4. Jarak
Sulit.
Ironis sekali.
Di dunia yang begitu bising, di tengah keramaian Sapporo malam itu justru ada satu kesunyian yang tak pernah bisa ia kalahkan.
Dara pernah berpikir bahwa belajar bahasa isyarat adalah hal tersulit yang pernah ia lakukan untuk menggapai Anne. Menghafal gerakan. Mengulang di depan cermin. Salah berkali-kali.
Namun malam itu, ketika ia kembali kehilangan jejak Anne di antara kerumunan, ia sadar sesuatu.
Lebih sulit mengejar seseorang yang tak bisa mendengar panggilanmu…
daripada belajar bahasa untuk mendekatinya.
Keramaian tidak pernah benar-benar membantu. Karena yang hilang bukan suara. Melainkan cara untuk saling menjangkau.
•••
Pagi itu, Anne datang seperti biasa.
Ia selalu melihat laci mejanya saat tiba untuk mengeluarkan buku yang sering dibacanya. Dia menemukan surat dari Dara.
Tangannya berhenti sebentar sebelum membukanya.
Ia membacanya tanpa perubahan ekspresi yang berarti. Tidak ada senyum. Tidak ada dahi yang mengerut. Setelah selesai, ia melipat kembali surat itu.
Rapi.
Mengikuti garis lipatan yang sama seperti semula.
Dari jauh, Dara memperhatikan. Dan itu sudah lebih dari cukup. Anne membacanya, tidak membuangnya.
Namun hari itu berlalu dengan tanpa perubahan besar. Mereka tetap duduk di tempat masing-masing. Tidak ada aksi langsung yang berani Dara coba lakukan. Seolah semuanya kembali seperti biasa, tak terjadi apa-apa.
Sampai sore tiba.
Hari itu Anne mendapat giliran piket. Ia terbiasa mengecek bagian dalam laci sebelum pulang. Beberapa siswa sering meninggalkan kertas atau sampah di sana.
Saat tangannya meraih bagian dalam laci meja milik Dara, sesuatu terjatuh. Sebuah buku kecil yang masih terlihat baru.
Anne memungut buku itu dan membaca judul di sampulnya.
Buku Bahasa Isyarat Dasar.
Jemarinya menegang sedikit. Beberapa detik berlalu tanpa gerakan.
Sebelum-sebelumnya, ia sudah terlalu sering menerima perhatian yang hanya bertahan sesaat. Surat-surat manis. Tatapan iba. Niat baik yang menguap dalam hitungan minggu.
Ia sudah paham pola itu. Makanya dia biasa saja saat membaca surat dari Dara. Sekadar menghargai niat yang entah benar-benar tulus, atau seperti keyakinannya, karena iba.
Orang-orang hanya ingin merasa baik. Apalagi pada orang berkebutuhan khusus sepertinya. Bukan benar-benar ingin tinggal.
Namun buku itu… berbeda. Itu bukan sekadar kata. Itu adalah waktu. Itu adalah bentuk cerminan dari usaha. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan hanya karena rasa kasihan.
Untuk sesaat, ada ruang kecil dalam dirinya yang terbuka. Sebuah pertanyaan yang pelan-pelan muncul.
Apakah selama ini dirinya keliru?
Namun Anne menutup buku itu kembali. Ia menggeleng tipis, seperti menegur dirinya sendiri.
Tidak.
Dunia mereka berbeda. Bukan karena siapa yang lebih tinggi atau lebih rendah. Hanya… berbeda dalam artian cara pandang.
Anne tidak ingin orang lain menghabiskan waktu untuk masuk ke dunianya yang sunyi ini. Tidak ingin melihat mereka lelah di tengah jalan. Lebih baik menjaga jarak dan memang seharusnya seperti itu.
Namun kali ini, langkah pulangnya terasa sedikit lebih lambat. Dan buku itu tetap ia bawa di tangannya.
•••
Sekolah sudah sepenuhnya sunyi. Langit sore meredup perlahan, menyisakan warna jingga tipis di ujung atap gedung sekolah.
Ia seharusnya sudah pulang bersamaan dengan dua teman sekelas yang juga melaksanakan piket dengannya. Namun Anne tidak tahu kenapa kakinya melambat.
Saat ia hampir mencapai gerbang, matanya menangkap sosok dari arah berlawanan.
Anne mendongak. "Dara?" batinnya.
Untuk sesaat, waktu seperti berhenti.
Dara jelas terkejut. Wajahnya berubah panik ketika matanya menangkap buku di tangan Anne. Buku bahasa isyarat yang membawa Dara kembali ke sekolah untuk mengambilnya.
Keduanya terpaku dalam jarak beberapa langkah yang terpisah. Tidak ada suara. Hanya angin sore yang bergerak pelan, menyentuh ujung seragam mereka.
