Hompimpa Alaium Gambreng!

Reads
96
Votes
0
Parts
7
Vote
Report
Hompimpa alaium gambreng!
Hompimpa Alaium Gambreng!
Penulis Tasamsyah

1. Mantra Suit & Aturan Permainan

Mantra suit permainan petak umpet telah mereka ucapkan. Namun, belum juga menemukan siapa yang kalah. Barang siapa yang kalah, maka harus jadi penjaga pos dan mencari pemain yang bersembunyi. Sementara itu, mereka sudah mengumpulkan satu buah kado masing-masing sebagai syarat untuk mengikuti permainan.

“Hompimpa alaium gambreng!” Tangan Jali, Banu, dan Seli telungkup. Sementara tangan Jibon, Nala, dan Mira telentang.

“Yah, terus aja begini. Kayaknya kita harus ganti permainan,” ujar Jali sambil menghela napas.

“Yaelah, belum juga mau mulai. Enggak usah, kita udah telanjur bilang mantra suitnya. Jadi, mari kita lanjutkan saja kawan-kawanku,” tegas Seli.

“Tapi, boleh juga tuh. Gimana kalau hari ini kita main bentengan atau ular naga?” usul Mira antusias.

“Mending gobak sodor atau galah asin. Tentunya lebih seru!” sahut Jibon semangat.

“Ssstttt! Bener tuh kata Seli. Kita udah terlanjur bilang mantra suitnya. Lagi pula, bukannya lebih seru main petak umpet dibanding permainan yang lain, kan?” kata Banu meyakinkan.

“Setuju! Udah, kita lanjutin aja permainan ini,” sahut Nala mantap.

“Ah, sudahlah. Main apa saja yang penting kita senang-senang selama liburan di sini. Hitung-hitung nostalgia juga main permainan masa kecil, ya kan?” ujar Banu dengan nada sendu, mengenang masa-masa kecilnya.

“Gimana? Udah, ayo!” seru Seli sambil menatap mata kelima temannya dan kembali mengajak mereka mengucap mantra, “Hompimpa alaium gambreng!” Setelah beberapa kali gambreng, akhirnya ketahuan siapa yang kalah.

“Nah, akhirnya Jibon jaga pos. Bentar. Kita bacakan peraturannya.” Seli mengambil sebuah kertas di saku kiri celananya lalu membacakannya, “Peraturan pertama, penjaga pos harus menutup kedua matanya dengan tangannya sendiri sambil menghitung 1 sampai 25 secara pelan di dalam lingkaran pos jaga yang sudah dibuat. Kedua, pemain tidak boleh sembunyi melewati batas area yang sudah ditentukan. Ya, lumayan jauh juga sih. Mungkin sampai vila kosong dengan cat berwarna merah itu. Kalau sampai ada yang melewati batas, maka akan dianggap gugur dan langsung jadi penjaga pos. Ketiga, barang siapa yang disebutkan nama dan tempat persembunyiannya dengan benar oleh penjaga pos, maka harus keluar dari tempat persembunyian itu sendiri. Jadi, penjaga pos harus sebut secara lantang dan lengkap identitas lokasi sama tempat persembunyiannya diiring kata ‘Mati’. Misalnya begini: ketika Jibon melintasi pohon yang dipenuhi ilalang lalu melihat Jali bersembunyi di sana, Jibon harus bilang ‘Jali di pohon penuh ilalang’. Setelah itu lari sekencang-kencangnya menuju pos dan ketika sudah sampai pos jaga, Jibon harus bilang ‘Mati!’ sambil menginjak lingkaran pos jaga yang artinya Jali mati di tangan Jibon sebagai penjaga pos. Tapi kalau Jali berhasil lebih dulu menginjak tanah pos sambil berkata ‘Hidup’, maka permainan harus diulang kembali, karena Jali berhasil nyolong pos. Jibon masih tetap menjadi penjaga pos dan pemain boleh mengganti tempat persembunyiannya. Keempat, barang siapa yang ketahuan atau dimatikan pertama kali, maka dia akan jadi penjaga pos berikutnya. Tapi, itu pun jika tidak ada yang berhasil nyolong pos. Jadi, Jibon sebagai penjaga pos harus berhasil mematikan semua pemain. Kelima, jika penjaga pos berhasil mematikan semua pemain, maka harus menebak di antara semua pemain siapa yang memegang kertas yang satu ini.” Jelas Seli menyampaikan segala peraturan sembari mengambil kertas kecil di saku kanan celananya dan memperlihatkannya ke semua temannya. Kertas itu bertuliskan “Dari Tuhan Kembali ke Tuhan, Ayo Bermain!” yang di mana tulisan ini merupakan arti dari mantra suit permainan kali ini.

“Oke, siap!” seru Jibon dengan semangat, menggulung lengan bajunya seolah siap menghadapi tantangan.

“Sebentar, belum selesai,” lanjut Seli dengan nada serius. “Kalau penjaga pos berhasil mematikan semua pemain dan berhasil menebak siapa yang memegang kertas ini, maka penjaga pos berhak mendapatkan satu buah hadiah kado dan bebas pilih. Jadi, semoga kamu beruntung ya, Bon. Semangat!”

Jibon pun mulai menghitung angka 1 sampai 25 dengan perlahan. Sedangkan para pemain sudah menentukan siapa yang memegang kertas kecil itu dan langsung berlarian mencari tempat persembunyian. Namun, baru saja dua menit permainan berjalan, Jibon sudah menemukan satu tempat persembunyian pemain.

“Banu di belakang gundukan kayu bakar!” Teriak Jibon dengan lantang sambil tergesa berlari menuju pos dan akhirnya Banu mati di tangan Jibon.

Jibon kembali mencari pemain yang lainnya. Kedua matanya mengitari lingkungan sekitar. Ia berjalan perlahan agar langkahnya tak terdengar oleh para pemain.

“Sepertinya mereka masuk vila,” batin Jibon.

Perlahan, ia mulai memasuki vila dan memeriksa setiap sudut ruang tamu. Tak ada siapa-siapa di sana.

***





Other Stories
Seratus Juta Untuk Sebuah Restu

Sudah tiga tahun Nadia tidak pulang saat libur lebaran. Bukan karena sibuk. Bukan karena l ...

Hellend ( Noni Belanda )

Sudah sering Pak Kasman bermimpi tentang hantu perempuan bergaun zaman kolonial yang terus ...

Nala

Nala tumbuh dalam keluarga sederhana yang perlahan berubah sejak kepergian Ayahnya. Gadis ...

Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir

Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...

Eksperimen Kuasa

Sepuluh hari di pulau terpencil. Sekelompok mahasiswa-aktivis antikorupsi dibagi secara ac ...

Free Mind

“Free Mind” bercerita tentang cinta yang tak bisa dimiliki di dunia nyata, hanya tersi ...

Download Titik & Koma