Liburan Di Pulau Terpilih

Reads
11
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
Liburan di pulau terpilih
Liburan Di Pulau Terpilih
Penulis Citra Wati

Bab 2 Pulau Yang Tidak Ada Di Peta

Pukul delapan kurang sepuluh menit, Anna tiba di titik temu yang di undangan. Ia sempat terdiam Ketika menyadari lokasi itu bukanlah Pelabuhan atau kantor agen perjalanan, melainkan sebuah landasan kecil di pinggir kota, area untuk pesawat terbang pribadi. Pagar besi rendah membatasi area parkir dari landasan. Di kejauhan, sebuah pesawat kecil berwarna putih berdiri diam, ramping dan bersih, seolah memang sudah menunggu.

Anna menghela napas tanpa sadar. Beberapa orang sudah berada di sana. Empat.. lima.. mungkin enam orang. Masing-masing membawa koper. Ada yang berdiri sambil memainkan ponsel, ada yang menatap pesawat itu tanpa ekspresi. Tidak ada spanduk, tidak ada meja regitrasi. Tidak ada keramaian. Namun kehadiran mereka cukup membuat dadanya terasa sedikit lebih ringan. Setidaknya ia tidak sendirian. Setidaknya ini tampak nyata.

Seorang pria berpakaian rapi berdiri tak jauh dari pesawat, memegang sebuah clipbord. Ia memanggil nama satu per satu dengan suara tenang. Ketika nama Anna disebut, ia mengangkat tangan pelan dan melangkah maju. Namanya tercantum di sana. Bukan penipuan, pikirnya. Tidak mungkin serapi ini jika hanya tipu daya.

Anna menoleh sekali lagi ke arah luar pagar, ke jalan raya yang masih sepi. Ia bisa saja berbalik sekarang. Masih ada waktu. Namun beberapa menit kemudian, Ketika pintu pesawat kecil itu terbuka dan satu per satu peserta mulai naik, ia ikut melangkah.

Tangga logam itu terasa dingin di bawah telapak sepatunya. Anna tidak tahu apakah yang dirasakanya adalah keberanian… atau hanya kelelahan karena terlalu lama ragu. Pesawat itu akan membawanya ke sebuah pulau yang bahkan Namanya tidak tercantum di peta. Dan sejak empat tahun terakhir, hidupnya bergerak ke arah yang tidak bisa ia prediksi.

Pesawat pribadi itu tampak begitu eksklusif, interiornya menyerupai kabin kelas bisnis, dengan kursi-kursi lebar berlapis kulit dan jarak antar bangku yang lapang. Para peserta mulai mencari tempat duduk masing-masing. Anna memilih kursi kedua di sisi kiri. Ia menyandarkan punggungnya perlahan, lalu mengamati sekeliling dengan diam-diam. Seorang pria berpakaian sangat rapi duduk beberapa kursi darinya. Jas kantoran yang ia kenakan terasa terlalu formal untuk sebuah perjalanan liburan. Rambutnya tersisir sempurna, seolah ia hendak menghadiri rapat penting, bukan menuju pulau terpencil. Tak jauh dari situ seorang perempuan dengan mata besar dan rambut ikal sibuk memainkan ponselnya. Dari cara ia mengarahkan kamera dan sesekali tersenyum sendiri, jelas ia sedang merekam sesuatu. Penampilannya modis dan penuh percaya diri. Ia tampak jauh lebih muda dari Anna. Di sebrang Anna duduk seorang pria berpakaian santai dengan kaca mata hitam yang tak dilepasnya. Jam tangan mahal melingkar di pergelangannya, sepatunya bersih tanpa cela. Tanpa perlu banyak menebak, Anna tahu orang itu bukan pria biasa.

Di kursi depan, seorang pria dengan pakaian agak Kumal duduk gelisah. Wajahnya dipenuhi cambang yang seolah tak tersentuh pisau cukur selama berbulan-bulan, namun justru sorot matanya memancarkan semangat yang aneh, terlalu antusias untuk sebuah undian tak terduga.

Di baris belakang, seorang perempuan sebaya Anna duduk dengan tubuh agak sedikit membungkuk. Wajahnya menyiratkan kelelahan panjang, seakan hidup telah memberinya lebih banyak beban daripada kebahagiaan. Ia tampak terus-menerus cemas. Disampingnya, seorang perempuan paruh baya dengan sanggul sederhana tersenyum lembut, senyum yang tulus, atau setidaknya terlihat begitu.

