Bab.3. Menyusuri Ingatan
Musim Panas Juli 2021.
Beberapa kali aku harus menguap karena kantuk yang tersisa. Angin yang masuk dari pintu yang sengaja dibiarkan setengah terbuka terasa sangat sejuk, ditambah hangatnya matahari pagi menambah rasa ingin memejamkan mata lagi.
Tubuhku terlentang di atas kasur, memandangi ponsel yang sedari kemarin mati. Aku meletakkan ponsel itu ke lantai dengan pelan, lalu bangkit dari kasur. Mencoba melihat isi ruangan. Entah kenapa meski kamar ini kecil tapi tidak terasa sempit bagiku. Jingga benar-benar menata tempat ini begitu nyaman. Tidak banyak hiasan berlebihan seperti banyak kamar perempuan biasanya. Daripada hiasan berlebihan, di kamar itu malah banyak buku-buku berjajar rapi di rak gantung atau pun meja. Dia menata buku-buku itu secara vertikal. Mungkin supaya awet, karena aku juga menatanya seperti itu. Aku melihat Jingga banyak mengoleksi buku-buku dari Eyang Pram, Chairul Anwar sampai Joko Pinurbo. Kurasa dia penggila sastra.
“Makanan datang...!!!” suara Jingga baru saja masuk kamar, di tangannya ada satu kantong plastik berisi dua bungkus foam makanan dan di tangan satunya dia menenteng satu kantong plastik berisi botol besar air mineral.
Dengan cepat kami berdua duduk berhadapan di lantai.
Jingga menyodorkan satu bungkus padaku, terasa masih hangat.
“Jadi beli apa?” tanyaku.
“Bubur ayam” jawabnya singkat, sambil menyodorkan satu sendok plastik.
Aku mengangguk, lalu membuka isi dari foam itu. Aroma nasi bercampur ayam langsung menyerbak, sedikit meredakan kepalaku yang masih pusing sisa mabuk. Aku menuang kuah kuning dari plastik yang sengaja dipisah yang sangat aneh menurutku. Lalu aku mengaduk bubur itu dengan semangat, tak sabar ingin melahapnya.
“Yaaa… kok diaduk sih!!” ucap Jingga tiba-tiba protes dengan mulut yang manyun.
“Ya emang gini yang enak kalau makan bubur…” kataku sambil memasukkan suapan pertama.
Raut wajah Jingga sedikit kesal, membuatku sedikit terkekeh pelan. Lalu kami melanjutkan makan tanpa berdebat lebih panjang tentang masalah bubur ini. Aku juga tak mau menyebutnya psikopat karena tidak mengaduk buburnya—aku tak mau mati saat makan bubur.
“Habis ini kamu kemana?” tanya Jingga.
“Yang pasti mau benerin ponsel dulu terus balik ke penginapan ganti baju, habis itu nggak tahu deh” jelasku.
“Ini hari terakhir kamu, kan?” tanya Jingga lagi.
Aku mengangguk. “Besok pagi harus balik”
Jingga terdiam, mengunyah makanannya tapi raut wajahnya seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Mau aku temenin nggak?” tawarnya tiba-tiba, dengan wajah yang berseri.
Aku tidak langsung menjawabnya. Aku memang belum memutuskan kemana dan tak tahu juga harus kemana sendirian. Jadi mungkin akan seru kalau Jingga ikut.
“Kerja kamu gimana?” tanyaku, masih ragu.
“Gampang, nanti habis benerin ponsel kita mampir dulu ke kedai buat izin ke Mbak Delia… aku juga tahu konter bagus dekat kedai, jadi bisa sekalian” jelas Jingga meyakinkan.
Aku mengangguk paham. “Oke”
Wajahnya tampak berseri setelah mendengar itu. Sepertinya dia hanya ingin bolos kerja.
Waktu berjalan cepat, setelah makan dan mandi kami langsung berangkat ke penginapanku. Karena kata Jingga penginapanku lumayan jauh, jadi dia menyarankan untuk kesana dulu. Aku hanya menurut, karena dia juga menawarkan tour guide dadakan untuk hari ini.
Butuh dua puluh menit buat kami sampai ke penginapan.
Aku memarkikan motor di depan penginapan. “Kayaknya semalem nggak selama tadi deh motorannya” protesku pada Jingga saat turun dari motor.
“Ya semalem kan sepi, lagian kamu tahu kan jalan di Malang se semrawut apa kalau siang dikit” jelas Jingga.
