Liburan Di Pulau Terpilih

Reads
13
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
Liburan di pulau terpilih
Liburan Di Pulau Terpilih
Penulis Citra Wati

Bab 3 Selamat Datang Di Watu Lenga

Mereka berjalan berbaris menuju perahu kecil bermesin yang terikat di dermaga kayu. Angin laut berembus kencang, membawa aroma asin dan suara ombak yang memecah di kejauhan.

“Satu perahu hanya muat empat orang. Silakan dibagi dua kelompok!” seru Herman, suaranya meninggi untuk mengalahkan deru angin.

Anna, Evelyn, Rudi, dan perempuan berwajah cemas itu menaiki satu perahu. Sisanya bersama Herman di perahu pertama.

“Ada yang bisa mengendarai ini?” tanya Evelyn, menatap ragu ke arah mesin dan kemudi.

“Aku pernah mengendarai yang lebih besar. Sistemnya pasti tak jauh berbeda,” jawab Rudi cepat. Ia langsung duduk di kursi kemudi, seolah tak memberi ruang bagi orang lain untuk membantah.

“Ki… kita bahkan tidak tahu harus ke mana, kan?” suara perempuan itu bergetar tipis.

“Kita tinggal mengikuti dia,” ujar Rudi, mengedikkan dagunya ke arah Herman.

Mesin perahu Herman menyala lebih dulu, memecah permukaan air dengan suara berat. Tak lama, Rudi menyalakan mesin mereka dan mulai membuntuti dari belakang.

Angin siang menerpa wajah Anna. Matahari memantulkan cahaya di atas laut hingga berkilau hampir menyilaukan. Laut tampak indah, terlalu indah. Bau asin, panas matahari, dan keringat bercampur menjadi satu.
Pemandangan itu seharusnya menenangkan. Namun entah mengapa, ada sesuatu yang terasa ganjil.

“Oh ya, kita belum berkenalan,” kata Evelyn tiba-tiba, suaranya ceria, terlalu ceria. “Aku Evelyn. Seorang influencer. Kanal YouTube-ku, AmazingEve. Jangan lupa subscribe, ya.”

Anna menoleh sekilas. Rasanya aneh mendengar promosi di tengah situasi seperti ini.

“Rudi Widiantoro. Pengacara.” Nada suaranya tegas, hampir terdengar angkuh.

“Saya Anna Mariana. Bekerja di perusahaan swasta, bagian administrasi.” Anna berbicara singkat, seperlunya.

Hening menyusul. Ketiganya menatap perempuan yang sejak tadi tampak gelisah.

“A-aku Nadia,” katanya akhirnya. “Dulu… pekerja medis.”

“Dulu?” tanya Anna tanpa berpikir.

Nadia menunduk sesaat. “Banyak yang terjadi. Sekarang aku serabutan. Yang penting bisa bertahan hidup.”

Tak ada yang menanggapi. Hanya angin dan suara mesin yang mengisi ruang di antara mereka.

“Aku sebenarnya ingin menjadikan liburan ini konten yang menarik,” lanjut Evelyn, sedikit kesal. “Sayang tidak ada sinyal. Tapi tetap akan kurekam. Nanti kuunggah saat kita kembali ke Jakarta.”

“Bukankah kita dilarang merekam apa pun?” sahut Rudi tanpa menoleh. “Itu bisa berujung sanksi.”

Evelyn terkekeh pelan. “Tak masalah kalau tidak ketahuan, kan, Pak Pengacara? Asal tak ada yang mengadu.”


Tak ada yang menjawab.

Sisa perjalanan mereka lalui dalam diam. Laut membentang luas, biru dan berkilau, seolah menjanjikan ketenangan. Namun semakin jauh mereka meninggalkan daratan, semakin kecil pula dunia yang terasa aman.

Dan di depan sana, perahu Herman terus melaju, tanpa pernah menoleh ke belakang.

Mesin perahu mulai melambat.

“Sudah dekat,” teriak Rudi, setengah menoleh ke belakang.

Anna menyipitkan mata ke arah cakrawala. Awalnya hanya tampak garis gelap di kejauhan. Ia mengira itu bayangan awan. Namun semakin mereka mendekat, bentuk itu semakin jelas, bukan awan.


Pulau itu berdiri seperti bongkahan batu raksasa yang muncul dari laut.

Tak ada pasir putih menyambut. Yang terlihat pertama kali adalah dinding karang tinggi berwarna abu gelap, sebagian tertutup lumut dan semak liar. Ombak memukul sisi-sisinya dengan bunyi berat, seolah laut sedang memperingatkan sesuatu.

“Itu… pulaunya?” suara Nadia nyaris hilang tertelan angin.

Tak ada yang menjawab.

Perahu Herman berbelok ke sisi kanan, menuju celah sempit di antara dua tebing batu. Dari kejauhan, celah itu nyaris tak terlihat. Seperti pintu tersembunyi.

Saat mereka masuk ke sisi pulau yang terlindung, suasana berubah. Ombak lebih tenang. Angin melemah. Tapi keheningan itu justru terasa lebih menekan.

