Dua Peluru Ayah
Tante Ila dan rombongannya pulang menjelang maghrib. Karena rumah mereka tidak terlalu jauh, mereka tidak menginap. Begitu suara mesin mobil mereka menghilang, aku turun ke bawah.
Aku menemukan Ibu duduk di sofa ruang tengah, matanya sembab seperti habis menangis. Di mana Ayah? Aku tidak melihatnya di sana. Aku baru saja hendak menghampiri Ibu untuk bertanya apa yang terjadi, tapi tanganku ditarik oleh Satria.
"Mas, sini bentar," bisik Satria. Dia membawaku ke balkon kecil di samping kamar.
Wajah Satria tampak tenang, bahkan ada sisa-sisa senyum dari permainan bulutangkis pagi tadi. "Mas, hari ini aku bahagia banget. Aku rindu momen kayak gini. Akhirnya kita bisa liburan beneran," katanya.
Kalimat Satria membuatku lupa sejenak pada mata sembab Ibu. Aku menatap adikku yang mulai tumbuh jadi laki-laki dewasa itu.
"Tadi pagi pas Mas tidur lagi abis subuh, sebenarnya aku mau bangunin. Tapi Ayah melarang," Satria melanjutkan. "Ayah bilang, 'Kasian Masmu, dia capek kerja terus di kota. Biarin dia tidur agak lama'. Terus Ayah bilang sesuatu yang bikin aku merinding, Mas."
"Ngomong apa dia?" tanyaku penasaran.
"Ayah bilang, dia ngerasa keluarganya sekarang sudah utuh. Dua pelurunya sudah besar-besar. Sudah mau gantiin peran Ayah," suara Satria sedikit bergetar. "Ayah ternyata bisa lembut juga ya, Mas? Dia ngajakin aku main bulutangkis karena dia bilang dia nostalgia, inget dulu pas dia ngajarin kamu pertama kali main di depan rumah. Makanya dia pengen ngulang itu lagi sama aku."
Aku terdiam. Dadaku terasa sesak mendengar cerita itu. Ayah, pria yang kusebut robot, pria yang kusebut kaku, ternyata menyimpan kasih sayang yang begitu dalam di balik diamnya. Dia melihat kami sebagai “dua peluru” senjata terakhir yang dia miliki untuk bertahan hidup.
Tapi di tengah kehangatan cerita Satria, bayangan mata Ibu yang menangis tadi kembali melintas. Ayah yang lembut itu, sekarang ada di mana? Kenapa dia tidak ada di samping Ibu setelah Tante Ila pulang? Aku masih tidak tahu apa yang terjadi pada kedua orang tuaku itu.
Aku menemukan Ibu duduk di sofa ruang tengah, matanya sembab seperti habis menangis. Di mana Ayah? Aku tidak melihatnya di sana. Aku baru saja hendak menghampiri Ibu untuk bertanya apa yang terjadi, tapi tanganku ditarik oleh Satria.
"Mas, sini bentar," bisik Satria. Dia membawaku ke balkon kecil di samping kamar.
Wajah Satria tampak tenang, bahkan ada sisa-sisa senyum dari permainan bulutangkis pagi tadi. "Mas, hari ini aku bahagia banget. Aku rindu momen kayak gini. Akhirnya kita bisa liburan beneran," katanya.
Kalimat Satria membuatku lupa sejenak pada mata sembab Ibu. Aku menatap adikku yang mulai tumbuh jadi laki-laki dewasa itu.
"Tadi pagi pas Mas tidur lagi abis subuh, sebenarnya aku mau bangunin. Tapi Ayah melarang," Satria melanjutkan. "Ayah bilang, 'Kasian Masmu, dia capek kerja terus di kota. Biarin dia tidur agak lama'. Terus Ayah bilang sesuatu yang bikin aku merinding, Mas."
"Ngomong apa dia?" tanyaku penasaran.
"Ayah bilang, dia ngerasa keluarganya sekarang sudah utuh. Dua pelurunya sudah besar-besar. Sudah mau gantiin peran Ayah," suara Satria sedikit bergetar. "Ayah ternyata bisa lembut juga ya, Mas? Dia ngajakin aku main bulutangkis karena dia bilang dia nostalgia, inget dulu pas dia ngajarin kamu pertama kali main di depan rumah. Makanya dia pengen ngulang itu lagi sama aku."
Aku terdiam. Dadaku terasa sesak mendengar cerita itu. Ayah, pria yang kusebut robot, pria yang kusebut kaku, ternyata menyimpan kasih sayang yang begitu dalam di balik diamnya. Dia melihat kami sebagai “dua peluru” senjata terakhir yang dia miliki untuk bertahan hidup.
Tapi di tengah kehangatan cerita Satria, bayangan mata Ibu yang menangis tadi kembali melintas. Ayah yang lembut itu, sekarang ada di mana? Kenapa dia tidak ada di samping Ibu setelah Tante Ila pulang? Aku masih tidak tahu apa yang terjadi pada kedua orang tuaku itu.
Other Stories
Ilusi Yang Sama
Jatuh cinta pada wanita yang selalu tersakiti, Rian bertekad menjadi pria yang berbeda. Na ...
Ada Apa Dengan Rasi
Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...
Ablasa
Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...
Manusia Setengah Siluman
Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...
Love Falls With The Rain In Mentaya
Di tepian Pinggiran Sungai Mentaya, hujan selalu membawa cerita. Arga, seorang penulis pen ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...