“Ya mana aku tahu, bukan orang sini…” jawabku, mengangkat kedua bahu.
“Ishh, udah ayo cepet. Keburu panas” Jingga menarikku masuk ke lobi penginapan.
Setelah masuk, aku langsung ke meja resepsionis untuk meminta kunci kamarku. Seorang wanita berdiri di sana sambil tersenyum ramah.
“Mbak aku mau ambil kunci kamara nomor empat dong”
“Sebentar ya mas” katanya, sambil membungkukkan badannya ke bawah meja. Tak lama dia menyodorkan kunci yang kuminta.
Aku mengangguk dan menerima kunci itu.
“Makasih” kataku, lalu ingin beranjak pergi.
“Mbak emang di sini nggak ada yang jaga ya kalau malam?” tanya Jingga tiba-tiba, membuat langkahku berhenti.
“Ada kok mbak, di sini selalu ada yang jaga dua puluh empat jam” jawab wanita itu.
Aku menoleh mereka berdua. “Tapi mbak…”
“Udah ayo cepet, jangan ganggu orang kerja!!!” potong Jingga cepat sambil mendorongku menjauh dari lobi.
.
Langkah kami berhenti di depan kamar. Aku memasukkan kunci ke lubangnya. Tapi sedikit terganggu karena Jingga menatapku dengan mata yang tajam, dan hanya diam sejak kami meninggalkan lobi tadi.
Aku menoleh Jingga yang berdiri di sampingku. “Oke… bentar, aku beneran nggak bo…”
“Udah ayo masuk dulu!!!” lagi-lagi ucapanku dipotong.
Tanpa melawan aku membuka pintu kamar itu.
“Aku baru tahu kalau cowok Jakarta modusnya kayak kamu!!!” ucap Jingga saat aku baru melangkah masuk. Aku memutar bola mataku karena sedikit kesal mendengar itu. Kata-kata itu yang aku takutkan saat melihat tatapannya sejak di lobby tadi.
Setelah kejadian di depan kedai tadi malam, aku harus meminta Jingga untuk mengantarku ke penginapan. Tapi saat ingin mengambil kunci kamar di meja resepsionis, tempat itu kosong tanpa penjaga. Setelah menunggu cukup lama aku dan Jingga memutuskan untuk mencari makan dulu baru kembali ke penginapan, tapi Jingga malah menawarkan untuk menginap di tempatnya—bukan aku yang meminta. Tapi aku hanya diam, karena terlalu malas untuk berdebat saat ini.
Aku dengan cepat mengambil baju dan celana dari tas lalu masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian, tanpa memedulikan tatapan Jingga lagi.
Setelahnya. Saat aku keluar dari kamar mandi, aku melihat Jingga merebahkan tubuhnya di kasur. Matanya terpejam seperti tidur. Aku mendekat ke kasur, menatapnya lebih dekat. Raut wajahnya sangat damai—terlalu damai. Meski kami sudah tidur bersama semalam, bukankah dia harus sedikit waspada saat memasuki kamar pria normal sepertiku.
Harus aku akui, Jingga adalah tipe perempuan yang aku sukai. Meski tingginya hampir menyamaiku, tapi wajah Jingga sangat mungil. Ditambah gaya pakaian dan rambut yang membuatnya sangat imut dan cantik secara bersamaan. Lalu, sesuatu yang selalu membuatku susah fokus saat menatap Jingga. Bibir mungilnya. Sial, aku selalu ingin melahap bibir itu.
“Jangan lama-lama kalau ngelihatin, aku nggak tanggung jawab kalau kamu jatuh cinta” ucap Jingga tiba-tiba, membuatku kalang kabut. Aku ingin membalasnya, tapi lidahku sangat kaku seketika.
Jingga membuka matanya, lalu tersenyum dengan sangat lembut sambil menatapku.
DEG!
Sial, jantungku seperti akan meledak saat ini juga.
Suasana di kamar hening seketika, mungkin sekarang Jingga bisa mendengar degupan jantungku saat ini. Dan entah saat ini aku tersambar apa, tapi sebuah keberanian tiba-tiba mendorongku untuk mendekat pada Jingga, mendekatkan wajah kami.
Mata kami hanya berjarak lima jari—mata coklat yang indah.
Lalu tanpa disadari, bibir kami sudah bercumbu dengan sendirinya.
Musim Panas Juli 2022.
Setelah menyusuri jalanan yang berliku dengan ditemani terik siang yang lumayan panas, akhirnya aku sampai di kedai yang menjadi list pertama tempat yang harus aku kunjungi.
