Chromatic Goodbye

Reads
1
Votes
0
Parts
1
Vote
Report
Chromatic goodbye
Chromatic Goodbye
Penulis NarayuPita

Bab 1 - Pertemuan

Dengung synthesizer terdengar perlahan, melanjutkan kemeriahan Campus Art Week. Bunyinya seperti peringatan—timbul tenggelam di awal, lalu memanjang dalam nada yang sama. Suara itu merayap di antara riuh rendah suasana, memenuhi langit malam yang semula kosong.

Kemudian, drum menggebuk, menggetarkan tanah. Simbal memercik dan berdesis keemasan. Petikan bass mengalir berat dan dalam. Gitar melengking, meliuk-liuk membelah udara. Di belakang mereka, suara synthesizer terus berdengung panjang. Di sela-selanya, bermunculan bunyi-bunyi ganjil: kicauan camar, tamborin, dan nada-nada yang ingin keluar dari jalur harmoninya.

Suara vokalisnya meluncur datar dan jauh. Setiap lirik yang dinyanyikannya bagai mantra yang digaungkan berulang-ulang.

“Hey, lihat cewek itu tuh," ujar Raka kepada teman-temannya, menunjuk ke lapangan utama kampus. "Dia lagi ngapain sih?"

Soga menjauhkan kaleng soda lemon dari mulutnya, dan berbalik ke arah yang ditunjuk Raka.

Di sana, di bawah gemerlap lampu-lampu, agak jauh dari kerumunan penonton, seorang gadis menari. Rambut panjangnya yang hitam dan lurus, berayun-ayun di punggungnya, menutupi sebagian wajahnya. Tubuh mungilnya menari secara acak, tidak beraturan, tidak lazim.

Setiap gerakan tangan, bahu dan kakinya seolah menangkap alunan musik, mengejar ketukan instrumen. Tariannya sama sekali tidak sensual, tapi hampir seperti... ritual.

”Itu cewek mabok kali, ya?" celetuk Raka. Teman-temannya yang lain cekikikan.

Soga menelan air soda yang mulai menghangat di mulutnya, dan tidak ikut tertawa. Gadis itu langsung memaku perhatiannya. Keramaian di sekelilingnya seperti ditarik menjauh, menyisakan hanya panggung dan dia yang menari di bawah gemerlapnya cahaya. Teman-temannya masih tertawa, tapi suara mereka terdengar tipis di telinganya.

Si gadis tidak tampak mabuk. Tidak juga kehilangan arah. Justru sebaliknya—ia tampak terlalu hadir. Setiap ketukan seperti menemukan tempatnya di sendi-sendi tubuhnya, lalu memantul kembali ke udara. Seakan-akan ada sesuatu yang hanya bisa ia lihat sendiri, dan ia memilih menanggapinya dengan gerak. Dia menari dengan terlalu sadar, terlalu hidup, sehingga realita di sekitarnya menghilang selama durasi lagu berjalan. Dan Soga mengamatinya sampai lagunya usai.

Gadis itu menyeka helaian rambutnya, sepasang mata cokelat bulat mengintip di baliknya. Bulu matanya lebat dan panjang, membingkai sorot matanya yang jernih dan kekanakkan. Kulit wajahnya yang mengkilap karena keringat, berwarna cerah kekuningan. Pipi tembamnya merona, dan sunggingan di bibirnya yang merah memperdalam lesung pipitnya—membuat jantung Soga berdegup, sekaligus mendorongnya mendekat.

“Kalian keren banget!" seru si gadis kepada para anggota band di panggung, kakinya melompat satu kali. Seruannya tenggelam oleh suara tepuk tangan dan sorak sorai mereka yang menonton. Jepit berbentuk apel merah kecil meluncur dari rambutnya, jatuh ke tanah, nyaris tersapu kaki orang-orang yang lalu lalang.

Soga mempercepat langkahnya, lalu membungkuk—seseorang menyenggolnya, tapi dia tidak peduli. Jemarinya meraih jepit apel itu, tepat sebelum terinjak orang lain. Saat ia mau meluruskan punggungnya, gadis itu juga menunduk ke arah yang sama, dan kepala mereka nyaris beradu.

“Eh—” Gadis itu terkesiap pelan, mundur setengah langkah.

Soga mengangkat jepit apel di tangannya. “Ini punya kamu, 'kan?”

Gadis itu mengangguk, matanya membulat, dan senyumnya melebar. “Oh, iya. Aku pikir jepitku hilang tadi.” Suaranya tertindih oleh seruan vokalis band yang menyeru para penonton, namun Soga masih bisa mendengarnya.

Soga mengangguk pelan sambil mencoba mengabaikan gelombang panas di dadanya. Ia menyerahkan jepit itu, lalu spontan mengulurkan kaleng soda lemon di tangannya yang lain.

“Mau? Kita punya banyak, lho,” tawarnya, suaranya mendadak serak.

Soga melirik ke permukaan kaleng minuman yang berkilat-kilat. Untuk sesaat, ia bertanya-tanya, kenapa dia melakukannya—entahlah, tapi dia merasa harus melakukannya dan tak bisa lagi mundur, padahal mereka belum mengenal satu sama lain.

