Bab 2: Ikatan Di Atas Sajadah
Perubahan Amara tidak terjadi dalam semalam. Itu adalah proses yang menyakitkan, seperti kulit yang mengelupas untuk digantikan dengan yang baru. Teman-teman lamanya di klub malam mulai meneror ponselnya dengan pesan-pesan bernada ejekan. Riko, laki-laki yang dulu paling sering menghabiskan malam bersamanya, bahkan datang ke apartemen Amara hanya untuk menertawakan penampilannya yang kini lebih tertutup.
"Lo kesamben setan apa, Mara? Pakai baju gombrang begini? Lo itu aset, jangan disembunyiin," cetus Riko dengan sisa aroma alkohol yang masih tercium.
Amara hanya menatapnya datar. "Gue justru baru sadar kalau selama ini gue cuma barang pajangan di mata kalian. Sekarang, gue pengen jadi manusia."
Kata-kata itu bukan hanya untuk Riko, tapi untuk menegaskan pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan kembali. Pelariannya setiap sore ke perpustakaan tua tempat Rayyan bekerja menjadi satu-satunya oksigen bagi jiwanya yang sedang belajar bernapas kembali. Rayyan, dengan segala kesabarannya, mulai mengajari Amara cara berwudu—air yang membasuh wajah Amara seolah meluluhkan lapisan dosa yang selama ini mengeras di hatinya.
Satu bulan berlalu sejak Amara memutuskan untuk berhenti dari dunia malam. Hubungannya dengan Rayyan tumbuh bukan dari rayuan, melainkan dari diskusi-diskusi tentang hakikat hidup. Amara mulai menyadari bahwa ia jatuh cinta pada cara Rayyan mencintai Tuhannya.
Suatu senja, di selasar masjid kecil yang menyatu dengan gedung perpustakaan, Rayyan duduk agak menjauh dari Amara, menjaga jarak yang selalu ia pertahankan dengan hormat.
"Mara," panggil Rayyan. Suaranya sedikit lebih berat dari biasanya. "Saya sering melihatmu menangis saat mencoba menghafal surah Al-Fatihah. Apa yang kamu rasakan?"
Amara menyeka sudut matanya yang basah. "Gue ngerasa bodoh, Yan. Gue ngerasa Allah nggak akan mau denger doa dari mulut yang udah terbiasa maki-maki dan minum-minuman keras kayak gue."
Rayyan menatap lurus ke depan, ke arah taman kecil yang mulai gelap. "Allah itu Al-Ghaffur, Maha Pengampun. Jika seorang hamba mendekat pada-Nya sejengkal, Dia mendekat sehasta. Jangan pernah merasa Tuhanmu jauh hanya karena kamu pernah tersesat jauh. Pintu taubat itu lebarnya seluas langit dan bumi, Mara."
Amara terdiam. Ia menatap siluet samping wajah Rayyan. Laki-laki ini adalah jawaban atas doa yang bahkan belum sempat ia ucapkan.
Khitbah: Sebuah Janji Suci
Keputusan Rayyan untuk melamar Amara bukanlah keputusan impulsif. Ia telah membawa nama Amara dalam sujud-sujud panjangnya.
Baginya, Amara adalah berlian yang tertimbun lumpur; ia hanya perlu dibersihkan dengan kasih sayang dan bimbingan, bukan dengan hardikan.
Satu minggu setelah percakapan di selasar itu, Rayyan mendatangi kediaman orang tua Amara. Rumah mewah yang dingin itu menjadi saksi sejarah. Ayah Amara, seorang pengusaha sukses yang jarang pulang, menatap Rayyan dengan dahi berkerut.
"Kamu ingin menikahi putri saya? Kamu tahu dia seperti apa, kan?" tanya sang Ayah sinis.
Rayyan menunduk sopan. "Saya tidak menikahi masa lalunya, Pak. Saya ingin meminang masa depannya. Saya ingin menjadi orang yang memegang tangannya saat ia berjalan menuju ridha Allah."
Jawaban itu meruntuhkan kesombongan Ayah Amara. Ia melihat kesungguhan yang tidak pernah ia miliki sebagai seorang ayah. Restu pun turun, meski dengan syarat bahwa Rayyan harus siap bersabar menghadapi tabiat Amara yang mungkin masih meledak-ledak.
