2. Tempat Yang Tidak Memanggil Nama
Hotel itu berdiri di ujung kota, seperti bangunan yang lupa pada zaman. Cat dindingnya tak sepenuhnya terkelupas, tapi juga tak pernah terlihat baru. Lampu-lampu di teras menyala kuning redup, memberi kesan seolah waktu berjalan lebih lambat di sana.
Kala memilihnya tanpa banyak pertimbangan.
Ia hanya ingin tempat yang sunyi. Tempat yang tidak mengenalnya sebagai penulis yang bukunya gagal cetak ulang. Tempat yang tidak bertanya kapan novel berikutnya terbit. Tempat yang tidak memaksanya menjelaskan mengapa ia berhenti menulis selama enam bulan terakhir.
Resepsionisnya seorang perempuan paruh baya dengan rambut disanggul rapi. Senyumnya tipis, nyaris seperti garis yang disengaja.
“Selamat datang. Menginap sampai kapan?”
“Awal Januari,” jawab Kala.
Perempuan itu mengangguk, lalu menyerahkan kunci kamar dengan gantungan kayu berbentuk lingkaran. Tidak ada nomor kamar tertulis di kartu, hanya ukiran kecil: 7.
“Jika membutuhkan sesuatu, silakan tekan bel di meja. Kami tidak memiliki telepon di kamar.”
Kala mengangguk. Ia tidak keberatan.
Tangga menuju lantai dua berderit pelan ketika diinjak. Lorongnya panjang dan sunyi. Karpetnya merah tua, agak pudar di bagian tengah seperti telah dilalui banyak langkah yang ragu-ragu.
Kamar nomor tujuh berada di ujung.
Kala membuka pintu, masuk, dan untuk beberapa detik berdiri tanpa bergerak.
Ada tempat tidur, meja kayu, kursi, lemari, jendela besar menghadap halaman belakang.
Dan ada sesuatu yang terasa janggal.
Ia berjalan ke kamar mandi.
Tidak ada cermin.
Kala kembali ke kamar. Ia mengamati dinding-dindingnya. Tidak ada bingkai reflektif. Tidak ada kaca hias. Bahkan di dalam lemari pun tak ada panel cermin kecil seperti biasanya.
Ia kembali turun.
“Maaf,” katanya pada resepsionis. “Apakah kamar saya memang tidak memiliki cermin?”
Perempuan itu menatapnya dengan cara yang sulit diartikan. Bukan terkejut. Bukan pula meminta maaf.
“Seluruh hotel ini tidak memiliki cermin.”
“Kenapa?”
Jawaban itu datang pelan, hampir seperti bisikan yang sudah dihafal.
“Orang datang ke sini untuk berhenti melihat dirinya.”
Kala tidak tahu harus menanggapi apa. Kalimat itu terdengar seperti kutipan dari novel yang belum selesai.
Ia kembali ke kamar dengan perasaan yang tak bisa ia beri nama.
Other Stories
Mobil Kodok, Mobil Monyet
Seorang kakek yang ingin memperbaiki hubungan dengan anaknya yang telah lama memusuhinya. ...
Balada Cinta Kamaliah
Badannya jungkir balik di udara dan akhirnya menyentuh tanah. Sebuah bambu ukuran satu m ...
Air Susu Dibalas Madu
Nawasena adalah anak dari keluarga yang miskin. Ia memiliki cita-cita yang menurut orang-o ...
Darah Naga
Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Ophelia
Claire selalu bilang, kematian Ophelia itu indah, tenang dan lembut seperti arus sungai. T ...