3. Sunyi Yang Dipilih
Malam pertama, ia mencoba menulis.
Laptopnya menyala, layar kosong memantulkan cahaya kebiruan di wajahnya—atau setidaknya ia membayangkan begitu, karena ia tak punya cara memastikan seperti apa wajahnya malam itu.
Ia menulis satu kalimat.
Menghapusnya.
Menulis lagi.
Menghapus lagi.
Tiba-tiba ia sadar, sudah dua jam berlalu dan ia belum sekali pun merasa ingin bercermin. Tidak seperti biasanya. Di rumah, ia kerap memeriksa wajahnya saat berpikir. Seolah-olah inspirasi bisa muncul dari tatapan sendiri.
Di sini, tidak ada itu.
Hanya dinding. Hanya sunyi.
Other Stories
Hold Me Closer
Karena tekanan menikah, Sapna menerima lamaran Fatih demi menepati sumpahnya. Namun pernik ...
Melupakan
Agatha Zahra gadis jangkung berwajah manis tengah memandang hujan dari balik kaca kamarn ...
315 Kilometer [end]
Yatra, seorang pegawai kantoran di Surabaya, yang merasa jenuh dengan kehidupan serba hedo ...
Chronicles Of The Lost Heart
Ketika seorang penulis novel gagal menemukan akhir bahagia dalam hidupnya sendiri, sebuah ...
Kado Dari Dunia Lain
"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...
Sumpah Cinta
Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...