Pria yang sebelumnya mengabsen mereka satu per satu, kini berdiri di bagian depan kabin.

"Selamat datang semuanya. Nama saya Herman. Saya akan mengantar anda semuanya ke pulau watu lenga." Ucapnya dengan nada datar, tanpa senyum.

"Anda bertujuh adalah orang-orang yang beruntung, terpilih untuk menikmati liburan gratis di pulau pribadi milik pimpinan kami."
Ia berhenti sejenak, menatap satu per satu wajah di hadapannya.
"Sebelum keberangkatan ada aturan yang wajib dipatuhi. Tidak diperkenankan merekam apa pun selama diperjalanan maupun selama berada di pulau."
Tatapannya berhenti sesaat pada perempuan berambut ikal itu.
"Kalian akan berada di sana selama lima hari. Manfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Jika semuanya sudah siap, kita akan segera berangkat."
Tangan perempuan berambut ikal terangkat dengan gerakan ringan namun penuh percaya diri.
Dengan ekspresi malas, Herman menoleh.
"Ya, Nona Evelyn?"

"Kalau boleh tahu," katanya dengan nada menantang, "mengapa kami tiba-tiba memenangkan undian ini? Saya tidak pernah merasa mengikuti apa pun. Apa kriterianya?"

Herman terdiam sesaat.
"Itu bukan wewenang saya untuk menjawab." Katanya akhirnya, tetap dengan nada datar. "Saya hanya menjalankan tugas. Pimpinan kami memilih langsung pemenangnya.. mungkin karena anda seorang influencer."
Alis Evelyn terangkat.

"Saya memang sering ikut undian, tapi saya tak tahu ini yang mana saking banyaknya, dan saya bukan influencer." Sela pria di depan kursi Anna sambil terkekeh pendek.
Kabin mendadak terasa lebih sunyi dari sebelumnya.

Pria berstelan jas itu akhirnya angkat bicara. Ia duduk tegak, jemarinya bertaut rapi di pangkuan, gestur seorang yang biasa berbicara di ruang sidang.
"Maaf," katanya tenang namun tegas. "Saya Rudi. Seorang pengacara."
Ia menatap Herman tanpa berkedip.
"Siapa sebenarnya pimpinan yang anda maksud? Jika kami diundang secara khusus, setidaknya kami berhak mengetahui siapa yang mengundang kami. Agar kami bisa menyampaikan terima kasih secara langsung."
Beberapa kepala menoleh. Pertanyaan itu terasa wajar, terlalu wajar untuk diabaikan. Herman tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, senyum yang tidak benar-benar sampai ke mata.
"Pimpinan kami adalah pribadi yang sangat rendah hati." Ujarnya datar. "Beliau tidak berharap dikenal, apalagi diberi ucapan terima kasih."
Tatapannya mengarah lurus pada pria itu.
"Dan tentu saja, pak pengacara Rudi, anda akan mengetahui semuanya pada waktu yang tepat."
Nada suaranya sopan, namun ada sesuatu yang membuat kalimat itu terdengar seperti penegasan... Daripada penjelasan.

Suasana di kabin kembali mengendap. Suara mesin pesawat mulai menderu pelan, seolah memberi tanda bahwa percakapan telah selesai, suka atau tidak.
Anna menatap punggung Rudi beberapa detik lebih lama. Akhirnya ada yang bertanya hal yang seharusnya ditanyakan sejak tadi, pikirnya. Undian misterius. Pimpinan tanpa nama. Aturan tanpa penjelasan. Semua orang tampak terlalu mudah menerima keadaan. Entah karena tergiur kata gratis, atau karena rasa penasaran yang mengalahkan kewaspadaan.

Rudi setidaknya terdengar masuk akal. Sebagai pengacara, tentu ia terbiasa mempertanyakan detai. Dan sekarang Anna merasa tidak sendirian dalam kebingungannya. Namun jawaban Herman justru meninggalkan ruang kosong yang lebih besar.
Pada waktu yang tepat.
Kalimat itu menggantung di udara.

Mesin pesawat meraung lebih keras. Getarannya merambat melalui lantai kabin hingga ke telapak kaki Anna. Pramugari yang sedari tadi berdiri tanpa banyak bicara kini bergerak memeriksa sabuk pengaman satu per satu. Tanpa sadar, Anna menarik napas lebih dalam. Ia datang ke titik temu dengan setengah ragu. Melihat peserta lain tadi sempat membuatnya sedikit lega. Tapi sekarang, duduk di kabin tertutup tanpa nama jelas tentang siapa yang mengundangnya, rasa lega itu mulai terkikis perlahan. Di seberangnya, pria berkacamata hitam masih diam. Terlalu diam. Dan Herman... Terlalu tenang.

