Sebungkus Rokok Ayah
Rumah Nenek masih sama seperti sepuluh tahun lalu. Begitu mesin mobil mati, Ibu langsung menghambur ke pelukan Nenek. Ayah menyusul di belakang, mencium tangan Nenek dengan takzim, sebuah pemandangan yang sudah lama tak kulihat.
“Bu, saya keluar sebentar ya. Mau cari angin,” ucap Ayah pelan pada Nenek setelah meletakkan koper di ruang tamu. Tanpa menunggu jawaban, dia berbalik dan berjalan menuju warung kecil di seberang jalan komplek.
“Lagi,” gumamku pelan sembari menyulut sebatang rokok di pagar depan.
Satria berdiri di sampingku, tangannya masuk ke saku jaket. Dia menatap punggung Ayah yang menjauh dengan dahi berkerut. “Mas, aneh nggak sih? Di rumah, Ayah kalau ngomong kayak lagi razia. Suaranya beuhh kencengnya… aturannya paling banyak. Tapi di sini... kok Ayah tiba-tiba introvert?”
Aku mengembuskan asap rokok. “Mungkin karena ini rumah Ibu, Sat. Dia cuma menantu di sini.”
“Bukan cuma itu maksudku, Mas.” Satria menoleh padaku, raut wajahnya serius.
“Ayah tuh kaku banget sama kita. Galak, nggak mau denger penjelasan, pokoknya harus ikut kata dia. Aku beneran nggak mau jadi kayak Ayah nanti. Hidupnya kayak nggak punya berwarna, polos.” Sambungnya.
Aku mengangguk. “Aku juga, Sat. Capek hidup penuh aturan, nggak pernah ada obrolan, nggak hangat.”
“Tapi, Mas...” Satria menjeda kalimatnya, matanya kembali ke arah warung. “Tadi aku lihat Ayah pas salaman sama Nenek. Mukanya kayak... orang yang lagi nahan sesuatu. Dia di sini nggak punya teman kan ya? nggak punya siapa-siapa buat diajak ngobrol selain kita yang dia galakin terus. Menurutmu, Ayah itu pernah punya masalah nggak sih? Maksudku, masalah yang nggak kita tahu?”
Aku terdiam sebentar. “Masalah? Ayah itu manusia, Sat. Pasti ada, tapi paling cuma soal laporan di kantor atau burungnya yang nggak mau bunyi.”
Satria menggeleng pelan. “Tapi kalau dia punya rahasia atau lagi sedih, ke siapa ya Ayah bercerita? Ibu? Kayaknya Ibu juga sering kena semprot kalau Ayah lagi pusing. Ke kita? Apalagi. Terus dia simpan di mana ya Mas?”
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap Ayah yang duduk sendirian di bangku kayu depan warung. Dia memesan kopi hitam, menyesapnya pelan, dan menatap jalanan kosong. Sosoknya terlihat sangat kecil di bawah lampu jalan yang remang-remang. Spekulasi Satria mulai mengganggu kepalaku. Jika benar Ayah punya sisi lain yang tidak kami tahu, lantas selama ini dia bicara pada siapa? Atau mungkin, dia memang sudah lupa cara bersuara.
“Bu, saya keluar sebentar ya. Mau cari angin,” ucap Ayah pelan pada Nenek setelah meletakkan koper di ruang tamu. Tanpa menunggu jawaban, dia berbalik dan berjalan menuju warung kecil di seberang jalan komplek.
“Lagi,” gumamku pelan sembari menyulut sebatang rokok di pagar depan.
Satria berdiri di sampingku, tangannya masuk ke saku jaket. Dia menatap punggung Ayah yang menjauh dengan dahi berkerut. “Mas, aneh nggak sih? Di rumah, Ayah kalau ngomong kayak lagi razia. Suaranya beuhh kencengnya… aturannya paling banyak. Tapi di sini... kok Ayah tiba-tiba introvert?”
Aku mengembuskan asap rokok. “Mungkin karena ini rumah Ibu, Sat. Dia cuma menantu di sini.”
“Bukan cuma itu maksudku, Mas.” Satria menoleh padaku, raut wajahnya serius.
“Ayah tuh kaku banget sama kita. Galak, nggak mau denger penjelasan, pokoknya harus ikut kata dia. Aku beneran nggak mau jadi kayak Ayah nanti. Hidupnya kayak nggak punya berwarna, polos.” Sambungnya.
Aku mengangguk. “Aku juga, Sat. Capek hidup penuh aturan, nggak pernah ada obrolan, nggak hangat.”
“Tapi, Mas...” Satria menjeda kalimatnya, matanya kembali ke arah warung. “Tadi aku lihat Ayah pas salaman sama Nenek. Mukanya kayak... orang yang lagi nahan sesuatu. Dia di sini nggak punya teman kan ya? nggak punya siapa-siapa buat diajak ngobrol selain kita yang dia galakin terus. Menurutmu, Ayah itu pernah punya masalah nggak sih? Maksudku, masalah yang nggak kita tahu?”
Aku terdiam sebentar. “Masalah? Ayah itu manusia, Sat. Pasti ada, tapi paling cuma soal laporan di kantor atau burungnya yang nggak mau bunyi.”
Satria menggeleng pelan. “Tapi kalau dia punya rahasia atau lagi sedih, ke siapa ya Ayah bercerita? Ibu? Kayaknya Ibu juga sering kena semprot kalau Ayah lagi pusing. Ke kita? Apalagi. Terus dia simpan di mana ya Mas?”
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap Ayah yang duduk sendirian di bangku kayu depan warung. Dia memesan kopi hitam, menyesapnya pelan, dan menatap jalanan kosong. Sosoknya terlihat sangat kecil di bawah lampu jalan yang remang-remang. Spekulasi Satria mulai mengganggu kepalaku. Jika benar Ayah punya sisi lain yang tidak kami tahu, lantas selama ini dia bicara pada siapa? Atau mungkin, dia memang sudah lupa cara bersuara.
Other Stories
Bahagiakan Ibu
Jalan raya waktu pagi lumayan ramai. Ibu dengan hati-hati menyetir sepeda motor. Jalan ber ...
Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik
Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...
Langit Ungu
Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...
Haruskah Bertemu?
Aku bertemu dengan wanita di gerbong yang sama dengan satu kursi juga. Dia sangat riang se ...
Cicak Di Dinding ( Halusinada )
Sang Ayah mencium kening putri semata wayangnya seraya mengusap rambut dan berlinang air m ...
Arungi Waktu; Ombak Bergulung, Waktu Berderai—namun Jangkar Tak Pernah Ia Turunkan
Arunika pernah percaya bahwa hidup berjalan lurus, sepanjang rencana yang ia susun dengan ...