Bab 6 - 20 Agustus
Hangatnya sinar matahari menembus kabut yang turun, menyorot seorang gadis yang sedang menggantung pakaiannya di tiang jemuran.
Di sekitar si gadis, deretan rumah kecil berjejer sederhana, seperti kotak-kotak mainan di atas tanah yang dilapisi paving block kelabu muda. Dinding-dindingnya dicat putih, gading dan coklat tua, yang mengelupas dan berjamur di beberapa sudut.
Setiap rumah memiliki halaman yang ditumbuhi rumput liar, lainnya dihiasi pot bunga plastik aneka warna. Rumah-rumah kecil itu sebenarnya merupakan hunian kos bernomor, yang dilengkapi satu kamar, ruang tamu, dapur kecil dan satu kamar mandi. Jumlahnya ada dua belas dalam satu kavling bernama Griya Putri Anyelir.
Suasana paginya selalu diramaikan oleh suara sepeda motor yang meraung melewati gang, seruan tukang sayur keliling, dengungan lagu dangdut dari radio, bunyi langkah anak-anak yang bersekolah, bercampur dengan aroma kopi dan gorengan Mak Juju di ujung jalan. Tiap rumah di griya itu dihuni oleh perempuan-perempuan yang memiliki cerita dan kehidupan yang berbeda, namun akrab satu sama lain.
Kabut berangsur menipis, dan matahari meninggi, cahayanya jatuh ke halaman depan rumah kecil bernomor empat. Di bawah nomor berwarna kuning keemasan itu menempel sebuah nama: A. Rubi. Sebenarnya, tidak semua rumah kecil itu diberi nama di depan pintunya, tapi Rubi melakukannya agar orang yakin di mana dia tinggal.
Jam menunjukkan pukul 8 lebih 10 ketika Rubi duduk di depan cermin, mengoleskan krim tone up dan lip tint ke wajah dan bibirnya. Helaian-helaian rambut setengah basah menjuntai di bawah rambutnya yang dijepit, dan handuk ungu muda masih melingkari tubuhnya yang lembap. Dia lalu berhenti dan menoleh ke ambang pintu. Bayangan Soga yang sempat melintas di benaknya dibuyarkan oleh suara seseorang yang mengetuk.
“Sebentar,” sahutnya seraya beranjak dan mengenakan pakaian.
Irma, anak pemilik griya berdiri di depan begitu Rubi membuka pintu. Remaja berambut keriting pendek itu menagih uang sewa bulanan dengan sopan. Di belakangnya, langit sudah terang benderang, dan penghuni-penghuni lain berkeliaran; ada yang menyapu halaman, memanaskan mesin motor, atau berangkat untuk bekerja dan kuliah.
"Oh, tunggu, ya," ujar Rubi. Ia kembali masuk ke kamarnya, lalu keluar lagi seraya menghitung lembar-lembar uang di tangannya. “Kamu enggak sekolah, Ir?” tanyanya, menyerahkan uangnya pada Irma.
“Lagi libur, Kak. Gurunya ada penataran," jawab Irma, menerima uang itu dan memasukkannya ke dalam kantong kecil yang menggantung di lehernya. ”Makasih, Kak.”
"Sama-sama.“ Rubi tersenyum.
Irma berjalan mundur dan berbalik. Pandangan Rubi mengikuti remaja itu, yang berlari menuju rumah penghuni lain untuk menagih uang sewa. Rubi lalu menutup pintu dan kembali ke kamarnya.
Duduk di depan cermin, Rubi melepas jepit yang menggulung rambutnya dan mengambil sisir kayu. Seraya menyisir rambutnya, tatapannya turun ke layar ponselnya dan membuka kuncinya. Tidak ada pesan masuk dari Soga. Dia terakhir online kemarin sore.
Kembali menatap dirinya di cermin, bibir Rubi sedikit monyong, tidak tahu apakah dia harus kecewa atau tidak. Mengambil ikat rambut di dalam kotak, pertanyaan demi pertanyaan menggema dalam pikirannya: Soga bakal jawab apa ya nanti? Kalau dia nolak, gimana kelanjutan hubungan kita? Biasanya, hubungan persahabatan jadi percintaan yang serius itu selalu berakhir buruk. Ah, semua juga tergantung pribadinya masing-masing, bukan?
Mengabaikan ketidakpastian itu, Rubi yang sudah merias rambutnya, merapikan meja dan berdiri. Dia menyampir tasnya di bahu, lalu berjalan menyeberangi ruangan, mengambil kunci dan meninggalkan griya.
Apa pun jawaban dia nanti, aku enggak perlu bersikap berlebihan dan bisa menerimanya. Suara hatinya lebih keras dari keramaian lalu lintas, meredam bunyi mesin mini bus yang berhenti di depannya. Dia melompat masuk ke sana.
