Bab 12 - Hosti
Tepat pukul 10 pagi, Banyu mematikan mesin mobilnya di bawah pohon karet di lahan parkir. Melalui kaca spion dia melirik ke belakang, ke adiknya dan ibunya. Saat dia mau bertanya apakah mereka sudah siap, ibunya sudah membuka pintu dan turun lebih dulu.
Sambil menggenggam tas kain hijau, Wulan menggapai tangan anak bungsunya, melingkarkan lengan di pinggangnya. Ia menuntun anaknya pelan-pelan seakan memegang sesuatu yang rapuh seperti kaca. Banyu mengunci mobil, berlari kecil setengah memutar mobil, menghampiri adiknya.
Soga berjalan di antara kakak dan ibunya. Langkahnya pendek. Dia ingin sekali menyeret kakinya, tapi menahan diri. Dia memaksakan kakinya berjalan seperti biasa agar orang tidak melihatnya sedang sakit. Keningnya agak mengerut, menggerutu kesal dalam hati—memarahi dirinya sendiri.
Matahari yang menyorot mengubah warna iris matanya menjadi coklat keemasan. Pandangannya menyipit, melihat menara lonceng berbata merah dengan atap joglo yang menaunginya. Lonceng berdentang tiga kali—berat dan dalam.
Bau dupa menyambut mereka dan jemaat lain begitu tiba di pintu utama gereja. Pintu itu terbuat dari kayu jati dengan ukiran mega mendung di bagian atas dan bawahnya. Mengikuti Banyu dan Wulan, Soga mencelupkan dua jari ke dalam bejana air suci.
Dingin. Dingin sekali, keluhnya, menelusuri ukiran melingkar menyerupai batik kawung pada bejana itu.
Soga membuat tanda salib—gerakannya lambat dan canggung. Jari-jarinya gemetar sedikit di dahi, dada, bahu kiri... Dia hampir saja berhenti saat mau bergerak ke bahu kanan. Lidahnya berdecak.
Wulan menuntun anak-anaknya duduk di bangku paling belakang, dekat pintu keluar. Ia memilih spot itu untuk berjaga-jaga; jika tiba-tiba Soga mual atau pingsan. Wulan menarik napas dalam-dalam, menekan debaran di dadanya—berharap hal buruk tidak terjadi selama ibadah.
Dari tempatnya duduk, sambil meneguk air dari botol, pandangan Soga menyapu sekeliling ruangan. Lilin-lilin kecil bercahaya kemerahan di dinding. Silingnya terang keabuan dengan lampu gantung kristal menggantung di bawahnya, bergoyang pelan diterpa angin. Kaca-kaca patri memecah sinar matahari menjadi semburat merah, biru, ungu, dan kuning yang jatuh ke ubin marmer.
Sebenarnya, Soga sudah cukup familiar dengan gereja ini. Namun, dia tidak ingat kapan terakhir berkunjung. Dia tahu, di hari-hari itu, ia lebih memilih pergi ke rumah teman-temannya, mengerjakan proyek bersama, atau sekedar berkumpul, dan bermain game. Sekarang, tak ada pesan masuk yang mengundangnya datang.
Lonceng dibunyikan lagi, mengetuk rasa sesal.
Misa dimulai.
Lagu pembuka mengalun. Suara organ tua terbawa semilir angin dari jendela yang terbuka sedikit. Soga berdiri bersama ibu dan kakaknya. Kepalanya yang ditutup kupluk, miring ke kanan, ingin bertumpu pada ibunya. Ibunya merapat, melingkarkan tangannya di sekitar pinggang Soga.
“Apa kamu mau pulang?" bisik ibunya di bahu Soga.
Soga menggeleng, menghindari tatapan cemas kakaknya yang berdiri di sebelahnya. Matanya yang berdenyut ngilu setengah menutup. ”Soga baik-baik aja, Bu.“ Ia menempelkan pipinya di puncak kepala ibunya. Gerakan kecil dan kehangatan ibunya membuatnya merasa lebih stabil.
Soga mencoba mengingat bait doa tobat, tapi yang keluar hanyalah bisikan yang terputus-putus. ”Aku mengaku.. mengaku... kepada Tuhan Yang Maha Kuasa... dan kepada... kepada...“
Banyu mendekat dan berbisik di telinga adiknya, ”Kepada saudara-saudari sekalian.“
Oh, aku ingat kok. Kamu pikir aku lagi sekarat? protes Soga, lebih kepada dirinya sendiri. Dia mengangguk dan menepuk pelan dadanya. Perih. Perihnya terasa tak wajar, dan tepukan itu cukup mengguncangnya. Kontrol, Ga, kontrol! Hari ini Rubi datang lho.