Hari pernikahan itu tiba. Tidak ada gedung mewah, tidak ada katering seharga ratusan juta. Akad nikah dilaksanakan di masjid tempat mereka pertama kali berdiskusi secara mendalam. Amara mengenakan gaun putih panjang dengan hijab yang menutup dada, tanpa riasan berlebihan. Ia terlihat sangat anggun, kecantikan yang memancar dari ketenangan batin, bukan dari polesan kimia.
"Saya terima nikahnya Amara binti Malik dengan mas kawin seperangkat alat salat dan hafalan surah Ar-Rahman dibayar tunai!"
Suara Rayyan lantang dan mantap. Kata "Sah" bergema di langit-langit masjid. Saat itu juga, Amara merasa beban seberat gunung di pundaknya luruh. Ia kini resmi menjadi makmum bagi laki-laki yang telah menyelamatkan jiwanya dari jurang kehancuran.
Di kamar pengantin yang sederhana, Rayyan mendekati Amara yang duduk di tepi ranjang dengan kepala tertunduk malu. Rayyan meletakkan telapak tangannya di atas ubun-ubun Amara, membacakan doa yang membuat air mata Amara jatuh untuk kesekian kalinya.
"Barakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir..."
Rayyan kemudian mengangkat dagu Amara pelan. "Sekarang, kita bukan lagi dua orang yang asing. Kita adalah satu jiwa. Apapun yang terjadi di depan, jangan pernah lepaskan tangan saya, ya?"
Amara mengangguk mantap. "Janji, Yan. Gue... aku... nggak akan balik lagi ke sana. Aku mau di sini, di samping kamu."
Bulan madu mereka diisi dengan hal-hal sederhana: salat berjamaah di sepertiga malam, memasak bersama, dan Rayyan yang terus membimbing Amara membaca Al-Qur'an.
Namun, di tengah kebahagiaan yang meluap itu, ada hal-hal kecil yang mulai tampak aneh.
Suatu pagi, saat Rayyan sedang mengimami salat Subuh, suaranya tiba-tiba melemah di rakaat kedua. Ia terdiam cukup lama, seolah lupa ayat apa yang sedang dibacanya. Amara, yang menjadi makmum di belakangnya, merasa heran namun hanya bisa menunggu. Setelah salat selesai, Rayyan memegang kepalanya cukup lama.
"Yan, kamu nggak apa-apa?" tanya Amara cemas.
Rayyan tersenyum pucat. "Cuma pusing sedikit, mungkin kurang tidur karena semalam kita terlalu lama mengobrol."
Amara memercayainya. Ia tidak tahu bahwa Rayyan sudah mulai sering merasakan pandangannya mengabur secara tiba-tiba. Di dalam tas kerja Rayyan, tersembunyi beberapa botol obat pereda nyeri dosis tinggi yang tidak pernah ia tunjukkan pada istrinya.
Rayyan tahu. Ia sudah tahu sejak sebelum mereka menikah bahwa ada "tamu tak diundang" di kepalanya. Namun, ia memilih egois untuk sedikit saja merasakan indahnya hidup bersama Amara, wanita yang ia yakini akan menjadi hamba Allah yang luar biasa jika didampingi dengan benar.
"Mara," panggil Rayyan suatu sore saat mereka duduk di balkon. "Kalau suatu saat cahaya di dunia ini meredup bagimu, ingatlah bahwa cahaya di akhirat tidak akan pernah padam selama kamu menjaga imanmu."
Amara mengerutkan kening. "Kenapa ngomongnya gitu? Kamu kan cahaya aku di sini."
Rayyan hanya menarik Amara ke dalam pelukannya, mencium keningnya dengan sangat lama, seolah-olah ia sedang mencoba merekam aroma dan kehangatan itu untuk dibawa ke alam yang lebih abadi.
Other Stories
Jjjjjj
ghjjjj ...
Cerita Guru Sarita
Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...
Impianku
ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...
Cinta Kadang Kidding
Seorang pemuda yang sedang jatuh cinta kepada teman sekelas saat sedang menempuh pendidika ...
Senja Terakhir Bunda
Sejak suaminya pergi merantau, Siska harus bertahan sendiri. Surat dan kiriman uang sempat ...
Egler
Anton, anak tunggal yang kesepian karena orang tuanya sibuk, melarikan diri ke dunia game ...