Aroma samar jeruk dan bau knalpot menyambut Rubi saat dia dengan hati-hati menaiki tangga. Di belakangnya, ada seorang mahasiswa dari kampus lain. Rubi memilih duduk di kursi belakang supir, di dekat jendela, sedangkan mahasiswa itu duduk di sampingnya—wangi parfumnya menyingkirkan bau asap rokok.
Sambil memeluk tasnya di pangkuan, Rubi membiarkan angin menyelinap menerpa wajahnya melalui kaca jendela yang terbuka. Bus berguncang lembut, mengantarnya melewati jalan yang sudah akrab, tapi hari ini semuanya terasa sedikit berbeda. Pohon-pohon, trotoar, bahkan langit yang kebiruan tampak seperti menunggu sesuatu bersamanya.
Kehangatan berdenyut pelan di dadanya. Lagi, wajah Soga muncul di balik keningnya—samar, seolah mahasiswa yang duduk di sampingnya adalah dia. Bahkan, suara kondektur yang menagih uang padanya terdengar seperti suara Soga, walau pada kenyataannya berbeda sama sekali. Ini membuat Rubi menggigit bibirnya menahan senyuman—malu dan geli pada diri sendiri.
Semakin dekat ke kampus, semakin jantungnya berdebar. Dia diam sejenak setelah turun dari bus, menunduk memandang lututnya di balik celana jeans. Ada getaran samar di sana. Dadanya yang tadinya hangat kini memanas, kontras dengan udara sejuk di sekelilingnya.
Terburu-buru melangkah melewati gerbang kampus, tatapan Rubi melayang ke sana ke mari. Dia berharap sekaligus tidak berharap bertemu dengan Soga sekarang.
Teman-temannya melambaikan tangan dan memanggilnya di depan Gedung Tiga, gedung fakultas sastra. Bibir Rubi yang mengkilap merekah membentuk senyuman, melupakan Soga sejenak, dan segera bergabung bersama teman-temannya.
* * *
Rubi mengira waktu akan membentang sedikit lebih panjang. Ia tenggelam dalam jam-jam kuliah dan diskusi, hampir tidak menyadari perputaran bumi mengubah warna langit menjadi jingga keemasan.
Berdiri di sebelah Soga, Rubi bersandar pada batang pohon kamper di taman kampus, kedua tangannya tersembunyi di belakang punggungnya. Setelah ini, segalanya akan berubah, atau kembali normal, tergantung jawaban Soga.
“Jadi, kamu mau kita gimana, Ga?” tanya Rubi di tengah keramaian yang diredam dinding-dinding kampus. Rambutnya yang kini tergerai, bergelombang dipermainkan angin. Kepalanya mendongak, mulutnya membuka sedikit—menunggu tanggapan Soga, cemas namun penuh harap.
Oh, tolong jangan benci aku, Ga, Rubi membatin.
Sambil mengusap helaian rambut yang jatuh di pipi Rubi yang halus, Soga membalas tatapannya. Ia tersedot, menembus kubah kaca bening yang berkilau di bola mata gadis itu. Ia masuk melewati lingkaran cokelat dan hitam, tenggelam ke kedalaman emosi Rubi.
“Aku mau kita serius, Bi,” ucap Soga, ringan. Kelegaan merayap di seluruh urat nadinya.
Kalimatnya menciptakan binaran di wajah Rubi, menarik bibirnya tersungging lebih lebar, hingga sudut matanya berkerut-kerut. Ketegangan di hatinya meleleh seperti es yang mencair, mendinginkan gelombang panas tadi.
“Tanggal berapa sekarang?” tanyanya, yang sedetik kemudian merasa konyol. Rubi tahu bukan kata-kata macam itu yang seharusnya keluar dari mulutnya.
“Dua puluh Agustus,” gumam Soga, memperhatikan Rubi yang memantul-mantul kecil seperti seorang anak yang baru saja mendapat hadiah.
“Oke. Itu adalah tanggal jadian kita." Lengannya melingkar di pinggang Soga.
Sentuhan itu membawa kebahagiaan yang merembes sampai ke jiwa Soga, seakan itu adalah obat yang menyembuhkan, menenangkan tremor ringan di tubuhnya. Namun, senyum Soga berubah masam ketika perasaan bersalah mengiringinya, membuat perutnya bergejolak samar—mengutuk dirinya yang memilih merahasiakan penyakitnya.
”Bagaimana kalau begini... Bagaimana kalau begitu...“ Pertanyaan-pertanyaan semacam itu berkecamuk di balik kepalanya yang nyeri.
Di sekitar si gadis, deretan rumah kecil berjejer sederhana, seperti kotak-kotak mainan di atas tanah yang dilapisi paving block kelabu muda. Dinding-dindingnya dicat putih, gading dan coklat tua, yang mengelupas dan berjamur di beberapa sudut.