Palangnya sedikit berubah dari yang aku ingat satu tahun lalu, tapi nama dari kedai ini yang selalu ku ingat: Roemah Kantja. Nama yang selalu membekas di ingatanku.
“Tempat untuk bercengkarama dengan siapa pun!!” suara Jingga langsung terputar di kepalaku saat melihat nama kedai itu.
Aku berdiri di seberang jalan cukup lama. Menenangkan tubuh dan jantungku yang terus merasa gugup entah kenapa. Takut? Mungkin.
Setelah hampir sepuluh menit berdiri, aku memberanikan diri. Mengambil langkah pertama dengan perlahan, menyeberang jalan dengan rasa gugup yang semakin terasa saat mendekati pintu masuk kedai. Di depan pintu kayu kedai yang sudah terbuka, aku menghirup napas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Mengambil langkah dengan perasan yang semakin gugup.
Saat sudah di dalam, aku tak melihat adanya pengunjung, mungkin karena masih baru buka. Tapi di dekat meja kasir terlihat dua orang sedang berbincang—mungkin mereka pegawai di sini. Aku mendekati mereka.
Satu perempuan yang berdiri di balik meja kasir itu melihatku lalu tersenyum ramah.
“Silahkan kak…” sapa perempuan itu dengan ramah.
Aku membalas dengan senyum juga.
“Mau pesan apa kak?” tanyanya.
“Ah, maaf mbak… mau tanya dulu boleh?” ucapku.
Perempuan itu mengangguk.
“Jingganya ada nggak ya, mbak?” tanyaku.
“Jingga?” dua perempuan itu bertatapan.
“Maaf mas, di sini nggak ada perempuan yang namanya Jingga di sini…Adanya sirup jingga” jelas perempuan di sebelahnya. Lalu mengeluarkan satu botol sirup dan menunjukkan padaku.
“Ah, bentar mbak…” aku mengeluarkan ponselku, lalu menunjukkan foto Jingga dari galeriku.
Mereka berdua saling bertatap mata sekali lagi. Lalu menatapku dan menggelengkan kepala mereka. Aku mulai risau dengan kelakuan mereka.
Aku terdiam sebentar, lalu teringat satu nama teman yang dulu dikenalkan Jingga. “Kalau, Delia ada nggak, ya?”
“Oh, kalau mbak Delia ada kak… Tapi belum datang, kalau mau kakak tunggu aja. Biasanya habis ini datang.”
Aku mengangguk senang. “Aku tunggu aja mbak”
Lalu aku memesan minum dan makan, dan duduk di meja yang dekat dengan pintu masuk.
10 menit.
20 menit.
30 menit.
Aku menunggu dengan tidak sabar. Makanan dan minuman yang kupesan juga sudah habis tak tersisa. Rasa gugup tadi sudah hilang karena terlalu lama menunggu. Di layar laptopku, aku melihat slide demi slide foto yang kuambil dari tahun lalu. Lalu berhenti di foto saat Jingga menunjukkan satu gelang hitam, aku menatapnya lama foto itu.
Musim Panas Juli 2021.
“Ish, jangan foto-foto terus” protes Jingga melihatku masih sibuk dengan kameraku.
Aku hanya membalasnya dengan senyum.
“Lihat nih, bagus nggak?” ucapnya. Menunjukkan gelang berwarna hitam di lengannya dan satu gelang lagi tangan kanannya sambil tersenyum.
Melihatnya bertingkah lucu seperti itu, tanganku yang gatal langsung mengarahkan kamera padanya—satu momen lagi tertangkap.
“Naraaa...!!!” protes Jingga lagi, mencoba merebut kameraku.
“HAHAHA…iya…iya…maaf…HAHAHA”
Wajah Jingga sedikit kesal, tapi lucu bagiku. Dia menyodorkan satu gelang yang dipegangnya padaku, aku langsung memakainya di lengan kananku. Dari situ wajah Jingga tersenyum lagi. Dia menjajarkan lengan kami berdua—itu seperti gelang pasangan.
Jingga mengacungkan jempolnya dan tersenyum.
“Seneng banget bu...” usilku.
“Ya kalau nggak suka sini balikin!” ucapnya dengan kesal menarik gelang dari lenganku. Wajahnya lucu saat sedang kesal seperti ini. Aku menggandeng tangannya, mengajak Jingga menyusuri jalanan pasar Batu sekali lagi.
Aku menatap wajahnya dari samping.
