Bab 9 - Bukit Beringin
Samar biru langit menerpa leher Soga. Ranselnya jatuh di samping kakinya dengan bunyi gedebuk lembut. Dia duduk di karpet halus perpustakaan yang ada di sudut. Helaan udara keluar dari mulutnya, melepaskan sebagian penat dan lelah.
Bersandar pada dinding, Soga melepaskan kupluknya, hingga nampak bekas jahitan operasinya dan rambut-rambut tipis yang tumbuhnya tidak merata. Tangannya yang gemetar samar terangkat, melingkupi dan mengusap nyeri tumpul yang berdenyut di bawah kulit kepalanya—pelan-pelan memohon agar sakitnya itu hilang walau sejenak.
Soga menegapkan punggungnya. Sambil bersila, dia memejamkan mata, mencoba menenangkan dirinya. Dadanya kembang kempis, menarik dan menghembuskan napas. Ketika merasa lebih baik, ia memakai kupluknya kembali. Dia menjilati bibirnya yang kering—disadari atau tidak, itu jadi kebiasaannya. Dia juga menghabiskan air minum lebih banyak.
Soga mendongak, melihat jam menunjukkan pukul 12:25. Ia keluarkan buku gambar, pensil, dan bekal makan siang buatan ibunya. Aroma sapo tahu, jamur, sayuran dan nasi dingin menyambutnya begitu ia membuka tutupnya. Mengusap uap air yang menempel di belakang tutupnya, seleranya berjatuhan seperti pasir yang tersapu air laut.
Sapo tahu itu seharusnya lembut dan enak. Sekarang, rasanya terlalu tajam, meninggalkan sensasi pahit di ujung lidahnya, menusuk langit-langit mulut dan gusinya. Namun, ia tetap memaksakan diri untuk terus makan.
Sejak penyakit ini menjadi bagian dari hidupnya, ia menarik diri dari teman-temannya. Walaupun, keinginan berkumpul, bediskusi, dan sekadar makan siang bersama masih ada. Entahlah. Suasana ramai membuatnya lebih lelah dari biasanya—kulit dan pendengarannya jadi perih.
Tidak hanya itu. Tatapan mereka padanya kini berubah, seolah sedang memandangi daun yang gugur, atau hewan yang terluka. Padahal, Soga tahu, mereka hanya ingin bersimpati. Tapi, ia tak tahan dengan itu. Ia tak ingin ditatap seperti itu.
Menepis pikiran tentang teman-temannya, Soga tidak sabar ingin segera berjumpa Rubi. Seraya menyuapi dirinya sendiri, ia menaruh buku sketsanya di pangkuan, dan meraih pensilnya. Senyum kecil tersungging kala ia membayangkan Rubi di Asmaraloka. Nyanyiannya yang mengalir layaknya air, dan detail ekspresinya.
Jemari Soga yang melingkari pensil mengepal dan mengendur, berusaha menyingkirkan tremor. Kemudian, ia mulai membuat goresan wajah yang cukup presisi.
Andai Rubi sebuah lukisan, katanya pada dirinya sendiri, maka dia adalah lukisan yang dibuat oleh Monet. Oh, apa aku berlebihan? Kayaknya enggak.
Saat mata Rubi mulai terbentuk, pikiran Soga perlahan melarut dalam ketenangan. Bunyi-bunyi langkah orang lain, gemerisik kertas yang dibolak-balik, gumaman dua mahasiswa yang sedang berdiskusi, dan riuh dunia di luar perpustakaan—tenggelam dalam kerinduan yang membanjiri Soga. Waktu bergerak tanpa dia sadari.
Alisnya yang terangkat, dan ujungnya mengernyit, matanya yang melebar dan berbinar, hampir tak berkedip. Dia menatap jauh ke suatu tempat yang tak bisa dilihat orang lain... Wajah ini... salah satu alasanku ingin tetap di sini lebih lama.