Setiap rumah memiliki halaman yang ditumbuhi rumput liar, lainnya dihiasi pot bunga plastik aneka warna. Rumah-rumah kecil itu sebenarnya merupakan hunian kos bernomor, yang dilengkapi satu kamar, ruang tamu, dapur kecil dan satu kamar mandi. Jumlahnya ada dua belas dalam satu kavling bernama Griya Putri Anyelir.
Suasana paginya selalu diramaikan oleh suara sepeda motor yang meraung melewati gang, seruan tukang sayur keliling, dengungan lagu dangdut dari radio, bunyi langkah anak-anak yang bersekolah, bercampur dengan aroma kopi dan gorengan Mak Juju di ujung jalan. Tiap rumah di griya itu dihuni oleh perempuan-perempuan yang memiliki cerita dan kehidupan yang berbeda, namun akrab satu sama lain.
Kabut berangsur menipis, dan matahari meninggi, cahayanya jatuh ke halaman depan rumah kecil bernomor empat. Di bawah nomor berwarna kuning keemasan itu menempel sebuah nama: A. Rubi. Sebenarnya, tidak semua rumah kecil itu diberi nama di depan pintunya, tapi Rubi melakukannya agar orang yakin di mana dia tinggal.
Jam menunjukkan pukul 8 lebih 10 ketika Rubi duduk di depan cermin, mengoleskan krim tone up dan lip tint ke wajah dan bibirnya. Helaian-helaian rambut setengah basah menjuntai di bawah rambutnya yang dijepit, dan handuk ungu muda masih melingkari tubuhnya yang lembap. Dia lalu berhenti dan menoleh ke ambang pintu. Bayangan Soga yang sempat melintas di benaknya dibuyarkan oleh suara seseorang yang mengetuk.
“Sebentar,” sahutnya seraya beranjak dan mengenakan pakaian.
Irma, anak pemilik griya berdiri di depan begitu Rubi membuka pintu. Remaja berambut keriting pendek itu menagih uang sewa bulanan dengan sopan. Di belakangnya, langit sudah terang benderang, dan penghuni-penghuni lain berkeliaran; ada yang menyapu halaman, memanaskan mesin motor, atau berangkat untuk bekerja dan kuliah.
"Oh, tunggu, ya," ujar Rubi. Ia kembali masuk ke kamarnya, lalu keluar lagi seraya menghitung lembar-lembar uang di tangannya. “Kamu enggak sekolah, Ir?” tanyanya, menyerahkan uangnya pada Irma.
“Lagi libur, Kak. Gurunya ada penataran," jawab Irma, menerima uang itu dan memasukkannya ke dalam kantong kecil yang menggantung di lehernya. ”Makasih, Kak.”
"Sama-sama.“ Rubi tersenyum.
Irma berjalan mundur dan berbalik. Pandangan Rubi mengikuti remaja itu, yang berlari menuju rumah penghuni lain untuk menagih uang sewa. Rubi lalu menutup pintu dan kembali ke kamarnya.
Duduk di depan cermin, Rubi melepas jepit yang menggulung rambutnya dan mengambil sisir kayu. Seraya menyisir rambutnya, tatapannya turun ke layar ponselnya dan membuka kuncinya. Tidak ada pesan masuk dari Soga. Dia terakhir online kemarin sore.
Kembali menatap dirinya di cermin, bibir Rubi sedikit monyong, tidak tahu apakah dia harus kecewa atau tidak. Mengambil ikat rambut di dalam kotak, pertanyaan demi pertanyaan menggema dalam pikirannya: Soga bakal jawab apa ya nanti? Kalau dia nolak, gimana kelanjutan hubungan kita? Biasanya, hubungan persahabatan jadi percintaan yang serius itu selalu berakhir buruk. Ah, semua juga tergantung pribadinya masing-masing, bukan?
Mengabaikan ketidakpastian itu, Rubi yang sudah merias rambutnya, merapikan meja dan berdiri. Dia menyampir tasnya di bahu, lalu berjalan menyeberangi ruangan, mengambil kunci dan meninggalkan griya.
Apa pun jawaban dia nanti, aku enggak perlu bersikap berlebihan dan bisa menerimanya. Suara hatinya lebih keras dari keramaian lalu lintas, meredam bunyi mesin mini bus yang berhenti di depannya. Dia melompat masuk ke sana.
Aroma samar jeruk dan bau knalpot menyambut Rubi saat dia dengan hati-hati menaiki tangga. Di belakangnya, ada seorang mahasiswa dari kampus lain. Rubi memilih duduk di kursi belakang supir, di dekat jendela, sedangkan mahasiswa itu duduk di sampingnya—wangi parfumnya menyingkirkan bau asap rokok.