Kami sudah menghabiskan setengah hari di pasar ini. Setelah dari penginapan dan kedai untuk bertemu Delia karena Jingga harus izin untuk libur hari ini. Dan tak lupa kami menyempatkan untuk memperbaiki ponselku. Setelahnya, kami ingin menyusuri kota Malang. Tapi mengurungkannya, karena beberapa tempat dan jalan harus ditutup untuk pembangunan ulang. Kami hanya sempat ke toko buku bekas yang ada di wilis lalu tak ada tujuan lainnya. Jadi kami memutuskan untuk menjelajahi kota Batu sampai sore.
“Terus…habis ini mau kemana?” tanyaku.
“Emmm...” Jingga sedikit menerawang, melihat ke arah langit yang cerah. Lalu dia menatapku dengan mata yang berbinar. “Mau lihat pemandangan yang indah nggak?”
“Kemana?” tanyaku penasaran.
“Udah ikut aja” jawabnya, menarikku untuk berlari.
Musim Panas Juli 2022.
Musik mengalun lirih dari speaker aktif kedai. Musik yang mereka mainkan sekarang sangat jauh dari seleraku. Membuatku semakin kesal untuk berbagai alasan.
Sudah satu jam berlalu. Kedai yang tadinya sepi, mulai ada beberapa orang yang mengisi setiap meja. Rasa gugupku berubah menjadi kesal karena terlalu lama menunggu.
TOK…TOK…Seseorang mengetuk mejaku.
Aku mendongak, lalu melihat wajah perempuan berkacamata bulat tersenyum melihatku—tampak familiar.
“Tama, ya? Lama ya nggak ketemu” dia menyodorkan tangannya.
Aku mencoba mengingat wajahnya.
“Ah…Delia, ya?” aku menjabat tangannya dengan senang.
“Kamu banyak berubah ya…sampai pangling aku” ucapku saat mengingat Delia satu tahun yang lalu. Karena Delia yang ku ingat mempunyai rambut panjang. Dan dia memang tetap memanggilku Tama karena menurutnya nama Nara sangat tidak cocok dengan wajahku.
“Cuma potong rambut…gimana?” ucapnya sambil memainkan rambutnya yang bondol. Kami berdua tertawa.
“Jadi? Katanya kamu nyari Jingga?” tanya Delia.
Aku mengangguk dengan semangat. “Dia udah nggak kerja di sini lagi, ya? sebenarnya aku udah nyoba buat chat dia di IG, tapi sampai sekarang belum ada jawaban, aku juga lupa kosnya. Jadi aku putusin buat langsung kes…” kata-kataku terpotong saat wajah Delia langsung berubah saat aku membahas tentang Jingga. Dia tampak sedih, air matanya mulai menggenang seperti ingin segera jatuh.
“Del…kamu kenapa?” tanyaku.
“Ah… sorry…sorry…” dia mengambil tisu yang ada di meja. Lalu mengelap kedua matanya yang basah dengan air mata.
Aku mulai bingung dengan tingkah Delia.
Setelah beberapa saat, Delia mulai tenang. Mengatur napasnya perlahan, lalu dia mengambil sesuatu dari tasnya—sebuah buku. Dia menyodorkannya padaku. Meski bingung aku mengambil buku itu lalu membukanya lembar demi lembar. Senyumku mungkin terlihat oleh Delia saat ini. Aku tahu betul buku ini, ini adalah buku yang berisi tulisan tangan Jingga.
“Tam...” panggil Delia dengan suara lirih.
Aku menolehnya.
Wajah Delia tampak ragu untuk bicara.
Perasaanku mulai terasa aneh.
“Tam... Jingga...” ucapan Delia tersendat. “Jingga udah meninggal, Tam”
Aku terdiam.
Suara-suara mulai menghilang.
“Meninggal?”
Delia menggangguk pelan.
“Kapan?”
“Dua bulan yang lalu”
Setelah itu Delia berbicara tentang sesuatu, tapi aku hanya menatapnya dengan bingung. Seberapa pun aku mencoba, aku tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan Delia. Semua terdengar kosong sekarang. Mataku juga memburam. Mungkin karena ada air mata yang menggenang.
Hanya ingatan satu tahun lalu terlintas di kepalaku.
“Ingat ya, kalau kamu balik ke Malang. Gelang ini harus masih terpasang”
Beberapa kali aku harus menguap karena kantuk yang tersisa. Angin yang masuk dari pintu yang sengaja dibiarkan setengah terbuka terasa sangat sejuk, ditambah hangatnya matahari pagi menambah rasa ingin memejamkan mata lagi.