"Kenapa, kenapa?" batin Anne yang ingin sekali berpaling.
Ingin mengabaikan perasaan yang mengganggu dadanya dari beberapa saat yang lalu. Ia sudah terlalu sering berharap. Dan terlalu sering kecewa.
Namun Dara tidak pergi. Ia justru berdiri lebih tegak. Wajahnya pucat karena sehabis berlari, tapi matanya tidak menghindar. Perlahan, Dara mengangkat tangannya.
Gerakan yang Dara ciptakan itu kaku. Tidak sempurna. Bahkan sedikit gemetar. Ia membentuk pola yang belum sepenuhnya lancar. Butuh dua detik lebih lama dari seharusnya.
“Aku minta maaf.”
Anne hanya menatap, spontan menahan nafasnya. Waktu seakan berhenti membiarkannya merasakan momen itu lebih lama. Gerakan itu sederhana. Terlalu sederhana untuk dunia yang begitu ribut dan rumit.
Namun justru karena itu, sesuatu di dalam dirinya malah terasa semakin retak, seperti akan hancur dalam hitungan detik. Bukan karena isyaratnya sempurna. Justru karena tidak sempurna.
Karena jelas Dara masih belajar dan jelas ia berusaha.
Jantung Anne berdegup begitu keras sampai ia hampir bisa merasakannya di telapak tangan kirinya. Matanya masih membelalak.
Lalu tanpa ia sadari, pandangannya mengabur saat air mata itu datang pelan. Hanya satu garis tipis yang jatuh sebelum sempat ia tahan.
Anne sudah terbiasa dengan dunia yang tidak pernah siap menunggunya. Namun sore itu dirinya tahu, seseorang tidak berhenti. Seseorang masih ada di sana. Dan seseorang memilih belajar bahasanya.
Tangannya yang memegang buku itu mengencang sedikit. Untuk pertama kalinya, kesunyian tidak terasa seperti jurang.
Melainkan seperti ruang kecl.
Ruang kecil yang mungkin bisa diisi jika dia memberikan kesempatan.
Bersambung...
Ironis sekali.
Di dunia yang begitu bising, di tengah keramaian Sapporo malam itu justru ada satu kesunyian yang tak pernah bisa ia kalahkan.
Dara pernah berpikir bahwa belajar bahasa isyarat adalah hal tersulit yang pernah ia lakukan untuk menggapai Anne. Menghafal gerakan. Mengulang di depan cermin. Salah berkali-kali.
Namun malam itu, ketika ia kembali kehilangan jejak Anne di antara kerumunan, ia sadar sesuatu.
Lebih sulit mengejar seseorang yang tak bisa mendengar panggilanmu…
daripada belajar bahasa untuk mendekatinya.
Keramaian tidak pernah benar-benar membantu. Karena yang hilang bukan suara. Melainkan cara untuk saling menjangkau.
•••
Pagi itu, Anne datang seperti biasa.
Ia selalu melihat laci mejanya saat tiba untuk mengeluarkan buku yang sering dibacanya. Dia menemukan surat dari Dara.
Tangannya berhenti sebentar sebelum membukanya.
Ia membacanya tanpa perubahan ekspresi yang berarti. Tidak ada senyum. Tidak ada dahi yang mengerut. Setelah selesai, ia melipat kembali surat itu.
Rapi.
Mengikuti garis lipatan yang sama seperti semula.
Dari jauh, Dara memperhatikan. Dan itu sudah lebih dari cukup. Anne membacanya, tidak membuangnya.
Namun hari itu berlalu dengan tanpa perubahan besar. Mereka tetap duduk di tempat masing-masing. Tidak ada aksi langsung yang berani Dara coba lakukan. Seolah semuanya kembali seperti biasa, tak terjadi apa-apa.
Sampai sore tiba.
Hari itu Anne mendapat giliran piket. Ia terbiasa mengecek bagian dalam laci sebelum pulang. Beberapa siswa sering meninggalkan kertas atau sampah di sana.
Saat tangannya meraih bagian dalam laci meja milik Dara, sesuatu terjatuh. Sebuah buku kecil yang masih terlihat baru.
Anne memungut buku itu dan membaca judul di sampulnya.
Buku Bahasa Isyarat Dasar.
Jemarinya menegang sedikit. Beberapa detik berlalu tanpa gerakan.
Sebelum-sebelumnya, ia sudah terlalu sering menerima perhatian yang hanya bertahan sesaat. Surat-surat manis. Tatapan iba. Niat baik yang menguap dalam hitungan minggu.
Ia sudah paham pola itu. Makanya dia biasa saja saat membaca surat dari Dara. Sekadar menghargai niat yang entah benar-benar tulus, atau seperti keyakinannya, karena iba.