Di balik dinding karang, barulah terlihat hamparan hijau. Pohon-pohon tinggi menjulang rapat, terlalu rapat. Tidak terlihat pantai luas, hanya dermaga kayu kecil yang tampak tua dan sepi.

“Watu Lenga,” terdengar suara Herman dari perahu depan, tanpa menoleh.

Tak ada papan nama. Tak ada bendera. Tak ada tanda bahwa tempat itu pernah dicatat manusia.

Hanya sebuah pulau yang berdiri sendiri di tengah laut.

Anna merogoh ponselnya refleks. Tidak ada sinyal.

Benar-benar nol.


Ia mengangkat pandangan sekali lagi ke arah daratan itu. Indah. Terpencil. Tertutup.

Dan sekarang, ia merasakan sesuatu yang bukan sekadar curiga.

Pulau itu tidak terasa seperti tempat liburan.

Pulau itu terasa seperti tempat menunggu.

Satu per satu mereka turun dari perahu, masing-masing membawa perbekalan. Herman lebih dulu mengikat kedua perahu itu pada sebatang kayu yang tertancap di tepi pantai, memastikan simpulnya kuat sebelum memberi isyarat untuk berjalan.

Mereka menyusuri garis pantai sebentar, lalu berbelok memasuki sebuah jalan setapak yang sempit. Herman memimpin di depan, langkahnya mantap seolah ia hafal setiap lekuk pulau itu.

Hutan menyambut mereka dengan sunyi yang hidup. Pohon-pohon tinggi menjulang di kiri dan kanan, daunnya rapat membentuk bayang-bayang panjang. Kicau burung bersahutan di antara cabang, sementara matahari masih bersinar terik di sela-sela dedaunan. Namun di balik segala suara alam itu, Anna merasakan sesuatu yang lain, sepi yang terlalu utuh. Seakan-akan mereka benar-benar sendirian di dunia kecil ini.

“Apakah pulau ini tidak ada penghuninya? Maksud saya, masyarakat lokal?” celetuk Evelyn tiba-tiba, memecah keheningan.

“Setahu saya tidak ada. Pulau ini milik pribadi,” jawab Herman tenang tanpa menoleh. “Penduduk terdekat ada di pulau sebelah timur. Untuk sampai ke sana dibutuhkan sekitar satu jam perjalanan.”
Jawaban itu membuat beberapa orang saling pandang, tanpa kata.

Setelah menaiki undakan batu yang cukup terjal, bangunan itu akhirnya terlihat. Sebuah vila kayu dua tingkat berdiri kokoh di tengah pulau yang sunyi. Bentuknya besar dan terawat, bahkan tampak megah, hampir angkuh. Seolah tidak selaras dengan kesunyian di sekelilingnya.

Dengan napas sedikit tersengal, mereka tiba di depan pintu utama. Herman meraih gagangnya dan mendorongnya perlahan. Engselnya berderit panjang, memecah hening.

“Selamat datang,” katanya, membuka pintu lebih lebar dan mempersilakan mereka masuk.

Bagian dalam vila terasa luas, dengan aroma kayu yang masih kuat. Herman berdiri di tengah ruangan, berbicara seperti seorang pemandu yang terlatih.

“Di lantai atas ada tiga kamar, dan di bawah ada dua. Dua kamar akan ditempati masing-masing oleh dua orang. Silakan berunding untuk pembagian kamar sambil berkenalan. Kuncinya ada di lemari pojok itu. Setelah selesai, kalian akan ikut saya berkeliling vila.”

Suasana langsung berubah riuh. Beberapa orang mulai berdebat pelan, siapa yang sekamar, siapa yang ingin sendiri. Hingga akhirnya seorang perempuan paruh baya angkat bicara.

“Maaf, Pak Herman. Mungkin lebih baik pembagian kamar ditentukan saja agar lebih tertib. Supaya tidak rebutan.”

Herman tersenyum tipis. “Baik, Ibu Dewi. Jika Ibu menyarankan demikian.”

Semua orang menoleh kepadanya. Ada sesuatu yang berbeda pada nada Herman barusan, lebih lunak, lebih menghargai.

“Aku yakin Herman menyukai ibu itu,” bisik pria kumal di belakang Anna.

Anna tidak menanggapi, tetapi ia memperhatikan.

Ibu Dewi memang tampak menyenangkan, ramah, tutur katanya lembut, senyumnya hangat dan menenangkan. Di antara wajah-wajah asing yang penuh tanda tanya, ia terlihat paling wajar. Paling bisa dipercaya.

Dan justru itu membuat Anna merasa sedikit gelisah.

Karena di tempat seperti ini, yang terlihat paling normal belum tentu yang paling aman.

Herman akhirnya mengambil alih pembagian kamar, seperti yang diusulkan Ibu Dewi.