Pesawat mulai bergerak meninggalkan landasan kecil itu. Tak ada yang benar-benar tahu ke mana mereka akan mendarat, selain satu nama yang terdengar seperti janji ketenangan... Pulau Watu Lenga.
Nama yang, entah kenapa justru membuat dada Anna terasa sedikit sesak.
Tiga jam sebelumnya mereka masih berada di langit di atas pulau Jawa. Mesin jet pribadi itu melaju stabil, memotong awan dengan keheningan yang terlalu nyaman untuk sebuah perjalanan misterius.

Kini roda pesawat menyentuh landasan dengan hentakan pelan. Tujuan mereka berada di wilayah timur Indonesia, di salah satu bagian terpencil di Flores. Herman sempat menyebutnya begitu di tengah penerbangan, seolah itu sudah cukup menjelaskan segalanya. Namun pulau yang mereka tuju bukan nama yang pernah Anna dengar, Pulau Watu Lenga. Nama itu bahkan tidak muncul saat ia mencoba mencarinya sebelum lepas landas tadi. Tidak ada titik kecil di peta digital. Tidak ada artikel perjalanan. Tidak ada foto wisata. Seolah-olah pulau itu... Tidak tercatat.

Pesawat melambat. Di balik jendela tidak tampak bandara, hanya sebidang landasan aspal sempit yang dikelilingi perbukitan hijau dan tanah kemerahan. Sebuah bangunan kecil berdiri sendirian di ujungnya, catnya kusam, jendelanya tertutup.

Langit begitu cerah hingga menyilaukan. Saat pintu pesawat dibuka, udara panas langsung menyeruak masuk. Lembap dan asin. Bau laut tercium meski garis pantainya masih beberapa ratus meter dari sana. Satu per satu mereka turun melalui tangga logam.
Tak ada petugas berseragam, tak ada kendaraan pengangkut bagasi. Hanya angin yang bertiup kencang melintasi landasan. Anna mengeluarkan ponselnya hampir refleks. Dua bar. Ia membuka peta sekali lagi. Layar tetap kosong di area laut sekitar Flores itu. Tidak ada penanda pulau kecil mana pun dengan nama Watu Lenga.
Satu bar. Evelyn di sebelahnya mendecak pelan. "Sinyalnya aneh."
Satu bar itu berkedip, lalu menghilang.
No service.

Herman berdiri beberapa langkah di depan mereka. "Silakan berkumpul. Perahu kita sudah menunggu." Ia mengatakan seolah-olah tidak ada yang ganjil. Dari landasan itu laut terlihat biru berkilau, indah, terlalu bersih. Terlalu luas. Anna menoleh sekali lagi ke arah bangunan kecil yang disebut bandara itu. Pintu depannya tertutup rapat. Tidak ada orang keluar masuk.

Tiga jam perjalanan dari Jakarta. Dan sekarang dunia seolah berhenti sampai di sini. Di ujung landasan, dermaga kayu kecil menjorok ke laut. Dua buah perahu bermesin ukuran kecil telah siap, bergoyang pelan mengikuti ombak.

Empat puluh lima menit lagi, kata Herman sebelumnya. Empat puluh lima menit menuju pulau yang tidak ada di peta. Anna merasakan sesuatu yang tipis dan dingin merayap di punggungnya.
Bukan takut.
Belum.
Tapi keindahan tempat itu seperti tirai, dan mereka baru saja melangkah melewatinya.

Other Stories
Nona Manis ( Halusinada )

Dia berjalan ke arah lemari. Hatinya mengatakan ada sebuah petunjuk di lemari ini. Benar s ...

Diary Anak Pertama

Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...

Menantimu

Sejak dikhianati Beno, ia memilih jalan kelam menjajakan tubuh demi pelarian. Hingga Raka ...

Koper Coklat Ibu

Bagi Arini, Yogyakarta bukan lagi tempat untuk pulang, melainkan ruang bawah tanah yang ia ...

Desa Seribu Sesajen

"Sukma yang datang, sukma yang pulang sebagai persembahan." Liburan semester enam mahasis ...

Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Download Titik & Koma