Tubuhku terlentang di atas kasur, memandangi ponsel yang sedari kemarin mati. Aku meletakkan ponsel itu ke lantai dengan pelan, lalu bangkit dari kasur. Mencoba melihat isi ruangan. Entah kenapa meski kamar ini kecil tapi tidak terasa sempit bagiku. Jingga benar-benar menata tempat ini begitu nyaman. Tidak banyak hiasan berlebihan seperti banyak kamar perempuan biasanya. Daripada hiasan berlebihan, di kamar itu malah banyak buku-buku berjajar rapi di rak gantung atau pun meja. Dia menata buku-buku itu secara vertikal. Mungkin supaya awet, karena aku juga menatanya seperti itu. Aku melihat Jingga banyak mengoleksi buku-buku dari Eyang Pram, Chairul Anwar sampai Joko Pinurbo. Kurasa dia penggila sastra.
“Makanan datang...!!!” suara Jingga baru saja masuk kamar, di tangannya ada satu kantong plastik berisi dua bungkus foam makanan dan di tangan satunya dia menenteng satu kantong plastik berisi botol besar air mineral.
Dengan cepat kami berdua duduk berhadapan di lantai.
Jingga menyodorkan satu bungkus padaku, terasa masih hangat.
“Jadi beli apa?” tanyaku.
“Bubur ayam” jawabnya singkat, sambil menyodorkan satu sendok plastik.
Aku mengangguk, lalu membuka isi dari foam itu. Aroma nasi bercampur ayam langsung menyerbak, sedikit meredakan kepalaku yang masih pusing sisa mabuk. Aku menuang kuah kuning dari plastik yang sengaja dipisah yang sangat aneh menurutku. Lalu aku mengaduk bubur itu dengan semangat, tak sabar ingin melahapnya.
“Yaaa… kok diaduk sih!!” ucap Jingga tiba-tiba protes dengan mulut yang manyun.
“Ya emang gini yang enak kalau makan bubur…” kataku sambil memasukkan suapan pertama.
Raut wajah Jingga sedikit kesal, membuatku sedikit terkekeh pelan. Lalu kami melanjutkan makan tanpa berdebat lebih panjang tentang masalah bubur ini. Aku juga tak mau menyebutnya psikopat karena tidak mengaduk buburnya—aku tak mau mati saat makan bubur.
“Habis ini kamu kemana?” tanya Jingga.
“Yang pasti mau benerin ponsel dulu terus balik ke penginapan ganti baju, habis itu nggak tahu deh” jelasku.
“Ini hari terakhir kamu, kan?” tanya Jingga lagi.
Aku mengangguk. “Besok pagi harus balik”
Jingga terdiam, mengunyah makanannya tapi raut wajahnya seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Mau aku temenin nggak?” tawarnya tiba-tiba, dengan wajah yang berseri.
Aku tidak langsung menjawabnya. Aku memang belum memutuskan kemana dan tak tahu juga harus kemana sendirian. Jadi mungkin akan seru kalau Jingga ikut.
“Kerja kamu gimana?” tanyaku, masih ragu.
“Gampang, nanti habis benerin ponsel kita mampir dulu ke kedai buat izin ke Mbak Delia… aku juga tahu konter bagus dekat kedai, jadi bisa sekalian” jelas Jingga meyakinkan.
Aku mengangguk paham. “Oke”
Wajahnya tampak berseri setelah mendengar itu. Sepertinya dia hanya ingin bolos kerja.
Waktu berjalan cepat, setelah makan dan mandi kami langsung berangkat ke penginapanku. Karena kata Jingga penginapanku lumayan jauh, jadi dia menyarankan untuk kesana dulu. Aku hanya menurut, karena dia juga menawarkan tour guide dadakan untuk hari ini.
Butuh dua puluh menit buat kami sampai ke penginapan.
Aku memarkikan motor di depan penginapan. “Kayaknya semalem nggak selama tadi deh motorannya” protesku pada Jingga saat turun dari motor.
“Ya semalem kan sepi, lagian kamu tahu kan jalan di Malang se semrawut apa kalau siang dikit” jelas Jingga.
“Ya mana aku tahu, bukan orang sini…” jawabku, mengangkat kedua bahu.
“Ishh, udah ayo cepet. Keburu panas” Jingga menarikku masuk ke lobi penginapan.
Setelah masuk, aku langsung ke meja resepsionis untuk meminta kunci kamarku. Seorang wanita berdiri di sana sambil tersenyum ramah.