Orang-orang hanya ingin merasa baik. Apalagi pada orang berkebutuhan khusus sepertinya. Bukan benar-benar ingin tinggal.
Namun buku itu… berbeda. Itu bukan sekadar kata. Itu adalah waktu. Itu adalah bentuk cerminan dari usaha. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan hanya karena rasa kasihan.
Untuk sesaat, ada ruang kecil dalam dirinya yang terbuka. Sebuah pertanyaan yang pelan-pelan muncul.
Apakah selama ini dirinya keliru?
Namun Anne menutup buku itu kembali. Ia menggeleng tipis, seperti menegur dirinya sendiri.
Tidak.
Dunia mereka berbeda. Bukan karena siapa yang lebih tinggi atau lebih rendah. Hanya… berbeda dalam artian cara pandang.
Anne tidak ingin orang lain menghabiskan waktu untuk masuk ke dunianya yang sunyi ini. Tidak ingin melihat mereka lelah di tengah jalan. Lebih baik menjaga jarak dan memang seharusnya seperti itu.
Namun kali ini, langkah pulangnya terasa sedikit lebih lambat. Dan buku itu tetap ia bawa di tangannya.
•••
Sekolah sudah sepenuhnya sunyi. Langit sore meredup perlahan, menyisakan warna jingga tipis di ujung atap gedung sekolah.
Ia seharusnya sudah pulang bersamaan dengan dua teman sekelas yang juga melaksanakan piket dengannya. Namun Anne tidak tahu kenapa kakinya melambat.
Saat ia hampir mencapai gerbang, matanya menangkap sosok dari arah berlawanan.
Anne mendongak. "Dara?" batinnya.
Untuk sesaat, waktu seperti berhenti.
Dara jelas terkejut. Wajahnya berubah panik ketika matanya menangkap buku di tangan Anne. Buku bahasa isyarat yang membawa Dara kembali ke sekolah untuk mengambilnya.
Keduanya terpaku dalam jarak beberapa langkah yang terpisah. Tidak ada suara. Hanya angin sore yang bergerak pelan, menyentuh ujung seragam mereka.
"Kenapa, kenapa?" batin Anne yang ingin sekali berpaling.
Ingin mengabaikan perasaan yang mengganggu dadanya dari beberapa saat yang lalu. Ia sudah terlalu sering berharap. Dan terlalu sering kecewa.
Namun Dara tidak pergi. Ia justru berdiri lebih tegak. Wajahnya pucat karena sehabis berlari, tapi matanya tidak menghindar. Perlahan, Dara mengangkat tangannya.
Gerakan yang Dara ciptakan itu kaku. Tidak sempurna. Bahkan sedikit gemetar. Ia membentuk pola yang belum sepenuhnya lancar. Butuh dua detik lebih lama dari seharusnya.
“Aku minta maaf.”
Anne hanya menatap, spontan menahan nafasnya. Waktu seakan berhenti membiarkannya merasakan momen itu lebih lama. Gerakan itu sederhana. Terlalu sederhana untuk dunia yang begitu ribut dan rumit.
Namun justru karena itu, sesuatu di dalam dirinya malah terasa semakin retak, seperti akan hancur dalam hitungan detik. Bukan karena isyaratnya sempurna. Justru karena tidak sempurna.
Karena jelas Dara masih belajar dan jelas ia berusaha.
Jantung Anne berdegup begitu keras sampai ia hampir bisa merasakannya di telapak tangan kirinya. Matanya masih membelalak.
Lalu tanpa ia sadari, pandangannya mengabur saat air mata itu datang pelan. Hanya satu garis tipis yang jatuh sebelum sempat ia tahan.
Anne sudah terbiasa dengan dunia yang tidak pernah siap menunggunya. Namun sore itu dirinya tahu, seseorang tidak berhenti. Seseorang masih ada di sana. Dan seseorang memilih belajar bahasanya.
Tangannya yang memegang buku itu mengencang sedikit. Untuk pertama kalinya, kesunyian tidak terasa seperti jurang.
Melainkan seperti ruang kecl.
Ruang kecil yang mungkin bisa diisi jika dia memberikan kesempatan.
Bersambung...
Other Stories
Seratus Juta Untuk Sebuah Restu
Sudah tiga tahun Nadia tidak pulang saat libur lebaran. Bukan karena sibuk. Bukan karena l ...
Curahan Hati Seorang Kacung
Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...
Rei Kazama
Sebuah helm retak. Sebuah arwah yang tak bisa pergi. Dan seorang gadis yang bisa mendengar ...
Hanya Ibu
kisah perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantu ...
Rembulan Di Mata Syua
Syua mulai betah di pesantren, tapi kebahagiaannya terusik saat seorang wanita mengungkapk ...
Hati Yang Beku
Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...