“Baik, supaya adil,” katanya sambil melirik daftar nama di tangannya. “Pak Rudi, Pak Daniel, dan Pak Surya masing-masing menempati tiga kamar di lantai atas. Evelyn sekamar dengan ibu Dewi di kamar bawah. Dan Anna sekamar dengan Nadia, juga di bawah.”

Beberapa orang tampak kurang puas, namun tak seorang pun benar-benar membantah. Di tempat asing seperti ini, mengikuti keputusan terasa jauh lebih mudah daripada memperpanjang perdebatan.

Kunci-kunci dibagikan satu per satu.

Anna menerima kuncinya dengan jemari yang sedikit kaku. Sekamar dengan Nadia tentu pilihan yang paling menenangkan dibanding kemungkinan lainnya.

Perempuan itu terlihat selalu cemas tapi sepertinya dia tidak berbahaya..

Namun entah mengapa, rasa tidak nyaman itu tetap ada… halus, samar, tetapi tidak benar-benar hilang.

Setelah semua menyimpan barang, Herman menepuk tangan pelan.

“Baik. Sekarang saya akan menunjukkan bagian-bagian vila ini.”

Mereka mengikutinya berkeliling.

Ruang utama di lantai bawah cukup luas, dengan jendela-jendela besar menghadap laut. Di sisi kanan terdapat ruang makan panjang dengan meja kayu solid yang mampu menampung semuanya. Dapur berada di bagian belakang, bersih, lengkap, dan tampak jarang digunakan.

“Ada dua staf yang akan membantu selama kalian di sini,” jelas Herman. “Markus Ledo dan Maria Lusi. Mereka tinggal di bangunan kecil di belakang vila.”

Seorang pria paruh baya dan seorang wanita kurus mengangguk singkat dari ambang pintu dapur. Dari nama dan penampilannya, mereka adalah penduduk lokal.

Tur berlanjut ke lantai atas. Lorong kayu memanjang dengan tiga pintu berjajar. Di ujung lorong terdapat balkon besar yang langsung menghadap hutan dan laut sekaligus, indah, tetapi terasa terlalu sunyi.

“Lampu menggunakan genset,” tambah Herman. “Akan dinyalakan pukul enam sore dan dimatikan pukul sebelas malam. Setelah itu hanya lampu darurat di beberapa titik.”

Beberapa wajah tampak terkejut.
“Tidak ada sinyal di sini,” lanjutnya tenang, seolah itu hal biasa. “Jika terjadi keadaan darurat, ada satu perahu yang tetap ditinggalkan di pantai. Kalian bisa menggunakannya.”

“Dan Anda?” tanya Daniel.

Herman tersenyum samar, tipis dan sulit ditebak.

“Sore ini saya harus kembali ke Jakarta.”

Suasana seketika terasa lebih lengang dari sebelumnya.

“Saya akan kembali tiga hari lagi sesuai jadwal,” lanjutnya tenang. “Selama itu, Markus dan Maria akan membantu kebutuhan kalian di sini. Dan saya akan meninggalkan brosur ini,” lanjutnya sambil meletakan kertas di meja. “ ini adalah jadwal kegiatan liburan kalian selama lima hari.”
“Bagus sekali,” gumam Daniel dengan nada tak sabar. “Liburan ke pulau terpencil dengan fasilitas minim. Sepertinya aku salah ikut.”

Beberapa orang menoleh, tetapi tidak ada yang menanggapi.

Herman memandangnya sebentar. “Peraturan sudah tertera jelas di undangan. Semua peserta wajib mengikuti kegiatan ini sampai selesai, sesuai waktu yang ditentukan.”

Nada suaranya tidak meninggi, namun ada tekanan halus yang membuat kalimat itu terdengar seperti keputusan final.

Menjelang sore, Herman benar-benar bersiap pergi. Ia berjalan menuju pantai, diiringi tatapan para tamu dari teras vila. Tak seorang pun berbicara.
Langit mulai berubah jingga ketika ia melepaskan satu perahu dari ikatannya. Mesin dinyalakan; suaranya memecah ketenangan pulau yang sejak tadi terasa terlalu utuh.

Satu perahu lainnya tetap terikat di kayu tepi pantai, bergoyang pelan diterpa ombak kecil, seolah menunggu sesuatu yang belum terjadi.

Anna berdiri diam, memandangi punggung Herman yang semakin menjauh. Suara mesin itu perlahan mengecil, lalu hilang ditelan cakrawala.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka tiba, pulau itu terasa benar-benar tertutup.

Hanya mereka.

Dan dua pekerja yang hampir tidak mereka kenal.





Other Stories
Curahan Hati Seorang Kacung

Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...

Cahaya Dalam Ketidakmungkinan

Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...

Testing

testing ...

Eksperimen Kuasa

Sepuluh hari di pulau terpencil. Sekelompok mahasiswa-aktivis antikorupsi dibagi secara ac ...

Suara Cinta Gadis Bisu

Suara cambukan menggema di mansion mewah itu, menusuk hingga ke relung hati seorang gadis ...

Bekasi Dulu, Bali Nanti

Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...

Download Titik & Koma