Sambil memeluk tasnya di pangkuan, Rubi membiarkan angin menyelinap menerpa wajahnya melalui kaca jendela yang terbuka. Bus berguncang lembut, mengantarnya melewati jalan yang sudah akrab, tapi hari ini semuanya terasa sedikit berbeda. Pohon-pohon, trotoar, bahkan langit yang kebiruan tampak seperti menunggu sesuatu bersamanya.
Kehangatan berdenyut pelan di dadanya. Lagi, wajah Soga muncul di balik keningnya—samar, seolah mahasiswa yang duduk di sampingnya adalah dia. Bahkan, suara kondektur yang menagih uang padanya terdengar seperti suara Soga, walau pada kenyataannya berbeda sama sekali. Ini membuat Rubi menggigit bibirnya menahan senyuman—malu dan geli pada diri sendiri.
Semakin dekat ke kampus, semakin jantungnya berdebar. Dia diam sejenak setelah turun dari bus, menunduk memandang lututnya di balik celana jeans. Ada getaran samar di sana. Dadanya yang tadinya hangat kini memanas, kontras dengan udara sejuk di sekelilingnya.
Terburu-buru melangkah melewati gerbang kampus, tatapan Rubi melayang ke sana ke mari. Dia berharap sekaligus tidak berharap bertemu dengan Soga sekarang.
Teman-temannya melambaikan tangan dan memanggilnya di depan Gedung Tiga, gedung fakultas sastra. Bibir Rubi yang mengkilap merekah membentuk senyuman, melupakan Soga sejenak, dan segera bergabung bersama teman-temannya.
* * *
Rubi mengira waktu akan membentang sedikit lebih panjang. Ia tenggelam dalam jam-jam kuliah dan diskusi, hampir tidak menyadari perputaran bumi mengubah warna langit menjadi jingga keemasan.
Berdiri di sebelah Soga, Rubi bersandar pada batang pohon kamper di taman kampus, kedua tangannya tersembunyi di belakang punggungnya. Setelah ini, segalanya akan berubah, atau kembali normal, tergantung jawaban Soga.
“Jadi, kamu mau kita gimana, Ga?” tanya Rubi di tengah keramaian yang diredam dinding-dinding kampus. Rambutnya yang kini tergerai, bergelombang dipermainkan angin. Kepalanya mendongak, mulutnya membuka sedikit—menunggu tanggapan Soga, cemas namun penuh harap.
Oh, tolong jangan benci aku, Ga, Rubi membatin.
Sambil mengusap helaian rambut yang jatuh di pipi Rubi yang halus, Soga membalas tatapannya. Ia tersedot, menembus kubah kaca bening yang berkilau di bola mata gadis itu. Ia masuk melewati lingkaran cokelat dan hitam, tenggelam ke kedalaman emosi Rubi.
“Aku mau kita serius, Bi,” ucap Soga, ringan. Kelegaan merayap di seluruh urat nadinya.
Kalimatnya menciptakan binaran di wajah Rubi, menarik bibirnya tersungging lebih lebar, hingga sudut matanya berkerut-kerut. Ketegangan di hatinya meleleh seperti es yang mencair, mendinginkan gelombang panas tadi.
“Tanggal berapa sekarang?” tanyanya, yang sedetik kemudian merasa konyol. Rubi tahu bukan kata-kata macam itu yang seharusnya keluar dari mulutnya.
“Dua puluh Agustus,” gumam Soga, memperhatikan Rubi yang memantul-mantul kecil seperti seorang anak yang baru saja mendapat hadiah.
“Oke. Itu adalah tanggal jadian kita." Lengannya melingkar di pinggang Soga.
Sentuhan itu membawa kebahagiaan yang merembes sampai ke jiwa Soga, seakan itu adalah obat yang menyembuhkan, menenangkan tremor ringan di tubuhnya. Namun, senyum Soga berubah masam ketika perasaan bersalah mengiringinya, membuat perutnya bergejolak samar—mengutuk dirinya yang memilih merahasiakan penyakitnya.
”Bagaimana kalau begini... Bagaimana kalau begitu...“ Pertanyaan-pertanyaan semacam itu berkecamuk di balik kepalanya yang nyeri.
Other Stories
Baim Dan Kelapa Yang Masih Puber
Baim menghabiskan liburan akhir tahun di pantai dengan harapan menemukan ketenangan. Namun ...
Menantimu
“Belum tidur Zani?” “Belum. Ngak bisa tidur.” “Hehe. Pasti ada yang dipikirin ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Seratus Juta Untuk Sebuah Restu
Sudah tiga tahun Nadia tidak pulang saat libur lebaran. Bukan karena sibuk. Bukan karena l ...
Itsbat Cinta
Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...
Nona Manis ( Halusinada )
Dia berjalan ke arah lemari. Hatinya mengatakan ada sebuah petunjuk di lemari ini. Benar s ...