“Kamu sebenarnya melihat sesuatu 'kan, Bi?” bisik Soga, di antara bunyi arsiran pensilnya, lebih kepada dirinya sendiri. “Tapi, aku enggak tahu apa yang kamu lihat, dan aku penasaran.” Ia menghapus bagian yang salah, lalu lanjut menggambar.
Soga berhenti, mengamati sketsa wajah Rubi. Dia tampak lebih puas, tidak getir. Pensilnya menggelincir dari tangannya saat dia menarik napas, dan mengangkat pandangannya. Di sana, terlihat sepotong langit dihiasi awan-awan putih yang berarak di antara jendela. Dia mengabaikan pesan ibunya yang mengingatkannya tentang jadwal bertemu dengan dokter petang nanti.
Waktu bergeser ke arah senja. Sinar matahari yang menyorot ruangan membentuk bayangan dan garis-garis kuning yang miring. Satu per satu, mahasiswa mulai meninggalkan perpustakaan, termasuk Soga. Dengan ransel menggantung di punggungnya, dia berjalan pelan ke belakang gedung.
Bau tanah kering dan rerumputan berpendar terbawa desiran angin. Aroma apel—wangi parfum rambut Rubi, terselip di antaranya. Dan gadis itu kini ada di hadapannya, melambaikan tangan rampingnya tinggi-tinggi.
Wajahnya jauh lebih berseri daripada matahari itu sendiri, membuat Soga ingin segera berlari ke arahnya, memeluknya erat. Namun urung, dan ia hanya tersenyum—sebisa mungkin tidak tampak lemah.
"Kamu baik-baik aja, Ga?" tanya Rubi begitu Soga ada di dekatnya.
Oh, Tuhan! Mata Soga melebar sedikit, kaget mendengar pertanyaan itu. “A-aku baik-baik aja kok.. Kenapa memangnya?” tanggapnya, mundur selangkah dan membuang muka. Apa dia mencurigai sesuatu? Soga membatin sembari membenarkan kupluknya.
“Biasanya juga kamu begini.” Rubi meraih botol minumnya yang menggantung di bahunya, mendekapnya, dan menggiling tutupnya yang bulat dengan kepalan tangannya.
Mata Soga melebar sekali lagi. Lututnya hampir saja runtuh, mengira Rubi menyadari bahwa dia sedang sakit. Dengusan keluar dari mulut dan hidungnya, lalu cekikikan. Bukan karena lucu, melainkan lega Rubi tidak mencurigai apa pun.
“Oke," gumam Soga, yang tiba-tiba merangkul bahu Rubi, mendekap gadis itu ke dadanya.
Rubi mendengking terkejut. Kehangatan samar menjalar di pipinya, membuatnya merona. Sebelum ia bisa melakukan sesuatu, kepalan tangan Soga sudah ada di ubun-ubunnya, menggilingnya. Sambil memegang tangan Soga yang merangkulnya, Rubi tertawa.
”Ini 'kan yang kamu mau?“ Soga yang gemas tidak berhenti menggiling kepala Rubi. Dia tiba-tiba lupa lelahnya sendiri.
”Aw, iya, iya... aduh.. ampun,“ kata Rubi masih tertawa. ”Kamu makin kuat aja, Ga.“
Soga menjauhkan kepalan tangannya dari kepala Rubi, berganti mengusapnya. ”Sori,“ bisiknya di rambut Rubi. Tangannya yang lain tidak melepaskan dekapannya.
Dia tahu, Rubi ingin sekali hubungan ini tidak mengubah kebiasaan atau perilaku mereka. Dia ingin apa adanya, tetap seru seperti sebelum mereka berpacaran.
Soga lalu membungkuk, mendaratkan kecupan di pipi Rubi. Ia berlama-lama di sana, menikmati halusnya kulit Rubi. Ia terpesona menyaksikan lingkaran rona merah jambu di sana, menghiasi senyumnya yang malu-malu.