Gadis itu memasang jepitnya kembali di rambutnya. “Beneran?” Dia ragu sejenak sebelum akhirnya menerima kaleng itu. “Makasih, ya. Kebetulan aku haus banget.” Tawanya berdering, ramah dan hangat.

Soga hanya membalas dengan anggukan kecil, matanya masih tertuju pada wajah gadis itu, bahkan ketika dia membantunya membukakan kaleng minumannya. Soga menoleh sebentar pada Raka dan teman-temannya—mereka mengejek sekaligus memuji keberaniannya. Ia cuma menyeringai, lalu perhatiannya kembali pada gadis itu.

Soga mau meminum lagi sodanya, tapi berhenti. Ia mengamati gadis itu menyeruput minumannya sedikit demi sedikit, sebelum meneguknya satu kali. Hidungnya mengerut lucu begitu gelembungnya menggelitik kerongkongannya. Sedikit noda merah dari lip tint-nya tertinggal di pinggiran kaleng. Ketika Soga mau memberi tahu bahwa ada cairan mengalir di dagunya, gadis itu sudah menyadarinya, dan mengusapnya dengan punggung tangan.

"Ups, sorry," ucapnya.

"Gak masalah," gumam Soga, nyaris tidak terdengar, menyeruput minumannya sendiri.

Gadis itu diam sebentar dan melirik ke Soga, menatapnya curiga. “Kamu.. kamu enggak naruh macam-macam di minuman ini, 'kan?”

Mata Soga melebar sedikit, sebelum senyuman nakal terbentuk di bibirnya. Dia polos banget kayaknya, pikir Soga. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menggodanya sedikit.

“Menurut kamu?”

Membeku, pandangan gadis itu turun ke kaleng di tangannya, lalu kembali ke Soga. “Eh, aku serius, lho!” Gadis itu mendekat, mau mendorong bahu Soga, tapi Soga sudah lebih dulu menghindar.

"Kamu terlalu banyak nonton drama yang enggak jelas," gumam Soga sambil terkekeh geli. "Aku enggak nyampurin apa-apa ke minuman itu. Lagian tadi kalengnya masih disegel, bukan? Enggak mungkin aku masukin sesuatu.“

"Ah, iya juga ya. Dasar aku si bloon...” gadis itu nyengir malu, dan menyesap lagi minumannya.

”Ngomong-ngomong," ucap Soga, melempar kaleng minumannya yang kosong ke tempat sampah, "kita belum tahu nama masing-masing. Aku Soga—Ambara Soga. Anak DKV." Soga mengulurkan tangan.

“Arunika Rubi," jawab Rubi, menyambut Soga. "Panggil Rubi aja. Aku anak sastra Indonesia.”

Soga melirik ke tangan mereka yang saling bertautan. Ia menggenggamnya sedikit lebih lama. Telapak Rubi dingin karena embun dari kaleng minumannya, tapi ada kehangatan yang merambat, yang membuat jiwa Soga melompat.

Campus Art Week masih berlangsung. Di sisi kanan, jajaran stand seni berdiri; lukisan, ilustrasi, instalasi visual, karya fotografi, maket bangunan, graffiti live yang dipamerkan pada dinding. Ada patung-patung bertebaran, abstrak mau pun bukan, sebagian digantung dengan kabel baja tipis. Orang-orang berkeliaran, berkumpul, mengobrol. Lampu sorot berpendar kebiruan, yang terangnya melebihi kerlip bintang-bintang.

Dari panggung, bunyi Hammond organ mengalun lembut. Instrumen lain menyusul, menciptakan musik yang melankolis dan menghanyutkan, hingga waktu terasa melambat.

Soga tidak melepas genggaman tangan Rubi saat dia membawanya ke booth di mana ilustrasi-ilustrasi grafisnya dipamerkan. Pikirannya terpusat hanya pada dirinya dan Rubi, hingga keramaian di sekeliling mereka larut dan kabur, seperti campuran cat minyak yang diaduk hingga membentuk pusaran.

Ada sesuatu yang berbeda, yang entah apa, dan tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Semua itu terlihat dari cara Rubi berdiri lama-lama di depan karyanya, cara dia mengamati setiap warna dan detail. Jarinya terangkat, mengambang—ia menggigit bibir bawahnya, pupil matanya melebar, menahan diri untuk tidak menyentuh.

Dan detik itu juga, runtuhlah semua pertahanan Soga.




Other Stories
Cinta Satu Paket

Renata ingin pasangan kaya demi mengangkat derajat dirinya dan ibunya. Berbeda dari sahaba ...

Ryan Si Pemulung

Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...

Pasti Ada Jalan

Sebagai ibu tunggal di usia muda, Sari, perempuan cerdas yang bernasib malang itu, selalu ...

Kabinet Boneka

Seorang presiden wanita muda, karismatik di depan publik, ternyata seorang psikopat yang m ...

Cinta Bukan Ramalan Bintang

Dengan membaca ramalan bintang seakan menentukan hidup seorang Narian akan bahagia atau ti ...

The Truth

Seth Barker, jurnalis pemenang penghargaan, dimanfaatkan CEO Kathy untuk menghadapi perebu ...

Download Titik & Koma