“Mbak aku mau ambil kunci kamara nomor empat dong”
“Sebentar ya mas” katanya, sambil membungkukkan badannya ke bawah meja. Tak lama dia menyodorkan kunci yang kuminta.
Aku mengangguk dan menerima kunci itu.
“Makasih” kataku, lalu ingin beranjak pergi.
“Mbak emang di sini nggak ada yang jaga ya kalau malam?” tanya Jingga tiba-tiba, membuat langkahku berhenti.
“Ada kok mbak, di sini selalu ada yang jaga dua puluh empat jam” jawab wanita itu.
Aku menoleh mereka berdua. “Tapi mbak…”
“Udah ayo cepet, jangan ganggu orang kerja!!!” potong Jingga cepat sambil mendorongku menjauh dari lobi.
.
Langkah kami berhenti di depan kamar. Aku memasukkan kunci ke lubangnya. Tapi sedikit terganggu karena Jingga menatapku dengan mata yang tajam, dan hanya diam sejak kami meninggalkan lobi tadi.
Aku menoleh Jingga yang berdiri di sampingku. “Oke… bentar, aku beneran nggak bo…”
“Udah ayo masuk dulu!!!” lagi-lagi ucapanku dipotong.
Tanpa melawan aku membuka pintu kamar itu.
“Aku baru tahu kalau cowok Jakarta modusnya kayak kamu!!!” ucap Jingga saat aku baru melangkah masuk. Aku memutar bola mataku karena sedikit kesal mendengar itu. Kata-kata itu yang aku takutkan saat melihat tatapannya sejak di lobby tadi.
Setelah kejadian di depan kedai tadi malam, aku harus meminta Jingga untuk mengantarku ke penginapan. Tapi saat ingin mengambil kunci kamar di meja resepsionis, tempat itu kosong tanpa penjaga. Setelah menunggu cukup lama aku dan Jingga memutuskan untuk mencari makan dulu baru kembali ke penginapan, tapi Jingga malah menawarkan untuk menginap di tempatnya—bukan aku yang meminta. Tapi aku hanya diam, karena terlalu malas untuk berdebat saat ini.
Aku dengan cepat mengambil baju dan celana dari tas lalu masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian, tanpa memedulikan tatapan Jingga lagi.
Setelahnya. Saat aku keluar dari kamar mandi, aku melihat Jingga merebahkan tubuhnya di kasur. Matanya terpejam seperti tidur. Aku mendekat ke kasur, menatapnya lebih dekat. Raut wajahnya sangat damai—terlalu damai. Meski kami sudah tidur bersama semalam, bukankah dia harus sedikit waspada saat memasuki kamar pria normal sepertiku.
Harus aku akui, Jingga adalah tipe perempuan yang aku sukai. Meski tingginya hampir menyamaiku, tapi wajah Jingga sangat mungil. Ditambah gaya pakaian dan rambut yang membuatnya sangat imut dan cantik secara bersamaan. Lalu, sesuatu yang selalu membuatku susah fokus saat menatap Jingga. Bibir mungilnya. Sial, aku selalu ingin melahap bibir itu.
“Jangan lama-lama kalau ngelihatin, aku nggak tanggung jawab kalau kamu jatuh cinta” ucap Jingga tiba-tiba, membuatku kalang kabut. Aku ingin membalasnya, tapi lidahku sangat kaku seketika.
Jingga membuka matanya, lalu tersenyum dengan sangat lembut sambil menatapku.
DEG!
Sial, jantungku seperti akan meledak saat ini juga.
Suasana di kamar hening seketika, mungkin sekarang Jingga bisa mendengar degupan jantungku saat ini. Dan entah saat ini aku tersambar apa, tapi sebuah keberanian tiba-tiba mendorongku untuk mendekat pada Jingga, mendekatkan wajah kami.
Mata kami hanya berjarak lima jari—mata coklat yang indah.
Lalu tanpa disadari, bibir kami sudah bercumbu dengan sendirinya.
Musim Panas Juli 2022.
Setelah menyusuri jalanan yang berliku dengan ditemani terik siang yang lumayan panas, akhirnya aku sampai di kedai yang menjadi list pertama tempat yang harus aku kunjungi.
Palangnya sedikit berubah dari yang aku ingat satu tahun lalu, tapi nama dari kedai ini yang selalu ku ingat: Roemah Kantja. Nama yang selalu membekas di ingatanku.