Khotbah pastor pendek saja hari ini. Soga menyimak kata demi kata, dan keningnya mengerut. Kegelisahan dan kebingungan merayap tanpa dia pahami, membentuk bulir-bulir hangat di telapak tangannya yang dingin. Ia seolah sedang memanjat tebing tanpa ujung, dan berpegangan pada sebuah tali, namun tali itu menjadi licin. Atau... barangkali dia yang mulai kehilangan kemampuan mencengkram tali itu.
Tatapan Soga beralih ke salib yang menggantung sunyi di belakang pastor. Seberkas sinar jatuh miring ke tubuh Kristus yang dipahat dari kayu cendana. Kilau halus itu membuat serat-serat kayunya tampak hidup, menonjolkan kelembutan pada ekspresi wajah-Nya. Panel kayu bermotif kembang tanjung mengelilingi salib itu, seakan membingkai sosok-Nya dengan kehangatan yang asing namun menenangkan.
Sesuatu mengalir memenuhi urat-uratnya—pertanyaan demi pertanyaan yang tak terjawab timbul tenggelam dalam gelap. Mereka beriringan bersama keputusasaan, harapan, dan malu.
Ia tidak tahu apakah sosok itu sedang menahannya, atau membiarkannya jatuh berguguran. Soga merasa tak pantas hadir di sini, tapi dia juga tak ingin pergi. Pertanyaannya berubah menjadi seribu kata maaf, terucap ulang dalam hembusan doa dari hatinya.
Waktu salam damai tiba, ruangan menjadi agak ramai. Orang-orang saling bersalaman. Soga cuma tersenyum, menghindari tatapan orang lain. Dia mendengar ibunya berbisik ke tante Edwina yang duduk di depan Banyu. Suara mereka terpotong-potong di telinga Soga.
”...iya, Soga lagi demam dan enggak bisa ditinggal sendirian..“
Pipi Soga yang pucat langsung memanas. Ia melirik sebentar; wanita paruh baya itu sudah menatapnya, bibir merahnya melengkung penuh simpati. Soga hanya membalasnya dengan anggukan sopan, sebelum cepat-cepat menoleh ke ibunya, ingin sembunyi.
Ketika penerimaan komuni dimulai, hanya Banyu dan Wulan yang mengantri. Berat yang membebani Soga membuatnya tetap bersandar pada bangku. Beberapa jemaat mencuri pandang ke arahnya—sebagian bertanya-tanya dalam diam, sebagian yang tahu tentang penyakitnya tampak khawatir.
Pastor yang membagikan komuni memperhatikannya dari kejauhan. Usai barisan terakhir kembali ke bangkunya masing-masing, ia berjalan menghampiri Soga. Wulan dan Banyu mengikutinya dari belakang, dan tidak langsung duduk.
Pastor itu berhenti di hadapan Soga. Senyumnya kecil, tulus tanpa menghakimi, walaupun dia tahu Soga jarang berkunjung. Di telapak tangannya terletak hosti putih yang bulat dan tipis.
Soga hanya bisa menatap. Tremor kecil merambat di jemarinya. Canggung, malu, dan haru bercampur menjadi satu.
"Tubuh Kristus," ucap pastor, membungkuk sedikit agar sejajar.
Soga membuka mulutnya dan menahan napas, lidahnya putih dan terasa kering. Hati-hati, pastor itu meletakkan hosti di sana. Soga menutup mulutnya, menundukkan kepala. Dia baru ingat hosti itu nyaris tak punya rasa, lembut, dan cepat larut. Ketika pastor bergerak menjauh ke altar, dan ibu dan kakaknya kembali duduk mengapitnya, Soga tersenyum masam.
Tubuh Kristus? Soga membatin. Bukan. Hosti ini adalah tubuhnya, yang akan larut ditelan takdir yang menunggunya di ambang pintu mana pun.
Misa memasuki momen hening.
Lantunan lembut paduan suara dan harmoni organ memenuhi ruangan itu sekali lagi. Soga masih membungkuk, tanpa sadar lidahnya menjilat langit-langit mulutnya—mencari rasa hambar dari sisa hosti. Ia memperhatikan ibunya yang merapikan lipatan rok yang kusut, serta tangan Banyu yang menepuk-nepuk pelan lututnya, menahan ketidaksabaran.
Pastor menutup misa dengan doa singkat dan tanda salib. Bersama jemaat lain, mereka kembali berdiri. Sinar matahari yang meninggi, menembus kaca patri. Cahayanya jatuh ke wajah Soga—warna merah darah dari hati Kristus yang terbakar.
Other Stories
Titik Nol
Gunung purba bernama Gunung Ardhana konon menyimpan Titik Nol, sebuah lokasi mistis di man ...
Boneka Sempurna
Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...
Ryan Si Pemulung
Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...
Kabinet Boneka
Seorang presiden wanita muda, karismatik di depan publik, ternyata seorang psikopat yang m ...
Daisy’s
Kisah Tiga Bersaudari ...
Cicak Di Dinding ( Halusinada )
Sang Ayah mencium kening putri semata wayangnya seraya mengusap rambut dan berlinang air m ...