Menjamah Jauh: Tentang Kota Dan Kenangan

Reads
56
Votes
5
Parts
5
Vote
Report
Menjamah jauh: tentang kota dan kenangan
Menjamah Jauh: Tentang Kota Dan Kenangan
Penulis Sughz

Bab.2. Tentang Kota.

Musim Panas Juli 2022.

Angin pagi yang dingin langsung menembus kulit saat aku melangkah keluar stasiun. Setelah duduk selama dua belas jam akhirnya aku sampai di Malang. Suasana yang masih sepi dan udara dingin yang menyambutku membuat perasaan lelah itu terasa hilang. Ini seperti tahun lalu, bedanya aku belum memesan penginapan karena tujuan utamaku hari ini adalah kedai itu.

Aku menghirup udara segar ini dan memperhatikan sekeliling. Matahari belum sepenuhnya menampakkan wujudnya, tapi beberapa ojol sudah mangkal untuk menunggu penumpangnya. Aku melirik jam di tanganku, sudah jam enam lebih, tapi jalanan masih sepi. Sangat berbeda dengan Jakarta, bahkan meski masih jam segini banyak orang yang sudah berebut di jalanan.

“Kemana dulu ya?” tanyaku bingung saat melihat sekeliling. Sebenarnya aku ingin segera ke kedai itu, tapi mana mungkin mereka buka pagi-pagi begini.

Aku mengeluarkan kameraku, lalu melangkah ke arah yang samar aku ingat. Berharap, ada momen yang bisa kuambil untuk menghabiskan waktu.



Musim Panas Juli 2021

“Ugh”
Aku terbangun dengan kepalaku yang pusing dan udara dingin yang menusuk. Ditambah dengan lengan kiriku yang terasa kram dan berat. Dengan pandangan yang masih buram aku mencoba melirik sesuatu yang menimpa lenganku—seorang perempuan sedang tertidur pulas. Aku mencoba menarik lengan yang sudah mulai mati rasa itu, tapi sia-sia.

Lalu dengan kepala yang masih menempel di bantal, pandanganku mulai menyusuri ruangan yang masih terasa asing. Kamar yang tertata rapi dengan nuansa khasnya, tidak mewah, hanya saja terasa nyaman. Kasur di lantai tanpa penyanggah menambah khas kamar kos ini. Di sebelah kasur, ada beberapa kaleng bir yang tergeletak sembarangan.

“Wah, gila!!!” kataku pada diri sendiri.

Tadi malam setelah kejadian di luar kedai, Jingga memang mengantarku untuk ke penginapan. Tapi karena suatu alasan, aku berakhir menginap di tempatnya.

“Ehmmm...” suara Jingga di sebelahku mengerang pelan.

Cahaya matahari mulai merembes dari sela-sela jendela kamar.

Aku menatap perempuan itu yang masih mencoba membuka matanya.

“Pagi” ucapnya, dengan mata yang masih sayu.

Aku tersenyum, memandang lekat pada wajah perempuan itu. “Pagi”



Musim Panas Juli 2022.

Cahaya matahari mulai meninggi, udara dingin mulai berganti sedikit hangat. Perasaan yang sama seperti satu tahun lalu, kota yang sama.

Aku memandangi gelang di tanganku.

“Monggo mas…” suara berat membuyarkan lamunanku.

Semangkok mie instan tersodor di depanku.

“Makasih pak…”

Setelah hampir satu jam aku tenggelam di jalanan kota dan kamera, perutku yang meronta membawaku ke warung pinggiran jalan untuk sedikit mengganjal perut ini. Aku langsung dengan cepat melahap mie itu, menandaskannya dari mangkok. Dengan udara dingin dan ditemani dengan teh hangat. Sungguh. ini perpaduan yang sempurna. Andai saja suasana ini bisa ada di Jakarta, aku mungkin akan sering menghabiskan waktu berkeliling kota di sana.

Di depan warung, banyak orang yang berlalu lalang. Pasar bunga dan hewan yang tadi menjadi tempatku hunting foto seadanya karena masih sepi, sekarang mulai ramai dengan pengunjung. Melihat itu, aku meraih kamera dan tasku, membayar pesananku dan keluar dari warung.

Saat di luar, matahari sudah tinggi menampakkan wujudnya. Cahaya yang pas untuk tidak melepas jariku dari tombol shutter.

Aku menyusuri lagi pasar tadi, pasar yang sama dari satu tahun lalu. Meski dengan suasana berbeda karena saat itu aku melewati tempat ini saat malam.

Pasar ini ramai dengan bapak-bapak seumuran ayahku, mencari burung dan makanan untuk hewan peliharaan mereka. Meski tidak besar, tapi kurasa tempat ini selalu menjadi tujuan untuk penyuka atau pemelihara hewan. Tentu untukku tempat ini hanya sebagai ladang objek foto.