“Tempat untuk bercengkarama dengan siapa pun!!” suara Jingga langsung terputar di kepalaku saat melihat nama kedai itu.
Aku berdiri di seberang jalan cukup lama. Menenangkan tubuh dan jantungku yang terus merasa gugup entah kenapa. Takut? Mungkin.
Setelah hampir sepuluh menit berdiri, aku memberanikan diri. Mengambil langkah pertama dengan perlahan, menyeberang jalan dengan rasa gugup yang semakin terasa saat mendekati pintu masuk kedai. Di depan pintu kayu kedai yang sudah terbuka, aku menghirup napas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Mengambil langkah dengan perasan yang semakin gugup.
Saat sudah di dalam, aku tak melihat adanya pengunjung, mungkin karena masih baru buka. Tapi di dekat meja kasir terlihat dua orang sedang berbincang—mungkin mereka pegawai di sini. Aku mendekati mereka.
Satu perempuan yang berdiri di balik meja kasir itu melihatku lalu tersenyum ramah.
“Silahkan kak…” sapa perempuan itu dengan ramah.
Aku membalas dengan senyum juga.
“Mau pesan apa kak?” tanyanya.
“Ah, maaf mbak… mau tanya dulu boleh?” ucapku.
Perempuan itu mengangguk.
“Jingganya ada nggak ya, mbak?” tanyaku.
“Jingga?” dua perempuan itu bertatapan.
“Maaf mas, di sini nggak ada perempuan yang namanya Jingga di sini…Adanya sirup jingga” jelas perempuan di sebelahnya. Lalu mengeluarkan satu botol sirup dan menunjukkan padaku.
“Ah, bentar mbak…” aku mengeluarkan ponselku, lalu menunjukkan foto Jingga dari galeriku.
Mereka berdua saling bertatap mata sekali lagi. Lalu menatapku dan menggelengkan kepala mereka. Aku mulai risau dengan kelakuan mereka.
Aku terdiam sebentar, lalu teringat satu nama teman yang dulu dikenalkan Jingga. “Kalau, Delia ada nggak, ya?”
“Oh, kalau mbak Delia ada kak… Tapi belum datang, kalau mau kakak tunggu aja. Biasanya habis ini datang.”
Aku mengangguk senang. “Aku tunggu aja mbak”
Lalu aku memesan minum dan makan, dan duduk di meja yang dekat dengan pintu masuk.
10 menit.
20 menit.
30 menit.
Aku menunggu dengan tidak sabar. Makanan dan minuman yang kupesan juga sudah habis tak tersisa. Rasa gugup tadi sudah hilang karena terlalu lama menunggu. Di layar laptopku, aku melihat slide demi slide foto yang kuambil dari tahun lalu. Lalu berhenti di foto saat Jingga menunjukkan satu gelang hitam, aku menatapnya lama foto itu.
Musim Panas Juli 2021.
“Ish, jangan foto-foto terus” protes Jingga melihatku masih sibuk dengan kameraku.
Aku hanya membalasnya dengan senyum.
“Lihat nih, bagus nggak?” ucapnya. Menunjukkan gelang berwarna hitam di lengannya dan satu gelang lagi tangan kanannya sambil tersenyum.
Melihatnya bertingkah lucu seperti itu, tanganku yang gatal langsung mengarahkan kamera padanya—satu momen lagi tertangkap.
“Naraaa...!!!” protes Jingga lagi, mencoba merebut kameraku.
“HAHAHA…iya…iya…maaf…HAHAHA”
Wajah Jingga sedikit kesal, tapi lucu bagiku. Dia menyodorkan satu gelang yang dipegangnya padaku, aku langsung memakainya di lengan kananku. Dari situ wajah Jingga tersenyum lagi. Dia menjajarkan lengan kami berdua—itu seperti gelang pasangan.
Jingga mengacungkan jempolnya dan tersenyum.
“Seneng banget bu...” usilku.
“Ya kalau nggak suka sini balikin!” ucapnya dengan kesal menarik gelang dari lenganku. Wajahnya lucu saat sedang kesal seperti ini. Aku menggandeng tangannya, mengajak Jingga menyusuri jalanan pasar Batu sekali lagi.
Aku menatap wajahnya dari samping.
Kami sudah menghabiskan setengah hari di pasar ini. Setelah dari penginapan dan kedai untuk bertemu Delia karena Jingga harus izin untuk libur hari ini. Dan tak lupa kami menyempatkan untuk memperbaiki ponselku. Setelahnya, kami ingin menyusuri kota Malang. Tapi mengurungkannya, karena beberapa tempat dan jalan harus ditutup untuk pembangunan ulang. Kami hanya sempat ke toko buku bekas yang ada di wilis lalu tak ada tujuan lainnya. Jadi kami memutuskan untuk menjelajahi kota Batu sampai sore.
