena Sebab setelah ini aku akan menggoreskan p ...
Bad Close Friend
Denta, siswa SMA 91 Cirebon yang urakan dan suka tawuran, tak pernah merasa cocok berteman ...
Kucing Emas
Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...