Painted Distance

Reads
15
Votes
2
Parts
2
Vote
Report
Painted distance
Painted Distance
Penulis DIPLOHOLIC

Gadis Itu

Waktu seolah melambat di tengah dinginnya malam itu. Kedua bola mata Dara hanya tertuju pada sosok gadis yang mulai berjalan sedikit terpisah dari kerumunan.

"Itu dia."

"Benar-benar dia."

Tubuh Dara membeku, seakan salju yang turun di Sapporo membungkusnya dalam sekejap. Suara di dalam kafe memudar, percakapan orang-orang di sekitarnya terdengar jauh.

"Anne."

Nama itu terlepas begitu saja dari bibirnya pelan, hampir tak terdengar. Namun cukup untuk menyadarkannya bahwa ia tidak sedang berhalusinasi.

Dara berdiri terlalu cepat sampai kursinya sedikit terdorong ke belakang, kemudian berlari menuju pintu keluar.

Kalau saja ia tidak berdesakkan dengan sekelompok orang yang baru saja hendak masuk ke dalam kafe, mungkin sekarang jarak di antara mereka tak akan sejauh itu.

Bahu-bahu saling bersentuhan, pintu terbuka dan tertutup bergantian, menciptakan jeda yang terasa menyiksa.

Dan ketika akhirnya Dara berhasil keluar, jarak itu sudah tercipta. Kerumunan bergerak cepat. Sosok Anne nyaris kembali larut di antara coat-coat gelap dan payung transparan.

"Aku mohon..."

Entah kepada siapa kalimat itu ditujukan.

Jantungnya berdebar tidak teratur. Napasnya memburu. Ia mencoba menerobos, namun langkah orang-orang di depannya sama cepatnya. Seolah kota ini sedang menguji seberapa besar keinginannya untuk mengejar sesuatu yang pernah ia lepaskan sendiri.

Salju terus turun. Dan di tengah langkah-langkah yang saling bersilang, Dara kembali merasakan perasaan yang pernah ia rasakan tiga tahun lalu. Perasaan takut kehilangan untuk kedua kalinya.

Namun, di tengah kegelisahan karena jarak yang terus tercipta itu, ada rasa bersyukur untuk sesaat ketika Dara yakin itu adalah Anne.

Rambut gadis yang ia kejar masih sama. Dikuncir tinggi di belakang, sederhana, membiarkan helaian-helaian tipisnya bergerak mengikuti langkah. Tidak banyak yang berubah. Atau mungkin memang ada, hanya saja dari jarak sejauh ini ia belum mampu melihatnya.

Cara rambut itu bergoyang kecil setiap kali Anne melangkah membuat sesuatu di dalam dada Dara bergetar.

Sama seperti dulu.

Sama seperti hari pertama ia berdiri di koridor SMA itu sebagai murid pindahan yang bahkan belum tahu di mana ruang kelasnya berada.

Saat itu bukan Anne yang terlihat asing. Justru ia sendiri. Lorong sekolah terasa terlalu panjang. Suara siswa saling bersahutan, tawa bercampur langkah tergesa. Dara berdiri sendiri dengan map pendaftaran di tangannya.

Ia tidak mengenal siapa pun. Semua wajah yang lewat sebelumnya terasa asing. Namun di momen kesendirian itu, Anne membuatnya spontan memaku. Gadis berjalan perlahan melewati koridor. Tubuhnya tegak, wajahnya tenang, seperti membawa ketenangan sendiri di tengah kebisingan sekolah yang belum sepenuhnya hidup.

Dara menatapnya lebih lama dari yang seharusnya. Entah mengapa, hanya dengan melihat gadis itu, rasa asing di dadanya sedikit mereda.

Pintu ruang guru terbuka. "Ayo nak Dara, kita ke kelas kamu, yah." Wali kelasnya muncul tak lama setelahnya.

Dara tersenyum ramah dengan anggukan, lalu menatap sekali lagi. Gadis itu masih berjalan di koridor, sebelum akhirnya hilang dari pandangannya.

Dan untuk sesaat, Dara berharap… semoga mereka bisa satu kelas.

"Tidak mungkin… ini jalur yang dia lewati. Ya, terakhir dia berbelok di sini," batin Dara, sadar ke mana wali kelas membawanya.

Mereka melewati dua ruang kelas sebelum akhirnya tiba di kelas barunya—kelas X-3.

Dara berdiri di depan puluhan pasang mata yang asing baginya. Napasnya sedikit tertahan, jantungnya berdebar, dan sejenak ia merasa seperti berada di dunia yang sama sekali berbeda.

Matanya menyisir satu per satu wajah-wajah itu. Dan kemudian… ia melihatnya.

Anne.

Tersandar di kursi paling belakang, wajahnya tenang. Sekejap mereka bertemu pandang, lalu Anne memalingkan wajahnya ke jendela, seolah menatap sesuatu yang hanya bisa ia lihat sendiri.

Dan dalam detik itu, Dara merasa… ada sesuatu yang tak bisa ia jelaskan. Hangat dan anehnya familiar. Semuanya terasa seperti keajaiban kecil yang muncul di tengah hari pertama yang asing ini.


Bersambung...

Other Stories
O

o ...

Haura

Laki-laki itu teringat masa kecil Haura yang berbakat, berprestasi, dan gemar berpuisi, na ...

Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )

pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...

Bahagiakan Ibu

Jalan raya waktu pagi lumayan ramai. Ibu dengan hati-hati menyetir sepeda motor. Jalan ber ...

Suara Dari Langit

Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...

Cowok Hujan

Ia selalu terlihat tenang. Tapi setiap kali langit mulai gelap dan angin berhembus kencang ...

Download Titik & Koma