“Terus…habis ini mau kemana?” tanyaku.
“Emmm...” Jingga sedikit menerawang, melihat ke arah langit yang cerah. Lalu dia menatapku dengan mata yang berbinar. “Mau lihat pemandangan yang indah nggak?”
“Kemana?” tanyaku penasaran.
“Udah ikut aja” jawabnya, menarikku untuk berlari.
Musim Panas Juli 2022.
Musik mengalun lirih dari speaker aktif kedai. Musik yang mereka mainkan sekarang sangat jauh dari seleraku. Membuatku semakin kesal untuk berbagai alasan.
Sudah satu jam berlalu. Kedai yang tadinya sepi, mulai ada beberapa orang yang mengisi setiap meja. Rasa gugupku berubah menjadi kesal karena terlalu lama menunggu.
TOK…TOK…Seseorang mengetuk mejaku.
Aku mendongak, lalu melihat wajah perempuan berkacamata bulat tersenyum melihatku—tampak familiar.
“Tama, ya? Lama ya nggak ketemu” dia menyodorkan tangannya.
Aku mencoba mengingat wajahnya.
“Ah…Delia, ya?” aku menjabat tangannya dengan senang.
“Kamu banyak berubah ya…sampai pangling aku” ucapku saat mengingat Delia satu tahun yang lalu. Karena Delia yang ku ingat mempunyai rambut panjang. Dan dia memang tetap memanggilku Tama karena menurutnya nama Nara sangat tidak cocok dengan wajahku.
“Cuma potong rambut…gimana?” ucapnya sambil memainkan rambutnya yang bondol. Kami berdua tertawa.
“Jadi? Katanya kamu nyari Jingga?” tanya Delia.
Aku mengangguk dengan semangat. “Dia udah nggak kerja di sini lagi, ya? sebenarnya aku udah nyoba buat chat dia di IG, tapi sampai sekarang belum ada jawaban, aku juga lupa kosnya. Jadi aku putusin buat langsung kes…” kata-kataku terpotong saat wajah Delia langsung berubah saat aku membahas tentang Jingga. Dia tampak sedih, air matanya mulai menggenang seperti ingin segera jatuh.
“Del…kamu kenapa?” tanyaku.
“Ah… sorry…sorry…” dia mengambil tisu yang ada di meja. Lalu mengelap kedua matanya yang basah dengan air mata.
Aku mulai bingung dengan tingkah Delia.
Setelah beberapa saat, Delia mulai tenang. Mengatur napasnya perlahan, lalu dia mengambil sesuatu dari tasnya—sebuah buku. Dia menyodorkannya padaku. Meski bingung aku mengambil buku itu lalu membukanya lembar demi lembar. Senyumku mungkin terlihat oleh Delia saat ini. Aku tahu betul buku ini, ini adalah buku yang berisi tulisan tangan Jingga.
“Tam...” panggil Delia dengan suara lirih.
Aku menolehnya.
Wajah Delia tampak ragu untuk bicara.
Perasaanku mulai terasa aneh.
“Tam... Jingga...” ucapan Delia tersendat. “Jingga udah meninggal, Tam”
Aku terdiam.
Suara-suara mulai menghilang.
“Meninggal?”
Delia menggangguk pelan.
“Kapan?”
“Dua bulan yang lalu”
Setelah itu Delia berbicara tentang sesuatu, tapi aku hanya menatapnya dengan bingung. Seberapa pun aku mencoba, aku tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan Delia. Semua terdengar kosong sekarang. Mataku juga memburam. Mungkin karena ada air mata yang menggenang.
Hanya ingatan satu tahun lalu terlintas di kepalaku.
“Ingat ya, kalau kamu balik ke Malang. Gelang ini harus masih terpasang”
Other Stories
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Diary Anak Pertama
Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...
Melodi Nada
Dua gadis kakak beradik dari sebuah desa yang memiliki mimpi tampil dipanggung impian. Mer ...
Bu Guru Dan Mantan Murid
Salsa, guru yang terjebak pernikahan dingin, tergoda perhatian mantan muridnya, Anton. Per ...
Testing
testing ...
Bali Before Sun Set
Perjalanan di pulau dewata tak hanya menyajikan sesuatu yang amat indah untuk di pandang t ...