Painted Distance (tamat)

Reads
1K
Votes
168
Parts
13
Vote
Report
Painted distance (tamat)
Painted Distance (tamat)
Penulis DIPLOHOLIC

3. Sosok Pendiam

Di tengah keramaian Sapporo malam itu, ada saat di mana jarak mereka terasa begitu dekat. Sekejap saja, cukup untuk membuat jantung Dara berdebar. Namun sesaat kemudian, jarak itu kembali membentang, seolah dunia ikut bermain-main dengan harapannya.

Bagi orang lain, mungkin jarak itu bisa dihapus hanya dengan memanggil namanya. Meneriaki, menarik perhatian, atau sekadar bersuara.

Tapi Dara tahu itu mustahil.

Bukan karena takut teriakan itu hanya akan ditelan bisingnya keramaian atau dinginnya udara. Bukan karena sesuatu yang bisa ia lawan atau kendalikan.

Bukan pula karena dirinya tak mau mencoba.

Tapi karena hal yang tak bisa diubah dan justru itu membuatnya ingin menangis tanpa daya. Ironi yang menusuk.

"Aku mohon..."

"Aku mohon, lihatlah kemari."

"Aku mohon..."

Sakit, gelisah, penuh harap menyatu dalam sedetik yang terasa abadi.

Betapa malangnya ketika jarak tak berpihak. Ketika suara seperti mengkhianati, bahkan waktu seolah mempermainkan semuanya.

Rasanya momen itu lebih menyakitkan daripada saat pertama kali Dara tahu kebenaran akan Anne di hari pertama dia pindah sekolah.

•••

Saat itu, ketika jam istirahat di hari pertamanya di sekolah baru, Dara merasa ada yang janggal. Anne hanya duduk di pojok, tidak berbaur dengan teman sekelas yang lain. Dara tak menyangka Anne sebegitu pendiamnya.

Beruntung posisi meja merek hanya bersebelahan. Tapi entah mengapa seperti ada jarak yang terasa begitu nyata.

Tak mampu menahan diri, Dara inisiatif untuk menyapa lebih dulu. "Hai!" panggil Dara tanpa ragu.

"Boleh kenalan, nggak?" tambahnya.

Tidak ada jawaban.

Dara mengerutkan dahinya. Spontan, ia berdiri dan mengetuk meja di samping Anne. Bukan maksudnya usil, tapi sepertinya ketukan yang tiba-tiba itu membuat getaran yang cukup keras.

Anne menoleh spontan, tapi tatapannya menusuk, sinis dan dingin yang seketika membuat Dara terdiam.

Dari arah belakang Dara, seseorang berbicara dengan tawa kecil. Nadanya terdengar seperti... ejekan. "Dia itu tuli. Dia nggak bakal bisa dengar kamu. Hahaha..."

Tatapan Anne sempat tertuju ke arah sumber suara itu sebelum ia berdiri dan pergi, meninggalkan Dara yang terdiam. Rasa bersalah menyeruak ke dalam dada Dara, terasa sangat berat.

"Dia tunarungu? Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya sejak awal?"

Dara mendengus kesal. Menyesal karena tak langsung peka. Padahal semuanya sudah berjalan dengan baik sebelum kejadian yang tiba-tiba itu.

"Apakah aku baru saja membuat kesalahan?"

Hingga waktunya pulang sekolah, Dara tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya duduk di bangkunya, menatap Anne penuh dengan rasa bersalah. Bicara? Mustahil. Ia tidak tahu harus mulai dari mana.

Sampai di keesokan harinya, Dara datang lebih pagi. Langkahnya berat tapi penuh tekad dengan sebungkus coklat di tangannya. Sekadar ingin meminta maaf, ingin mendekat, ingin... menjembatani jarak yang sudah ia ciptakan sendiri kemarin.

Coklat itu diletakkan di atas meja Anne.
Hatinya berdebar, tapi tidak memaksakan untuk bisa langsung dimaafkan. Dara tahu niatnya tulus, setidaknya dia menyadari bahwa sudah melakukan kesalahan.

Dan untuk sesaat, dunia terasa seakan berhenti, hingga tak terasa kelas mulai ramai. Suara kursi bergeser dan tawa kecil memenuhi ruangan.

Anne akhirnya tiba. Ia duduk di tempatnya seperti biasa, tanpa banyak ekspresi. Dara menahan napas saat melihat tangan Anne menyentuh coklat itu.

Coklat itu dipandang Anne sebentar sebelum ia memasukkannya ke dalam laci meja. Ia tidak membuangnya dan itu sudah cukup bagi Dara.

Sepanjang pelajaran, pikirannya tak benar-benar di kelas. Ia terus memikirkan langkah berikutnya. Permintaan maaf saja rasanya belum cukup. Ia ingin Anne tahu bahwa kemarin bukan karena ia berniat mempermalukan atau mengganggu.

Saat jam istirahat, Dara tidak keluar kelas.
Ia mengambil selembar kertas.

Lalu menulis.

Menghapus.

Meremas.

Menulis lagi.

Tangannya canggung. Kata-katanya juga terasa kaku. Sepertinya terlalu formal. Kalimatnya terlalu panjang dan berlebihan.

Beberapa lembar kertas yang sudah diremas jatuh ke lantai sebelum akhirnya ia berhenti pada satu versi yang terasa paling jujur.

Tidak panjang.

Hanya sederhana. Namun cukup untuk menyampaikan hal yang ingin ia luruskan sejak kemarin.

Saat jam pulang sekolah, Dara sengaja menjadi yang terakhir keluar kelas. Ia ikut membantu membersihkan papan tulis, merapikan bangku, menunggu teman-temannya selesai bertugas.

Begitu kelas benar-benar kosong, ia berjalan ke meja Anne. Jantungnya kembali berdebar. Surat itu ia selipkan pelan ke dalam laci meja Anne.

Tidak ada saksi mata, tak ada suara. Hanya detak jantungnya sendiri.

Namun Dara tidak langsung pulang. Ia berlari menuju sebuah toko buku kecil tak jauh dari sekolah. Dara ingin membeli kertas variasi. Dia ingin membuat surat yang lebih bagus untuk Anne.

Dengan napas yang memburu, Dara masuk ke toko buku itu. Ia disambut ramah oleh suara kipas angin tua yang berputar pelan. Saat bergerak mencari yang dia inginkan, Dara berhenti cukup lama di depan sebuah rak berisikan buku bahasa isyarat.

Tangannya sempat ragu.

Akhirnya ia mengambil buku bahasa isyarat cetakan terbaru itu dan juga kertas variasi yang sejak awal ia cari.

Malam itu, Dara sibuk menulis surat yang akan dia selipkan di laci milik Anne besok. Setiap kalimat ia pikirkan dengan harapan, surat ini dapat membuka hati Anne agar tak membencinya.

Selesai menulis, ia langsung bergerak mempelajari gestur-gestur sederhana dari buku bahasa isyarat yang ia beli. Dirinya begitu berusaha keras. Dia tahu bahwa itu dapat membuat jarak yang renggang, menghilang sedikit demi sedikit.



Bersambung...








Other Stories
Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?

Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...

Mak Comblang Jatuh Cinta

Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...

Mereka Yang Tak Terlihat

Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...

Dia Bukan Dia

Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...

Wajah Tak Dikenal

Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...

Waktu Tambahan

Seorang mantan pesepakbola tua yang karirnya sudah redup, berkesempatan untuk melatih seke ...

Download Titik & Koma