Painted Distance (tamat)

Reads
60
Votes
26
Parts
13
Vote
Report
Painted distance (tamat)
Painted Distance (tamat)
Penulis DIPLOHOLIC

10. Kehilangan Jejak

Orang-orang bergerak terlalu cepat.

Dara beberapa kali menabrak bahu orang-orang itu saat berusaha menembus arus manusia di trotoar. Udara dingin semakin menggigit tenggorokannya, napasnya memburu, tapi matanya hanya mencari satu sosok.

Anne.

Ia melihatnya tadi. Beberapa meter di depan. Coat yang sudah ia kenali. Langkah yang selalu sedikit lebih pelan dari orang lain.

Tapi kerumunan datang seperti gelombang di antara jarak itu. Menelan Anne.

Dara berjinjit, mencoba menangkap bayangan di antara kepala-kepala yang saling bersilangan. Ia berpindah ke kiri, lalu ke kanan. Mendorong pelan, meminta jalan.

Tidak ada.

Jantungnya mulai berdetak tidak teratur. "Apakah kali ini aku benar-benar kehilanganmu lagi, Anne?"

Ia melangkah lebih cepat.
Wajah demi wajah.
Bukan dia.
Bukan dia.

Salju tipis jatuh di pundaknya tanpa ia sadari seakan menambah berat perasaannya.

"Jika aku kehilangan jejakmu seperti saat kelulusan waktu itu... berapa tahun lagi aku bisa melihatmu lagi?"

"Empat tahun?"

"Lima tahun?"

Tangannya mengepal.

"Aku mohon... aku hanya ingin menemuinya. Aku hanya ingin melihatnya lebih dekat. Lebih jelas lagi. Itu saja sudah cukup." Batin Dara terus berharap.

Namun langkah kaki orang-orang terus bersilangan. Dara berdiri diam di tengah keramaian itu... tanpa tahu ke mana harus mencari.

Dan rasa itu... kehilangan yang pernah ia rasakan bertahun-tahun lalu, kembali menusuk. Sama persis.

•••

Hari kelulusan tiba.

Langit cerah. Terlalu cerah untuk hari yang terasa berat. Dara berdiri di lapangan sekolah, mengenakan pakaian rapi. Semua orang sibuk berfoto.

Tertawa.
Memeluk teman.
Menikmati momen-momen terakhir di sekolah.

Tapi mata Dara terus mencari Anne yang belum datang. Ia melihat ke gerbang sekolah berulang kali.

Mungkin terlambat.
Mungkin macet.
Begitulah ia berspekulasi, menenangkan diri.

Acara dimulai.

Nama-nama kini dipanggil.
Tepuk tangan menggema dan Anne tetap tidak ada.

Perasaan Dara mulai janggal. Tapi kali ini ia sabar menunggu sampai acara benar-benar selesai.

Sampai bangku-bangku mulai kosong.
Sampai guru-guru masuk kembali ke ruangan.

Anne tidak datang.

Tanpa berpikir panjang, Dara tidak pulang.
Ia pergi menuju rumah Anne.
Langkahnya tergesa.

"Ada apa? Bahkan saat hari kelulusan pun kamu tidak datang?"

Jelas rasa rindu Dara tak tertahankan. Sudah berminggu-minggu mereka tak bertemu. Keadaan yang berubah tiba-tina seperti ini membuatnya sulit menerima semua yang terjadi. Seperti kilat menghancurkan tempat yang disambarnya.

Ia mengetuk pintu rumah itu.
Sekali.
Dua kali.

Pintu terbuka.

Seorang pria paruh baya berdiri di sana. Wajahnya asing. Dara sempat ragu. "Apakah Anne ada di rumah?" tanyanya cepat.

Pria itu mengerutkan kedua alisnya. "Maaf? Mungkin itu nama pemilik sebelumnya. Kami baru pindah ke sini sekitar seminggu yang lalu."

Seminggu?
Dara terpaku.

"Tidak mungkin," gumamnya pelan.

"Rumah ini sudah kosong saat kami pindah," lanjut pria itu. "Kami tidak kenal siapa pun bernama Anne."

Pintu tertutup pelan.
Dara berdiri di depan rumah yang pernah ia datangi beberapa kali itu. Membeku.

Sudah satu minggu.

Berarti sebelum hari ini.
Sebelum kelulusan.
Sebelum ia sempat memperbaiki apa pun.

Tangannya bergetar saat meraih ponsel.
Ia mengirim pesan.
Tidak terkirim.

Ia mencoba menelepon.
Nomor tidak aktif.

Spontan membuka percakapan lama mereka.
Pesan-pesan sejak pertengkaran itu... tidak pernah dibaca.

Dara menutup mata. Nafasnya berat kali ini. Marah dan kesal, tapi entah kepada siapa.

Kepada Anne?
Kepada dirinya sendiri?
Kepada waktu?

Tak tahu harus ke mana mencari Anne, sore itu, langkah Dara membawanya ke satu tempat yang tidak pernah gagal menjadi saksi.

Bangku depan supermarket.
Sudah lama ia tidak duduk di sana.
Ia menjatuhkan tubuhnya perlahan.

Sunyi.

Matanya tertuju pada sesuatu di ujung bangku. Selembar kertas terlipat rapi.
Kertas itu tidak terlalu kotor. Seperti baru diletakkan.

Dara mengambilnya. Membukanya dengan tangan gemetar. Tulisan tangan yang sangat ia kenal.

Jangan salahkan siapa pun.

Setelah dipikirkan lagi, tidak ada yang perlu disalahkan untuk semua yang sudah terjadi.

Aku mohon, tetap jalani kehidupanmu sebaik mungkin ya, Dara.

Di bawahnya, satu kalimat kecil.

Salam hangat, setangkai marigold.

Dara menunduk.

Angin sore berembus pelan. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar kehilangan jejak Anne. Dan tidak ada jalan untuk mengejarnya lagi.


Bersambung...



Other Stories
Bukan Cinta Sempurna

Pesona kepintarannya terpancar dengan jelas, rambut sebahunya yang biasanya dikucir ekor ...

Tes

tes ...

Cahaya Menembus Senesta

Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...

Setinggi Awan

Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...

Permainan Mematikan: Narsistik

Delapan orang asing diculik dan dipaksa mengikuti serangkaian permainan mematikan. Tujuh d ...

Persembahan Cinta

Rendra pria tampan dari keluarga kaya, sedangkan Fita gadis sederhana. Namun, Mama Fita ra ...

Download Titik & Koma