Barang Antik
Sore itu, halaman rumah Nenek penuh sesak. Tapi ini bukan arisan keluarga yang hangat. Ini lebih seperti panggung sandiwara. Tante Ila, adik Ibu, mendadak jadi orang paling rajin sedunia kalau Ibu sedang pulang. Padahal aku tahu, kalau Ibu tidak ada, dia jarang sekali menengok Nenek, kecuali kalau Nenek memaksa ingin bertemu Ovilya, anaknya.
Aku masih ingat betul, dulu waktu Tante Ila mau menikah, dia sampai minta sumbangan ke Ayah. Waktu itu aku sudah SMP, cukup besar untuk merekam bagaimana Ayah menyisihkan uang dapurnya demi gengsi adik ipar ini. Tapi sekarang? Gengsi itu sudah berubah jadi tumpukan perhiasan dan mobil Fortuner yang terparkir gagah di depan.
"Mobil baru, Mas?" Paman tiba-tiba bertanya, suaranya sengaja dikencangkan seolah ingin seluruh komplek dengar. "Tahun tua itu ya, Mas?"
Ayah hanya diam. Dia sedang sibuk mengelus kap mobil tua kami yang baru saja dilapnya. Ibu yang menyambar pembicaraan itu dengan senyum yang dipaksakan. "Mobil Asdar itu. Nurun tuh hobi dari Ayahnya yang suka barang antik. Mesinnya masih bagus kok."
Tante Ila mencibir pelan, sembari membetulkan posisi tas branded-nya. "Apa nggak lebih baik cari yang keluaran terbaru, Mas? Kan meskipun nyicil, tapi aman kondisinya sampai bertahun-tahun. Kalau barang tua gitu, paling ntar keluar masuk bengkel terus. Lebih boros." Ujarnya kepadaku.
Aku yang sedari tadi bersandar di pintu mobil, hanya bisa tersenyum miring. Aku berjalan mendekat, lalu mengambil Ovilya dari gendongan Tante Ila. "Santai, Te. Masalah merawat barang antik, aku sudah belajar sama ahlinya," kataku sambil melirik ke arah Ayah. Ayah hanya menatapku sekilas, ada binar kecil di matanya yang seolah berterima kasih karena aku sudah memasang badan.
Tak lama kemudian, suasana berubah. Paman dan Tante Ila menarik Ibu untuk bicara di sudut halaman yang agak jauh. Wajah mereka serius, tipe percakapan yang tidak ingin didengar anak-anak. Aku tidak terlalu peduli. Bagiku, drama keluarga besar selalu membosankan. Ayah kemudian menyusul mereka, berjalan pelan dengan tangan di saku celana safari-nya.
"Sat, PS yuk di atas. Biarin aja mereka rapat kabinet," ajakku pada Satria. Kami berdua naik ke lantai atas, meninggalkan sepupuku di pelukan nenek serta riuh rendah suara di bawah yang mulai terdengar berbisik-bisik tajam.
Aku masih ingat betul, dulu waktu Tante Ila mau menikah, dia sampai minta sumbangan ke Ayah. Waktu itu aku sudah SMP, cukup besar untuk merekam bagaimana Ayah menyisihkan uang dapurnya demi gengsi adik ipar ini. Tapi sekarang? Gengsi itu sudah berubah jadi tumpukan perhiasan dan mobil Fortuner yang terparkir gagah di depan.
"Mobil baru, Mas?" Paman tiba-tiba bertanya, suaranya sengaja dikencangkan seolah ingin seluruh komplek dengar. "Tahun tua itu ya, Mas?"
Ayah hanya diam. Dia sedang sibuk mengelus kap mobil tua kami yang baru saja dilapnya. Ibu yang menyambar pembicaraan itu dengan senyum yang dipaksakan. "Mobil Asdar itu. Nurun tuh hobi dari Ayahnya yang suka barang antik. Mesinnya masih bagus kok."
Tante Ila mencibir pelan, sembari membetulkan posisi tas branded-nya. "Apa nggak lebih baik cari yang keluaran terbaru, Mas? Kan meskipun nyicil, tapi aman kondisinya sampai bertahun-tahun. Kalau barang tua gitu, paling ntar keluar masuk bengkel terus. Lebih boros." Ujarnya kepadaku.
Aku yang sedari tadi bersandar di pintu mobil, hanya bisa tersenyum miring. Aku berjalan mendekat, lalu mengambil Ovilya dari gendongan Tante Ila. "Santai, Te. Masalah merawat barang antik, aku sudah belajar sama ahlinya," kataku sambil melirik ke arah Ayah. Ayah hanya menatapku sekilas, ada binar kecil di matanya yang seolah berterima kasih karena aku sudah memasang badan.
Tak lama kemudian, suasana berubah. Paman dan Tante Ila menarik Ibu untuk bicara di sudut halaman yang agak jauh. Wajah mereka serius, tipe percakapan yang tidak ingin didengar anak-anak. Aku tidak terlalu peduli. Bagiku, drama keluarga besar selalu membosankan. Ayah kemudian menyusul mereka, berjalan pelan dengan tangan di saku celana safari-nya.
"Sat, PS yuk di atas. Biarin aja mereka rapat kabinet," ajakku pada Satria. Kami berdua naik ke lantai atas, meninggalkan sepupuku di pelukan nenek serta riuh rendah suara di bawah yang mulai terdengar berbisik-bisik tajam.
Other Stories
Cinta Satu Paket
Namanya Renata Mutiara, secantik dan selembut mutiara. Kelas sebelas dan usianya yang te ...
Kelabu
Cinta? Apakah aku mencintai Samuel? Pertanyaan yang sulit kujawab. Perasaanku padanya sepe ...
Curahan Hati Seorang Kacung
Setelah lulus sekolah, harapan mendapat pekerjaan bagus muncul, tapi bekerja dengan orang ...
Menolak Jatuh Cinta
Maretha Agnia, novelis terkenal dengan nama pena sahabatnya, menjelajah dunia selama tiga ...
The Museum
Mario Tongghost, penangkap hantu asal Medan, menjadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning ...
I See Your Monster, I See Your Pain
Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...