Setelah bosan di pasar, aku melangkah menuju pusat kota. Tidak jauh dari pasar, hanya butuh tiga atau lima menit untuk jalan ke tempat itu. Pohon-pohon yang rindang dan orang-orang yang menyapa dengan ramah di sepanjang jalan membuatku selalu takjub dengan kota ini. Meski suasana sedikit mirip dengan Bandung, kota ini selalu punya daya tarik sendiri buatku.

Lalu aku melihat kedai kopi unik yang ramai dengan kumpulan orang-orang yang baru selesai jogging atau bersepeda. Meski hanya di emperan ruko yang kurasa tidak dipakai lagi, karena banyak coretan graffiti. Kurasa sajian mereka cukup enak sampai seramai itu. Benar-benar unik, tidak ada bangunan, hanya stan sederhana untuk kasir dan meja bar yang cukup untuk meracik menu. Para pelanggan mereka duduk di kursi dan meja sederhana yang cukup untuk empat orang. Aku hanya melewati tempat itu, karena tujuanku adalah kayutangan—pusat kota.

Setelah sampai di kayutangan, aku sedikit kaget karena jalanannya yang dibangun mirip dengan Jogja. Satu tahun lalu aku memang tidak sempat kesini karena masih proses pembangunan ulang.

“Kayaknya nggak seru kalau keliling di sini sendiri” kataku dalam hati.

Aku memutuskan menyimpan area kayutangan untuk nanti.

Karena tidak ada tujuan lagi, aku memutuskan kembali ke kedai kopi yang unik tadi. Saat mendekati meja kasir, terlihat jelas nama kedai itu. Seicori. Namanya pun unik.

“Silahkan kak” sambut perempuan di meja kasir. “Mau pesan apa kak?”

“Emmm…” aku melihat-lihat buku menu. “Yang rekomendasi apa ya, mbak?”

“Kita punya menu signature, kak. Ada es kopi susu rantau, terus ada…”

“Yang itu aja deh, satu” potongku dengan cepat.

“Baik, es kopi susu rantau satu ya, ada tambahan lagi, kak?”

Aku menggelengkan kepala, lalu membayar dan dengan cepat mencari kursi yang kosong.

Aku menaruh tasku, lalu meregangkan pundak dan leher yang kaku. Angin semilir lembut menerpaku. Suara gesekan daun-daun bercampur suara kendaraan pelan tanpa klakson dan orang-orang bercengkrama. Membuatku sadar sekali lagi, kota ini selalu punya keunikannya sendiri. Aku melihat ke atas, pohon yang rindang menutupi pemandangan langit membuat tempat ini sejuk meski musim kemarau begini. Sayangnya tidak ada spot bagus untuk melihat sunset di sini. Perasaan yang familiar.

Aku mengeluarkan buku dari tas dan ingin menenggelamkan diriku pada buku itu.



Musim Panas Juli 2021.

“Nara, itu di depan belok kanan!!!”

Aku dengan cepat mengarahkan motor ini ke arah yang dia tunjuk.

TIIIIIINNNN!!!
Suara klakson dari mobil di belakang membuatku sedikit tegang.

“Wooo, goblok!!!” umpat orang yang ada di mobil itu.

Aku berhenti di pinggir jalan, mengatur napasku. Jantungku seperti hampir meledak karena tegang.
“Kenapa ngomongnya mendadak banget sih!!!”

“HAHAHA, gila hampir aja mati!!!”

“Kalau mau mati, mati aja sendiri!!!” hardikku.

“Hehehe, jangan emosi dong. Dikit lagi kok!” ucap Jingga, menggoyangkan kepalaku yang ditutupi helm.

“Kita mau kemana sih?” tanyaku semakin penasaran.

“Udaaah, kamu nyetir aja… pasti nggak bakal nyesel. Buruan, keburu mataharinya hilang”

Dengan berat aku hanya bisa menurutinya.

Kami kembali menyusuri jalan, terik sore yang hangat membuatku kembali tenang. Benar-benar kota yang menyenangkan.

Setelah beberapa saat. Aku melihat gapura besar dan Jingga menyuruhku untuk terus masuk kesana. Aku sedikit heran karena dia mengajak masuk ke area pendakian gunung panderman, tapi tak bisa protes. Aku memacu motor memasuki jalanan kampung yang menanjak dan jalanan semakin menanjak setelah melewati perkampungan tadi membuatku sedikit was-was karena kami memakai motor matic.

Meski harus bersusah payah, akhirnya kami sampai. Butuh lima belas menit untuk kami berdua sampai sejak berhenti tadi. Di tempat yang di maksud Jingga, kami memasuki area villa yang terbengkalai. Karena memang ada bangunan rumah setengah jadi di dekat pintu masuk.

Setelah memarkir motor di depan bangunan itu, Jingga dengan cepat turun. “Yey… untung sepi!!!” dia menaruh helm dan berlari cepat ke ujung.

Aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkahnya, lalu menyusul dengan perlahan sambil mengeluarkan kamera dari tas.

“NARA!!! AYO CEPET!!!” teriak Jingga dari kejauhan.

Aku melihatnya bebalik arah memunggungiku, dengan langit sore yang membentang luas. Aku berdiri terpaku sesaat melihat itu. Mungkin karena insting, aku dengan cepat membidik momen itu. Aku bisa merasakan jantungku yang berdegup lebih kencang. Entah karena pemandangan itu atau karena aku melihat Jingga yang berdiri di sana. Aku tak tahu sudah berapa jepret foto yang aku ambil hanya untuk satu momen itu. Meski Jingga hanya terlihat siluetnya karena jarak kami lumayan jauh, tapi itu benar-benar momen yang emas untukku.

Setelah puas dengan foto-foto itu, aku melangkah cepat menyusul Jingga karena penasaran dengan pemandangan di tepi. Jingga duduk dengan santai di tanah, lalu aku berdiri di sebelahnya dengan sedikit mematung karena takjub dengan pemandangan di depanku. Pemandangan kota Batu, mungkin kota Malang juga. Entahlah aku juga tak tahu pasti. Tempat ini sangat tinggi, mungkin karena area pegunungan. Aku bisa melihat hampir seluruh area kota dari tempat ini. Terlihat lautan bangunan yang tertata rapi dari atas sini.

Aku langsung membidik pemandangan itu dengan kamera, untuk sesaat jariku tidak bisa lepas dari tombol shutter. Sayangnya aku tidak bisa mendapat momen saat matahari tenggelam, karena matahari tertutup gunung di belakang kami, tapi cahayanya sudah cukup untuk menciptakan pemandangan yang menakjubkan seperti saat ini.

“Gimana? Nggak nyesel, kan?” tanya Jingga dengan nada mengejeknya, aku hanya mengangguk tanpa menolehnya. Aku masih sibuk dengan kameraku.

Setelahnya, aku hanya memandang jauh pemandangan itu tanpa kamera. Lalu aku melihat Jingga yang sibuk menulis di buku. Aku duduk di sebelahnya, mencoba mengintip apa yang sedang dia tulis.

“Puisi?” tanyaku.

Jingga mengangguk. Lalu menyodorkan buku itu padaku.

Aku membaca setiap bait, yang baru saja dia tulis. Bukan puisi yang indah, bahkan sepertinya belum selesai. Tapi ini seperti sebuah keluhan Jingga terhadap suatu.

“Kamu tahu nggak?” tanya Jingga tiba-tiba.

“Apa?” tanyaku balik.

Jingga tak langsung menjawab, dia memandang ke arah depan dengan tatapan yang tampak sendu.

“Kota-kota itu…” katanya, menunjuk ke arah kota yang terlihat kecil di depan. “Dari aku kecil sampai sekarang nggak pernah benar-benar berubah” lanjutnya, menolehku dengan tersenyum getir. Aku yang mendengar itu, mulai paham kenapa puisi itu dia tulis.

Aku tak bisa berkata apa-apa untuk menghiburnya.

Kami berdua melanjutkan melihat pemandangan di depan kami dengan diam. Jingga menaruh kepalanya di pundakku. Kami berdua hanya diam, mencoba menikmati udara yang semakin dingin dan matahari sore yang menghilang perlahan.


Musim Panas 2022.

Suara semakin riuh di siang hari, kendaraan yang berlalu lalang membuat suasana siang sedikit lebih ramai ketimbang pagi tadi. Meski suasana ini masih sangat nyaman daripada di Jakarta.

Di meja, dua gelas sudah kosong tanpa isi. Dan buku yang aku baca juga sudah di halaman terakhir, aku menutupnya perlahan. Meregangkan badanku yang kaku, lalu melihat jam dari ponsel—sudah tengah hari.

“Apa kesana sekarang, ya?” pikirku.

Aku memasukkan barang-barangku ke dalam tas. Lalu melangkah pergi dengan cepat, diiringi dengan perasaan yang semakin gugup.


Other Stories
Hafidz Cerdik

Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...

Cinta Rasa Kopi

Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...

After Honeymoon (17+)

Dipaksa menikah demi ambisi keluarga, Kirana dan Rhea terjebak dalam pernikahan tanpa cint ...

Cinta Bukan Ramalan Bintang

Valen sadar Narian tidak pernah menganggap dirinya lebih selain sahabat, setahun kedekat ...

Mentari Dalam Melody

Tara berbeda dengan Gilang, saudaranya. Jika Gilang jadi kebanggaan orang tua, Tara justru ...

Hantu Dan Hati

Di tengah duka dan rutinitasnya berjualan bunga, seorang pemuda menyadari bahwa ia tidak s ...

Download Titik & Koma