”Ayo, kita ke pohon beringin,“ seru Rubi, melepaskan rangkulan Soga, melangkah menjauh. Dia tak ingin Soga tahu kecupan itu membuatnya senang sekaligus gugup. Dia juga ingin membalasnya, tapi belum berani.
”Enggak usah buru-buru,“ pinta Soga, meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya. ”Memangnya kamu mau ke mana sih? Enggak ada jadwal kerja 'kan hari ini?“
Rubi menekan satu jari ke bibirnya sendiri, menggumam, menahan keinginan untuk tersenyum lebar. Pipinya agak kesemutan usai dikecup Soga, dan melirik ke arah lain. ”Enggak ada sih.“
Tanpa banyak bicara lagi, sambil bergandengan tangan, mereka berjalan santai melewati taman kecil, meninggalkan area kampus di belakang. Bukan hanya takut kelelahan—dan itu pasti akan merepotkan Rubi, Soga tidak ingin kebersamaan ini cepat berlalu.
Namun, letih itu tidak bisa Soga hindari, terutama ketika mereka menapaki bukit beringin. Dadanya terengah pelan, bulir-bulir keringat berkilauan di keningnya, tubuhnya menghangat seperti demam.
Pandangannya yang agak berkunang menangkap rambut Rubi yang bergoyang-goyang, berlari menuju ayunan yang menggantung pada dahan beringin. Walaupun nyeri, Soga tetap mengatur napasnya dan terus berjalan.
Rubi sudah berayun pada ayunan kayu itu saat Soga duduk, bersandar pada batang beringin. Kelopak matanya menutup beberapa detik, ia mengambil napas, dan menyeka keringatnya.
Bersyukur karena tidak pingsan, Soga segera mengeluarkan botol minum dari ranselnya, dan meneguknya sampai habis. Dia meringis sedikit, menahan sakit di kepalanya, yang dia abaikan kemudian.
Tawa Rubi berdering di ayunan yang meninggi. Suaranya mengalahkan bunyi gemerisik dedaunan dan derit cabang beringin. Di sampingnya, pemandangan gedung-gedung kampus dan perkotaan bergerak naik turun. Rambutnya tertiup ke depan dan ke belakang. Sepatunya dibiarkan jatuh ke tanah; kakinya yang telanjang bergelantungan.
Soga mendongak, menyipitkan mata memperhatikan gadisnya. Ekspresi meringisnya berubah jadi senyuman.
Di antara kebimbangan yang melanda hatinya—apakah dia harus berbicara tentang penyakitnya atau tidak—menyaksikan Rubi yang mengayun tanpa takut, membuatnya seperti sedang menghirup udara kebebasan. Beban di pundaknya menguap meskipun sebentar.
Langit melengkung menjadi kubah kuning keemasan. Warna birunya hanya tersisa di cakrawala timur. Tak ada awan. Rubi yang masih mengayun di bawah beringin, gedung-gedung kampus, dan perkotaan di kejauhan—semuanya menjelma menjadi siluet kelabu dan ungu gelap.
”Rubi,“ panggil Soga. Hembusan angin berhenti. ”Boleh aku tanya sesuatu?“
Other Stories
Yang Dekat Itu Belum Tentu Lekat
Dua puluh tahun sudah aku berkarya disini. Di setiap sudut tempat ini begitu hangat, penuh ...
My 24
Apa yang tak ia miliki? Karir yang gemilang, prestasi yang apik, istri yang cantik. Namun ...
Bukan Cinta Sempurna
Pesona kepintarannya terpancar dengan jelas, rambut sebahunya yang biasanya dikucir ekor ...
Kepingan Hati Alisa
Menurut Ibu, dia adalah jodoh yang sudah menemani Alisa selama lebih dari lima tahun ini. ...
Melodi Nada
Dua gadis kakak beradik dari sebuah desa yang memiliki mimpi tampil dipanggung impian. Mer ...
Persembahan Cinta
Rendra pria tampan dari keluarga kaya, sedangkan Fita gadis sederhana. Namun, Mama Fita ra ...